Waqfah
Tidak lebih mudah dari membaca dan mendengar, menulis tidaklah lebih sulit dari pada berpikir.
Rehatlah sejenak untuk membaca kembali apa-apa yang kita tulis, kembali menuju kemarin, kepada tahun-tahun yang lalu. Mampir untuk melihat segala macam teguran, nasihat, motivasi, serta pesan-pesan mendalam yang pernah kita tuangkan.
Kau tahu apa yang tersulit? Benar, menjadi apa yang kita tulis. Mengamalkan apa yang telah terkumpul, semoga kata ke kata, kalimat ke kalimat yang kita kemukakan lebih dulu diutarakan kepada diri sendiri. Semoga kita adalah cetakan pertama dari teguran, nasihat, omelan serta pesan-pesan makna yang kita susun.
Lihatlah kembali seberapa pantaskah kita terhadap apa yang kita tulis? Hampir pantas? Separuh pantas?, atau jangan-jangan mencapai sepuluh dari sepersepuluh nya saja belum pantas?
Jangan sampai orang-orang berbondong-bondong mengambil manfaat dari apa yang kita tulis. Namun, pada sisi yang lain kita malah menguburnya dalam-dalam.












