Menemui Diri melalui Lembar Main Satu
Saat itu lembar main satu hadir di tengah kesibukan yang lumayan padat. Ini adalah alarm untukku segera bersiap kembali menjadi (calon) ibu profesional yang bisa segera switch dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab lain tanpa melupakan ketuntasan di setiap peran yang menjadi tanggung jawabku.
Tentu saja aku menerima Lembar Main Satu dengan perasaan bahagia karena sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk menemui diri sendiri dan lebih mengenalnya. Kuakui menemui diri sendiri kadang lebih menakutkan daripada bertemu orang lain. Namun, dengan adanya lembar main satu aku terbantu terlebih untuk melihat ke dalam, mencari jawaban tentang “siapa aku”.
Hal lain yang juga membuatku terkesan dengan Lembar Main Satu adalah saat harus memberikan apresiasi pada diri sendiri, pasalnya hal ini memang sering luput dari perhatianku. Selain itu bertanya pada orang lain tentang tanggapa mereka terhadap diriku juga menjadi tantangan tersendiri. Alhamdulillah setelah malu-malu tapi mau akhirnya kupilih ayah sebagai orang yang kutanya bagaimana tanggapan beliau tentangku.
Perasaan paling menonjol yang kurasakan ketika berhasil menyelesaikan Lembar Main Satu adalah lega. Alhamdulillah ternyata aku tidak seburuk prasangka-prasangkaku. Ternyata aku punya potensi yang sama untuk berdaya di tengah keluarga maupun masyarakat. Ya, ini adalah awal untuk merubah insecure menjadi bersyukur.
Puas dengan lembar main, aku beralih menyimak warta warga. Dari sana aku kembali belajar bahwa sesederhana apapun peran tetaplah peran. Sekecil apapun manfaat tetaplah manfaat dan akan tetap membahagiakan jika dilakukan dengan tulus ikhlas. Tiga perempuan yang dihadirkan disana membuat mataku terbelalak bahwa untuk memulai sebuah peran berdasarkan potensi yang dimiliki adalah keberanian untuk menemui diri sendiri. Keberanian untuk mencari dimana lebihnya dan menerima kekurangan yang ada, bukan memungkirinya.
Sebagai gong dari rangkaian lembar main satu, aku mengikuti Gelanggang Inspirasi. Saat itu Yunda Septi menjadi pemateri. Bahagia sekali bisa bertemu (walaupun tidak langsung) dengan beliau. Menyaksikan bagaimana beliau berbinar saat berbagi. Dari beliau aku belajar bahwa menemukan passion tidak perlu jauh-jauh. Bahkan passion bisa ditemukan dari circle terkecil dari hidup kita, yaitu keluarga. Pun dalam mengembangkan passion sebagai pengembangan diri sepantasnya tidak mengorbankan peran lain yang juga memerlukan perhatian kita.
Babak main satu usai dengan menyisakan binar di mataku. Ada dorongan kuat untuk kembali mencari kelebihan, mencari dimana aku berdaya untuk sekitar, dan tentu saja kemauan untuk menerima kekurangan yang dimiliki.
Akhir kata, terima kasih Komunitas Ibu Profesional atas hidangan yang sangat manis.













