Menjelang peringatan hari Kartini, yang diklaim sebagai pahlawan wanita dalam memperjuangkan hak dan emansipasi wanita di negeri ini. Saya teringat akan perjuangan Ibunda saya, sebagai seorang ibu dan istri yang selalu menjaga keutuhan keluarga kami. Perannya bagi kami anak anaknya, mungkin tidak sama dengan Kartini. Namun, jasa beliau mungkin melebihi dan sangat berarti bagi kami. Khususnya saya pribadi.
Sebagai orang yang mengenyam pendidikan senirupa, saya merasakan peran beliau mendorong kreatifitas saya. Mungkin, dari beliaulah darah berkesenian saya ini lahir. Dulu dimasa mudanya, ia aktif sekali membuat karya karya seni yang menurut beliau mungkin hanya berpikir sesuatu yang “indah”. Tidak ada konsep lainnya sebagai bahan referensi maupun literasi lainnya dalam berkarya. Baginya kata “indah”, “cantik” saja sudah cukup. Sebuah konsep yang sederhana. Beliau hanya ingin membuat semua orang yang melihat hasil karyanya merasakan kebahagiaan. Harus sedap dipandang matalah kira kira begitu menurut beliau.
Saat saya kecil, disela sela kesibukan beliau sebagai pengajar disalahsatu sekolah dan Universitas Negeri, ia selalu mencoba membuat lukisan sederhana, merajut, bahkan memasakpun harus dengan “hati dan rasa”. Saya ingat bagaimana ia mendorong saya berkesenian dengan mendatangkan ‘guru lukis’, les piano, membelikan buku gambar, alat alat lukis, cat air, cat minyak, dsbnya; selain pendidikan agama. Saya tetap belajar mengaji sampai saat saya kuliah.
Seingat saya, dulu ia pernah menerbitkan sebuah buku tentang bagaimana membuat mainan sederhana dari bahan bahan bekas.
Sampai suatu hari, belum lama ini; beliau memperlihatkan foto foto yang diambilnya saat ia masih kuliah dulu. Menurut beliau, ia tidak pernah memegang kamera sebelumnya sampai akhirnya ia melanjutkan studi di New Zealand. Disinilah ia mengenal kamera. Ratusan foto yang beliau perlihatkan kepada saya, membuat kagum saya tak henti henti. Dengan usia yang sudah 77 tahun, ia masih bisa menceritakan secara rinci kejadian pada foto foto tersebut. Dimana dan bagaimana suasana saat itu.
Foto diatas adalah favorit saya. Beliau memotret Jam Gadang di Bukit Tinggi dengan persepsi yang berbeda menurut saya. Mungkin saat itu jarang orang yang memotret dengan sudut pandang seperti itu. Tidak hanya bentuk ikon kota ini yang dihadirkan, tapi suasana saat itu pun terekam dengan baik. Secara teknis, beliau berani memainkan bentuk permainan cahaya dan bayangan serta sudut pengambilan yang pas. Bahkan, mencoba menampilkan bentuk siluet.
Menurut cerita beliau, foto ini diambil setelah ia menyelesaikan studinya, dan kembali ke kampung halamannya; Sumatera Barat. Saya lupa tahunnya, yang saya ingat beliau memotretnya dengan menggunakan Nikomat, type nya beliau sudah lupa. Dan Kodak sebagai film nya.
Ini cerita saya tentang Kartini Kartini yang hadir disekitar kehidupan saya. Ibunda tercinta adalah salah satu dari Kartini yang saya miliki. Tentunya, Kartini lainnya adalah istri saya, yang juga mendukung saya dalam berkesenian.
Terimakasih Kartini Kartiniku.