I feel like this picture exists because the photographer found this boy the "sexiest boi" of the festival. I mean, I don't swing that way but I can understand. Maybe he was like, "Oh yeah, work them legs. It must be illegal to have them legs. Yeah, so fine Damn bahags should be the national costume and we should wear them all the time damn this boy's legs so fine yeah bahag"
Wangsa Syailendra adalah wangsa/dinasti Buddha yang akhirnya akan menguasai Kalingga, Mataram Kuno, dan Medang.
Informasi Wangsa
Corak: Buddha (aliran Mahayana (mengacu pada motivasi spiritual))
Letak: dataran Kedu
Syailendra berasal dari kata Saila dan Indra, yang berarti Raja Gunung.
Kebudayaan
Gelar ‘Ratu’ yang berarti ‘datu’/pemimpin di Mataram Kuno, serta gelar ‘Dapunta’ yang berarti penguasa di Sriwijaya, sama-sama digantikan dengan gelar Wangsa Syailendra yaitu ‘Sri Maharaja’.
Asal Usul
1. Teori India (pencetus: Moens & Sastri)
Wangsa Syailendra berasal dari Kalingga di India Selatan, lalu menetap di Palembang pada abad ke-7. Namun, setelah kedatangan Dapunta Hyang dengan pasukan tentaranya, Wangsa Syailendra melarikan diri ke Jawa.
2. Teori Funan/Kamboja (pencetus: George Coedes)
Wangsa Syailendra berasal dari sisa-sisa Kerajaan Funan (pada saat itu ada kerusuhan di Funan). Anggota Kerajaan Funan melarikan diri ke Jawa dan mendirikan Wangsa Syailendra, lalu menjadi raja di Kerajaan Medang.
Kelemahan: ada bukti bahwa Wangsa Syailendra sudah lebih lama bermukim di Sumatra (Palembang) sebelum pindah ke Jawa.
3. Teori Nusantara (pencetus: Purbatjaraka)
Wangsa Syailendra sudah lama menguasai Nusantara (terutama di Jawa dan Sumatra), lalu setelah Sriwijaya mengekspansi kekuasaannya, Syailendra berpindah ke Jawa Tengah.
Dalam teori ini juga disebutkan bahwa Sriwijaya (di bawah Dapunta Hyang) melakukan penyerangan pada Bhumi Jawa, dan menyebarkan kultur terkait dengan penggunaan gelar ‘dapunta’ pada nama Dapunta Syailendra.
(sumber teori ini adalah Carita Parahyangan. Bukti teori ini adalah ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit dan Kota Kapur)
Dalam teori ini juga dijelaskan bahwa Wangsa Sanjaya sebenarnya merupakan keturunan dari Syailendra di India Selatan yang menganut Hindu aliran Siwa. Namun, setelah Panamkaram berubah agama menjadi Buddha Mahayana, raja Mataram juga mengikuti.
Sumber: dalam Cerita Parahyangan, Rakai Sanjaya menyuruh anaknya, Rakai Tamperan, untuk berpindah agama dari Hindu Siwa karena agama Hindu Siwa ditakuti oleh banyak orang.
Bukti: perubahan agama dari Hindu Siwa menuju Buddha Mahayana ditulis dalam Prasasti Raja Sankhara.
Lalu dalam Prasasti Canggal, Sanaha melahirkan anak bernama Sanjaya yang kemudian menjadi Raja Sanjaya dan memimpin Wangsa Sanjaya. Sanaha sendiri merupakan keturunan Galuh yang kemudian berkaitan dengan Kerajaan Kalingga.
Bukti Kerajaan
1. Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Jawa Tengah.
Ditulis dalam aksara Kawi dengan bahasa Melayu Kuno (abad 7-8 M). Prasasti ini menceritakan tentang agama Hindu dengan aliran Siwa, juga berisi silsilah Dapunta Syailendra (cikal bakal Wangsa Syailendra): ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, istrinya bernama Sampula.
Isi:
“Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa... dari yang agung Dapunta SelendraSantanu yaitu nama bapaknya, Bhadrawati yaitu nama ibunya, Sampula yaitu nama bininya dari yang agung Selendra.”
2. Prasasti Kalasan
Berupa peninggalan Mataram Kuno yang ditemukan di Kalasan (Sleman).
Prasasti Kalasan menceritakan pembangunan Candi Kalasan untuk Dewi Tara (dari Wangsa Soma, lalu menikah dengan Samaragrawira dari Wangsa Syailendra). Juga Desa Kalasan yang diperuntukkan untuk sanggha (umat Buddha), serta biara di dalamnya untuk pendeta.
3. Prasasti Klurak
Berupa peninggalan dari Mataram Kuno yang ditemukan di Prambanan.
Prasasti Klurak menceritakan tentang pendirian kuil untuk arca Manjusri (dewa meditasi) atas perintah Raja Indra. Kuil yang dimaksud adalah Candi Sewu dalam Kompleks Candi Prambanan.
Corak: Hindu (aliran Siwa)
Berdiri: abad ke-5
Letak: Jepara, Cepu, atau Pekalongan (Jawa Tengah) lokasi belum dapat dibuktikan kebenarannya.
Bukti Kerajaan
1. Naskah Carita Parahyangan
Dalam Carita Parahyangan yang ditulis di abad ke-16 (dengan cerita berpusat pada Perang Bubat, Majapahit, dan Galuh), diceritakan bahwa Ratu Shima menikah dengan Mandiminyak, raja kedua dari Kerajaan Galuh.
Carita Parahyangan membahas silsilah sebagai berikut:
Ratu Shima menikah dengan Mandiminyak (raja kedua Galuh).
Memiliki cucu bernama Sanaha yang menikah dengan Brantasenawa (raja ketiga Galuh).
Sanaha dan Brantasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya (raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh).
Ratu Shima meninggal tahun 732, Sanjaya menggantikan Shima menjadi raja di Kerajaan Kalingga, yang kemudian berubah nama menjadi Bumi Mataram.
Setelah ini, Kalingga terbagi 2 menjadi Kalingga Utara (Bumi Mataram/Shana) dan Kalingga Selatan (Bumi Sambara/Dewa Singha).
Mendirikan Wangsa Sanjaya di Mataram Kuno.
Menikah dengan Sudiwara (anak dari Raja Bumi Sambara).
Memiliki anak bernama Rakai Panangkaran (raja kedua Mataram Kuno).
2. Berita Dinasti Tang
Berisi tentang informasi Kalingga, isi:
Kalingga terletak di Jawa, di Laut Selatan. (Di utara ada Kamboja, di timur ada Bali, dan di barat ada Sumatra)
Ibukota Kalingga dikelilingi tembok kayu.
Istananya beratap daun palem dan singgasananya terbuat dari gading.
Warga Kalingga pandai membuat miras dari bunga kelapa.
Menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.
Dipimpin Shima dari 674, Kalingga sangat tenteram dan aman.
3. Catatan Perjalanan It-sing
Berisi tentang informasi Kalingga, isi:
Pada abad ke-7, Kalingga menjadi pusat penyebaran Buddha Hinayana (aliran Buddha yang berpaku pada ajaran asli Sidharta Gautama, yaitu prinsip kebajikan).
Memiliki pendeta Cina bernama Hwining yang bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra, bersama menerjemahkan kitab Buddha ke bahasa Tionghoa (kitabnya berisi kisah tentang Nirwana).
4. Ditemukannya Prasasti Tukmas
Ditemukan di lereng Gunung Berapi, Lebak (Jawa Tengah). Berisi tentang mata air Sungai Gangga yang sangat jernih, juga gambar-gambar (trisula, kendi, kapak, cakra, bunga teratai - semuanya menjelaskan hubungan antara manusia dengan dewa Hindu).
5. Ditemukannya Candi Angin.
6. Ditemukanya Candi Bubrah.
Struktur Kerajaan
Ratu Shima.
Setelah dipecah, Shana (Kalingga Utara).
Dewa Singha (Kalingga Selatan).
Peristiwa Penting
Ada sebuah kisah yang berkembang di Jawa Tengah mengenai keberadaan Kalingga yang dipimpin oleh Maharani Shima (Ratu Shima). Ratu Shima dikenal sebagai orang yang sangat jujur dan taat hukum.
Ada sebuah peraturan di Kerajaan Kalingga: barangsiapa yang mencuri hak yang bukan miliknya, maka dikenakan hukuman potong.
Suatu hari, seorang raja dari kerajaan seberang mendengar tentang ketaatan Kerajaan Kalingga sehingga memutuskan untuk mengujinya. Raja tersebut mennggalkan kantong berisi emas di pasar.
Selama bertahun-tahun, tidak ada yang berani menyentuh kantong tersebut. Namun, tiga tahun setelah kantong tersebut ditaruh, anak Ratu Shima menyentuhnya.
Mendengar kabar anaknya tidak berlaku jujur, Ratu Shima marah dan menjatuhkan hukuman potong kaki terhadap anaknya. Dewan Kerajaan memohon ampun terhadap Ratu Shima dan meminta kemurahan hati supaya hukuman tersebut dibatalkan. Namun, karena Ratu Shima ingin berlaku adil, hukuman tersebut tetap dilaksanakan.
The patatag or pateteg, also known as bamboo leg xylophone, is a bamboo ensemble instrument of the Kalingga from the northern part of the Philippines. Made of bamboo and typically used as toys by children, these can be found lying about as they are tossed away after use because they are so easy to make. These bamboo leg xylophones are also used as practice instruments for other bamboo ensembles. #erickamusikera #kalingga #philippinemusic #ethnomusicology #bamboo #xylophone
I know. You don't have to point it at me. I know I crashed it. You don't need to tell me. I'm already feeling bad... and I won't excuse myself. Stop, you don't need to say anything. Just help me practice and I won't let that happen again.
-jadediaries, I'm Sorry Kalingga, I Really Love You