Cinta yang Membawaku Pulang
Pernahkah kamu merasakan keterikatan sebelum melihat wujud dan mengetahui namanya? Pernahkan kamu merasakan sebuah getaran yang membuatmu merenung dan menangis dalam diam, jauh sebelum memahami apakah ini nyata atau mimpi belaka?
Aku tidak pernah merasakannya. Tidak, sebelum aku mengenal seorang wanita bermata teduh yang lalu kupanggil ibu, di sebuah kota nan jauh bernama Kasatrian Swalabumi. Senja setelah bermain bersama harimau-harimau jinak di rumahnya, aku bersama karibku Dewi Arimbi berhenti di Alun-Alun Utara Kasatrian Swalabumi untuk menghadap pencipta dan menanti seorang kawan. Aku memberanikan diri bercerita pada Arimbi tentang apa yang terjadi, tentang apa yang bergelayut dalam hati. Tak lama, Arimbi tersedak mendengar ceritaku.
“Kau gila. Pantas saja kau begitu manja pada Ibu Teduh.” Arimbi tertawa terbahak-bahak, apalagi saat ia menyadari bahwa aku tak pernah semudah itu jatuh hati pada lelaki yang wujudnya saja belum kuketahui.
Aku menunduk dalam-dalam. Panggilan Tuhan terdengar sayup-sayup bergema, menggoyangkan dedaunan pohon banyan kembar yang kulalui bersama Arimbi. Esoknya, selepas pesta bersama para petinggi Kasatrian Swalabumi dan Arimbi kembali ke Pringgondani, aku menghabiskan waktu bersama Tina, kakak kandung DJ yang juga diundang menghadiri pesta tersebut. Karena terlalu malam dan Tina mendapat doorprize kapal pesiar, maka DJ datang menjemput untuk membantu membawa hadiah pulang ke rumah. Dalam keremangan malam, kusebut namaku sambil menjabat tangannya. Kuberanikan diriku memulainya meski DJ hanya menanggapiku sedingin salju.
“Garbarini,” kusebut namaku pelan.
“DJ,” sahutnya singkat. Itulah saat pertama kukenal namanya sebab aku malu bertanya pada ibu teduh maupun Tina pada hari sebelumnya.
“Hati-hati di jalan, sampai jumpa lagi, Tina, DJ.” Hanya itu yang bisa kusebutkan di tengah gemuruhnya hatiku yang bersahutan. Malam temaram bulan, mataku tak bisa memejam padahal esok harus kembali pulang. Di atas kereta kencana, aku tak sabar bercerita pada ibuku Dewi Danawati bahwa di Kasatrian Swalabumi aku mengenal Ibu Teduh yang tinggal bersama dua anaknya Tina dan DJ. Kiranya aku bagai disengat lebah, DJ telah membuat semua perasaanku berubah. Berdebar-debar sepanjang jalan, membayangkan pertemuan pertama yang sama sekali tak indah. Nun jauh di Garbaruci, ibuku tentu sangat terkejut. Dewi Danawati belum pernah mendengar aku bisa jatuh hati setelah perpisahanku dengan Arya Setyaki.
“Darimana kamu mengenal mereka?” Suara ibuku terdengar sayup-sayup dari kaca benggala yang kugelar dalam kereta kencana.
“Awalnya aku mengenal Tina. Ia teman baruku dari dunia maya dan aku pernah berkirim serat lontar saat masih tinggal di negeri astral. Tina sangat senang.”
“Aku berjanji pada Tina, suatu saat aku pasti berkunjung ke rumahnya. Dan janji itu berhasil kupenuhi saat menghadiri undangan di Kasatrian Swalabumi bersama Dewi Arimbi. Tina mengenalkan aku pada ibunya, pada keluarganya. Dari cerita-cerita ibunya, aku mengetahui sosok DJ, adik Tina. Hingga akhirnya kami bertemu dan berkenalan.”
Begitulah, semua menjadi berbeda. Beberapa bulan lalu aku memang sempat membuka hati untuk seseorang yang rela menyusulku ke negeri astral. Seseorang yang sempat kukira menjadi pelabuhan terakhirku setelah lama berpikir dan menunggu. Seseorang yang mudah mengambil keputusan sendiri, lalu kubalas tidak mempedulikannya lagi. Awalnya aku memang sakit hati. Tapi bukan, ini bukan sebuah usaha pelarian demi menghibur diri. DJ terlalu indah untuk sekadar permainan dan ketidakseriusan. Lebih dari itu, DJ amat pantas mendapatkan apapun yang kupunya, yang kujaga sepanjang usia. Dan ketahuilah bahwa aku telah lama menyimpan rasa pada DJ jauh sebelum menerima lelaki itu kembali. Kini saat semuanya kembali normal, ibuku, Dewi Danawati kembali bertanya. Siapakah yang akan kupilih untuk terakhir kali demi menyudai segala ketidakjelasan ini?
Dengan mantap, kujawab DJ. O, Ibu, yang kumau hanya DJ!
Kala itu kulihat ibuku, Dewi Danawati, menangis haru. Pada hari pengorbanan umat sejagat, aku meminta izin bertemu masa depanku. Berbekal doa dan restumu, Ibu, aku kembali menuju Kasatrian Swalabumi seperti tiga tahun lalu. Membuktikan keseriusanku meski hasilnya belum tentu memihak kepadaku. Menunggang kereta kencana pagi hari, aku ingin segera bersimpuh di kaki Ibu Teduh untuk menyampaikan bahwa aku ingin menjadi bagian dari hari-harinya, cerita hidup anak bungsunya. Aku ingin menjadi sebaik-baiknya penjaga gawang atau juru kunci benteng tua yang setia menanti ia pulang setelah lelah berjuang. Aku ingin mengabdikan hidupku sebagai pembelajar ulung yang tak lelah menghafal aneka bumbu dapur. Dengan kedua tanganku ini, Ibu, aku ingin menggantikan peran ibu teduh menciptakan hidangan-hidangan yang menjadi tenaganya menjalani hidup yang tak mudah. Aku ingin menjadi salah satu senyumnya di pagi buta. Sesederhana itu saja, sesederhana itu saja.
Usaplah airmataku, Ibu. Airmata keraguan sekaligus ketakutan. Bila aku tak berhasil sekali ini lagi, aku mohon engkau tak lelah menerima kekalahanku dan meninggikan hatiku. Hidup sudah ada yang mengatur, bukankah itu yang selalu kaututur?
Di Kasatrian Swalabumi itu, lelahku terhapus saat menjumpai Ibu Teduh memelukku penuh kerinduan. Laksana aku buah hatinya yang baru pulang dari bertualang. Aku bahagia, Ibu. Bahagia karena ada ibu lain yang mencintaiku dengan begitu erat, begitu hangat. Dan ketika mataku menangkap sosok yang begitu kuinginkan, saat itulah aku tersadar bahwa segala yang kauimpikan atas hidupku, ada di manik matanya.
Maka, untuk segala senyum malu-malu dan tawa-tawa kecil yang boleh terjadi, kuucapkan terima kasih ibuku Dewi Danawati dan Ibu Teduh yang selalu ada di hati.
[Seminggu setelah kepulanganku dari Kasatrian Swalabumi]
*) tulisan ini berhutang rasa pada karibku Dewi Arimbi, Tina, dan adikku Dewi Anggraeni.