Demokrasi Cedera
Tepat hari Rabu, 3 Agustus 2017, di kampus Unsri Inderalaya terjadi Aksi Damai menuntut hak dan kewajiban oleh Almamater Seperjuangan terhadap Rektor.
Sangat bangga saya menulis hal ini dikarenakan sebegitu besarnya perjuangan teman kami demi kesejahteraan sejagad raya almamater kuning. Tanpa ragu saya sangat mendukung Aksi yang bertujuan dan berlangsung damai, meskipun tak bisa terjun langsung ke baris depan. Akan tetapi, alangkah malangnya nasib mereka yang berjuang demi ribuan saudara tak sedarah itu.
Masih terus membidik informasi dari kejauhan, saya bersama teman lainnya terus update atas berita yang sudah mulai beredar. Semakin ganas dan panas! Aksi yang berlangsung Damai diakhiri dengan kebiadaban para Aparat picik berseragam terhormat.
Saya pribadi memang tidak berada di tempat saat kejadian, tetapi informasi yang akurat sangat terpercaya melalui rekan-rekan yang menjadi saksi pada hari itu. Kejelasan yang terkuak telah mem-viral-kan beberapa kekejaman dari aparat picik nan terhormat itu. Mereka yang berseragam dan bersenjata menunjukkan ketakutannya dibalik kebohongan yang dilontarkan kepada media massa, seperti yang tercetak di Koran Sriwijaya Post pada hari Kamis 4 Agustus 2017, kurang lebih menyatakan bahwa ‘kejadian’ yang terjadi diluar kontrol para aparat dikarenakan mahasiswa tersebutlah yang ‘memicu’ dengan berdesakkan mendorong pintu masuk dan ‘memecahkan’ sebilah kaca pintu sehingga tim keamanan mencoba ‘mengamankan’ para mahasiswa tersebut. Tidak hanya itu saja, kebohongan lainnya seperti pemberitahuan jumlah pendemo sekitar Ribuan orang juga dilontarkan padahal nyatanya hanya 150 mahasiswa yang bersorak mengemis pada Sang Ayah demi keringanan Anak-Anaknya (istilah yang dibuat oleh Mantan Presma Unsri). Bahkan lagi berbagai lontaran kata-kata palsu kepada media massa juga dilakukan oleh para Terhormat mengenai kejadian, tindakan dan ucapan Presma bahkan pendukung lainnya, seperti ‘ancaman pembakaran gedung Rektorat’ oleh Presma yang Nyatanya Tidaklah Benar.
“Bahkan, Aksi Damai yang mahasiswa lakukan selama tiga kali, Sampah air Minum pun kami bersihkan sendiri, dan hari ketiga mahasiswa melakukan Yasinan Bersama. Maka tidaklah mungkin saya akan merusak kampus sendiri apalagi mengancam seperti pemberitaan di atas.. Dan Semoga pihak media segera mengklarifikasi.” Ujar Presma Unsri.
Naudzubillah..
Saat para Terhormat merasa takut atas kesalahan yang dibuat, pengalihan isu hingga meng-kambing-hitam-kan menjadi ‘solusi’ ter-picik mereka.
Dimana demokrasi yang dijanjikan kepada kami, Anak Jelata, apabila banyak keluhan yang ingin disampaikan demi keharmonisan bersama? Jujur saja, saya terlebih kecewa mendengarkan Janji Pahit yang tidak direalisasikan sedemikian rupa. Seperti UKT para Bidikmisi yang seharusnya gratis selama 8 semester kemudian dilanjutkan pembayaran senilai 500.000/semester (UKT Tingkat I) untuk semester lanjutan, nyatanya terbukti tidak seperti itu yang dirasakan beberapa teman kami. Mereka justru membayar sekian lipat dari UKT Tingkat I di semester lanjutan.
Hal ini menjadi salah satu alasan digelarkannya Aksi Damai yang berujung Ancaman!
Dimana demokrasi yang diumbar-umbar kepada kami, Anak Jelata, diawal kepemimpinan demi tepuk tangan yang meriah? Jujur saja, saya sebagai salah satu kaum Mahasiswa sangat kecewa terhadap Aparat picik yang seolah tidak berpendidikan dan berkode-etik dalam melaksanakan tugasnya, entah itu yang berseragam maupun tidak berseragam. Jabatan yang seharusnya meletakkan diri mereka pada tugas yang seharusnya malah dimanfaatkan untuk menjadi arogan dan semena-mena.
Dengan niat baik dan secara musyawarah mereka datang, diiringi doa dan harapan agar dikabulkannya permintaan yang Menuntut Janji Manis Sang Ayah, justru pulang membawa Luka dan Ancaman!
Miris sekali demokrasi yang sekedar basa-basi. Menilik kejinya kejadian ini, rasanya sudah tercoreng nama Demokrasi di Bumi Pertiwi. Semua bermula dari Generasi yang mengungkap seperti apa Demokrasi itu berjalan di muka bumi.
Semangat Teman! Tuhan selalu berpihak pada yang benar dan berniat mulia seperti kalian! Begitupun orang tua kita! Hidup Mahasiswa!
Salam Almamater Sriwijaya,
Putem












