The Last of This Year!
Semester lima, merupakan penutup tahun 2017 ini. Konon, semester lima ialah waktu dimana terjadi seleksi alam pada peradaban mahasiswa. Mungkin hampir semua mahasiswa mengalami hal yang sama, meski dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Berdasarkan kegiatannya, mahasiswa tentunya bermacam-macam, ada mahasiswa kupukupu (kuliah pulang), mahasiswa kurakura (kuliah rapat), mahasiswa kumon (kuliah mondok), mahasiswa kuker (kuliah kerja), ada juga mahasiswa gadogado (kuliah rapat kerja, baru pulang ke pondok haha). Apapun latar belakangnya, mahasiswa akan menemui semester horor, yaitu semester lima.
Bagaimana cerita kalian di semester lima? Apa biasa biasa aja? Ataukah jungkir balik hingga jatuh bangun dalam setiap prosesnya?
Pada semester ini, aku belajar banyak hal, salah satunya adalah pentingnya menghargai dan memperhatikan hak-hak seorang guru. Selama di pondok, akupun belajar banyak hal. Mulai dari akhlak-akhlak seorang penutut ilmu, bagaimana menempatkan diri sebagai santri ditengah hiruk pikuk idealisme mahasiswa, juga bagaimana seharusnya memenejemen waktu antara kuliah dan mengaji. Aku mulai mengurangi kegiatan diluar kampus, seperti organisasi, kepanitiaan dan kegiatan jangka panjang lainnya. Berat awalnya, tapi aku harus mulai terbiasa dengan mengutamakan apa yang seharusnya diutamakan. Bagiku, mondok itu bukan sekedar melabeli ngaji sebagai rutinitas, bukan supaya dikenal oleh seantero kampus sebagai seorang santri. Tapi, bagaimana kita seharusnya menjadi teladan ummat, yang pada hakikatnya teladan untuk diri kita sendiri.
Aku tipikal orang yang susah untuk memusatkan konsentrasi, karena cara belajarku cenderung kinestetik dan berkelompok. Ketika aku masih tinggal di asrama dan kos, aku lebih suka belajar bareng, mengerjakan tugas bersama-sama. Berbanding terbalik dengan sekarang, cenderung individual, mengingat santri yang tinggal disini memang sedikit. Kebiasaanku mengerjakan tugas dengan sks (sistem kebut semalam). Menyicilpun hanya sekali dua kali, itupun rasanya nihil. Tapi semenjak tinggal di pondok, aku jarang begadang, karena nggak kuat. Tidurku selalu lebih awal, dan bangun juga lebih awal. Waktu yang aku gunakan ditengah malam, untuk mempersiapkan setoran di waktu shubuh. Alhasil tugas jadi keteteran, dan seringkali terlambat mengumpulkannya.
Hingga titik klimaksnya ketika pekan-pekan menjelang uas. Disamping banyaknya project maupun tugas akhir, materi kuliah di semester lima terasa begitu mencekik😂. Bukan maksud tak ingin mengerjakan, tapi dirasa susah, dan akan membutuhkan waktu lama jika dikerjakan. Kalau sudah pusing, telantarkan, aku mengaji saja (maaf yang ini pencitraan wkwk).
Pada mata kuliah Kitabah Maqalah, ada satu hal berkesan buatku. Pada mata kuliah ini aku selalu antusias, tapi sedikit kendor ketika mengerjakan tugas akhir makalah untuk seminar. Well, kemampuan bahasa arabku kurang baik, apalagi di bidang ilmiah. Sempat berkali-kali ganti judul, dan bolak balik semedi di perpustakaan untuk mencari referensi dan merancang konsep. Judul yang aku ambil memang tergolong sulit, karena tidak ada rujukan langsung berbahasa arab, rata-rata berbahasa indonesia, daaaaannn harus diterjemahkan lagi ke bahasa arab. Sempat menyerah, karena merasa sulit menuangkan segala sesuatunya ke dalam bahasa arab😂.
Sampai pada akhirnya, aku mendapat pesan dari Prof. Muhaiban, selaku pengampu matakuliah ini. Beliau menanyakan, apa benar nama-nama ini belum mengumpulkan tugas? Disitu ada namaku, dan hanya aku yang perempuan (kan keliatan banget gimananya--”) entah kenapa aku begitu merasa bersalah. Aku menanyakan pada beliau, apa masih bisa dikumpulkan hari ini? Beliau hanya read pesanku. Sedih, merasa tidak enak hati dengan beliau. Akhirnya, hari itu aku ngebut untuk finishing, tentang diterima atau tidaknya itu urusan belakang. Kebetulan pada matakuliah yang lain, Thariqah Tadris, aku mengambil di kelas beliau. Tugas terakhir mengumpulkan RPP micro-teaching. Aku mengira, bagi yang sudah maju, tidak perlu mengumpulkan, ternyata tetap dikumpulkan yang sudah ada revisi dari beliau. Parahnya, punyaku hilang. Aku menghubungi beliau via whatsapp dan menanyakan sekaligus meminta maaf atas keteledoranku. Beliau tidak menjawab, hanya di read saja. Mungkin bagi sebagian mahasiswa, ini merupakan fenomena yang biasa, tapi tidak bagiku. Beliau merupakan satu-satunya dosen yang setia menjawab pesan para mahasiswanya. Bahkan, pesan yang membutuhkan jawaban “ya” saja, beliau berkenan membalasnya. Tidak hanya itu, beliau juga menyimpan nomor setiap mahasiswa yang menghubungi beliau.
Resah, gelisah, merasa bersalah. Bukan takut tidak lulus atau ip jelek, tapi aku tidak sampai hati apabila sampai menyakiti hati beliau karena kecewa. Mahasiswa macam apa aku ini? Menyedihkan sekali rasanya. Beberapa hari setelah itu, nilai matkul yang beliau ampu sudah keluar. Aku syok sekaligus terharu, bagaimana mungkin beliau semurah ini memberi nilai pada mahasiswa malas satu ini? Airmataku terbendung di pelupuk mata, entah bagaimana menggambarkan perasaanku saat itu. Terlepas dari usahaku mengerjakan tugas dan ulangan, bagiku nilai tersebut tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesabaran beliau menghadapi kelakuan mahasiswanya. Betapa mulianya akhlak beliau. Beliau bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik mahasiswanya.
Guru yang baik, adalah beliau yang mampu menyadarkan anak didiknya tanpa harus menghardik dan mencaci, tetapi dengan menasihati dan mengayomi.
Beliau selalu menerapkan penggunaan bahasa Arab ketika jam kuliah berlangsung. Meski sebagian mahasiswa merasa kesulitan, tapi mereka tidak merasa tertekan, karena beliau dengan telaten mengarahkan mahasiswanya. Uslub atau model kalimat yang beliau gunakan cenderung sederhana, sehingga mudah dipahami. Setelah kejadian ini aku banyak belajar, bahwa kuliah bukan sekedar ambisi dalam pencapaian tugas, bukan sekedar formalitas untuk meraih gelar teratas. Akan tetapi, bagaimana ilmu itu mampu meretas batas; menghilangkan kebodohan, yang berpengaruh terhadap diri kita sendiri, entah itu dari segi akhlak maupun pengetahuan.
Guru yang pintar banyak. Akan tetapi, guru yang berakhlak sungguh tak mudah menemukannya diantara khalayak.
Malang, 21 Desember 2017 | Pena Imaji
Cc : @xyouthgen











