Mata Elang 1 : just intoduction
Tangan kanannya mencari-cari korek api sedangkan tangan kirinya mengambil sebatang rokok yang berada diatas meja. Ia menghisapnya dalam-dalam, sesekali ia mengeluarkan asap berbentuk lingkaran dari lubang hidungnya yang besar. Matanya terasa berat, tadi malam terjaga semalam suntuk karena harus menyelesaikan artikel streetfood di Istanbul. Deadline awal pengiriman naskah sebenarnya masih minggu depan. Namun, kemarin tiba-tiba Jhon menelfon, Ia ingin naskah dikirimkan paling lambat jam 6 pagi.
Kenji menginjak putung rokok dengan ujung tumit sepatunya. “bahkan matahari tidak menyambut kedatanganku”, gumamnya kecewa. Pagi hari ini langit tidak secerah biasanya, yang terlihat hanya awan gelap. Kenji menadahkan tangannya ke udara. Gerimis membasahi tangannya. Hujan pertama di bulan Juni. Kenji memajamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam.
Dahulu, ia menyukai hujan. Ia suka suara tetes airnya ketika beradu dengan atap rumah .Ia suka suasananya yang memberikan ketenangan dan romantisme. Ia suka baunya, orang jawa bilang bau galong, bau tanah ketika hujan turun . Namun, sekarang tidak lagi. Tidak! setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu itu. Hujan sebenarnya bukan pihak yang patut dibenci karana dia tidak salah apa-apa. Dia hanya datang disaat yang tidak tepat. Jika peristiwa itu terjadi ketika malam hari dimana bintang dan bulan menghiasi langit, sudah pasti ia akan membenci bintang,bulan, langit dan seiisinya.
Hujan turun semakin deras,sesekali terdengar gemuruh petir dan kilat yang menyambar di angkasa. Kenji menutup jendela kamarnya, kemudian menghempaskan badan keatas tempat tidurnya lagi.
Ia menghitung dengan jarinya,”sembilan, sepuluh”. Iya benar. Sepuluh tahun yang lalu ia mengambil keputusan yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Sepuluh tahun lalu disaat hidupnya jatuh ke titik paling bawah, disaat ia kehilangan orang yang ia cintai. Ibu dan kelana.
Suara televisi beradu dengan suara hujan,seorang pembawa acara berita yang cantik dan elegan sedang membacakan ramalan cuaca untuk daerah Solo dan sekitarnya. Hujan diperkirakan akan mengguyur kota Solo sampai pertengahan hari. Kenji berharap ramalan cuaca itu salah, karena dari tadi malam ia terpenjara di hotel akibat hujan yang turun semalam suntuk.
Seseorang mengetuk pintu kamar kenji, “sarapan mas”, suaranya ramah dan bersahabat. Ia pemilik guest house, namanya Ibu Lina. Usianya sudah menginjak 60 tahu, Ia terlihat muda untuk ukuran wanita diumurnya. Tutur katanya halus dan lembut. Air wajahnya bening mencerminkan ketenangan jiwa dan kebijaksanaan.
Ibu Lina meletakan secangkir kopi, satu piring nasi goreng,buah-buahan yang diiris kecil-kecil. Kenji melompat dari kasurnya, ia kemudian mengambil kamera. Ritual yang selalu ia lakukan sebelum makan, memfoto makanan-makanan itu. Dari dahulu kenji mencintai bidang fotografi, baru beberapa tahun yang lalu ia mefokuskan diri ke bidang food fotography. Memfoto yang awalnya hanya sekedar hobi justru menjadi pekerjaannya, dari foto itulah ia bisa bertahan hidup. Bukan hanya sekedar bertahan hidup tetapi ia juga bisa menginjakan kaki di negara-negara lain foodtraveler.
“ suka moto ya mas?”, tanya bu Lina
“ iya bu”, jawab kenji singkat
“ sejak kapan mas?”, tanyanya lagi
Ibu Lina tersenyum malu-malu,” dahulu pada saat kuliah, saya punya pacar anak club fotografi” ia berhenti sejenak,mengingat-ingat sesuatu ”mata elang. Iya benar, nama klubnya adalah mata elang”
Kenji diam sejenak,”mata elang”. Ucapan ibu Lina menghantam kedua gendang telinganya. Lembut dan halus namun dapat membangkitkan memory-memory masa lalunya. Semuanya terlihat gamblang dan jelas bagaikan didepan mata. Kepingan-kepingan memory itu menyatu kembali menjadi puzzle yang tersusun dengan rapi. sial! Perjuangannya selama bertahun-tahun ternyata hancur berguguran hanya dengan dua kata dalam hitungan detik. MATA ELANG.