Akankah seseorang
Yang kuimpikan 'kan hadir?
Raut halus menyelimuti jantungku
Tentang Seseorang oleh Melly Goeslaw
"Kamu koas di mana?” tanyanya.
"Ari kamu, saya mah teu koas. Saya mah kuliah keguruan.”
"Hayoh we ngagambar wae," lanjutnya.
"Saya mah teu ngagambar. Teu bisa. Ini lagi ngerjain tesis." Ternyata lagi ngerjain tesis di dunia nyata, kebawa ke dunia mimpi. He.
Dia duduk tepat di hadapan saya. Mungkin jaraknya hanya setengah meter. Wajahnya ayu seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Dia membawa tas gendong hitam, yang kalau saya ingat-ingat, itu mirip tas teteh saya. (Ini udah aneh lagi nih mimpi). Dia memakai jas warna putih yang biasa dipake sama dokter. Ya, dia kan sudah jadi dokter sekarang. Tapi entah dia praktik di mana.
Mimpi selalu enggak nyambung, loncat-loncat semaunya.
Setelah mimpi lain yang tidak berkesan, tiba-tiba saya sudah ada di satu tempat bareng dia, dan beberapa teman masa SMA yang sulit saya ingat satu persatu. Tapi anehnya, temannya itu campur. Di mana, dia juga mungkin pas dulu SMA enggak kenal dengan teman saya. Begitupun saya, meskipun kita satu SMA, tapi beda kelas. Jadi, wajar kalau enggak kenal teman satu sama lain.
Satu yang saya ingat, dia ngomongin salah satu teman. Dia salah menyebutnya dan saya membetulkan.
Saya sangat heran, kenapa dia jadi sangat akrab sama saya. Kalau saya ketemu enggak sengaja saat maen di mall misalnya, saya pun paling senyum dikit, atau bahkan memilih menghindar ala mahasiswa yang punya dosa, melipir dari dosennya.
Saat di pondok, saya belum pernah sedekat itu dan ngobrol intens. Eh, pernah ding sekali. Lupa juga dulu ngobrolin apa. Itu juga bentar, di dekat sosorodotan dan tempat wudu dekat balong. Itu yang saya ingat satu-satunya momen yang enggak bakalan saya lupa seumur hidup.
Eits, jangan lupa sekali lagi pas kita satu angkot berdua. Itu pun enggak disengaja. Awalnya mau ngehindar, eh malah jadi naik angkot yang ada dianya. Soalnya angkot yang saya lewatkan buat dinaiki, ternyata ngetem dulu. Pas saya mutar ke jalan lain, ternyata itu angkot yang saya lewatkan, yang ada dianya. Masa saya enggak jadi naik. Jadi we saya teh naik angkot itu.
Di angkot 01 kita enggak ngobrol dan saling sapa. Pas naik angkot 05 kalau enggak salah, baru saya berani nyapa. Cuma karena jaraknya dekat dari pas naik angkot 05 (dekat gereja yang cukup gede dekat lampu lalu lintas) menuju sekolah, obrolan kami tidak banyak. Mungkin ngomongin tugas.
"Naha teu pas tadi dina angkot 01 anu jarakna lumayan jauh?" Dan ini pertanyaan yang tak semestinya saya cuma tanyakan.
Hanjakalna kaburu kebangun euy. Hanya beberapa detik saja rasanya mimpi itu terjadi.
Lalu saya teringat kembali lagu Sheila On 7 yang berjudul Sebuah Kisah Klasik. Sampai jumpa kawanku/ Smoga kita selalu/ Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan/ Sampai jumpa kawanku/ Smoga kita selalu/ Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan. Lagu itu dinyanyikan saat angkatan kami di pondok perpisahan. Entah grup siapa yang nyanyiin.
Itu kali terakhir saya melihatnya. Tepat saat acara formal selesai dan menuju ke acara santai. Padahal seharian saya sudah latihan buat perform di sesi itu. Saya menyanyikan dua lagunya Lyla, Detik Terakhir dan Bernafas Tanpamu. Atau cuma salah satu dari dua lagu itu yah? Agak susah mengingat yang pastinya. Eh, tapi dia malah sudah beranjak dari pondok tempat kami selama 3 tahun menimba ilmu. Dan, tak ada sebuah kepastian kalau dia memikirkan saya saat di jalan pulang. Ha.
Ya Allah, enjing semoga mimpiin dia lagi! Ha. Doa macam apa ini?
Cikondang, 9 November 2021, 10.42 WIB