STENOGRAFI “STENOGRAFI KARUNDENG”
Stenografi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu:
“Stenos” yang berarti singakatan atau pendek
“Graphein” yang berarti tulisan.
Stenografi ( stenography ) berarti tulisan singkat atau tulisan pendek. Tulisan steno dibuat dan disususn sedemikian pendek dan singkat, sehingga lebih cepat dalam penulisannya. Stenografi menggunakan tanda-tanda khusus yang lebih singkat daripada tulisan latinnya, kemudian disempurnakan dengan menambah beberapa singkatan, sehingga waktu untuk menulis lebih cepat dibanding waktu untuk mengucapkan suatu kata. Dalam huruf latin banyak huruf yang memerlukan lebih dari 1 gerakan, sedangkan dalam stenografi semua huruf terdiri dari 1 gerakan saja (tanpa ada gerakan tangan mengangkat untuk menulis garis baru) karena huruf-huruf dalam stenografi hanya seperti garis lurus, melengkung, dan lingkaran kecil.
Selain itu dalam Wikipedia juga disebutkan bahwa stenografi berasal dari bahasa Yunani yaitu Steganos yaitu penyamaran atau penyambunyian dan Graphein yaitu tulisan. Jadi Stenogafi dapat diartikan sebagai seni menyamarkan/menyembunyikan pesan tertulis kedalam pesan lainnya. Penyembunyian atau penyamaran pesan ini dibuat sedemikian rupa sehingga pihak lain tidak mengetahui bahwa ada ‘pesan lain’ didalam pesan yang dikirimkan. Hanya pihak penerima yang sah saja yang dapat mengetahui ‘pesan lain’ tersebut. Pesan dalam stenografi, terlihat seperti pesan biasa, sehingga kecil kemungkinan untuk dicurigai. Terdapat metode pendeteksi pesan dalam stenografi yang dikembangkan, yang disebut stegnalisis. Stegnalisis merupakan teknik untuk mengungkapkan keberadaan isi stenografi.
B. Perkembangan Stenografi
Perkembangan stenografi dapat diuraikan secara singkat:
Stenografi dikarang oleh Timithey Bright pada tahun 1588 dan John Willis pada tahun 1602 dari Inggris.
F.X. Gabelsbelger pada tahun 1820 dari Jerman.
I. Pitman pada tahun 1837 dari Inggris.
A.W. Groote pada tahun 1899 dari Belanda.
J. Paat Sabirin yang kemudian diikuti oleh Eliezer Karundeng pada tahun 1925 di Indonesia yang menciptakan steno nasional Karundeng.
Berdasarkan surat keputusan secara resmi pemerintah dikeluarkannya surat keputusan No. 051/1968 tanggal 1 Januari 1968, telah ditetapkan sistem Stenografi Karundeng sebagai standar mata pelajaran yang dimasukkan kedalam kurikulum SMK. Oleh karena itu, stenografi sistem Karundeng merupakan sistem nasional.
Untuk mencatat notulen saat rapat
Untuk membuat catatan yang bersifat rahasia
Mencatat pesan yang diterima melalui pembicaraan telepon
D. Huruf-Huruf Stenografi Karundeng
Huruf-huruf dalam stenografi karundeng sangatlah sederhana, terdiri dari garis, lengkungan, dan lingkaran. Jika ingin mengulang sebuah kata, maka diakhir kata tersebut diberikan sebuah tanda ulang. Pada saat menggabungkan huruf-huruf menjadi sebuah kata, kita melakukan penyambungan secara langsung menghubungkan titik akhir sebuah huruf dengan titik awal huruf berikutnya, namun jika bentuk huruf itu tidak memungkin kan, maka dapat di sambung dengan menggunakan huruf “e” yang tidak perlu dibaca.
Dalam penulisan steno kita tidak perlu menulis sesuai dengan ejaan pada tulisan latinnya, kita hanya perlu menulis sesuai dengan cara pengucapannya agar lebih mudah dalam pembacaan kembali dan lebih cepat saat penulisannya. Seperti penulisan kata “walaupun” dalam latinnya, namun dalam steno ditulis “walopun”. Bahkan dengan aturan singkatan tambahan kita dapat lebih banyak menghemat huruf. Dengan demikian tulisan steno yang singkat dan cepat dalam penulisannya, dapat lebih singkat lagi dengan menggunakan aturan singkatan tambahan. Tidak banyak orang yang menggunakan aturan singkatan tambahan tersebut karena jika orang tersebut tidak benar-benar memahaminya, akan sulit baginya untuk membaca ulang tulisannya.