Belum Siap Kerja, Lalu Magang
Baiklah, sebelumnya saya perkenalkan dulu diri saya, seorang fresh graduate yang udah ga fresh-fresh amat. Sudah lulus kuliah tahun lalu, sekitar 10/11 bulan silam.
Sudah lama ga nulis panjang lebar, jadinya rada kaku gitu bahasanya. Tapi intinya, kali ini saya mau bahas tentang ketakutan saya mengahadapi hidup baru sebagai fresh graduate hingga saat ini.
Well, siapa sih yang ga mau dapet pekerjaan di perusahaan yang bonafit yang pastinya menjamin kehidupan kamu di masa depan? i think most of people want it ya, including me of course.
Tapi, saya belum berani...
Dalam perspektif saya, bekerja di perusahaan bonafit itu sangatlah besar tanggung jawabnya. Mereka membutuhkan bibit-bibit yang siap bertanggungjawab dengan kesiapan menghadapi resiko apapun itu. Cepat dalam memutuskan sesuatu dengan pemikiran yang matang juga tentunya. Mudah dan sangat sigap mempelajari hal baru dalam pekerjaan tersebut. Pastinya, bukan hanya perusahaan bonafit saja yang menginginkan employee nya memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan perusahaan menengah hingga kecil sekalipun yang masih baru lahir sangat membutuhkan itu. Sehingga yang demikianlah membuat nyali saya semakin ciut menghadapi dunia seorang employee.
Pertama, saya merasa belum memiliki sifat-sifat sebagaimana suatu perusahaan inginkan seperti paparan tersebut. Kedua, not really confident, nyali saya masih seperti anak sekolahan bahkan tidak seberani nyali aktivis mahasiswa. Ketiga, sedikitnya pengalaman sehingga saya merasa tidak akan mampu menghadapi pekerjaan-pekerjaan tersebut. Keempat, banyaknya pikiran-pikiran negatif yang sudah saya persiapkan sebelum mencoba. Kelima, kurangnya support untuk meyakinkan saya bahwa saya bisa, i dont know where people at the time i need.
Anyway kenapa saya menuliskan hal ini, saya merasa bukan hanya saya seorang diri di muka bumi ini merasakan hal seperti ini setelah official dinobatkan sebagai fresh-pengangguran. Jadi setidaknya saya bisa legah karena menuliskan sedikit demi sedikit sejarah nyali saya yang tidak tahu kedepannya apakah masih seperti ini atau akan berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. But i hope the better one.
Pada saat kuliah, sebetulnya kita juga sudah dihadapi dengan deadline tugas bahkan hingga skripsi yang menjadi taruhan sisa nyawa di dunia perkuliahan. Tapi saat kuliah saya masih merasa deadline bisa dikondisikan sedemikian rupa hingga setiap UTS bisa terlewati dengan kata aman. Begitu pun skripsi yang bisa ditepis meski dengan tangis darah dalam prosesnya (lebay sedikit boleh lah ya). NAH AKAN TETAPI semua pekerjaan di dunia perkuliahan akan terasa berbeda dibandingkan pekerjaan di dunia kerja.
Contohnya seperti ini, dalam dunia saya ya, dulu sewaktu kuliah setiap semesternya merupakan tantangan demi tantangan yang harus dilalui dengan persiapan dan strategi agar ada peningkatan. Apalagi setiap semesternya memiliki deadline yang semakin menjadi-jadi. Belum lagi menuju skripsi dan Tugas Akhir. BUT saya merasa bisa menghadapi semua itu dengan tanpa merasa âduh gue gabisa nih ngerjain itu, mampus gimana ya ntarâ sama sekali hampir tidak terbesit begitu. Karena apa? ya karena saya merasa saat kuliah merupakan wadah saya untuk belajar, toh setiap awal semester-baru kita akan mendapati pelajaran-pelajaran untuk menghadapi UTS. Jadi yang saya rasakan saat mengerjakan tugas kuliah saat itu adalah lelah karena harus sebisa mungkin mengerjakan semua tugas dengan benar (tanpa perlu amazing seperti teman lainnya, padahal hal seperti ini salah, tapi ya sudahlah hehe). Bisa gabisa ya urusan nanti. Maksudnya, terkadang saya merasa stuck karena ada bagian yang saya kurang paham, kurang pencerahan. Jika sudah seperti itu saya dengan mudah bertanya kepada teman lainnya yang saya anggap lebih ahli. After that my problem was solved easily. Like boom! Tugas saya kelar. Hasilnya mau A, B, C ya tinggal doa aja. Semudah itu ga sih rasanya ngerjain tugas kuliah kalo dipikir-pikir hahaha (padahal dulu setengah mati ngerjainnya sana sini). Begitupun untuk menghadapi deadline dari tugas-tugas tersebut. Namanya juga anak kuliahan ya, always keep one night system, karena kebanyakan main dengan alasan biar dapet ide akhirnya ngerjain tugasnya kebut semalam agar bisa dikumpulkan esok hari. Daaan saat menghadapi deadline itu saya memang merasa takut ya, âmampus nih besok dikumpul, kalo engga nilai C atau bahkan Dâ, tapi semua itu luntur seketika karena kalo ada deadline kita kan rame-rame tuh, terus kalo ada lebih dari dua atau tiga orang yang samaan dengan kita belum kelarnya, jadi bisa santai aja bawaannya, seperti ga peduli nanti nilainya gimana atau bakal dimarahin sama dosen apa engga, toh ada temen juga yang bakal bernasib sama, hingga pada hari pengumpulan kalo masih belum kelar ya se-apa-adanya aja yang dikumpul atau bahkan kadangan lebih suka ngerjain sampai titik darah penghabisan di hari pengumpulan dengan asal-asalan, âbodo amat dah yang penting kelarâ, begitu.
Jadi kalo saya harus membandingkan rasa takut saat bikin tugas di perkuliahan itu masih tidak ada apa-apanya. Entah karena ada teman seperjuangan jadi kalau ada masalah dengan tugas kuliah masih ada mereka yang menemani atau menenangkan, begitu kali ya kurang lebih.
Sedangkan kalo di dunia kerja, rasanya gabisa main-main ngerjain tugas itu. Kalo tugas kuliah hanya sebatas untuk dinilai dan mendapatkan nilai. Kalo tugas kantor yaaa misal tugas kantornya arsitek, otomatis akan dibangun, atau misal lagi tugas kantornya pajak, otomatis akan diperhitungkan secara real. Sehingga yang demikian konsekuensinya juga real. Kalo tugas kuliah mah sebatas nilai kecil atau ga lulus konsekuennya.
Nah, balik lagi, kenapa saya belum siap?
karena saya takut tidak bisa menjalankan jobdesk yang diberikan sesuai ekspetasi perusahaan tersebut. Lebih mengarah pada takut mereka akan kecewa melihat kinerja saya meskipun sudah semaksimal mungkin saya kerahkan. Dan takut mereka menyesal menerima saya sebagai salah satu employee nya.
And now, i thanks to God so much.
Saya sekarang berada dalam suatu perusahaan dengan orang-orang yang positif jasmani dan insyaallah rohani pun begitu. Disini saya belajar banyak. Begitu menyadari bahwa menjadi seorang fresh-graduate itu tidak semata-mata harus sudah hebat dan bisa mengerjakan segala di bidangnya. All i though about being fresh-graduate was wrong.
Saya belajar mulai dari nol, mengimbangi skill yang saya miliki untuk diterapkan dan diprogress ulang di kantor ini.
Ya, disinilah saya Magang.. dengan iming-iming belajar mempersiapkan keberanian diri sebelum benar-benar terjun bekerja di perusahaan bonafit kemudian hari, insyaallah
Yang saya katakan mengenai setiap perusahaan menginginkan employee dengan skill terbaik, itu memang benar, tapi bukan berarti kita yang dengan skill cukup tidak bisa dan tidak diinginkan. Tahu kenapa? Setiap perusahaan memiliki nyawanya begitupun raga, dan nyawa itu adalah mereka yang berhasil menempati raga. Sebagaimana employee yang akan menjadi nyawa dalam raga setiap perusahaan. Jika sudah klop, dengan skill cukup itulah maka perusahaan memiliki nyawa dan raga yang pas.
Untuk memahami nyawa setiap perusahaan tidaklah mudah. Saya hanya sok-sok memperhatikan dan menganalisa saja sebetulnya. Dimana saya berada sekarang, saya merasa bukan skill luar biasa menjadi penentu siapa employee yang tepat mengisi raga suatu perusahaan. Karena disini rata-rata masih dalam tahap skill-progress, mereka yang ada di dalamnya belajar bersama untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal, tanpa harus menunggu employee dengan skill ajaib menempatkan dirinya untuk bergabung. Mereka terlihat hidup dengan itu semua. Dan akan terasa mati jika memberi ruang bagi employee dengan skill luar biasa namun belum tentu bisa beradaptasi/klop dengan yang sudah ada. Gamblangnya begini, kalo orangnya bisa beradaptasi/klop dengan perusahaan maka dengan tanpa skill hebat orang tersebut tentu akan disambut hangat, dan pastinya akan ada progress yang diajarkan. Lebih baik mengajarkan orang yang mau bekerja sama dibandingkan memerintahkan orang yang tidak mau bekerja sama. Begitu.
Mungkin magang adalah salah satu cara bagi saya untuk berprogress sebelum benar-benar bekerja. Dan hal ini tidaklah salah, justru menurut saya sangat bermanfaat terutama bagi yang bermental cemen dan hanya bermodal skill cukup, as i am.
Dan semakin kesini, menuju jatah magang saya kelar, saya merasa diisi dengan cukup banyak ilmu bahkan petuah yang sangat encourage diri saya kedepannya. Terutama mental...
Semoga saja di tulisan berikutnya saya sudah memiliki kesiapan diri untuk mencoba berada di lingkungan kerja yang saya idamkan. Meskipun sulit, saya yakin di perusahaan magang saya kali ini dapat memperbaiki pikiran dan mental saya untuk berpikir positif dan always be brave to try more, learn more, and accept more.