"Jadilah kalian orang-orang yang paling kokoh atau tsabat sikapnya (atsbatuhum mauqiifan) paling lapang dadanya (arhabuhum shadran) paling dalam pemikirannya (a’maquhum fikran) paling luas cara pandangnya (ausa’uhum nazharan) paling rajin amal-amalnya (ansyatuhum ‘amalan) paling solid penataan organisasinya (aslabuhum tanzhiman) paling banyak manfaatnya (aktsaruhum naf’an)"
Bukan kematian yang seharusnya kita takutkan. Akan tetapi, yang harus kita takutkan adalah hidup yang tidak hidup. Hidup yang hanya bisa diam berpangku tangan menopang dagu. Tak punya peran yang berarti. Di saat masa depan umat sudah segawat ini. Sedih, bahkan takut tak punya sesuatu untuk dibawa mati.
"Memang sudah selayaknya segala bentuk proses pencapaian kita pada sesuatu itu orientasi utamanya adalah bukan sekedar mencari 'kebahagian' semata, melainkan pada 'kebarokahan' yang ingin digapai di dalamnya."
Kenapa demikian? Tidak ada yang salah sebenarnya dengan keinginan untuk mendapatkan rasa bahagia itu. Akan tetapi, barokah itu lebih utama dari sekedar rasa bahagia. Ketika Allah telah memberikan barokah pada sesuatu, maka kebahagiaan merupakan salah satu yang akan mengikut bersamanya.
Kebarokahan itu akan melahirkan banyak kebaikan; semacam ketentraman di dalam jiwa, rasa bahagia yang termanifestasi dari raut muka hingga energi semangat bekerja, dsb. hingga yang paling utama dimudahkannya diri kita untuk berbuat kebaikan lain setelahnya.
Kebarokahan itu bagi orang beriman seharusnya menjadi nilai yang harus dijaga dan diperjuangkan. Sehingga dari setiap ikhtiar yang dilakukan, selalu ada kehati-hatian agar jangan sampai yang dilakukannya justru menjauhkan diri darinya. Sebaliknya, juga akan menjadi energi, dorongan bahwa sesuatu yang sedang diperjuangkan adalah hal yang baik yang akan berbalik pada dirinya.
Itulah kenapa mintalah selalu agar Allah membimbing dan memberi petunjuk, bahwa semoga nilai dan orientasi barokah selalu ada pada apapun atau bahkan siapapun yang sedang kamu perjuangkan, setelahnya kita berikhtiar dengan gigih untuk menggapainya.
Kalau hubungan dengan Tuhan sudah terjalin dengan baik, tetapi belum juga merasakan kelapangan dan semangat dalam hidup. Maka, mulai lah kebaikan sederhana kepada manusia. Sesederhana menampakkan wajah yang berseri kepada orang yang ditemui, berprasangka baik, menyisipkan sedikit dari apa yang dipunya maupun berkontribusi sesuatu yang bernilai manfaat walaupun itu kecil.
Sebab, penyebutan kata "Surga", di samping pengertiannya yang sebenarnya (tempat kenikmatan di akhirat), dia juga dapat di lihat dari kacamata substansi dan sifatnya, yakni sebagai simbol dari kebahagiaan, yang dalam kaitannya tidaklah mesti menunggu negeri akhirat untuk merasakan kenikmatan tersebut, tetapi juga bisa dirasakan di dunia.
Sebagaimana yang dituturkan oleh seorang Hukama, "Sesungguhnya di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak merasakannya, maka ia tidak akan merasakan surga di akhirat."
Surga dunia yang dimaksud pada ucapan diatas tiada lain ialah maksudnya keimanan, yang pada gilirannya melahirkan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, dan rasa nyaman.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
...
6 Hari menjelang bulan Ramadhan. Mari sama-sama perbaiki hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan hamba-hambaNya, sebagai ikhtiar memantaskan diri menyambut rahmat dan keberkahanNya.
"Fenomenologi di Jalanan : Ada apa di Persimpangan?"
Berkontemplasi adalah aktifitas rumit yang membosankan, apalagi dalam kondisi capek dan ego terkuras. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah kegiatan yang mengasyikkan, sesederhana mengaktifkan pikiran dan imajinasi dalam mode pengamatan dan abstraksi
Sesederhana di tengah perjalanan; di persimpangan atau di momen traffic light di atas kendaraan yang sedang kita tunggangi.
Tatkala berada di traffic-light, sering kali saya —mungkin juga Anda— sering mengalami semacam pertemuan singkat dengan para pengendara lain —yang hampir mayoritasnya tidak dikenal—
Dimana dari pertemuan itu, bila kita coba perhatikan, baik kita ataupun pengendara lainnya adalah sama-sama sebagai entitas pengguna jalan yang sedang sama-sama menunggu tibanya lampu hijau, kemudian setelah traffic-light menunjukkan lampu hijau sebagai tanda berjalan, kita lihat ada pengendara yang belok ke kiri, ke kanan, dan ada pula yang berjalan lurus.
Dan satu hal yang sering terjadi, adalah apa yang bisa dan sering kita temui secara acak dan seakan terjadi begitu saja: perihal pengendara yang memilih arah jalan yang sama dengan arah jalan yang kita pilih, yang boleh jadi secara sadar atau tidak sadar sejatinya sedang menggambarkan satu peristiwa yang sedang berlangsung: bahwa kita sedang berada di satu jalan yang sama dengan pengendara-pengendara tersebut disamping keterpisahan kita dengan para pengendara lain yang menempuh jalan yang berbeda dengan jalan yang kita pilih.
Ya, meskipun kelelahan dan tekanan untuk tiba tepat waktu, kadang menjadi faktor penyebab yang membuat kita terdistraksi dari memperhatikannya, apalagi memikirkannya.
Persimpangan,selalu menjadi momen dimana kita berpisah dengan para pengendara lama untuk bertemu dengan para pengendara baru, berjalan bersama, lalu terpisah kembali di persimpangan yang lain dan mungkin dalam waktu yang tidak tentu akan ke kembali bertemu atau boleh jadi tidak sama sekali, demikian seterusnya.
Tentu saja, ini bukan hanya soal traffic-light, persimpangan, dan sekumpulan pengendara
Apa yang kita dapati dari fenomena di jalanan, membawa kita pada satu kesan yang sama bermakna dengan hidup: perihal pertemuan dan perpisahan disebuah simpang kehidupan.
Dimana semua arah hidup yang dipilih dan ditempuh pada akhirnya dilatar belakangi kuat oleh tujuan hidup masing-masing. Apalagi sebagai manusia kita memang cenderung lebih suka terhadap yang mudah: termasuk memilih jalan pintas.
Boleh jadi persimpangan itu hadir dalam bentuk momen kelulusan sekolah, atau saat-saat habis masa kontrak kerja, dan mungkin juga pernikahan atau hantaman realita kehidupan yang tidak diduga-duga.
Perihal perguruan tinggi mana yang akan kita pilih, perusahaan dan karir seperti apa yang kita inginkan, dan senantiasa dorongan naiknya angka usia yang terus mengevaluasi perihal makna hidup seperti apa yang dengannya hidup itu harus dijalani: termasuk dengan sosok seperti apa yang akan kita bersamai dalam perjalanan tersebut.
Setidaknya itulah beberapa yang mungkin kita bisa imajinasikan sebagai contoh konkret dari persimpangan yang tak lepas dari dua hal: arah dan tujuan.
Arah itu tidak kurang tidak lebih sama halnya dengan target-target kecil dalam hidup, sementara tujuan adalah satu keadaan —yang umumnya dipandang ideal— yang hendak dituju: apakah hal itu bersifat final ataupun sementara.
Sama seperti halnya para pengendara di jalanan yang menempuh arah jalan yang berbeda-beda, walau perbedaan jalan itu bukanlah tidak mungkin melazimkan akan tujuan yang sama, sebaliknya, kesamaan arah kadang tidak melazimkan tujuan yang sama.
Bila ingin mencoba melihat nya lebih dekat, cobalah pergi ke pusat kota dimana Anda berada, pukul 6-7 Pagi di hari jam kerja. Disana kita akan melihat bagaimana jalanan terlihat dipenuhi oleh sekumpulan pengendara dengan arah dan tujuan yang berbeda-beda yang datang dari arah yang berbeda pula. Sesampainya di persimpangan bila Anda bisa melihat dari ketinggian, akan terlihat jelas momen pertemuan dan perpisahan tersebut.
Ya, persimpangan tidak lain tidak bukan adalah tempat dimana para pengendara saling bertemu dan berpisah dengan pengendara baru dari arah yang berbeda sekaligus berpisah dan tetap bersama dengan sebagian pengendara lama
Jalanan, seperti menyuguhkan kita contoh konkret mengenai kaitan antara arah dan tujuan dengan pertemuan dan perpisahan.
Sekarang nampaknya, saya —barangkali juga Anda— mulai mengerti alasan dibalik fenomena pertemuan dan perpisahan.
Satu hal lain pada traffic-light, adalah apa yang dapat kita temui dari indikator warna dari lampunya, sebuah bahasa warna yang berbicara tentang irama dalam hidup: kapan kita harus berjalan, kapan kita mesti pelan-pelan, dan kapan kita berhenti sejenak.
Sewaktu coba membayang-bayanginya, saya terpantik sadar dan sekaligus menjadi bahan refleksi atas ke FOMOan saya — dan barangkali juga Anda— yang pernah sesekali dalam beberapa episode hidup, pernah kita alami terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.
"Bila saja kita yang sedang berhenti dipersimpangan jalan tidak begitu masalah terhadap berjalannya kumpulan pengendara lain dari arah lain lantaran alasan ritme traffic light yang berbeda: merah untuk kita dan hijau untuk mereka. Lalu, mengapa kita nampak bermasalah dalam kehidupan, dengan berjalannya orang lain di tengah sejenak pemberhentian kita?"
Tanya saya dalam batin.
Jangan-jangan kita lupa tujuan dan arah?
Dan kita seringkali mudah memaklumi momen perpisahan antar para pengendara tatkala berada disebuah persimpangan jalan, lantaran kita memahami akan perbedaan arah dan masing-masing tujuan.
Tetapi, sulit rasanya menerima perpisahan itu di dalam kehidupan dengan hubungan yang intimitas, kendatipun kita memahami alasannya.
Ya, kepada para pengendara yang pernah satu arah dalam perjalanan, atau sekadar bersua di tengah penantian lampu hijau saat moment pemberhentian.
Kemanapun (perbedaan) arah yang akan kita pilih, semoga arah itu dipertemukan di momen persimpangan yang lain.
Walau kita pun akhirnya harus menerima, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi di sebuah persimpangan: pertemuan atau perpisahan.
Dan perihal lamanya kebersamaan dalam perjalanan, arah dan tujuan lah yang menentukan.
Terkadang adakalanya dalam hidup, kita mengerti bahwa segalanya tidak melulu tentang kita. Seperti halnya kita perlu terbiasa untuk mendengar kebenaran meskipun itu pahit, namun di sisi yang lain kita tetap harus memperhitungkan akibat-akibat yang dihasilkan ketika ingin mengatakannya
Kita tidak bisa mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita
Orang baik itu adalah orang yang melakukan sesuatu dengan melampaui kewajiban
Jika anda seorang pegawai yang datang dan pulang dengan tepat waktu serta tidak mencuri aset perusahaan. Anda mungkin belum dapat dikatakan sebagai orang baik
Akan tetapi ketika anda melihat seseorang yang sedang mendorong motor ditepi jalan, kemudian anda memutuskan untuk membantu, dan menomorduakan urusan pribadi anda. Maka anda adalah orang baik.
Jadi ketika anda melakukan sesuatu dengan sempurna berdasarkan apa yang memang sudah menjadi "SOP" anda. Anda tidak perlu mengekspresikannya dalam bentuk bangga diri bahwa anda berhasil melakukannya.
Pujilah Allah lalu katakan didalam diri anda. "Sudah selayaknya saya memang harus seperti ini."
Yang terbaik adalah melakukan hal yang benar dengan pengetahuan bahwa hal itu benar. Meski melakukan hal yang benar dalam keadaan tidak mengetahuinya sedikit lebih baik dari pada melakukan kesalahan karena menganggapnya adalah hal yang benar.
Terkadang tatkala melihat keadaan seseorang yang seolah terpaksa menanggalkan sisi idealismenya sendiri (prinsip atau cita-cita), hanya untuk sebuah kebutuhan hidup atau hal lain yang tidak seberapa nilainya. Terpikir bahwa hal semacam itu adalah suatu bentuk pengkerdilan.
Tapi dengan mencoba pergi kepada perbandingan antara benturan yang mereka alami dan pada apa yang saya selamat darinya. Kemudian pergi kepada persamaan antara saya dan mereka sebagai seorang manusia. Lalu menuju kepada karakteristik kehidupan yang sarat akan dinamikanya
Hal itu kontan membuat saya terhenti pada potongan ayat
وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ
"Dan sekiranya jika bukan karena karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu. (Tentulah kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)
Saya adalah salah satu orang yang percaya, bahwa tiap orang pada asalnya baik, seperti mencintai keadilan dan membenci kezhaliman, seperti menyukai yang baik dan mengingkari yang buruk.
Ya, setiap manusia mendapatkan karunia yang sama; fitrah suci dan moral yang ada didalam hati.
Kadang memang begitulah kehidupan, ia bisa menjadikan orang tulus menjadi akal bulus, dari empati menjadi antipati, kadang pula mengguncang kewarasan orang-orang yang waras.
Jika kita coba teliti, penyebab itu ternyata ada pada perjalanan hidup itu sendiri, entah masa krisis apa, trauma seperti apa, momen krusial yang bagaimana yang dialaminya. Disitulah kita tahu bagaimana seseorang dapat berubah dari satu kondisi yang semula baik menuju kondisi lain yang tidak baik.
Benturan-benturan kehidupan, kadang membuat kita mengerti alasan-alasan dari tiap perbuatan.
Tulisan ini hanyalah refleksi, hanya saja supaya kita tidak bermudah-mudahan dalam menghakimi orang lain. Yang jelas, seseorang yang sedang terpuruk itu lebih butuh ditemani, bukan dijauhi apalagi dihakimi.
Sebelum menghakimi pun, kita perlu introspeksi. Jangan-jangan diantara beragam faktor-faktor yang ada, kita sendiri termasuk yang menjadi sebab seseorang itu berbelot
Seumpama, pencuri. Kita menghakiminya, memukulinya, mempermalukannya, menelanjanginya, bahkan dalam beberapa kasus, ada yang tega membakarnya.
Tanpa memberi ruang bagi diri sendiri untuk sesekali berpikir, bahwa sikap cuek dan apatisme kita dalam memerhatikan hak sesama, seringkali membuat mereka berlapar-lapar atau kelalaian kita dari menunaikan zakat harta kita yang telah mencapai haul dan nishab membuat periuk nasinya tak menyala yang akhirnya membuat mereka nekat mengambil keputusan-keputusan buruk yang mungkin saja didalam hati kecil mereka enggan untuk melakukannya. Sedangkan kita?
Ya.
Saya pikir, saya belum terlambat untuk belajar memahami keadaan orang lain, dan semoga renungan kecil ini membawa saya kepada arti dari sebuah keperdulian serta pemahaman bahwa hidup adalah arena ujian yang sudah semestinya menjadikan saya dan setiap orang yang didalamnya untuk berupaya saling menjaga agar tidak ada yang terjatuh atau menolong mereka yang sudah kepalang jatuh.
Menolong yang kesulitan
Membimbing yang tertinggal
Membersamai yang terpuruk
Mungkin itu beberapa langkah kecil yang dapat saya lakukan dalam waktu kedepan
Tentu dengan kapasitas dan kemampuan yang saya miliki.
Saya tidak berjanji untuk pasti, tapi saya akan coba mengupayakannya
Orang yang memiliki sebuah barang dan ia tahu fungsi serta cara menggunakan dan memperbaikinya itu jauh lebih menarik ketimbang yang hanya sekadar punya.
Sebagaimana fenomena di hari ini. Siapapun memiliki akses ke sosial media. Namun tidak semua memiliki pengetahuan akan fungsi dan kemampuan filtrasi informasi-informasi didalamnya.
Hidup adalah tentang mengukur kemampuan diri dan memadukannya dengan kebutuhan realitas dalam bentuk memaksimalkan upaya untuk mengambil manfaat dan me-rekontruksi kembali dalam bentuk yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya,
menyeleksi yang terbaik diantara beragam kebaikan-kebaikan dan memilih konsekuensi terkecil dari sekumpulan keburukan-keburukan yang tidak bisa dihindarkan.