Misi Besar Itu
Entah akan menjadi ibu biologis atau ibu ideologis atau nanti Allah takdirkan menjadi keduanya, tugas saya adalah terus memantaskan diri agar Allah layakkan untuk jadi bagian dari generasi pembebas Baitul Maqdis.
Ya, Itulah salah satu misi besar yang saya tulis dalam peta hidup saya.
Untuk mewujudkan misi besar itu, langkah pertamanya tentu harus dimulai dari diri sendiri dan juga dari keluarga kecil yang akan saya bangun nanti.
Mengapa harus melibatkan keluarga?. Sebab keluarga adalah benteng utama peradaban. Guru saya pernah berpesan;
"Jika ingin mengubah peradaban (dunia), maka mulailah dengan menguatkan benteng-bentengnya (keluarga)".
Berbicara tentang keluarga, saya kemudian menelusuri jejak-jejak sejarah dari keluarga-keluarga yang sebelumnya telah dipilih Allah untuk menjadi pembebas Baitul Maqdis.
Empat nama saya dapati; Umar bin Khattab, Nuruddin Zanki, Najmuddin Ayyub dan Shalahuddin Al Ayyubi.
Dari keempatnya, saya temukan satu benang merah; generasi pembebas Baitul Maqdis itu dipersiapkan bukan sejak mereka dilahirkan, melainkan sejak sebelum orang tuanya memilih pasangan.
Apa hikmah yang bisa digali? Kesamaan visi adalah kunci.
Sebagaimana saat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memilih gadis penjual susu yang jujur untuk dijadikan menantu, atau saat beliau balik memarahi seorang ayah yang mengadukan tentang kedurhakaan anaknya, namun setelah ditabayyuni ternyata sang ayahlah yang justru mendurhakai anaknya sendiri karena tidak menunaikan 3 hak anak yang harus dipenuhi; memilihkan calon ibu yang baik, memberikan nama yang baik (karena nama adalah do'a) dan mengajarkan Al-Quran.
Sebagaimana juga saat Nuruddin Zanki mendukung dan menghormati keputusan Najmuddin Ayyub yang baru akan menikah setelah menemukan seorang perempuan dengan visi yang searah. Hingga kemudian benar-benar Allah pertemukan ia dengan gadis yang memiliki visi hidup yang sama persis dengan visi hidupnya, yaitu yang bercita-cita membebaskan Baitul Maqdis. Maka jadilah pernikahan mereka pernikahan yang penuh berkah. Dari pernikahan itu terlahirlah Shalahuddin Al Ayyubi, yang oleh sejarah dicatat sebagai pembebas Baitul Maqdis yang kedua kali (setelah sebelumnya dibebaskan oleh Umar bin Khattab).
Pertanyaan selanjutnya, apakah kesamaan visi saja sudah cukup?. Oh, tentu tidak.
Kesamaan visi itu ternyata juga harus diselaraskan dengan pemahaman dan pengamalan yang baik terhadap Al-Quran. Inilah kunci utamanya.
Karena jika ditelusuri begitulah kisi-kisi yang Allah beri.
Tahu dari mana?.
Dari tadabbur surat-surat atau ayat-ayat yang berbicara tentang Al Aqsha atau Baitul Maqdis.
Dari sekian banyak surat-surat yang ada dalam Al-Qur'an, tak ada satu pun surat yang disebutkan kata Al-Qur'an di dalamnya sebanyak 10 kali melainkan di Surat yang ke 17 (Surat Al Israa’).
Hal ini supaya kita menyadari bahwa jalan menuju pembebasan Al Quds atau Baitul Maqdis hanya bisa ditempuh oleh generasi Qur'ani. MasyaAllah laa quwwata illa billah.
Tidakkah kita mengambil hikmah dan pelajaran?.
Dari sekian misi-misi besar yang ada dalam hidup kita, sudah adakah misi untuk ikut berpartisipasi menjadi bagian dari generasi pembebas Baitul Maqdis?.
Karena begitulah yang diteladankan oleh Hanna, ibunda dari Maryam binti Imran (perempuan terbaik sepanjang zaman yang namanya jadi salah satu nama surat dalam Al-Qur'an), sebagaimana do'anya yang Allah abadikan di Surat Ali Imran;
رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
"Wahai Rabbku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu, janin yang ada dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang shalih yang akan mengabdi kepada-Mu (berkhidmat di Baitul Maqdis), maka terimalah (nazar) itu dariku. Sungguh, Engkaulah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. 3 [Ali Imran] : 35).
Demikian, Allahu a'lam bisshawab.
@rizqan-kareema.


















