Menanam Masa Senja, Anak Turun Memanen
Ditulis Jumat, 5 Juni 2020 Nenek banyak cerita ke gua. Akhir" ini ceritanya selalu menuju ke arah siapa yang bakalan ngerawat dia dan suaminya.
Harapnya, dulu dia nunjuk anak lakinya untuk menemani, melayani, mendampingi, dan menjaganya dimasa senja ini. Namun, menurutku semua harapnya hingga sekarang belum terwujud.
Sedih rasanya mengetahui kakek nenek hanya tinggal berdua di rumah yang menrutu gue ga begitu kecil. Jangankan untuk membersihkannya, untuk berjalan sekedar mencari seteguk air minum saja sering gue liat mereka sudah tak semudah jaman muda dulu. 4 anak kandung dan belasan anak asuh mereka besarkan dan mereka didik. Namun saat ini hanya 1 anak asuh yang nenek rasakan hadirnya. Sebut saja anak asuh itu bernama Anto.
Memang belum lama Anto tinggal berada dekat kakek nenek. Gue juga gatau gimana pertimbangan Anto sekeluarga pindah ke rumah yang baru saja mereka bangun di lahan pemberian kakek nenek.
Yang gue tau, hadirnya si Anto di sekeliling kakek nenek memberi ketenangan tersendiri bagi nenek yang banyak maunya. Sebab, 90% Anto mengiyakan segala macam permintaan nenek. Berbanding terbalik dengan anak kandung nenek sendiri, menurut gue hanya 10% yang diiyakan.
Sungguh miris melihat, mendenga, serta merasakan itu semua secara langsung maupun tak langsung. Beberapa permintaan nenek yang sering banget ditolak oleh ke-4 anak nya sendiri, yaitu sekedar menanam bibit pohon di beberapa halaman yang nenek mau. Selalu saja ada alasan yang terlontarakn dari ke-4 anak nenek dengan inti menolak untuk ditanami apapun itu. Alasan terkuat dari ke-4 anak itu adalah, "Sudah, ibu(nenek) istriahat saja, tidak perlu kebanyakan mikir(beraktifitas) biar sehat selalu nggehh."













