La batalla de Karánsebes es un incidente que habría tenido lugar durante la guerra austro-turca, el 17 o el 21 de septiembre de 1788, entre diferentes unidades de un ejército austríaco.

seen from Germany
seen from Hong Kong SAR China

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Germany

seen from Moldova

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
La batalla de Karánsebes es un incidente que habría tenido lugar durante la guerra austro-turca, el 17 o el 21 de septiembre de 1788, entre diferentes unidades de un ejército austríaco.
Kenali Betul Musuhmu! Belajar dari Karansebes
Mengenali musuh adalah langkah awal dalam sebuah pertempuran. Sedangkan mengenali diri sendiri, adalah langkah awal dalam menentukan musuh yang akan dihadapi.
September akan mengingatkan kita dengan sebuah pertempuran antara dua kekuatan besar pada masanya: koalisi Austria-Jerman melawan Ottoman Turki. Sedang Karansebes menjadi latarnya.
Apa itu Karansebes?
Karansebes adalah sebuah wilayah di Rumania yang telah menjadi saksi sebuah pertempuran konyol nan mengenaskan. Ya, konyol. Karena Turki dapat menang besar tanpa ada kerugian harta maupun jiwa sedikitpun. Tergores pun tidak! Pertanyaannya: Kok bisa sih?
September 1788, bergeraklah 100 ribu pasukan koalisi Austria-Jerman menuju Kota Karansebes dengan dipimpin langsung oleh Kaisar Joseph II von Habsburg. Begitu sampai, pasukan dipecah menjadi dua regu: (1) regu kavaleri (berkuda) yang bertugas patroli keliling kota untuk mengecek keberadaan Turki, lalu (2) regu prajurit infanteri (jarak dekat) dan artileri (jarak jauh) yang bertugas menjaga kamp pasukan.
Setelah berkeliling dan memantau, ternyata tidak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan pasukan Turki. Merasa situasi kota aman, pasukan Austria-Jerman pun lega dan gembira. Mereka merasa bahwa Turki sepertinya tidak memperhitungkan Kota Karansebes, itulah penyebab tidak adanya pasukan Turki di sana. Kita dapat pulang tanpa bertempur, pikir mereka.
Tapi, mereka salah besar.
Ternyata pasukan Turki bukannya tidak datang, tapi sedang dalam perjalanan.
Sayangnya, pasukan Austria-Jerman sudah terlampau gembira. Telah merasa aman, prajurit-prajurit yang berada di kamp melampiaskan kegembiraannya dengan bermabuk ria. Di tengah situasi mabuk alkohol itu, entah dari mana, terdengarlah letusan senapan. Para prajurit, yang telah setengah sadar, pun tersentak. “Dari mana senapan itu?”, “Turki, itu pasti Turki!”.
“Turki! Turki! Turki!”
Selanjutnya kata-kata itulah yang bergema di tengah gelap malam bersama ribuan prajurit yang sibuk mencari musuhnya, dalam kondisi mabuk tentunya. Pasukan kavaleri yang berpatroli pun kembali menuju kamp karena merasa pasukan Turki telah menyerang.
Kaisar Joseph, yang tidak mabuk, melihat pasukannya saling melawan satu sama lain dan langsung berteriak lantang. “Halt! Halt! Halt!”. “Berhenti” dalam Bahasa Jerman.
Celakanya, pasukan koalisi ini berasal dari banyak negara dan tidak semuanya paham Bahasa Jerman. Kata “Halt!” justru terdengar seperti teriakan “Allah!” bagi mereka. Bertambah ganas lah prajurit itu melawan rekannya sendiri.
Singkat cerita, pasukan Austria-Jerman pun kehilangan hingga sekitar 10 ribu jiwa. Dan sisanya memutuskan kembali pulang dengan menelan kerugian pahit.
Beberapa hari kemudian, pasukan Ottoman Turki sampai di Kota Karansebes. Mereka terkaget dengan ribuan mayat prajurit yang tergeletak di seantero kota.
Begitulah cara pasukan Ottoman Turki melawan 100 ribu pasukan.
***
Dari Pertempuran Karansebes kita belajar tentang konsep dasar dalam interaksi sosial: mengenal.
Mengenali musuh adalah langkah awal dalam sebuah pertempuran. Sedangkan mengenali diri sendiri, adalah langkah awal dalam menentukan musuh yang akan dihadapi.
Oleh karenya, sangat patut bagi kita untuk mengenali diri kita sendiri terlebih dahulu. Hal-hal apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, potensi, dan ancaman. Hal inilah yang menyebabkan analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) penting untuk dilakukan di awal berjalannya organisasi. Seseorang yang mengenal baik fitrah dirinya pasti tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke dalam kelalaian, mabuk tadi misalnya.
Selanjutnya, barulah kita mengenali siapa musuh kita sebenarnya. Pada era sekarang, memang seringkali musuh tidak berupa wujud manusia, melainkan perilaku dan pemahaman. Dengan mengenali musuh dengan baik: tampilannya, pola geraknya, ciri khasnya, isi pikirannya, maka kita akan lebih jeli dalam melakukan pergerakan.
Kawan, semoga kita terhindar dari perbuatan sia-sia tersebut. Menghabiskan tenaga melawan siapa yang sebenarnya rekan kita. Lalu membiarkan musuh yang sebenarnya terheran-heran menikmati kemenangan mudahnya.
I am finished with my book project, Blunders & Bungles: Missteps in History and the Losers Who Made Them. It's a 30ish page, fully illustrated book about failure — big, important people making big, terrible decisions. This book chronicles fallen empires, friendly fire, invasive species, and poorly picked fights spanning 3000 years. It is important to learn from history’s mistakes, but sometimes it’s also fun to laugh at them!
I wrote the book, too. You can click the images to enlarge and read them (if you want).
I'll post the second half soon; tumblr tells me there's too much for one post.
If you haven't heard of the Battle of Karansebes, you need to read this short article. It is the time that the Austrian Army lost in a fight against itself, caused by fighting over alcohol and tons of mishearing.