Mayat di Kamar Mandi
Daun pintu bergayut pada rangka plastiknya. Kau melihatnya tampak seperti burung jalak pada punggung kerbau atau ikan-ikan remora di perut hiu. Tapi kau tidak tahu simbiosis jenis apa yang dilakukan daun pintu tersebut. Yang kautahu, kaulah penyebabnya.
Mayat seseorang yang kaukenal tergeletak di ambang pintu tersebut. Dan kau, dengan kedongkolan murni, menganggapnya sebagai perkara yang pantas diabaikan. Dalam tempurung kepalamu, kau berpikir, bahwa sebaiknya, orang-orang menganggapnya sebagai pelajaran penting.
Kau tidak bermaksud membunuhnya. Tapi di sisi lain, kau punya prinsip yang sudah sekian tahun kaupegang benar. Membunuh atau melanggar prinsip bagimu bukan dua hal yang dapat diperbandingkan. Membunuh bisa saja sebagai bentuk lepas kendali diri. Tapi melanggar prinsip hidup, tolol belaka kalau orang melakukannya.
"Kalau orang itu tidak kuhentikan menggedor-gedor pintu, kemungkinan besar ia akan menggedor-gedor pintumu di lain waktu," katamu kepada salah seorang yang menjadikan mayat di hadapanmu sebagai tontonan.
"Tapi tahimu belum kausiram," katanya.
Cc : @tumbloggerkita @kitakalimantan @kitabgundul











