Barangkali, pada akhirnya, tulisan ini juga menjadi sebuah surat untuk diri sendiri.
Pernahkah sejenak menyimak apa kata Ibu Kartini dalam suratnya? Izinkan saya sedikit mengutipnya;
"...Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…”
“Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Tidak begitu saja dikatakan bahwa kebaikan ataupun kejahatan itu diminum bersama susu ibu. Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”
Pendidikan perempuan menjadi highlight menurut saya, hampir di setiap esensi suratnya. Sepertinya Ibu Kartini paham betul soal pentingnya pendidikan perempuan. Karena itulah beliau berjuang, agar perempuan-perempuan pada masanya dan masa yang akan datang dapat menjadi perempuan yang berbeda, perempuan yang lebih tangguh dan mandiri tanpa melupakan kodratnya.
Kartini mengajarkan kita,
Tentang perempuan yang berjuang, tentang perempuan yang membawa perubahan. Perempuan yang berani menentang dominasi, namun tidak serta merta mengagungkan suatu ambisi. Berjuang dengan caranya sendiri, Kartini tidak berusaha menjadi laki - laki agar dianggap setara dengan kaum laki - laki. Ia berjuang dengan kebaya, dengan sanggul, dengan anggun.
Ia berjuang dengan cara perempuan, sehingga kaum perempuan bisa setara dan tetap menjadi “perempuan.” Saya tidak bisa membayangkan kalau waktu itu Kartini berjuang mendobrak patriarki dengan bertindak ala lelaki, bersikap seperti laki - laki agar bisa masuk ke dunia yang (dulunya dianggap) hanya diperbolehkan kepada kaum laki - laki.
Bagi saya, ini perjuangan seorang perempuan yang luar biasa. Kartini berjuang dengan pemikiran bahwa perempuan punya hak - hak yang sama dengan laki - laki, namun perempuan tidak harus menjadi seperti laki - laki untuk memperoleh hak yang setara dengan laki - laki.
Lalu, bagaimana dengan para Kartini masa kini?
Kartini yang wafat seratus dua belas tahun silam bukan tidak meninggalkan apa - apa. Dia masih meninggalkan terang, yang akan terbit sehabis gelap yang menggeligit.
Kami yang mengagumimu, menanti ceritamu.
memperingati hari Kartini adalah memperingatkan saya sendiri, betapa saya harus tetap semangat menuntut ilmu untuk bersiap menjadi pendidik generasi di masa yang akan datang. Karena hakikat tertinggi seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu.
Selamat Hari Kartini, perempuan Indonesia!