Yanto keluar dari rumah menuju pasar tepat pukul lima pagi seperti biasa dengan motor RX King yang berhasil dilunasinya dengan cicilan bertahun-tahun. Kandang-kandang ayam yang berada di jok belakangnya masih kosong, sekosong hatinya.
Jalanan menuju pasar masih lengang. Hanya beberapa orang berjalan menuju sawah dan juga pasar. Ada juga beberapa anak sekolah bersepeda menuju pusat kota sambil tertawa. Dia sengaja melaju pelan. Udara pagi kotanya terlalu istimewa untuk dilewatkan dengan terburu-buru untuk berjibaku dengan ayam-ayam dan kesibukannya sebagai tukang antar ayam.
Pukul lima lewat sepuluh menit, Yanto sampai di kandang besar milik Koh Ruli, majikannya. Beberapa orang teman kerjanya sudah di sana antri mengambil list antar ayam-ayam hari ini. Dirinya pun ikut di antaranya.
“Nto, yu olang bawa dua kali dari biasa yaa. Si Rahmat ada pesenan besar tuh,” ucap Koh Ruli.
“Siap Koh,” jawab Yanto.
Setelah mendapatkan daftarnya, Yanto kembali menuju motornya. Beberapa pekerja lainnya membantunya memasukkan ayam-ayam pesanan ke dalam kandang yang ada di jok belakang motornya. Tiba-tiba Yanto terhenti melihat sebuah angkot lewat perlahan di jalanan depan kandang besar. Pemandangan yang dilihatnya membuatnya terhenti bekerja. Pemandangan manis yang dulu begitu diimpikannya kini terlalu perih untuk dinikmati matanya di tengah kesibukannya.
“Mas, aku minta maaf. Aku nggak bisa menolak perintah Bapak,” ucapnya tertunduk menahan nangis. “Kalaupun aku menikah dengan Mas Wahyu, supir angkot itu bukan berarti aku sudah tidak cinta Mas Yanto.”
“Pergilah Yun. Mungkin memang Wahyu yang bisa membahagiakanmu dan memberikan keturunan bagi Bapak,” ujar Yanto sama lirihnya yang kemudian meninggalkan Yuni. Sejak itu mereka berpisah tanpa pernah mengucap selamat tinggal.
“Nto, awakmu dapet salam tuh dari Ati, mbok jamu sebelah kiosnya Mbah Suto,” ujar Sidik yang tengah menghitung jumlah ayam di kandang motor Yanto. “Jok mbok cuekin terus Nto. Sopo ngerti iku jodohmu sing anyar. Kowe ra kangen po duwe bojo maneh?”
Yanto masih diam sambil tersenyum kecil mendengar ucapan kawannya.
Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun, baik itu Yuni, Wahyu ataupun Sidik. Hatinya hanya satu dan itu untuk Yuni. Selamanya akan seperti itu meski dia harus hidup dalam sepi yang perih.
***
“Lho Pak Muro kok wes kerjo maneh?” tanya Adim begitu melihat laki-laki paruh baya masuk ke area pembangunan.
“Bapak nggak apa-apa kok lek masih mau di rumah. Nanti ta bilangin ke mandor Pak. Bapak kan habis dapet musibah, pasti mandor e paham.”
“Lho yo nggak po-po Dim. Lek di omah terus, justru ndak baik. Yo anak-anak juga wes balik ke omahe masing-masing.”
“Yowes Pak. Ta tinggal dulu nggih. Ta ngecek material yang baru dateng.”
Muro mengangguk pelan dan memandangi punggung Adim yang menjauh.
Muro baru saja kehilangan istrinya beberapa hari lalu. Siti meninggal dunia karena sakit malaria. Suami istri ini telah bersama selama hampir 35 tahun. Mereka dikaruniai empat anak, yang kini sudah berkeluarga dan hidup di rumah masing-masing.
Kepergian Siti membuat anak-anak Muro kembali ke rumah. Kehilangan mendatangan mereka kembali kepada orang tua. Namun selepas jasad Siti dikuburkan, semuanya berencana akan segera kembali ke rumah mereka masing-masing. Tawaran kepada Muro untuk ikut hijrah dan tinggal bersama salah satu diantara mereka ditolak Muro dengan halus. Ia ingin selalu dekat dengan Siti meski harus sendiri. Ia pun ingin mati bersama Siti di kota kecil kelahirannya ini.
Mulai hari itu, hari ketiga setelah meninggalnya Siti, Muro mulai bekerja kembali menjadi kuli bangunan di salah satu proyek pembangunan. Meski usianya sudah cukup tua, Muro masih menjadi salah satu kuli andalan proyek.
Dia bekerja seperti biasa tak terlihat sedih atau kehilangan. Dia bekerja sama giatnya seperti biasa, seperti saat Siti masih ada.
Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun, baik itu anak-anaknya, para kuli ataupun mandor proyek. Hatinya hanya satu dan itu untuk Siti. Selamanya akan seperti itu meski dia harus hidup sepi yang perih dalam sisa usianya.
***
Jalanan sepi. Hanya beberapa kendaraan berbaris melintasi jalanan sepanjang pasar. Sama seperti hatiku, sepi. Sedangkan dalam kepala begitu ramai dengan segala cerita dan pikiran gila.
Kukendarai motor tua dari Bapak melintasi jalanan pasar. Dalam hati berharap semoga aku segera sampai. Sebelum dia benar-benar pergi.
Tiba-tiba motor tua dari Bapak berhenti. Suara klakson dari mobil di belakangku memekik telinga. Kumat! Penyakit motor tua ini kumat lagi. Kenapa di saat genting? Aku akhirnya menepi. Bensin full. Ban utuh. Mesin? Aku tidak yakin, sembari mengeceknya. Tapi sejauh ini semuanya baik-baik saja. Lalu kenapa si motor tua dari Bapak tiba-tiba mati? Sialan!
“Ayolah! Aku hanya butuh ke terminal sebelum jam tiga sore. Sebelum dia berangkat. Kumohon nyalalah!” ujarku pada motor tua itu.
Sudah setengah jam, aku berjalan sambil menuntun motor tua dari Bapak ini. Tidak ada satu bengkel yang kutemui. Motor tua dari Bapak pun tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan. Setengah jam lagi dia akan segera berangkat. Dan panasnya siang berpadu dengan sepinya jalan justru membuatku makin tersiksa.
Rasanya kuingin tinggalkan motor tua dari Bapak. Tapi meski dia terlihat tidak berharga, jika kutaruh di sembarang tempat masih menjadi incaran pencuri. Mungkin tidak akan dijual lagi ke pengadah barang curian tapi ke tukang loak di pasar. Harganya pasti jauh dari lumayan. Maka rencana itu kubuang jauh-jauh sehingga masih kutuntun motor tua dari Bapak menuju terminal.
Sesekali kucoba lagi menyalakan motor itu. Namun tanda-tanda kehidupan pun tidak ada. Aku benar-benar ingin menyerah. Terminal masih cukup jauh, sedangkan lima belas menit lagi bus yang akan membawanya pergi akan bergerak.
Aku berhenti melangkah. Lelah sekaligus menyerah. Nyeri pada kaki juga hati. Kupinggirkan motor tua dari Bapak dan duduk tak jauh darinya. Motor tua dari Bapak tampak begitu menyedihkan, semenyedihkan diriku.
“Hoi Bagas! Ternyata kamu di sini! Kukira kamu akan mengantar Rida pergi,” panggil seseorang dari sebuah mobil sedan.
“Eh kamu Run. Motorku mogok,” jawabku lemah.
“Ini titipan dari Rida,” Bahrun menyerahkan selembar surat kepadaku. “Kamu mau bareng aku nggak?”
“Makasi Run. Aku di sini saja dulu.”
Bahrun pun pergi meninggalkanku kembali bersama motor tua dari Bapak.
“Aku pergi. Tak perlu kau tunggu kapan aku pulang. Karena kalaupun pulang, aku pulang untuk menikah dengan Rudi, laki-laki pilihan Bapak. Ini bukan lagi soal perasaan tapi soal pilihan. Aku sama berbaktinya seperti kamu yang tidak pernah ingin melepas motor tua dari Bapakmu.
Rida.”
Hari semakin sore. Jalanan semakin sepi. Sama sepinya seperti hatiku yang baru saja ditinggal pergi seorang kekasih hati. Di kota ini kami bersama di kota ini pula dia meninggalkanku. Kota yang sepi, seperti hatiku.
Aku kembali menuntun motor tua dari Bapak. Kali ini menuju rumah.
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh: Muhammad Fajar Hidayat
Dari kejauhan sosok Girda berjalan mendekat. Tiba-tiba dia berhenti lalu berbalik arah. Aku yang sudah melambaikan tangan ke arahnya sejak tadi seketika kecewa. Teman baikku itu tiba-tiba menjadi manusia super sibuk yang sulit sekali ditemui.
“Woy! Kenapa lo?” sapa Koko membuyarkan lamunanku.
“Gapapa Ko,” jawabku pelan. Koko pun menyusul langkahku menuju parkiran.
“Lo habis liat setan apa gimana?”
“Ini gue lagi ngobrol sama setannya.”
“Sialan! Eh proposal buat cari dana udah jadi?”
“Belum. Gue baru dapet copynya tadi malem dari Girda. Gue bahkan belum tau mana yang harus direvisi.”
“Udah nanya ke Girda?”
“Tadinya hari ini mau ngobrol. Udah ditungguin dari tadi, baru ngeliat dari jauh malah cabut tuh anak.” Tiba-tiba handphone ku bergetar. Pesan dari Girda, “Sorry gw ada bimbingan mendadak. Nanti malem gw kirim email revisinya. Biar bisa langsung lo cetak.”
“Nih panjang umur anaknya,” aku menyodorkan handphoneku pada Koko agar dia membaca pesan dari Girda.
“Kenapa sih tuh anak?” Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. “Udah hampir dua bulan dia gak pernah dateng ke sekret buat rapat buat duduk-duduk doang aja gak. Lo berantem sama dia?”
“Kagak. Terakhir ketemu dia juga sebelum project kita ke kampung deket pembuangan sampah itu. Nah tuh pas project gue gak ikutan. Ada masalah gak pas itu?” aku malah bertanya balik.
Koko berusaha mengingat-ingat. Lalu dia menggeleng.
“Yaudah lah Ko. Nanti kalo ada waktu gue coba ketemu sama Girda. Lo juga coba aja tanya anak-anak yang lain. Besok gue kabarin lagi masalah proposal cari dana. Duluan ye. Ada kelas.” Aku pun pamit meninggalkan Koko yang masih berpikir.
Girda masih menghindari semua hal berkaitan dengan komunitas kami. Kami sama-sama aktif di sebuah komunitas Bacaan Anak di kampus. Kecintaan Girda pada buku dan anak-anak menjadi salah satu penyebab lahirnya komunitas itu. Dia mengajakku dan beberapa teman lainnya untuk bergabung.
Girda selalu ada di baris terdepan dari komunitas tersebut. Aku yang awal terpaksa ikut kini mau tak mau menggantikan baris depan yang kosong tanpa Girda. Semua orang kini mulai berhenti bertanya kemana Girda kepadaku. Merekapun seperti tidak lagi mencari tahu. Jarak yang dibuat Girda akhirnya pun mulai jadi kebiasaan. Semua harus tetap berjalan meski tanpa Girda, penyemangat kami.
Tapi aku tidak pernah berhenti mencari tahu meski belum juga ada jawaban dari jarak yang diciptakannya.
“Anda nungguin Girdanya di dalem aja yuk. Sudah malam nanti masuk angin,” tawar Tante Retno, ibu Girda.
“Di sini saja Tante. Girda pulang malem ya Tan?”
“Gak kok. Tadi pagi pamitnya mau pulang cepet. Mungkin masih kejebak macet. Nanti kalo mau masuk, masuk aja ya Anda.”
“Iya Tante. Makasi.” Tante Retno pun meninggalkanku di teras rumahnya. Berkali-kali kucoba ke rumah Girda dia selalu tidak ada di rumah. Entah kenapa aku harus menemuinya malam ini. Aku harus mendapatkan penjelasan atas menghilangnya dia dari Bacaan Anak tiga bulan terakhir.
Setengah jam kemudian Girda membuka pagar. Dia terpaku begitu menyadari keberadaanku di teras rumahnya.
“Baru pulang Gir?” sapaku.
“Iya. Udah lama?” balasnya kikuk.
“Lumayan.” Lalu kami terdiam. Aku pun bingung harus mulai darimana karena pertanyaan dalam kepalaku terlalu banyak. “Gue mau ngomong sama lo.”
Girda pun mengajakku ngobrol di kamarnya.
“Jadi?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Gue gak bisa gabung lagi di Bacaan Anak ataupun komunitas lainnya,” ujarnya pelan dan penuh keraguan.
“Kenapa?”
Girda malah menunduk.
“Lo berantem sama anak-anak? Lo mau fokus kuliah? Ada laki-laki yang ngelarang lo? Lo sebel sama gue? Apa gimana?”
“Bukan karena itu semua.” Jawabnya.
“Terus?” Girda menuju meja belajarnya. Dia mengambil sebuah foto dari lacinya. Lalu menyodorkannya padaku. Aku memandangi beberapa anak laki-laki yang ada di foto itu.
“Ini anak-anak di kampung deket pembuangan sampah kan ya?” Girda mengangguk. “Gara-gara mereka?”
“Iya dan tidak.”
“Maksudnya?”
“Habis dari kampung deket pembuangan sampah itu, gue mikir. Apa yang gue kerjain di Bacaan Anak gak ngubah apa-apa. Mereka tetap akan tinggal di sana. Mereka sekolah seadaanya. Kesehatan mereka juga gak terjamin. Ternyata gak ngubah apa-apa,” cerita Girda. Matanya memancarkan kegelisahan.
“Itu baru beberapa anak di kampung deket pembuangan sampah. Belum anak-anak di tempat lain yang nasibnya kurang lebih sama kayak mereka. Bacaan Anak cuma ada 10 orang yang aktif. Cakupan kita cuma di kota ini. Kita gak bisa mengubah apa-apa. Gak bisa,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum memandangi Girda dan kegelisahannya.
“Kita gak bisa berbuat apa-apa, Nda. Gak bisa,” airmata mulai mengalir pelan di pipinya. Aku memeluknya.
Girda pun sudah kembali tenang.
“Gir, yang kita lakuin emang bukan apa-apa. Cuma datang sekali seminggu untuk berbagi buku cerita sama mereka. Kalo diitung-itung emang gak bakalan bisa ngubah apa-apa,” kataku. “Gue inget banget pas pertama lo ngajak gue untuk bentuk Bacaan Anak. Gue juga mempertanyakan hal ini sama lo. Lo mau tau lo jawab apaan? ‘Nda, perubahan besar dimulai dari perubahan kecil yang bisa kita lakuin di sekitar kita’. Itu jawaban lo, Gir.
“Gak ada yang sia-sia Gir. Bahkan dari sekedar ngajarin mereka baca dan bagi-bagi buku. Emang gak akan ngubah hidup mereka jadi sejahtera secara cepat. Tapi setidaknya kita menanamkan hal baru di kepala mereka. Dan semoga ikut tumbuh seiring pertumbuhan mereka dan kelak bisa mereka bermanfaat buat mereka.
“Lo, gue, Koko, dan yang lain di Bacaan Anak emang gak punya apa-apa lagi selain diri kita. Cuma itu yang bisa kita kasihkan ke mereka. Dan satu lagi Gir, kita harus merasa cukup sama diri kita sebelum berbagi sama orang banyak.”
“Maafin gue ya, Nda.”
“Lo gak salah kali Gir. Kegelisahan lo mungkin juga pernah anak-anak lain rasakan. Dan lo bukan wondergirl yang punya kekuatan super. Lo butuh temen berbagi cerita. Makanya gue dateng. Dan lain kali jangan kabur ah dari Bacaan Anak. Gak asik main kabur-kaburan kayak gitu,” ujarku sambil meledeknya. “By the way, Koko merindukan lo tuh! Besok gue tunggu di sekret! Ada banyak buku baru yang perlu kita sortir buat minggu depan. Oke?”
Girda pun mengangguk.
Kami pun kembali ke kampung dekat pembuangan sampah di kota. Kedatangan kami disambut hangat oleh anak-anak yang tengah bermain di lapangan pagi itu.
Kulihat beberapa anak laki-laki mirip seperti yang ada di foto yang disimpan Girda. Anak-anak yang berusia besar mulai memilih buku-buku untuk dibaca dari keranjang yang kami bawa. Sedangkan anak-anak yang masih kecil mengerubungi Girda yang sedang bersiap mendongeng dengan boneka jarinya.
Dari mereka, teman-teman dari Bacaan Anak dan anak-anak di daerah ini, aku belajar banyak hal. Belajar tentang berbagi dan menerima diri. Dan aku percaya akan satu hal. Bahwa setiap perubahan besar akan dimulai dari perubahan kecil. Mulai dari anak-anak untuk perubahan besar yang entah apa dan kapan akan terjadi. Kupercaya akan ada perubahan. Jika tidak bisa dirasakan secara masif setidaknya bisa kita rasakan dalam hati.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat