seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Canada
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Bangladesh

seen from Singapore
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Italy
seen from China
seen from France
seen from United States
seen from China
seen from Armenia
Mengurai Hubungan Mertua dan Menantu
Sungguh bahasan yang cukup berat dikupas pada kelas Diorama minggu sore kali ini. Bahasan yang sudah tidak asing terjadi tidak jauh dari sekitar kita. Konflik mertua dan menantu mungkin sering kita dengar sebagai akibat dari adanya sebuah pernikahan. Bahkan meski belum mengalaminya, rasa-rasanya perlu tips dan trik untuk nanti menjalaninya. Aku pernah dapat sebuah nasihat untuk menambahkan permintaan dalam berdoa, selain minta mendapat jodoh yang baik, juga minta untuk dapat sepaket dengan mertua yang baik. Baik..
Lalu bagaimana sebenarnya hubungan mertua dan menantu itu?
Di awal sesi diuraikan kekhawatiran dari seorang mertua, jawabannya beragam dari yang takut tidak satu frekuensi, banyak menuntut ini itu, sampai dengan jawaban paling banyak adalah soal intervensi. Tidak dapat dipungkiri, mungkin kita sering melihat intervensi orang tua/mertua kepada anaknya dalam berbagai aspek kehidupan. Ternyata hal itu menjadi hal yang sangat dikhawatirkan.
Kita semua mengharapkan mertua yang baik, sayang menantunya, menerima segala kekurangan diri kita dan keluarga, supportive seperti keluarga sendiri, dan sebagainya. Alih-alih berharap mendapatkan mertua yang baik, kita juga perlu mempersiapkan orang tua kita menjadi mertua yang baik untuk pasangan kita kelak. Jangan pernah menuntut orang lain untuk menyediakan mertua yang baik bagi kita. Yang paling penting adalah bagaimana kita menyediakan orang tua kita itu untuk menjadi mertua yang baik bagi siapapun calon pasangan kita yang nanti sehingga mereka itu akan merasa beruntung.
Untuk menuju ke arah sana, terlebih dahulu kita intropeksi, apakah kita sudah mengenal baik orang tua sendiri? Bagaimana posisi kita dalam tatanan kerangka keluarga kita? Kita harus menyadari bahwa individu yang kita tuju (calon pasangan) juga sebenarnya berada dalam kerangka keluarganya.
Kita harus membuat kesepakatan dengan orang tua terlebih dahulu, apa-apa yang boleh, mana-mana yang tidak boleh. Sehingga akan semakin jelas apa yang kita cari, baik dari diri kita sendiri maupun orang tua kita. Jika sudah bertemu kesepakatan kita dan orang tua kita dengan kesepakatan pasangan dan orang tuanya, maka nantinya keluarga kita akan berada dalam lingkup dukungan dari orang tua kedua belah pihak. Begitulah harapan kita semua.
Pada sesi kali ini, pertanyaan yang aku submit pada Slido alhamdulillah dibacakan. Soal kekhawatiran pada beberapa hal.
Pertama, melihat dulu mas-ku (abang) menikah, aku jadi berpikir, bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang anak laki-lakinya menikah. Dari sisi pihak perempuan, maka aku khawatir jika ibu mertuaku (nanti) merasa bahwa anak laki-lakinya bukan miliknya lagi. Berlebihan memang, tapi aku khawatir. Langsung dijawab oleh Mas Gun (selaku narasumber), itu artinya kamu mendapatkan pasangan yang salah. Karena pasangan yang baik dan solid artinya dapat menjembatani hubungan pasangan dengan orang tuanya, membantu beradaptasi sedemikian sehingga tidak timbul kekhawatiran tersebut. Singkatnya begitu.
Kedua, apakah jika sudah merasa sekufu dengan calon, perlu ada sekufu juga antar orang tua? Pertanyaan dilempar ke forum, ada yang menjawab perlu, dan tentu ada yang menjawab tidak. Jawaban dari Mas Gun sendiri “tidak harus”. Menurut Mas Gun, kondisi sosial ekonomi 2 keluarga mungkin beda jauh, namun yang perlu menjadi patokan adalah penerimaan kedua belah pihak keluarga. Yang penting bisa saling menerima dengan baik.
Kelas yang berlangsung selama 2 jam itu bermuara pada,
1. Mencari mertua yang baik itu jauh lebih sulit daripada mencari pasangan yang cocok sama kita.
2. Alih-alih kita membuat kriteria apa saja yang harus ada pada pasangan, fokuslah pada apa yang tidak boleh ada pada pasangan untuk mempermudah pada saat decision making.
3. Ketika kita menoleransi sesuatu yang kita buat sendiri, maka kita tidak akan pernah menjadi orang yang berkomitmen. Ketika ke depannya ada masalah-masalah dan kita terlalu toleran terhadap batasan-batasan tadi, maka kita akan terombang-ambing.
- Minggu, 28 Agustus 2022
"Kenapa tak lagi bersama? ", kata Ibu bertanya.
Bu, maaf kalau pemuda yang ibu harap jadi menantu itu mungkin tak bersanding dengan saya di pelaminan. Bukan karena saya tak mau, tapi karena semesta tak memberi izin pada kita. Jangan ibu salahkan dia.
Bu, maaf kalau saya tak bisa mengajak ibu datang ke kampung halamannya,berjumpa neneknya yang lucu yang sering kali dia ceritakan kalau ke rumah kita bertamu.
Bu, maaf kalau nantinya saya akan butuh waktu yang lama untuk mengabulkan permintaan ibu; melihat saya menikah. Bukan karena saya tak mau. Tapi bu saya perlu sembuh dahulu. Untuk menyiapkan hati yang baru.
Bu, kalau setelah ini ada lelaki lain yang saya ajak bertemu ibu. Tolong siapkan hati ibu yang luas untuk menerimanya. Saya tak tau lelaki itu siapa, tapi kalau nanti sudah ada orangnya, tolong jangan ibu bandingkan dengan yang sudah-sudah ada.
Bu, jangan sedih karena saya tak bersama dengan dia. Saya yakin bu, seperti yang ibu bilang waktu lalu, bahwa akan ada yang jauh lebih baik untuk saya. Mungkin bukan dia orangnya, tapi saya ikhlas menerima.
Bu, doakan saya. Agar nanti ketika saatnya tiba, saya benar-benar akan menikah, dengan seseorang yang cukup kuat untuk saya jadikan rumah. Semoga saat itu datang, tak hanya ibu yang merestui, tapi semoga juga semesta.
Bu, terima kasih ya.
Bisa gak sih?
Bukan cuma jatuh cinta sama anaknya. Tapi juga jatuh cinta sama ibuknya, bapaknya, adeknya, keluarganya.
Karena, di rumah aku juga gak cuma jatuh cinta sama mama, tapi aku jatuh cinta juga sama bapaku, mamas-mamasku, mbak-mbakku, ponakan-ponakanku, sama keluargaaaku.
Karena, aku gak bisa hidup jika gak dicinta! Kwk. Aku juga ingin hidup untuk mencintai.
Sepertinya semuanya sepakat, menikah itu bukan tentang dua orang, melainkan dua keluarga yang jadi satu.
Tapi kenapa hanya selesai di kalimat itu?
Jika dengan putra/putri-nya kita bisa kemudian rela untuk dinikahi/menikahi-nya. Bisa untuk kemudian saling sayang-menyayangi. Yang awalnya dua orang itu tidak saling kenal, kemudian jadi kenal, jadi sayang.
Bukankah dengan keluarganya pun demikian?
Keluarga asing yang awalnya tak dikenal, lalu kenal, harusnya kan setelah itu lalu sayang.
Jangan egois dong mau sayang dan disayang hanya dengan satu orang. Keluarganya juga.
Begitupun sang keluarga, ketika mengambil anak orang, atau kemudian mendapat anak orang, tolong sambutlah dengan sayang. Bukankah kini ia sudah jadi anakmu juga? Orangtua mana yang gak sayang sama "anak"nya?
Jika seorang suami dan istri bisa berusaha saling memahami, terbuka, agar bisa saling cinta; apakah tidak bisa hal itu juga dilakukan oleh anggota keluarga yang lainnya?
Saling memahami antara anak menantu dan ibu mertua, komunikasi yang baik, agar saling terbuka, agar saling cinta, contohnya.
Lagi sering dengar, ketika Ashanti dan Anang bilang: "Setelah nikah gak ada lagi belain anak sendiri atau anak menantu, soalnya keduanya sudah jadi anakku"
Bukankah benar demikian?
Juga tidak ada lagi membedakan ini ibuku, itu ibu mertuaku. Semuanya ibu. Cuma sekarang jadi punya ibu dua. Harusnya curahan kasih sayang justru semakin berlimpah. Rasa hormat dan bakti anak pun sekarang nambah, dari kebaktian satu anak, sekarang jadi dua anak. Doa anak shalihnya juga kian bertambah.
Masyaaa Allah.. Membahagiakan bukan?
Semoga saja jatuh cinta tidak hanya terjadi pada kalian berdua, tapi semua-mua anggota keluarga. Karena apa? Karena keluarga macam apa yang gak ada cinta?
“Mau Nikah.”
Disclaimer : Ini adalah opini gue. Tidak kurang tidak lebih. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun.
Jujur. Gue sendiri ngga percaya kalo gue udah hidup, tumbuh, dan berkembang selama lebih dari dua puluh tahun. Dan gue juga ngga nyangka kalo gue udah memasuki fase bahwa membicarakan perihal tentang menikah itu sesuatu yang lazim sebagaimana mestinya.
Ngomongin soal nikah, gue jadi inget temen gue. Sebut aja namanya X, dia cowok yang masih kuliah dan pacaran sama cewek yang bisa dibilang temen gue juga. Singkat cerita dia ngajak ketemuan buat ngobrol ngobrol aja. Cerita deh dia tentang kegalauannya. Dan selama dia cerita cukup banyak point menarik salah satunya saat dia bilang : “Gue pingin bilang ke dia, kalo ada cowok yang lebih mapan dan lebih siap dateng buat nikahin dia, gue ngga papa. Gue baik baik aja.” Meskipun gue tau dia ngga bakal bener bener baik baik aja. Yaaa jalan 4 tahun juga bukan waktu yang sebentar dan banyak hal terjadi pula.
Dari obrolan itu, pikiran gue kemana mana, berusaha menerawang satu gambaran yang gue usahain cukup realistis dan setidaknya gue menerawang 10 tahun kedepan setelah akad selesai ketika suatu pernikahan terjadi.
Beberapa orang mungkin bakal bilang : Ngapain pacarin anak orang kalo kaya gitu. Udah putusin aja cowok kaya gitu. Kalo kaya gitu putus aja udah.Cowok ngga bertanggung jawab tuh. Cowok ngga mau berjuang tuh. Cowok ngga mau usaha buat mapan dan siap buat nikahin ceweknya dll.
Menurut gue, justru sebaliknya. Temen gue yang cowok ini sadar kalo target terdekat dia wisuda secepat mungkin, dapet kerjaan yang mapan, atau mungkin masih mau buka usaha. Menikah bukan tujuan untuk 2 sampai 3 tahun ini. Disaat yang sama, ceweknya anak terakhir. Salah satu ketakutannya dia adalah diburu buru nikah sama keluarga ceweknya. Dia paham, dari sudut pandang orang tua si cewek melepas anak cewek terakhir yang paling disayang di keluarga juga bukan perkara gampang. Bukannya ngga direstui, sebaliknya justru karena dia ngerasa direstui, dan udah dikenal sama keluarga besar si cewek. Makanya dia takut ngga bisa memenuhi harapan orang tua si cewek. Dan disaat yang sama dia juga ngga pingin bikin si cewek nunggu kelamaan. Atau dia juga ngga mau buru buru menikah karena kedua keluarga sudah merestui tapi dia belum yakin dan belum siap.
Well. Ini yang bikin melek dan lebih sadar. Pernikahan lo, bukan cuma tentang lo dan istri lo dan kehidupan baru lo. Nikah butuh banyak persiapan dan pertimbangan.
Menurut gue, sekali lagi menurut gue. kalian boleh aja ngga setuju.
Jangan menikah kalau lo lagi lelah sama kehidupan lo sekarang dan berusaha mencari kehidupan yang lebih baik. Jangan menikah kalau lo merasa ada permasalahan di hidup lo yang belum lo selesaikan sendiri yang nantinya harus lo bagi sama pasangan lo, sekalipun dia merasa baik baik aja dengan permasalahan hidup lo. Jangan menikah kalo lo belum bisa berdamai dan mengatasi diri lo sendiri. Jangan menikah kalo lo masih cari cari pelampiasan dan menghindari permasalahan yang seharusnya lo hadapi. Jangan menikah kalo lo ngga tau resiko dan konsekuensinya. Jangan nikah kalo lo merasa yakin seratus persen dan berjanji bisa membahagiakan keluarga yang akan lo bangun sepanjang hidup lo. Ini bukan dongeng yang happily ever after. Kenapa ? Karena setelah lo nikah lo bakal punya masalah baru, jangan dikira lo ngga bakal punya masalah, ngga punya pain, ngga punya kesedihan. Jangan. Ini beberapa tema permasalahan yang mungkin akan dihadapi setelah menikah.
Tema #1 “Menu makan hari ini.” Mungkin tema ini tidak terdengar serius tapi pikir lagi. Selama lo hidup lo butuh makan. Ada anak, istri, dan suami yang harus makan setiap hari. Apa beras lo masih ? Susu anak aman ? Uang bulanan cukup ? Kulkas isi apa ? Eh, udah beli sayur belum ? Yaudah sih tinggal beli aja. Kalo lo punya uang cukup buat kasih ‘makan’ bener bener makan doang tema pertama gampang terlewati. Soal makan beres.
Tema #2 “Anak Menantu Ku.” Inget suami/istri lo itu anak dari sepasang orang tua yang juga punya saudara dan hubungan kekerabatan lain. Inget juga yang lo nikahin itu bukan cuma suami/istri lo tapi keluarga besar mereka juga. Paket komplit dong. Suami/istri lo ngga bakal ada kalo ngga ada mereka. Nah pertanyaanya ‘Apa lo cukup baik dimata keluarganya ? Kalau baik seberapa baik ? Apa lo sudah cukup berpendidikan ? Apa finansial lo juga udah cukup baik ? Apa yang bisa lo banggakan didepan keluarganya ? Apa udah jadi istri dan ibu yang baik ? Atau Sebaik apa sih lo sebagai suami ?”
Baik atau buruk kan relatif. Lagian kan lo ngga hidup dalam standar orang lain, betul ? Betul. Lo hidup dengan standar hidup lo. Okey okey. Kalau begitu katakan lo adalah menantu yang baik. TAPI SEBAIK APAPU LO, bersiaplah dengna segala perjamuan pertemuan keluarga dimana lo pasti bakal ditanyain ini dan itu, diomongin tapi bisik bisik pake toa, disindir, atau bahkan ditegur langsung. BERSIAPLAH.
Oh. Ngga sampai disitu aja. Saat lo jadi menantu, lo masih tetep sebagai anak. Lo juga sebagai ibu/ayah dan juga sebagai istri/suami. Maka dalam hal ini saat lo menikah lo bukan cuma mikirin keluarga yang baru lo bangun. Lebih dari itu lo bakal mikirin 3 keluarga sekaligus. Ya masa iya kalo orang tua/ mertua lo butuh bantuan lo sebagai anak/menantu lo ngga bantuin mereka.
Tema #3 “Ini rumah siapa ?” Hujan deras, panas terik. Singkatnya lo butuh tempat berteduh kan ? Ya kan ? Lo mau terteduh dimana ? Tempat lo bakal berteduh dengan istri/suami lo itu ada siapa aja disana ? Orang tua istri/suami lo atau bahkan orang tua lo sendiri. Bisa jadi kakak/adik atau kakak/adik ipar.
Rumah yang bakal lo tinggalin itu juga tempat untuk membesarkan anak anak lo kelak bukan cuma berteduh apalagi seks. Apa rumah itu sudah cukup nyaman buat keluarga kecil lo ? Sekalipun lo tinggal sama orang tua atau ada anggota lain didalam rumah lo. Lo harus tau seberapa baik keadaan rumah itu untuk membuat semua orang didalam rumah merasa nyaman dengan kehadiran lo dan suami/istri lo DAN ANAK LO KELAK. Wait wait wait, gue mau ngomong kasar bentar, tempat lo ‘berkembang biak’ itu dimana ? Sorry nih kalo ada orang yang nikah karena nafsu doang apa lo mikir sejauh ini. Jangan seenak jidat.
Beberapa tema lain yang menurut gue cukup menarik yang mungkin bisa kita telaah di lain waktu seperti : “Persalinan.” “Anakku Sakit.” “Mertua/Ortu Sakit Keras.” “Arisan, Hajatan, Ultah.” “Tetanggaku.” “Kakak/Adik (Ipar) Ku.” “Pendidikan Anakku.” “Berkabung.” “Hak ku dan kewajiban mu.” “Aku atau kamu ?” “Anak Siapa ?” “Warisan.”
Dan masih banyak lagi tema tema lain mungkin aja terjadi. Bahkan mungkin setelah pernikahan itu terjadi ada pertanyaan. Haruskan kita berpisah ? atau Haruskan aku menikah lagi ? Apa yang terjadi pada anak anak ku nantinya.
Well. Pada akhirnya hidup yang kamu jalan juga ngga melulu tentang kamu. Pilihan yang kamu pilih ngga cuma menentukan jalan hidupmu. Menurut gue selalu ada Butterfly effect dari setiap pilihan kita, yang mengalikan takdir dan kehidupan lain. Hanya saja seringkali kita tidak pernah sadar. Hidup yang kita jalan nyatanya ngga sepenuhnya punya kita. Terutama bagian dimana kehidupan mu akan melahirkan kehidupan baru. Apa itu ? Anak. Lo ngga akan pernah tau kehidupan baru yang lo ciptakan itu akan menjadi kehidupan seperti apa buat lo dan juga buat orang lain. Anak lo bisa bikin kehidupan lo lebih baik. Mungkin juga bukan lo tapi juga lingkungannya dan juga menjadi takdir bagi kehidupan istri/suaminya kelak. Dan lo ? Butterfly effect macam apa yang sedang lo ciptakan dengan pilihan pilihan lo.
Menikah bukan pelarian. Hidup mu, bukanlah milikmu sepenuhnya, bukan begitu ? Inget : Menikah memulai babak/tahap/fase/bab/lembaran kehidupan baru tapi bukan awal kehidupan baru. Menikah itu melanjutkan kehidupan yang udah lo jalanin dan menciptakan awal kehidupan baru bagi yang lain (a.k.a anak). Lo ngga bisa memutuskan masa lalu dan asal usul lo sekalipun lo memulai fase baru dikehidupan lo. Tinggal gimana caranya lo mengisi lembaran baru kehidupan lo itu dengan sesuatu yang lebih baik.
Dan ini pemikiran gue hari ini sekarang diusia gue yang sekarang dari apa yang gue lihat, dengar, dan alami. Sangat mungkin akan berubah dan ada pemikiran yang berbeda diusia, waktu, tempat, dan situasi kondisi yang berbeda. Jadi yang terlalu dipikirin. Jadikan bacaan ringan. Selingan waktu luang.
Oh. Anyway, kapan lo married ?
"Ibu ya bilang ke yang jual, Ibu ga pernah punya barang dapur yang bagusan. Tapi waktu beli ini, Ibu bilang, kalo sekarang Ibu punya anak gadis dua. Mana tahu anak gadis Ibu jadi bisa masak."
-Obrolan sama Ibu hari ini, 25 September 2019 menjelang magrib. Jadi nikmat pulang gasik di stase PKM hari ini, adalah obrolan sedekat ini sama Ibu. Hari ini, unboxing panggangan dan panci super lucu yang Ibu beli spesial buat dua anak gadisnya latihan memasak, betah betah di dapur.
Dan besok lusa, tetap saja berdoa kencang sedari sekarang, semoga kesemua aktivitas tak sampai membuat Ayah Ibu plus Ayah Ibu Mertua kelak sampai merasa kesepian, kurang perhatian dari anak-menantunya.
Menjadi Menantu
Katanya, saat seseorang menikah, dia tidak hanya menikahi istri/suaminya, tetapi juga keluarganya. Buatku, menikahi keluarganya lebih sulit dari menikahi suamiku sendiri. wkwk. Kalau menikahi suami lebih mudah karena kita sudah kenal lebih dulu dan umur kita ngga terlalu jauh. Kalau keluarga kan, selain orangnya lebih banyak, kita juga harus pinter menempatkan diri, gimana keluarga baru mau diperlakukan.
Aku punya prinsip, kalau aku ingin dianggap sebagai anak, aku juga harus berbakti sama orang tuanya kayak aku berbakti ke orang tuaku, sayang sama adik-adiknya kayak sayang ke adik-adikku, menghormati paman bibi uwa dan sepupu kayak keluargaku sendiri.
Cara mendidik orang tuaku pasti beda dengan cara suamiku dididik oleh orang tuanya. Aku perlu adaptasi dengan value-value keluarga orang tuaku. Aku ngga bisa langsung mendidik/menanamkan valueku ke adik-adik suamiku kayak aku mendidik adik-adikku. Ada cara yg bisa aku lakukan, ada juga cara yg lebih cocok untuk dilakukan oleh suamiku sebagai kakak kandungnya. Pembelajaran demi pembelajaran memberiku pemahaman bagaimana menempatkan diri sebagai menantu di keluarga ini.
Aku selalu berusaha untuk mendukung suamiku untuk berbakti sama orang tuanya, keluarga besarnya. Dengan begitu, orang tua suamiku ngga merasa kehilangan anaknya sejak menikah, justru anak yg berbakti sama mereka nambah 1, yaitu aku sebagai menantunya.
Aku sangat bersyukur bahwa aku dianggap seperti anak sendiri oleh mertuaku. Meskipun setiap pulang kampung aku masih agak canggung, seengganya aku mendapat penerimaan yang hangat ditengah keluarga mereka yang bikin aku kangen pulang kampung kayak ke rumah orang tuaku sendiri.
Ibuku
Belajar jadi menantu dari Ibu, Ibu yg notabene dibawa oleh bapak dari luar pulau untuk menetap di kotanya pastinya bukan keputusan yang mudah bagi Ibu. Bayangkan saja Ibu harus meninggalkan orangtua dan saudara-saudaranya dan pahitnya tidak tau pulangnya kapan, tiket pesawat dahulu kala hanya untuk kelas menengah ke atas, pelabuhan pun rasanya terlalu lama mengingat kondisi Ibu dan Bapak dulunya tidak memiliki ekonomi yang berkecukupan. Derita Ibu bukan hanya persoalan ekonomi saja tetapi beliau harus diuji dengan mertua yang tidak menyukainya sama sekali, membenci sukunya, menganggap enteng Ibu yang tidak bekerja karena harus mengurus 2 kakakku pada masa itu.
Hari-hari caci maki oleh nenekku tidak berhenti, bahkan menghasut keluarga dan anaknya sendiri untuk membenci Ibu, memang nenekku lagi masa berjaya-jayanya, dimana saat itu kakekku berada pada puncak tertinggi dalam hidupnya yaitu menjadi anggota legislatif sebuah kabupaten, jaman dulu profesi ini sangat bergengsi. Kesombongan nenekku makin jadi karna Bapakku diterima menjadi dosen di sebuah kampus negeri terkenal di ibukota provinsi tersebut, selama bapak kerja, bapak jarang memberi uang kepada nenek dan itu menjadi alasan utama nenekku murka terhadap Ibu karna mengira Ibu-lah sang pengatur keuangan Bapak. Sudah terbayangkan di hati, betapa sedihnya hati Ibuku, merantau jauh dari keluarga dan dibenci oleh mertua sendiri. :’(
Setiap kali mengingat cerita itu, saya sebagai anak merasakan sakitnya.
Beberapa tahun berlalu hingga kakakku yang pertama dipanggil Allah dan hadirlah kami, kakak dan saya. Ibu pada saat itu sudah aktif bekerja, katanya untuk hidup mandiri, dalam pikiranku, untuk apa mencari uang lagi toh bapakku memiliki kerja yang bonafit, setidaknya mencukupi kebutuhan kami saat itu. Siapa sangka, Bapakku ternyata tidak pernah menafkahi Ibu, dari awal menikah hingga saat ini (saya udah nikah dan lagi hamil anak pertama), yang awalnya nenekku berpikir tidak-tidak pada akhirnya malu sendiri mengetahui hal itu. Nenekku pelan-pelan mulai berubah tetapi Bapakku tidak. Dia tetap egois dan lebih memilih menyimpan seluruh gajinya.
Ibuku, kesabaranmu tidak ada duanya.
Ibuku berhasil menyekolahkan kami, bahkan kakak kedua menyelesaikan profesinya dengan bantuan Ibu, kakakku selanjutnya berhasil jadi dokter dan kini saya tumbuh dengan berbekal ilmu engineer. What a proud of you, Ibu. Kesabaranmu lagi-lagi tidak terbatas, doa-doa yang kau panjatkan diijabah olehNya. :’)
Sekarang, saya juga memasuki kehidupan pernikahan. Bagi seorang introvert seperti saya, memiliki lingkungan baru melelahkan makanya sebagai menantu yang numpang hidup di rumah mertua, saya hanya kebanyakan diam dan sangat jarang berinteraksi dengan keluarga suami. Sampai akhirnya kejadian yang dialami Ibu saat awal menjadi menantu terjadi kepada saya, yang membedakan yang kurang begitu menyukai saya adalah Bapak mertua. Ibu mertuaku kebetulan sudah dipanggil sang pencipta jauh sebelum saya mengenal suami. Kata-kata pedis yang sudah menjadi karakternya terlontar, hati saya lemas selemas-lemasnya mencoba intropeksi diri, mencoba mencari titik salahku, namun saya tidak berpuas diri dan larut dalam sakit hati. Saya tiba-tiba mengingat Ibu dan mulai menangis. Merasa tidak berguna karena tidak bekerja kantoran. Kebetulan setelah menikah saya memilih bersama suami saja, keputusanku tidak diindahkan oleh Bapak mertua. Baginya, prestige nomor 1. Hati saya sedih sesedih-sedihnya. Kesalahanku adalah bercerita kepada Ibu. Saat saya menceritakan ke Ibuku masalah ini, malamnya beliau tidak bisa tidur dan mulai ikut menangis juga. Selama saya cerita masalah ini, beliau tidak pernah menyalahkan Bapak mertua, beliau selalu bilang sabar sabar dan sabar. Umur yang masih dibawah 30 ini terkadang memikirkan egonya saja, belum matang. Dengan nasihat Ibu, saya mulai belajar agar sabar saja dan tetap menghormati Bapak mertua saya. Ibuku tidak pernah sekalipun menyuruhku tidak menghargai keluarga suami bahkan beliau yang selalu positif thinking. Ibu, ajari saya jadi menantu sepertimu <3