Sudah apa? Sudah makan belum mandi. Sudah apa? Sudah Jumat dan September. Sudah apa? Sudah pagi dan 08.18. 08.18 Waktu Indonesia bagian Barat khususnya di Jatinangor, kira-kira begitulah yang ditunjukkan di jam yang kebetulan saat ini disimpan di meja. Oh, bukaaan, itu bukan jam weker yang selalu kau taruh di meja belajarmu, itu hanya jam tangan kananku, yang memang kebetulan sedang ditaruh di atas meja.
Kopi merindu, yaa kopi merindu pada sahabatnya, entah itu pisang goreng atau kacang. Yaa tapi bukan kopi namanya kalo tidak enak saat diminum, kopi itu hebat, meski tanpa ditemani pisang goreng dan kacang, masih bisa tunaikan tugasnya sendiri, tetap enak saat diminum dan berasa kopi.
Kacang, oh kau pasti lupa kulitmu, atau kulit, kau pasti yang melupakan kacangmu. Siapa yang salah dalam hal ini? Kacangnya, yang meninggalkan kulit yang harus terbuang, atau kulitnya, yang meninggalkan kacang yang harus di makan? Maksudku coba kau liat dan resapi. Ketika kau jadi kulit, kau pasti akan sedih, karena kau harus terpisah dengan kacang yang dimakan, dan kau dibuang begitu saja. Tapi jadi kulit enak, kau tidak perlu merasakan apa yang kacang rasakan saat dimakan. Kau tau? Kalau kau jadi kacang, pasti kau senang, karena berguna dan bisa dimakan, walau pada awalnya haruslah sedih karena berpisah dengan si kulit. Tapi si kacang, melalui perjalanan yang amat sangat berat. Setelah berpisah dari si kulit, dan senang untuk beberapa detik saja, kau masuk ke mulut yang gelap, dan dicabik-cabik, di gigit, di hancurkan oleh si gigi taring dan gigi graham, itu belum usai, kau harus dijatuhkan dulu ke dalam kerongkongan, lalu dihaluskan lagi kau disana. Sehabis itu pasti kau di jatuhkan lagi ke lambung. Kalau kau tak ingin jatuh ke lambung, pasti dipaksa dan didorong oleh air bah yang dikirim oleh mulut. Selanjutnya, kacang di haluskan lagi, masuk ke usus, dihaluskan lagi, dihaluskan lagi, dihaluskan lagi, dan akhirnya harus terbuang juga di kamar mandi, tapi itu belum berakhir, setelah disiram kau harus menempuh septictank atau setidaknya sungai, dan entah harus berakhir dimana. Maksudku perjalanan si kacang lebih berat dibandingkan si kulit. Kenapa pula si kacang disalahkan karena lupa pada kulitnya. Atau mungkin si kacang malah ingat si kulit, mungkin si kacang masih mencari-cari si kulit, tapi si kulit lupa si kacang, karena dia sibuk bersenang-senang karena sudah dibuang.
Oh, siapa yang salah? si kacang apa si kulit? kenapa pula pribahasa menyebutkan kacang lupa kulitnya. Oh, siapa yang salah? haruslah manusia yang salah, sebab telah memisahkan apa yang harusnya bersama. Oh manusia, aku, kau, dan kalian sama, sama-sama egois!