aku kira ayah ga pulang, ternyata semalam ia datang, terkejut sih karena ayah ga kabarin,
pagi tadi mau ke curug ke alam alam deh tp sudah jam 8 blm jalan, lagipula budget nya udah ga ada, akhirnya coba ikhlas menerima,
gapapa ga pergi yg penting ada ayah menemani,
kami td pergi ke uyut ambil jam ibu yg ketinggalan.. dzuhur sudah di rumah sih ,
aktivitas seperti biasa anak-anak main mesta bergantian aku dan ayah awasi mansa ada abang alzam dan el jd main di luar,
dapur cucian piring, kamar numpuk setrikaan, ruang tengah sisa mansa prakarya, kamar anak-anak juga kurang nyaman buat ditidurin kasur perlu disapu pake lidi, sore anak-anak mandi lama memang main air, mesta selesai duluan mamsa belum masih tragedi jatuh-jatuh gt imaji di kamar mandi, qodarullah lututnya sobek kena keramik yg memang retak 😭😭😭 ibu dan ayah berusaha lakukan pertolongan pertama, kompres es, siram NaCl, aku lari ke warung beli betadine, lukanya sudah kami tutup kain kasa setelah ditetesi betadine, mansa meraung-raung.. aku khawatir bgt ingin ke dokter kt ayah tapi pasti dijahit , tenang aja dulu kita udah tepat lakukan pertolongan pertama...
sekarang mansa udah makan, udh lbh tenang lg nonton tp setiap terasa sakit dia akan rengek lagi merintih kesakitan katanya "aku masih inget kejadiannya bu, gimana caranya aku mau lupaa" 😭
alhamdulillah sekarang mansa dan mesta udah tidur, td sebelum tidur mansa nangis-nangis lagi dia marah dalam tangisnya ingin banget lupain kejadian tadi, sampe dia gamau liat pintu kamar mandi, dia mau keramik yg pecah ditambal dulu, ayah berusaha tenangin , tapi malah tambah marah, mansa berharap ibu nenangin ,
ibu bilang ibarat mesta minta ditolong dari dalam kolam lumpur mau ayah dan ibu berkata apapaun mesta ga bisa ditolong kalau mestanya ga tenang dan ga berusaha raih tangan ayah ibu,
gitu juga mansa , kunci tenangnya ada di mansa, ayah ibu ngerti betapa sakitnya dan masih kebayang terus kejadiannya, ibu juga pas sholat magrib tadi kebayang tapi langsung ibu istigfar , mansa harus pasrah menerima ya, ibu waktu mau lahirin mesta di SC itu ibu takut dan kebayang perut disobek, tapi kan perut ini ciptaan Alloh milin Alloh maka yaudah terserah aja ya alloh aku cuma jalanin aja kau pasrah, mansa juga ya terima nak.. dan harus yakin pasti ada hal baik setelah ini, kata mansa sakiiiit bgt bu... iyaa nak, mesta kan gamungkin kita suruh naik sepeda roda dua mansa kan karena ga mampu, gamungkin alloh kasih rasa sakit ini kalau mansa gamampu laluinnya, percaya ya nak pasti ada hal baik ada kebaikkan di balik ini semua, kita ga punya kekuatan apapun kecuali dari Alloh ,
terus kt mansa "ini bukan gara² Alloh, ini karena aku kelamaam di kamar mandinya" 😭😭
iya nak jd pelajaran untuk kita semua ya, lutut itu kan ciptaan Alloh rasa sakit itu adalah tanda tubuh lg berusaha memperbaiki lagi..kuat ya nak..
ibu terus dzikir, laaaailahailla antayaa yaa hayyu yaqoyyum.. terus ibu nyanyi dmasive jangan menyerah, nyayi gita gutawa melangkah lagi, nyanyi hanya hamba alloh punya sulis, sambil di hati juga pilu rasanya.. ,
apa hikmah dari setiap luka yg dialami anak misal karena jatuh, betapa perih hati ini melihatnya meraung kesakitan, apalagi saat mansa teriak-teriak pengen lupain kejadiannya hati udaj ikutan nangis keceng tapi lisan berusaha memenangkan 😔😭😭
Itu juga tanda fitrah manusia—tidak ada yang suka sakit.
Ya Allah, jadikan sakit ini penggugur dosa, penambah kuat, dan bukti kasih sayang-Mu."
1. Latihan sabar & menerima takdir
Anak belajar bahwa tidak semua yang terjadi bisa dikendalikan. Luka itu menjadi pintu latihan menerima dan berserah.
2. Tumbuhnya empati & kesadaran diri
Saat sakit, anak mulai belajar memahami rasa tidak nyaman. Dari situ, kelak dia bisa lebih berempati pada orang lain yang sakit atau terluka.
3. Pengingat akan rapuhnya tubuh & kuasa Alloh
Luka sekecil apapun menunjukkan bahwa tubuh ini bukan milik kita. Ada sistem penyembuhan yang luar biasa yang Alloh ciptakan. Luka itu mengajarkan tauhid secara alami—bahwa hanya Alloh yang punya kuasa menyembuhkan.
4. Bekal keberanian
Luka-luka kecil di masa kanak-kanak menjadi “jejak keberanian”. Dari jatuh, menangis, lalu pulih, anak akan belajar: “Oh ternyata aku bisa sembuh. Aku bisa melalui ini.” Itu modal untuk menghadapi luka batin di masa depan.
5. Cermin untuk hati orang tua
Luka anak sering kali menjadi “ayat” yang mengingatkan orang tua. Bahwa kita pun sebenarnya rapuh, butuh terus pasrah, dan Allah sedang melatih kita lewat rasa sakit anak kita.