Kabera Bungalow, Homestay Sejuta Cerita
Ya, kami memilihnya sebagai rumah kedua, setidaknya selama kami tinggal di Ubud seminggu. Kabera Bungalow memiliki pemandangan yang cukup asri, sebuah kamar berisi dua ranjang double bed, kamar mandi bersih, shower, double fan, meja rias, meja barang, dan teras yang dilengkapi ruang tamu serta aneka tanaman perdu. Tidak cukup sampai di situ, ternyata di belakang kamar kami membentang sawah hijauh yang luas, siap memanjakan mata. Ibu Ketut, sang pemilik homestay menyambut kami dengan senyum yang tak henti mengembang. Simpatik, tak berlebihan, sangat bersahabat. Banyak wisatawan asing yang bercanda layaknya saudara dekat, sampai di sini, saya sudah dibuat betah dan berpikir akan menghabiskan banyak waktu menyenangkan di Bali.
Kabera terbagi menjadi Kabera I dan II. Kabera I adalah milik Ibu Ketut dan Kabera II milik adiknya. Saya yang sebetulnya memesan kamar di Kabera II, beralih ke Kabera I agar memudahkan jangkauan. Kabera I lokasinya berada di depan, sedangkan Kabera II agak masuk ke dalam. Tapi, ada kelebihan Kabera II yang tidak dimiliki Kabera I yang bertarif sama, yakni bath-up serta air panas. Kabera II juga memiliki desain pintu yang lebih unik dibanding Kabera I. Tapi jangan khawatir, keduanya masih sangat oke dan masakan lezat Ibu Ketut siap menyambut perut lapar setiap pagi. Di sini kami juga bisa menyewa motor dengan harga terjangkau. Sebuah Honda Vario keluaran baru dihargai 40 ribu per hari, lengkap dengan dua helmet dan surat-surat kendaraan. Cukup memesan pada Ibu Ketut dan motor siap diantar!
Hari pertama, kami disambut dengan omelet toast dan salad buah sebagai menu sarapan. Cukup mengenyangkan dan tentunya menyehatkan. Ibu Ketut mengantar di depan kamar kami dengan sapaan hangatnya. Oh ya, di sini saya tinggal satu kamar dengan Kak Vely dan Kak Mel dari Jakarta. Sedang di kamar sebelah ada Tiara, Gege, dan seorang teman interpreter dari Jakarta juga. Sementara di ujung Kabera II ada Mbak Dian Nafi dan dua anaknya dari Demak, Kak Ucha, Sheisya, Gigi Oceana ada di atas kamar Mbak Dian Nafi, mereka berasal dari Tangerang, Bandung, dan Makasar. Selamat berbagi cinta di Kabera, tentunya saat kami meninggalkan tempat ini di akhir festival, ada perasaan kehilangan dan rindu yang sudah menggantung dengan bebasnya. Kami akan sangat merindukan Ubud, UWRF, Gank Kabera, dan tentunya Ibu Ketut yang jadi ibu kami di sini. Sampai jumpa lagi, tahun depan kami berjanji akan hadir kembali.