Namaku Raisman, aku baru saja memulai kuliahku di sebuah universitas negeri dan ini sudah masuk satu bulan aku belajar di sini. Aku juga sudah mengenal beberapa orang di kelasku. Orang-orang yang mengenalku sering memanggilku aisman karena mereka bilang tangan dan sikapku dingin seperti es. Sebenarnya sikapku bukannya dingin hanya saja tidak mudah saja mengeluarkan emosi, paling tersenyum simpul saat ada hal yang lucu padahal yang lain tertawa terbahak-bahak atau yang lain menangis karena filmnya sedih sedangkan aku hanya menghela nafas.
Di kampus aku paling suka ke perpustakaan karena sepi dan hening. Tapi beberapa hari terakhir ini aku malah gelisah di sana. Aku gelisah karena di tempat sudut yang biasa aku duduki, sekarang ada wanita yang duduk di depannya. Dia beralasan duduk di sini katanya lebih sepi dan hening. Yah sama sepertiku. Seharusnya aku senang karena ada wanita cantik yang duduk di depanku dengan hobi yang sama, membaca di tempat sepi dan hening. Tapi tidak, aku gelisah. Aku yang sudah lama tidak merasakan emosi yang berlebihan sejak saat itu kini merasakan emosi gelisah.
Aku mencoba menghilangkan kegelisahanku dengan sekali-kali mengajaknya berbicara mengenai buku yang kami baca. Dan yah, gelisahku hilang kemudian menjadi nyaman kembali. Namun nyaman ini berbeda seperti saat aku sendiri, aku tak tau di mana letak bedanya.
Aku terlonjak bangun saat merasakan dadaku yang tiba-tiba sakit sekali. Aku menekan dadaku dengan tanganku, merasakan dadaku yang panas sedangkan tanganku yang dingin. Sambil menekan dadaku aku berdoa dan berharap sakitnya berkurang. Sekian detik berlalu akhirnya sakit yang kurasakan di dadaku hilang. Keringat mengucur deras di wajahku, aku bangun dan melihat jam pukul 05. 15 pagi. Hari ini aku ada jam kuliah pagi dengan segara aku bergegas mandi. Siangnya aku pergi ke kampus dan duduk di tempatku yang biasa dan di depanku tentu saja ada dia yang sedang membaca. Dia kembali menyapaku seperti biasa namun kali ini wajahnya tampak cemas saat melihatku. Dia bertanya apakah aku sakit, karena katanya wajahku tampak pucat sekali dari biasanya. Aku bilang tidak apa-apa hanya sedikit kelelahan.
Setelah perkuliah sore aku berjalan menuju parkiran motor dan tak sengaja melihatnya di depan gerbang kampus. Aku lalu membelokkan langkah kakiku menujunya. Baru beberapa langkah aku berjalan aku melihat mobil hitam berhenti di depannya dan seorang lelaki keluar menyapanya dan membantu dia masuk ke dalam mobil tersebut. Aku menghentikan langkahku memandanginya lalu kembali belok menuju parkiran motor.
Pagi ini aku kembali merasakan sakit di dadaku. Sakit yang sama seperti sebelumnya namun lebih lama. Keringat kembali mengucur deras di wajahku, bajuku basah seperti kehujanan dan tanganku yang rasanya dingin sekali. Hari ini jadwal kuliahku kosong tapi aku tetap datang ke kampus dan langsung ke perpustakaan. Sejam berlalu dia datang masuk perpustakaan dan duduk di depanku. Aku merasa gelisah kembali, kali ini bukan karena keberadaannya namun karena ada sesuatu yang ingin kukatakan. Aku takut, jika tidak kukakatan segera semua akan terlambat.
Setelah lama berpikir, aku lalu mencoba mengatakannya. Aku memanggil namanya dan dia menoleh padaku. Aku lalu mengatakan beberapa kalimat basa-basi dan saat aku akan mengatakan apa yang sebenarnya yang ingin kukatakan, dadaku kembali sakit. Kali ini sakitnya lebih parah dari sebelumnya, aku jatuh di lantai dari tempat dudukku sambil memegang dadaku. Sesaat, aku melihat dia panik karena melihatku yang tiba-tiba tumbang. Hah, aku terlambat. Padahal hanya sedikit lagi aku akan mengatakannya, tapi bom di tubuhku tidak memberikan waktu. Aku melihat matanya berair menatapku dan mulutnya seperti mengatakan sesuatu. Saat itu aku hanya bisa tersenyum tipis menekan dadaku dengan tangan dinginku sambil perlahan menutup mataku.............. selamanya.
cc : @tumbloggerkita @kitakalimantan @ariqyraihan