Sebuah kontemplasi dari penuturan Ust. Muhammad Nuzul Dzikri حَفِظَهُ اللهُ tentang ujian kejujuran.
Ada seorang istri (misalnya) mendapatkan suami yang jauh dari kata ideal. Lalu bertanya, apa solusi terbaik untuk saya? Saya menghadapi suami yang tidak romantis, tidak ada baik-baiknya? (suami masih seorang Muslim namun tidak sesuai dengan ekspektasinya saja).
Lalu, saya harus bagaimana? Jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala, selama ini apa yang Anda inginkan? Apa tujuan Anda menikah?
Begitu pula suami atau anak. Anak lahir cacat kemudian drop. Jujur apa yang selama ini Anda inginkan? Atau anaknya meninggal kemudian terpuruk.
Apa solusi terbaik yang harus saya lakukan? Anak saya meninggal di usia 3 tahun (misalnya).
Coba jujur, Anda menikah kemudian berkeluarga itu untuk apa? Lalu memiliki anak untuk apa?
Ketika Anda menginginkan anak agar menjadi anak yang saleh lalu di hari Kiamat akan memberikan kebaikan untuk Anda, kemudian anak Anda ditakdirkan meninggal di usia 3 tahun.
Anak yang meninggal sebelum balig akan bermanfaat untuk Anda pada hari Kiamat, dengan begitu keinginan Anda sudah tercapai, lalu mengapa Anda down?
Kemudian ada yang sudah menikah selama 15 tahun dan belum dikaruniai anak. Apa solusi terbaik? Jujurlah, apa yang Anda cari dalam rumah tangga? Jika menginginkan anak, lalu menginginkan anak yang seperti apa? Bukankah inti dari berumah tangga adalah menyempurnakan separuh agama? Lalu mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala, lalu bertakwa pada Allah Subhanahu Wata’ala, memang betul anak yang saleh itu luar biasa. Namun, Allah Subhanahu Wata’ala yang lebih tahu.
Ingatlah kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Khidir ‘alaihis salam tentang perlakuan Nabi Khidir ‘alaihis salam pada seorang anak (QS. Al-Kahf: 80). Kita tidak pernah tahu. Bisa jadi ketika kita dikaruniai anak, anak tersebut durhaka.
Jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala. Apa yang kamu inginkan? Kamu menginginkan masuk Surga bukan? Maka serahkan pada Allah Subhanahu Wata’ala detailnya seperti apa. Kamu tinggal ikuti apa yang Allah Subhanahu Wata’ala inginkan darimu dan apa yang Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan daripadamu.
Jujurlah, ketika mengaku sebagai seorang hamba maka jadilah hamba. Mengapa selama ini berlaku seperti bos? Madam? Kritikus? Komentator?
Katanya, menginginkan menjadi hamba. Apa sih susahnya menjadi hamba? Khususnya dalam kondisi berat. Ketika kondisi menjadi sulit maka yang terbaik adalah jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala.
Apa yang diucapkan selama ini? Apa yang dibaca setelah salat? Subhanallah sebanyak 33x yang berarti (Mahasuci Allah) dari semua sifat buruk, sifat negatif dan yang tidak sempurna walaupun baik maka apa yang Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan padamu di hari-hari ini pasti bagus dan terbaik.
Mengapa? Sebab Allah Subhanahu Wata’ala Mahasuci dari menakdirkan sesuatu yang buruk, sebab Allah Subhanahu Wata’ala Mahasempurna. Lalu mengapa setelah membaca tasbih sebanyak 33x? justru stres atau down. Itu berarti kamu tidak jujur.
Untuk itu, jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan, semua ini adalah ujian kejujuran. Jujurkah ketika berkata, ‘Aku beriman‘ atau mengatakan, ‘Saya seorang hamba’ atau mengatakan, ‘Saya umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’? Maka ikutilah, sebab umat berada di belakang bukan sejajar atau di depan. Kamu hanya beribadah dari yang apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah kejujuran.
Dan, intinya jujurlah bukan pada manusia melainkan pada Allah Subhanahu Wata’ala sebab kamu tidak bisa berkelit sama sekali, tidak bisa mencari justifikasi sama sekali dsb apalagi pada hari Kiamat kelak.
Sebagaimana dalam QS. An-Nur: 24,
“Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Barangkali kamu bisa membangun imej atau personal branding di dunia, namun hal ini mengenai kejujuran pada Allah Subhanahu Wata’ala dan ketika seluruh manusia mengatakan baik, apa artinya di hari Kiamat kelak?
Yang menjadi masalah adalah jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala bukan pada manusia sebab jujur pada manusia masih memiliki kemungkinan untuk mencari celah justifikasi namun tidak ketika jujur pada Allah Subhanahu Wata’ala sebab kamu tidak bisa berkelit sama sekali.