Kori, si Kecoa asyik memandangi rel kereta api dari jendela ruang kemudi. Kereta bergerak menjauhi stasiun menuju barat dan akan berakhir di ibukota. Senja dan jingga tertangkap mata Kori. Semilir angin berhembus dari jendela yang sedikit terbuka. Entah kenapa sore itu menjadi begitu sendu untuknya.
Kori adalah kecoa petualang. Dia lahir di kereta. Meski kemudian ia tidak mengenal siapa orang tuanya. Kori lahir di kereta sesekali di dapur, kolong bangku penumpang, ruang kemudi, ataupun toilet. Rutenya Jakarta – Yogyakarta. Selalu begitu, setiap hari.
Kori hidup sendiri. Meski sesekali ada kawanan kecoak lainnya mampir namun tidak ada satupun dari mereka yang bertahan tinggal di sana. Bagi mereka, hidup sebagai kecoa adalah kebebasan. Tidak seharusnya mereka menetap. Karena kebebasan mengalir dalam darahnya.
Namun tidak bagi Kori. Baginya kebebasan ada dimana saja, termasuk kereta api yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Tiba-tiba pintu ruang kemudi terbuka. Tomas masuk sambil mencari-cari sesuatu. Kori pun segera bersembunyi di atas jendela. Matanya berkaca-kaca. Itulah kebebasan untuknya, memandangi Tomas yang bertugas menemani masinis tua menjalankan kereta ini.
“Tom, saya tinggal dulu ya,” ujar Masinis tua itu meninggalkan Tomas sendirian di ruang kemudi. Tomas hanya mengangguk pelan. Kori bersuka hati karena bisa memandangi Tomas sepuasnya tanpa terganggu suara dengkur yang berisik dari Masinis tua itu.
Tiba-tiba keempat mata itu bersatu, mata Tomas dan mata Kori. Kori yang bersembunyi di atas jendela tertangkap mata oleh Tomas. Kori salah tingkah. Namun dia tidak bergerak bersembunyi seperti biasanya ketika keberadaannya diketahui manusia. Kori bertahan membalas pandangan Tomas meski hatinya tak karuan.
Tomas pun tidak menggubris Kori. Dia tahu dia tengah dipandangi kecoa cokelat di atas jendela. Namun dia tidak bergerak untuk membunuhnya ataupun membuangnya. Tomas kembali sibuk dengan pikirannya.
“Aku tahu kau selalu ada di situ, di atas jendela. Risih dengan suara dengkur Masinis tua itu,” ujar Tomas.
Kori tercengang begitu mendengar ucapan Tomas. Dia yakin bahwa Tomas bicara padanya.
“Ya dengkurnya memang menganggu. Tapi dia tidak pernah sadar itu.” Tomas melirik ke arah Kori. “Apa rasanya menjadi kecoa? Kamu bahagia?”
Aku mengangguk. “Aku bahagia karena memandangimu.”
“Kamu tidak rindu rumah?”
“Di sini rumahku. Ada kamu.”
“Aku rindu rumah. Aku rindu menetap,” ujar Tomas lirih. Tomas pun bangkit dari duduknya, mengambil selembar tisu dan menuju jendela.
“Bukan aku membencimu wahai kecoa. Lebih baik kau tidak ada di sini daripada Masinis Tua itu mendapatimu dan murka.”
Kori masih diam di tempatnya. Begitu dekat dia menatap Tomas, alasan yang membuatnya bertahan hidup di kereta. Saat itu juga, Kori merasa begitu sedih.
Tomas bangkit dari duduknya dan menuju Kori. Dia meraih antena dan mengangkat Kori. Kemudian Tomas membuka jendela.
“Terima kasih sudah menemani selama ini. Bebaslah,” ujar Tomas sebelum melepaskan antena Kori. Dan Kori pun terbang menjauhi kereta.
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh Isnain Bahar Sasmoyo
Naraya duduk menghadap jendela yang mengarah ke taman. Seorang perempuan duduk di sana sambil membaca buku. Sesekali memandangi sembari jemarinya menari membuat sebuah gambar. Sudah hampir enam bulan Naraya melakukan pengamatan pada perempuan itu. Dalam diam semua dicatat dan digambarnya.
“Nar, gabung dong makan sama kita-kita,” kata Rita disambut dengan ajakan relawan lainnya. Naraya hanya tersenyum, akhirnya menutup buku sketsanya dan menuju meja besar di tengah ruangan.
Istirahat makan siang menjadi satu-satunya cara Naraya bisa mengamati perempuan itu. Makan bisa ia tunda, tapi tidak dengan pengamatannya. Entah apa yang membuat Naraya betah diam, sendirian dan mengamatinya. Namun saat-saat itu adalah saat dimana Naraya hanya dengan dirinya sendiri. Saat-saat yang sangat ingin dimilikinya utuh.
“Nara ini udah duduk rame-rame tetep diem aja yaa,” kata Kak Ida membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kecil sambil mengunyah makan siangku.
“Nara butuh pasangan itu biar nggak diem terus,” ledek Rita. Yang lainnya hanya tertawa. Naraya pun hanya tersenyum. Tanpa ada yang menyadari Mita malu-malu menunduk menghadap makan siangnya.
“Halo semua!” sapa Bagus, salah satu relawan laki-laki selain Naraya.
“Ada pasien Gus?” tanya Rita.
“Iya nih. Biasa pasiennya Dokter Rudi. Jadwal kontrolnya dua minggu lagi tapi sekarang udah dateng. Makanya jadi ribet nyari berkasnya.”
“Mbak yang cantik itu kan?” tanya Bu Ika, kepala relawan di tempat ini.
“Iya Bu. Karena Dokter Rudinya belum dateng jadi dia nunggu dulu. Untung orangnya nggak rewelan.”
Obrolan seputar pasien pun mengisi makan siang di ruang relawan. Naraya masih sibuk dengan pikirannya yang mereka-reka apa yang sedang dilakukan subjek pengamatannya di taman rumah sakit.
***
Dia selalu datang setiap sebulan sekali pada Kamis di minggu kedua. Dia terlihat begitu tenang dalam kesederhanaannya. Tidak akan ada seorangpun kan menyangka jika dia begitu sering kontrol ke pusat rehabilitasi yang dibuat Dokter Rudi ini.
Naraya selalu penasaran dengan buku-buku yang selalu dibaca perempuan itu. Rasanya ia ingin sekali ikut membaca di sampingnya untuk sedikit paham akan isi kepala dan hatinya. Namun rasa penasaran Naraya hanya sebatas pengamatannya.
Mereka tidak pernah bertukar sapa. Mereka tidak pernah saling bicara. Naraya tidak yakin perempuan itu menyadari keberadaannya. Namun bagi Naraya itu bukan masalah. Dia justru senang menjadi tidak terlihat bagi pengamatannya. Dia bahkan berharap selalu menjadi seperti itu.
***
“Nara, tolong kamu ke ruangan Dokter Rudi yaa. Ini berkasnya. Hari ini Bagus nggak masuk. Tolong gantikan ya?” ujar Bu Ika. Naraya hanya mengangguk lalu mengambil berkas yang dimaksud dan menuju ruangan Dokter Rudi.
Naraya tiba-tiba terdiam ketika dia menyadari pasien berikutnya untuk Dokter Rudi adalah perempuan itu. “Nona Vanessa,” panggil Naraya setelah terdiam sekitar lima detik untuk mengatasi kekagetannya.
Perempuan itu berdiri, tersenyum kepada Naraya dan mengikuti Naraya masuk ke ruangan.
“Bagus sekali tulisanmu, Van,” ujar Dokter Rudi. Naraya menajamkan telinganya untuk curi dengar di balik bilik. “Mungkin terapi menulis seperti ini yang cocok untuk kamu. Jauh lebih baik kan?”
“Iya Dok,” ujar perempuan itu pelan.
“Gimana kesibukannmu?”
“Sudah mulai dikurangin Dok. Aku suka nggak betah kalo lama-lama di tempat ramai. Suka tiba-tiba pusing. Dan jadi lebih impulsif.”
“Hhmm seperti apa?”
“Tiba-tiba bisa seneng banget. Tapi juga bisa sedih padahal orang-orang lagi seneng-seneng. Gitu malah jadi nggak enak sama anak-anak. Makanya aku coba ngurangin kegiatan di luar.”
“Kalau di rumah kamu ngapain?”
“Baca buku sambil dengerin musik. Kadang juga mainan handphone.”
“Hm coba dikurangin main handphonenya. Atau kamu harus bisa menyaring apa yang ada di sana.”
“Iya dok.”
“Ada keluhan lain?”
Tak lama, Vanessa, perempuan itu keluar dari ruangan periksa. Dia tersenyum pada Naraya sebelum keluar ruangan. Sedangkan Naraya diam terpaku di tempatnya.
***
Sepanjang malam Vanessa menangis. Dia begitu sedih. Dia merasa begitu sepi. Dia merasa terancam. Meskipun dari tadi dia hanya di dalam kamar mengerjakan skripsi dan browsing internet.
Handphonenya bergetar. Dimas calling.
“Halo,” sapa Vanessa.
“Kamu kenapa sayang?”
“Nggak apa-apa.”
“Terus kenapa nangis?” Vanessa malah makin terisak. “Kamu cerita dong sayang. Ada apa?”
“Kamu ke sini.”
“Yah nggak bisa dong. Aku kan lagi ada kerjaan di luar kota. Kamu kenapa?”
Vanessa hanya menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada Dimas. Vanessa ragu sebab kesedihannya akan membuat pacarnya semakin menganggapnya aneh. Selain itu, Vanessa sendiri tidak paham mengapa dia menjadi begitu sedih.
Malam itu pun, Vanessa tertidur setelah kelelahan menangis ditemani Dimas melalui telepon.
Vanessa sibuk menari-nari di tengah dentuman musik memekak telinga. Rokok di tangan kirinya masih menyala sesekali dihisapnya yang tidak berhenti menari sejak tadi. Keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Sepasang tangan berhenti pada pinggulnya. Sebuah peluk hadir menemani Vanessa yang masih menari. Tanpa risih Vanessa pun membalikkan badannya. Keduanya menari dalam peluk erat. Tubuh mereka erat, keringat menyatu dalam musik malam itu.
Vanessa terbangun dengan pening menyerang kepala. Iboy masih tertidur pulas sambil memeluknya. Dalam pelukan Iboy, Vanessa justru merasa sedih. Dia merasa telah berkhianat. Namun di sisi lain, dia membutuhkan hal-hal yang dilakukan Iboy selama ini padanya.
Setahun lalu, Vanessa didiagnosis menderita Bipolar Disorder. Vanessa sering kali menjadi begitu ceria. Namun bisa begitu cepat menjadi begitu sedih. Perubahan suasana hatinya yang tidak menentu membuatnya sering kacau. Beberapa pekerjaannya sering terbengkalai. Tidak jarang ia juga sering melukai dirinya sendiri.
“Dokter Doni ada?” tanya Vanessa memburu di suatu malam. Naraya tidak menjawab karena kaget. “Mas? Dokter Doni ada?” tanyanya sekali lagi.
“Dokter Doni hari ini libur. Baru datang lagi besok pagi,” jawab Naraya.
“Aku harus ketemu Dokter Doni.”
“Nggak bisa Mbak. Ini sudah hampir jam 11 malam. Kami baru buka lagi besok pagi jam 8. Kalau Mbak mau, bisa datang lagi besok pagi.”
“Kalo gitu, aku tunggu Dokter Doni di sini.” Setelah berdiskusi dengan Bu Ika, yang masih tersisa di kantor malam itu, akhirnya perempuan itu menginap di salah satu kamar di pusar rehabilitas. Naraya mengantarkannya menuju kamar pasien. Keduanya berjalan dalam diam.
“Temani aku,” ujar Vanessa sebelum Naraya menuju pintu. Naraya memandang bingung ke arah gadis yang selama ini diamatinya diam-diam. “Temani.”
Naraya pun mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur. Vanessa merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Mereka terdiam.
“Apa yang membuatmu merasa takut sendiri?” tanya Vanessa yang masih memandangi langit-langit kamar.
Naraya terlihat berpikir demi menemukan jawaban dari perempuan yang sering diamatinya itu. “Aku takut nggak jadi manfaat buat orang. Kalau sendiri rasanya aku tidak bermanfaat,” jawab Naraya.
“Bukannya kamu sering sendirian? Aku sering melihatmu di ruangan dekat kantin duduk sendiri di dekat jendela,” ujar Vanessa. “Kenapa kamu ingin sendiri?”
Naraya tidak menyangka pengamatannya justru terlihat oleh orang yang diamatinya. Namun ia berusaha menyembunyikan rasa kaget itu dengan terus memandang tembok putih di hadapannya.
“Aku percaya bahwa harus ada jarak antara apapun, termasuk diriku dengan orang lain, dengan hal-hal yang selama ini melekat.”
“Untuk apa? Apa yang membuatmu merasa bangga bahwa kamu sendiri?”
“Lewat sendiri aku bisa lebih mengenal diri sendiri. Aku jadi sadar kalau aku butuh orang lain untuk menemani dan berbagi.”
Vanessa pun terdiam.
“Kamu bagaimana?” Naraya balik bertanya.
“Sama sepertimu,” jawabnya singkat. “Kamu tau apa bedanya sendiri dan sepi?”
“Sendiri nggak selalu mengharapkan sesuatu. Kalo kesepian pasti mengharap sesuatu.” Vanessa terlihat tidak puas dengan jawaban yang diberikan Naraya. “Sendiri itu untuk diri sendiri. Kalo kesepian selalu melibatkan pihak lain. Kesepian adalah produk dari sendiri. Hahaha.”
Tawa itu sepi. Vanessa masih memandang langit-langit kamar tanpa bergeming akan jawaban ataupun tawa Naraya.
“Jangan pergi,” ujar Vanessa.
“Kenapa?” Naraya akhirnya berani bertanya.
“Sendiri dan sepi kini menjadi hal yang paling menakutkan bagiku. Kepalaku bisa bercabang banyak melebihi pohon di taman rumah sakit. Itu menyakitkan.”
Kini Naraya yang terdiam mendengar jawaban itu.
“Aku takut sendiri. Aku takut sepi.”
“Apa yang kamu takutkan?”
“Rasanya sesak. Rasanya penat. Rasanya pilu. Rasanya haru. Meski sesekali dia menjadi begitu menyenangkan. Sepi membunuhku.” Naraya hanya diam memandangi lantai tempatnya berpijak.
Mereka menghabiskan malam dalam diam. Naraya duduk diam di kursinya. Vanessa telentang diam di tempa tidurnya. Hingga pagi datang keduanya saling diam tak bersuara.
Mereka pun berpisah ketika Dokter Doni masuk ke kamar bersama Bu Ika. Mereka, Naraya dan Vanessa, pun berpisah dalam diam.
Sepulang dari jaga malam, lebih tepatnya menjaga Vanessa semalaman, Naraya memutuskan untuk tidak tidur. Dia berkutat dengan buku sketsa dan catatannya. Dia terus menggambar. Dia terus menulis. Dia memindahkan semua ingatan semalam bersama Vanessa pada lembar-lembar kertas. Seolah takut dicuri jika ingatan itu terus ada di kepalanya.
***
“Kamu sudah makan siang, Nara?” tanya Bu Ika yang baru masuk ruangan.
“Sudah Bu,” jawab Naraya sambil membereskan kotak makannya. Bu Ika tersenyum pada pemuda pendiam itu.
Naraya kembali duduk di kursinya yang menghadap ke jendela dan mengarah ke taman. Dia terus mengamati kursi taman yang kosong sambil asik menggambar.
Naraya duduk menghadap jendela yang mengarah ke taman. Sudah berbulan-bulan sejak malam itu, kursi taman selalu kosong. Tapi ingatan, buku sketsa dan catatan Naraya akan selalu penuh. Penuh akan pengamatan dan ingatannya akan seorang yang sama, Vanessa.
ditulis oleh: Christmastuti D, ilustrasi oleh Isnain Bahar Sasmoyo
Yanto keluar dari rumah menuju pasar tepat pukul lima pagi seperti biasa dengan motor RX King yang berhasil dilunasinya dengan cicilan bertahun-tahun. Kandang-kandang ayam yang berada di jok belakangnya masih kosong, sekosong hatinya.
Jalanan menuju pasar masih lengang. Hanya beberapa orang berjalan menuju sawah dan juga pasar. Ada juga beberapa anak sekolah bersepeda menuju pusat kota sambil tertawa. Dia sengaja melaju pelan. Udara pagi kotanya terlalu istimewa untuk dilewatkan dengan terburu-buru untuk berjibaku dengan ayam-ayam dan kesibukannya sebagai tukang antar ayam.
Pukul lima lewat sepuluh menit, Yanto sampai di kandang besar milik Koh Ruli, majikannya. Beberapa orang teman kerjanya sudah di sana antri mengambil list antar ayam-ayam hari ini. Dirinya pun ikut di antaranya.
“Nto, yu olang bawa dua kali dari biasa yaa. Si Rahmat ada pesenan besar tuh,” ucap Koh Ruli.
“Siap Koh,” jawab Yanto.
Setelah mendapatkan daftarnya, Yanto kembali menuju motornya. Beberapa pekerja lainnya membantunya memasukkan ayam-ayam pesanan ke dalam kandang yang ada di jok belakang motornya. Tiba-tiba Yanto terhenti melihat sebuah angkot lewat perlahan di jalanan depan kandang besar. Pemandangan yang dilihatnya membuatnya terhenti bekerja. Pemandangan manis yang dulu begitu diimpikannya kini terlalu perih untuk dinikmati matanya di tengah kesibukannya.
“Mas, aku minta maaf. Aku nggak bisa menolak perintah Bapak,” ucapnya tertunduk menahan nangis. “Kalaupun aku menikah dengan Mas Wahyu, supir angkot itu bukan berarti aku sudah tidak cinta Mas Yanto.”
“Pergilah Yun. Mungkin memang Wahyu yang bisa membahagiakanmu dan memberikan keturunan bagi Bapak,” ujar Yanto sama lirihnya yang kemudian meninggalkan Yuni. Sejak itu mereka berpisah tanpa pernah mengucap selamat tinggal.
“Nto, awakmu dapet salam tuh dari Ati, mbok jamu sebelah kiosnya Mbah Suto,” ujar Sidik yang tengah menghitung jumlah ayam di kandang motor Yanto. “Jok mbok cuekin terus Nto. Sopo ngerti iku jodohmu sing anyar. Kowe ra kangen po duwe bojo maneh?”
Yanto masih diam sambil tersenyum kecil mendengar ucapan kawannya.
Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun, baik itu Yuni, Wahyu ataupun Sidik. Hatinya hanya satu dan itu untuk Yuni. Selamanya akan seperti itu meski dia harus hidup dalam sepi yang perih.
***
“Lho Pak Muro kok wes kerjo maneh?” tanya Adim begitu melihat laki-laki paruh baya masuk ke area pembangunan.
“Bapak nggak apa-apa kok lek masih mau di rumah. Nanti ta bilangin ke mandor Pak. Bapak kan habis dapet musibah, pasti mandor e paham.”
“Lho yo nggak po-po Dim. Lek di omah terus, justru ndak baik. Yo anak-anak juga wes balik ke omahe masing-masing.”
“Yowes Pak. Ta tinggal dulu nggih. Ta ngecek material yang baru dateng.”
Muro mengangguk pelan dan memandangi punggung Adim yang menjauh.
Muro baru saja kehilangan istrinya beberapa hari lalu. Siti meninggal dunia karena sakit malaria. Suami istri ini telah bersama selama hampir 35 tahun. Mereka dikaruniai empat anak, yang kini sudah berkeluarga dan hidup di rumah masing-masing.
Kepergian Siti membuat anak-anak Muro kembali ke rumah. Kehilangan mendatangan mereka kembali kepada orang tua. Namun selepas jasad Siti dikuburkan, semuanya berencana akan segera kembali ke rumah mereka masing-masing. Tawaran kepada Muro untuk ikut hijrah dan tinggal bersama salah satu diantara mereka ditolak Muro dengan halus. Ia ingin selalu dekat dengan Siti meski harus sendiri. Ia pun ingin mati bersama Siti di kota kecil kelahirannya ini.
Mulai hari itu, hari ketiga setelah meninggalnya Siti, Muro mulai bekerja kembali menjadi kuli bangunan di salah satu proyek pembangunan. Meski usianya sudah cukup tua, Muro masih menjadi salah satu kuli andalan proyek.
Dia bekerja seperti biasa tak terlihat sedih atau kehilangan. Dia bekerja sama giatnya seperti biasa, seperti saat Siti masih ada.
Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun, baik itu anak-anaknya, para kuli ataupun mandor proyek. Hatinya hanya satu dan itu untuk Siti. Selamanya akan seperti itu meski dia harus hidup sepi yang perih dalam sisa usianya.
***
Jalanan sepi. Hanya beberapa kendaraan berbaris melintasi jalanan sepanjang pasar. Sama seperti hatiku, sepi. Sedangkan dalam kepala begitu ramai dengan segala cerita dan pikiran gila.
Kukendarai motor tua dari Bapak melintasi jalanan pasar. Dalam hati berharap semoga aku segera sampai. Sebelum dia benar-benar pergi.
Tiba-tiba motor tua dari Bapak berhenti. Suara klakson dari mobil di belakangku memekik telinga. Kumat! Penyakit motor tua ini kumat lagi. Kenapa di saat genting? Aku akhirnya menepi. Bensin full. Ban utuh. Mesin? Aku tidak yakin, sembari mengeceknya. Tapi sejauh ini semuanya baik-baik saja. Lalu kenapa si motor tua dari Bapak tiba-tiba mati? Sialan!
“Ayolah! Aku hanya butuh ke terminal sebelum jam tiga sore. Sebelum dia berangkat. Kumohon nyalalah!” ujarku pada motor tua itu.
Sudah setengah jam, aku berjalan sambil menuntun motor tua dari Bapak ini. Tidak ada satu bengkel yang kutemui. Motor tua dari Bapak pun tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan. Setengah jam lagi dia akan segera berangkat. Dan panasnya siang berpadu dengan sepinya jalan justru membuatku makin tersiksa.
Rasanya kuingin tinggalkan motor tua dari Bapak. Tapi meski dia terlihat tidak berharga, jika kutaruh di sembarang tempat masih menjadi incaran pencuri. Mungkin tidak akan dijual lagi ke pengadah barang curian tapi ke tukang loak di pasar. Harganya pasti jauh dari lumayan. Maka rencana itu kubuang jauh-jauh sehingga masih kutuntun motor tua dari Bapak menuju terminal.
Sesekali kucoba lagi menyalakan motor itu. Namun tanda-tanda kehidupan pun tidak ada. Aku benar-benar ingin menyerah. Terminal masih cukup jauh, sedangkan lima belas menit lagi bus yang akan membawanya pergi akan bergerak.
Aku berhenti melangkah. Lelah sekaligus menyerah. Nyeri pada kaki juga hati. Kupinggirkan motor tua dari Bapak dan duduk tak jauh darinya. Motor tua dari Bapak tampak begitu menyedihkan, semenyedihkan diriku.
“Hoi Bagas! Ternyata kamu di sini! Kukira kamu akan mengantar Rida pergi,” panggil seseorang dari sebuah mobil sedan.
“Eh kamu Run. Motorku mogok,” jawabku lemah.
“Ini titipan dari Rida,” Bahrun menyerahkan selembar surat kepadaku. “Kamu mau bareng aku nggak?”
“Makasi Run. Aku di sini saja dulu.”
Bahrun pun pergi meninggalkanku kembali bersama motor tua dari Bapak.
“Aku pergi. Tak perlu kau tunggu kapan aku pulang. Karena kalaupun pulang, aku pulang untuk menikah dengan Rudi, laki-laki pilihan Bapak. Ini bukan lagi soal perasaan tapi soal pilihan. Aku sama berbaktinya seperti kamu yang tidak pernah ingin melepas motor tua dari Bapakmu.
Rida.”
Hari semakin sore. Jalanan semakin sepi. Sama sepinya seperti hatiku yang baru saja ditinggal pergi seorang kekasih hati. Di kota ini kami bersama di kota ini pula dia meninggalkanku. Kota yang sepi, seperti hatiku.
Aku kembali menuntun motor tua dari Bapak. Kali ini menuju rumah.
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh: Muhammad Fajar Hidayat
Memori menyeruak dalam kepala begitu aku sampai di puncak bukit dekat rumah Kakek di kampung. Tempat yang menyimpan harapan dan kenangan. Tempat yang kurindukan sekaligus yang menyimpan perih. Tempat yang tidak pernah sempat kukunjungi meski ada keinginan berdiri lagi di sana. Tempat yang akhirnya kudatangi lagi setelah semua terjadi.
***
"Dek kamu tahu Amerika ndak?" Tanya Mas Bagas sore itu. Kami habis bermain di bukit dekat rumah Kakek. Sekedar lari-larian di padang ilalang sampai lelah atau salah satu dari kami terjatuh, biasanya itu aku.
"Sopo iku Mas?" Kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan.
"Iku bukan nama orang, Dek. Tapi nama negara," ujarnya.
"Oooo... Amerika itu dimana Mas?"
Mas Bagas menunjuk satu titik entah dimana. Ke titik jauh dari hadapan kami.
"Jauh Dek. Ke sana harus numpak pesawat opo gak kapal."
"Ooo..."
"Ndek Amerika iku onok kuabehh Dek."
"Kabeh? Akeh a Mas?" Tanyaku tak percaya. Mas Bagas mengangguk yakin. "Opo ae Mas?
"Onok gedung tinggi. Onok banyak pokoke Dek."
"Apa lagi Mas?"
Mas Bagas terlihat tengah berusaha mengingat. Lalu senyum merekah di wajahnya. "Ada Mickey Mouse juga Dek. Iku lho maenane Mbak Rumi."
Lagi-lagi aku hanya bisa membulatkan mulut. Aku terlalu kagum akan apa yang diucapkan Mas Bagas.
"Onok Eyang Uti juga ndak Mas?" Tanyaku lagi. Mas Bagas menatapku yang antusias. Setengah yakin dia mengangguk. "Berarti onok Bapak pisan yo Mas? Adek mau Mas ke sana."
"Susah Dek. Adek harus gede dulu. Terus harus bisa bahasa Inggris. Semua di sana ngomonge pakek bahasa Inggris Dek."
Omongan Mas Bagas seketika membuatku patah hati. Waktu itu usiaku baru enam tahun sedangkan Mas Bagas sudah sepuluh tahun.
"Mas Bagas mau ke Amerika?"
"Iya dong. Mas Bagas kan lebih tua dari Adek. Mas Bagas juga uwes iso bahasa Inggris. Jadi Mas Bagas mau ke Amerika."
"Adek ikut Mas." Aku memohon. Mas Bagas kembali menatapku. Dia tengah mempertimbangkan sesuatu.
"Adek masih kecil. Masih suka ngompol sama ngedot. Belum bisa bahasa Inggris lagi. Yaopo carane Adek ke Amerika lek tidure ae mesti kelonan sama Ibuk?"
"Adek mau ikut Mas." Rengekku.
Mas Bagas menghela nafas seolah baru mengambil keputusan sulit. "Adek harus berhenti ngedot dulu. Sama gak boleh ngompol. Bisa ndak?"
Kini gantian aku yang meragu.
"Lek gak iso yawes Mas Bagas ae yang ke Amerika."
"Bisa Mas. Adek bisa!!" Ujarku tanpa pikir panjang. Amerika dan iming-iming rekaan Mas Bagas terlalu menarik untukku lewatkan.
Sejak hari itu aku berusaha menghentikan kebiasaanku minum susu dari botol. Kuminta Ibuk membuangnya. Meski ternyata tidak benar-benar dibuang.
Awalnya aku gelisah tidur tanpa Ibuk dan botol susuku yang warnanya sudah menguning itu. Aku lebih sering tertidur karena kelelahan gelisah karena dua hal itu ketimbang tidur pulas. Hampir tiap tengah malam aku terbangun. Setiap ingin menangis kuingat kembali janji Amerika dari Mas Bagas. Setelahnya ku diliputi gelisah hingga kembali lelap.
Intensitas ngompolku pun berkurang drastis. Karena setiap tengah malam aku terbangun kumanfaatkan untuk ke kamar kecil.
Mas Bagas yang tidur di sampingku sesekali bangun karena kegelisahanku. Atau kadang dia ikut terbangun karena aku selalu kembali dari kamar mandi sambil berlari karena takut.
Demi bisa berbahasa Inggris, kuminta pada Ibuk untuk meminjam kamus milik Mbak Rumi, anak majikannya. Untunglah Mbak Rumi yang cantik itu dengan sukarela memberikan kamusnya untukku. Tidak jarang pula orang tua Mbak Rumi memberikan buku bacaan untukku dan Mas Bagas.
Mas Bagas bangga betul dengan usaha dan segala perubahanku. Dia bangga begitu kupamerkan kebisaanku menghitung satu hingga sepuluh dengan bahasa Inggris. Setiap kami ke bukit di belakang rumah Kakek seminggu sekali, Mas Bagas selalu cerita tentang Amerika.
Ketika itu kuminta Mas Bagas cerita berulang kali tentang Amerika, tentang kota-kotanya yang tidak pernah tidur. Setiap dengar cerita-cerita itu, semakin besar keinginanku ke Amerika. Semakin besar keinginanku ke sana.
***
Amerika mengkhianatiku, Mas. Sama seperti dirimu yang mengkhianatiku. Katamu di sana ada apapun, segalanya, termasuk Bapak dan Eyang Uti. Tapi bertahun-tahun kumencari namun tidak pernah kutemui.
Sayang aku belum memberikan pembalasan kepadamu atas segala kebohongan yang kautanamkan di kepalaku selama ini. Kebodohan yang membuatku harus tinggal di negara asing selama bertahun-tahun itu.
Gus, Mas Bagas meninggal. Mas Bagas ditabrak mobil ketika pulang mengantar ibu dari pasar.
Begitu yang ditulis ibu kepadaku sebulan setelah kematianmu. Surat yang ditulis saat pemakamanmu sampai ketanganku ketika tubuhmu mulai digerogoti semut di dalam liang kubur. Aku tidak berdaya. Tak ada uang untuk kembali. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berdoa di depan nisanmu. Saat itu aku baru tiga bulan tinggal di Amerika.
"Kapan terakhir kamu bertemu ayahmu?" Tanya seorang polisi ketika aku mulai mencari. Meski kau sudah tiada, aku akan tetap menuntaskan segala yang telah kau tanamkan. Ya, yang telah menjadi tujuanku rela belajar semalam suntuk demi beasiswa ke Amerika. Hanya demi mencari.
"Hm aku lupa," jawabku.
"Apa pekerjaannya?" Tanya polisi itu lagi dengan sedikit kesal.
"Hm tukang ojek."
"What?"
"Iya dia penyedia saja angkutan di desa kami."
"Berarti dia tidak ada di Amerika?"
"Bisa saja kan?"
"Kau sendiri tak yakin. Bagaimana kami bisa membantu? Tidak ada namanya di database kami. Bahkan fotonya saja kamu tidak punya. Ini akan jadi pencarian yang sia-sia. Pulanglah nak. Bis ke asrama mu yang terakhir sebentar lagi tiba."
Lalu kutinggalkan kantor polisi itu dengan kesal.
"Kau mencari lagi?" tanya kawan sekamarku. Aku hanya mengangguk. "Bukan aku bermaksud mengecilkan hatimu, kawan! Tidakkah kamu sadar ayahmu sudah meninggal dan tidak mungkin ada di Amerika?"
Aku terdiam.
"Hanya saja kamu tidak ingat akan peristiwa kematiannya. Kalau dia masih hidup tidak mungkin dia hilang tanpa kabar padamu."
Malam itu aku kecewa. Pada Amerika. Pada kawan sekamarku. Pada Mas Bagas. Pada ingatanku yang lemah. Dan pada hidup.
Lalu untuk apa aku bertahan di Amerika jika apa yang kucari tidak ada?
Sebulan kemudian, sebuah surat datang dari Indonesia. Kali ini mengabarkan Ibu telah berpulang. Sepulang sekolah aku langsung menuju kantor perwakilan pemerintah Indonesia di Amerika.
Aku memohon untuk dipulangkan. Aku hanya ingin berdoa di makam ibu dan abangku.
"Sebentar lagi ujian semester. Sekaligus ujian masuk perguruan tinggi. Sangat disayangkan jika kamu pulang sekarang. Karena tidak ada kesempatan kedua untuk beasiswa kali ini," ujar petugas bagian urusan beasiswa.
"Tapi orang tuaku meninggal," desakku.
"Ya kami tahu. Tapi beasiswa ini hanya punya kesempatan sekali. Jika kamu melewatkan ujian-ujian itu maka kamu melepaskan beasiswa yang kami berikan. Dan tidak ada lagi kesempatan beasiswa dari pemerintah untukmu. Selain itu kamu juga harus membayar denda kontrak yang telah kamu sepakati sebelumnya."
"Aku tetap akan pulang."
"Berpikirlah dengan jernih anak muda. Kau pertaruhkan masa depanmu."
Lima tahun berlalu. Dan kini aku kembali. Telah kutuntaskan kontrak beasiswa dengan pemerintah berbonus ijasah keluarkan Amerika. Di sela studi aku bekerja paruh waktu dan masih berusaha mencari Bapak. Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan sebagai ganti dan menuntaskan tujuan utamaku ke negeri Paman Sam. Meski kini aku pulang hanya membawa ijasah tanpa sedikit kabar Bapak.
"Mas Bagas tahu Amerika?" Tanyaku kepada angin di bukit dekat rumah kakek tempat kita biasa bermain.
"Di sana ternyata tidak ada apa-apa. Hanya orang-orang ambisius. Dingin dan hampa. Memang ada Mickey Mouse mainan Mbak Rumi dulu. Tapi tidak pernah ada Bapak ataupun Eyang Uti.
"Tapi aku tidak pernah menyesal. Meski kesal. Puaskah kau mengerjai adikmu ini dengan iming-iming Amerika?
"Tapi kau pun telak. Aku pulang dengan ijasah Amerika yang kau idamkan. Anggap saja kita impas."
"Mas tungguin," teriak seorang anak kecil kepada seorang lain yang terlihat sedikit lebih tua darinya tidak jauh dari tempatku berdiri. Seperti kita dulu yang berlari juga bermimpi. Semoga semesta memberkati.
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh: Galang Aji Putro
“Lo kenapa sih pindah kerja ke tempat kayak gitu?” tanya Arumi begitu aku selesai bicara soal keputusanku.
“Kan lo tau sendiri gimana kondisi kantor gue sekarang,” jawabku.
“Iya tau. Tapi kan masih ada tempat lain yang lebih settle. Yang lebih aman buat lo. Perusahaan baru macem gitu bisa ngasih lo apa?”
“At least lingkungan kerjanya asik. Sejauh ini calon atasan gue juga asik gak kayak sekarang. Lo kan tau gue pengennya kerja sambil bermain. Gak lagi-lagi kerja di korporasi macem gitu lembur dihalalkan. Paling gak gue kerja untuk bikin diri gue bahagia.”
“Sekarang gue tanya, gajinya berapa? Sama kan kayak lo di tempat lama? Lo gak pernah berubah ya, naif banget. Dan gue nanya lagi, bahagia darimana kalo secara finansial lo segitu-gitu aja?”
“Rejeki udah ada yang ngatur, Rum.”
“Iya paham. Tapi lo gak bisa naif, Kanya. Lo harus mikir masa depan lo. Lo bakal nikah. Lo bakal punya rumah. Lo bakal punya anak. Kebutuhan lo akan bertambah. Gimana cita-cita lo buat sekolah lagi? Udah masuk perhitungan lo belom?”
Arumi masih melanjutkan argumennya. Keputusanku sebenarnya sudah lama diketahui sahabatku itu. Namun dia selalu menjadi sisi rasional dalam kehidupanku yang terlalu naif. Hanya saja rasionalitasnya kadang membuat kepala mumet. Bukan menguraikan tapi justru membuat benang masalah makin kusut.
Arumi akan menjadi orang pertama yang mendukung keputusanku. Tapi dia juga orang pertama yang menentang keputusanku yang suka tanpa pertimbangan. Kupikir hidup kadang hanya perlu dijalani. Konsekuensi diterima sambil dipikirkan bersamaan dengan perjalanan itu sendiri. Pertimbangan kadang membuat kita hanya tertahan dan tidak berani keluar dari zona nyaman.
“Nya, lo dengerin gue kan?” Arumi mengetuk jidatku. Lamunanku pun buyar akibat tingkahnya.
“Iya, Rum. Gue selalu dengerin semua pertimbangan lo. Gue pun punya pertimbangan sendiri kok,” jawabku.
“Apa pertimbangan lo?”
“Rum, setiap keputusan dalam hidup gak selalu bikin semua pihak bahagia. Karena itu yang perlu pertama kita bahagiain adalah diri kita sendiri. Gak cuma lo kok yang mempertanyakan keputusan gue ini. Keluarga gue, temen-temen gue dari temen lama sampe temen baru. Kantor gue yang lama pun mempertanyakan.
“Lo juga tau kalo gue emang gak bisa selalu sama kayak orang kebanyakan. Oke kuliah gue maenannya angka tapi pas kerja gue gak bisa. Keluarga besar gue rata-rata kerja jadi guru atau gak perawat. Nyokap ngarep gue kerja di bank yang keliatannya sesuai sama gelar gue. Tapi gue gak bisa, Rum.
“Lo sendiri yang bilang kalo gue outlier. Keluar dari jalurnya. Nyeleneh. Aneh.” Rumi terlihat hendak memotong omonganku. “Bentar gue belom kelar,” potongku sebelum dia bersuara.
“Terus gue mikir, kalo gue jauh dari ekstrim satunya yakni keluarga dan lingkungan gue selama ini tapi gue deket sama ekstrim yang lain. Ekstrim yang kurang lebih sama nyelenehnya kayak gue. Kalo di statistika jaman kita kuliah dulu, si outlier ini bisa diobatin. Pake rumus baru, variabel baru atau sample baru. Tapi kan hidup gak kayak statistika.
“Kalo di hidup caranya bukan menjadikan gue sama kayak orang-orang. Tapi menjadikan diri gue seperti diri gue yang sesuai ekstrimnya. Iya gue paham kutipan be yourself itu cuma ada di jamannya kita ngisi diary temen dengan biodata kita. Tapi ya cuma itu sih Rum yang bisa gue lakuin. Gue cuma kepengen menghidupi hidup yang gue pengen.”
Arumi memandangku tajam. Kini aku siap mendengar semua argumen yang akan melemparkanku ke dasar lautan.
“Siapa sih yang ngajarin lo ngomong bijak kayak gitu?” tanyanya dengan wajah judes yang jenaka. “Itu bagian gue bukannya? Bagian lo kan ngomongin ide random, nyeleneh, gila dan imajinatif.”
Lalu kami tertawa bersama.
“Gue cuma khawatir lo salah milih. Salah langkah. Karena lo suka gak mempertimbangkan kemungkinan yang ada.”
“Setidaknya kalo gue salah milih, gue milih dengan kepala terangkat, Rum. Salah karena pilihan yang udah gue usahain.”
“Lo abis makan apa sih? Sebel gue jadi bijak gini. Terus apa fungsinya gue dalam hidup lo kalo lo udah bijak begini?”
“Hahaha. Gapapa sekali-kali gantian lo yang harus jadi random,” ujarku. Kami pun kembali tertawa.
Satu hal yang tidak dipahami oleh Arumi. Bahwa apa yang kukatakan kepadanya barusan sudah mengalami konstruksi dan dekonstruksi dalam kepalaku. Kuambil ilustrasi iblis dan malaikat yang biasa muncul di kepala Tom ketika ingin memakan Jerry atau tidak. Itu yang terjadi di kepalaku selama berhari-hari.
Separuh diriku pun tidak yakin. Separuh lainnya memintaku untuk segera bertindak. Keduanya pernah kubungkam dengan tidak berpikir apapun. Namun yang ada hatiku makin gelisah. Resah.
Berhari-hari sebelumnya, aku seperti dihadapkan oleh kolam berisi ikan-ikan. Ikan yang hampir sama namun sebenarnya berbeda. Ikan yang hanya boleh kuambil satu untuk kupelihara, budidaya atau kumakan. Hanya satu dalam satu kesempatan. Jika semua orang akan mengambil yang terbesar, maka aku mengambil sisanya.
Jika kugoreng ikannya kupikir itulah porsi yang pas untuk perutku. Atau jika kubudidaya, dia akan tumbuh besar lalu bertelur dan banyak.
Entahlah! Hidup memang seputaran memilih dan memutuskan. Orang yang sejahtera adalah orang yang memiliki banyak pilihan, begitu dosenku pernah berkata. Tapi sesungguhnya mereka yang sejahtera adalah mereka yang memilih, memutuskan dan menjalankan semua konsekuensi yang ada. Mengaku kalah jika salah dan belajar dari sana atau menjadi menang tanpa jemawa.
Setidaknya dalam titik ini, aku telah memutuskan. Selanjutnya biarkan semesta dan Pencipta yang bekerja bersama usahaku.
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh: Muhammad Fajar Hidayat
Kurang ajar. Apa pula maunya si gendut klimis itu? Kenapa pula aku yang diajaknya terbang lintas negara di akhir pekan untuk mega proyek akhir tahun ini?
Buku-buku cerita itu akan teronggok lebih lama di kamar kosku. Padahal dia bisa lebih berguna jika ada di tangan anak-anak itu.
Sialan!
Rupiah memang akan kudapat lebih banyak. Namun menjadikanku ingkar janji pada mereka membuat berat hatiku.
Sialan!
Yudi
"Ul, ayok masuk," ajakku kepada si keras kepala Maulana. Sedari pulang sekolah tadi dia duduk di depan warung Pak Mahmud, tempat paling strategis untuk melihat tamu datang. Matahari sudah turun. Senja sudah lalu. Maulana masih di sana, menunggu.
"Maul mau nunggu Bang Ading," jawabnya. Jawabannya masih sama seperti sebelumnya.
"Bang Ading mungkin sibuk Ul. Jadi belum bisa dateng." Hiburku. Penghiburan itu tidak hanya untuk Maulana dan adik-adikku. Tapi untukku juga.
Maulana seakan mengerti aku sudah lelah membujuknya. Dia pun menurut untuk pulang ke rumah.
Irma
Dia tidak datang. Sudah kuduga dia hanyalah sementara. Mana ada anak kota betah di sini lama-lama? Kamipun tidak jika bukan karena terpaksa.
Namun sisi lainku pun tak tega melihat putra-putraku sedih akan ketidakhadirannya. Biarlah. Sebelum mereka semakin sedih akan harapan-harapan semunya. Biarlah seminggu ini mereka pilu ketimbang nanti mereka terluka oleh harapan semu.
"Bu, kalau Bang Ading datang bangunin Maul ya Bu," pinta Maulana sebelum tidur.
"Manan juga bangunin ya Bu," sahut Manan kembarannya. Anak kembarku itu terlihat paling sendu karena ketidakhadiran pemuda itu. Aku hanya mengangguk lemah dalam hati berharap dia tidak pernah datang lagi.
Yudi
"Bang Ading datang," teriak Bagus dengan suara pileknya. Kelima adikku langsung lari berhamburan menuju Bang Ading yang masih jauh di ujung gang. Semuanya berebutan meraih tangan Bang Ading yang tengah membawa banyak barang untuk mencium tangannya.
Aku dapat giliran terakhir untuk salam dan mencium tangannya.
"Apa kabar Yud?" Tanya Bang Ading.
"Baik Bang. Bang Ading gimana kabarnya?"
"Baik. Bang Ading minggu lalu ke Singapura Yud. Jadi gak bisa ke sini. Itu oleh-olehnya ada di Malik. Ibu di rumah?"
"Belum pulang Bang. Masih nyuci di rumah Bu Broto di komplek sebelah. Bang, Singapura itu dimana?"
Bang Ading menatapku tersenyum. "Singapura itu di seberang pulau Sumatra. Negara tetangga. Ada buku tentang Singapura untuk Yudi."
"Makasi yaa Bang." Bang Ading hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku pun berlari kecil bergumul dengan adik-adikku yang begitu antusias melihat buku dan oleh-oleh dari Bang Ading.
Irma
"Bang Ading jangan pulang yaa. Di sini aja," rajuk Manan kepada Ading yang tidak sengaja kudengar dari tembok triplek rumah.
Jam delapan waktu tidur ketujuh anakku. Aku pulang terlambat karena diminta bantu hajatan Bu Broto, majikanku. Khawatir takut mereka menunggu. Ternyata Ading datang menemani mereka hingga tidur.
Kenapa dia datang lagi? Keluhku dalam hati. Ya ketika ketujuh anakku mulai berkurang membicarakannya dia justru datang.
Mendengar harapan Manan justru menyayat hati. Harapan itu tumbuh lagi. Makin besar dan besar.
"Bu Irma," sapa Ading begitu melihatku ada di luar rumah. Ading meraih tanganku dan menciumnya. Dia pemuda urakan yang tidak terduga. Sopan dan baik.
"Sudah lama?" Tanyaku padanya.
"Daritadi siang Bu."
"Tidak kerja?"
"Saya cuti hari ini."
"Oh."
"Bu, saya mohon ijin. Mau ajak anak-anak jalan-jalan boleh?"
"Tidak."
"Bukan besok kok Bu. Nanti setelah mereka bagi raport. Saya sudah janji tadi sama mereka."
"Kamu tidak seharusnya berjanji apa-apa pada anak-anakku." Ading menunduk mendengar ucapanku.
"Tapi Bu.."
"Makasi Nak Ading sudah mampir hari ini. Sudah malam." Aku bergegas menyudahi percakapan itu. Ading pun pamit lalu pergi.
"Kita jalan-jalan yaa Bang Ading," igau Bagus.
Harapan itu tumbuh lagi. Semakin besar. Semakin mengerikan.
Ading
"Ding, kamu besok ikut saya yaa ke lahan proyek baru," ujar Bos gendut klimis jelang makan siang. Perkataannya seperti titah raja yang tidak mengenal penolakan. "Penggusuran warga bandel. Lahan sudah dibeli sejak lama tidak juga mau pindah. Merepotkan." Keluhnya sambil lalu.
Aku terpaku begitu kami sampai di lokasi penggusuran untuk mega proyek kantor. Tempat ini tidaklah asing. Begitu akrab hingga ke sanubari. Itulah yang membuatku berhenti melangkah mengikuti si bos gendut klimis itu.
"Ding," panggil Wahyu membuyarkan pikiranku. "Buruan atuh." Aku pun menyusul.
Teriak-teriak beberapa warga yang menolak untuk pergi, termasuk Bu Irma yang tengah menggendong Yusuf si bungsu. Matanya menemukanku. Binar marah makin tak tertahan. Pilu.
Berulang kali dia menolak kehadiranku tidak pernah menyurutkan niatku untuk kembali dan selalu kembali pada keluarganya. Tapi tatap mata itu menghujamku tepat di jantung hati. Dan mematikanku seketika. Aku tak berdaya namun merasa paling salah.
Buldozer tidak bisa kuhentikan. Tidak bisa kuselamatkan rumah triplek tempatnya bersama tujuh anak laki-laki yang kuanggap adik sendiri itu demi mega proyek bernilai triliyun-an itu.
Tangis Bu Irma yang memicu tangis Yusuf seperti merengut nafasku. Aku tidak berdaya menyelamatkan separuh hidupku. Aku tidak berdaya menyelamatkan tujuanku bekerja keras di perusahaan multinasional mati-matian demi mereka. Aku terkhianati juga mengkhianati.
Aku memberanikan diri untuk ke sana lagi. Ke tempat yang baru saja diruntuhkan oleh korporasiku. Sekaligus tempat selayaknya rumah yang kutuju.
Seakan mengerti kedatanganku, Bu Irma penuh marah menyambutku.
"Buat apa kamu kembali lagi? Puas lihat kami tidak punya rumah?" Bentaknya.
"Maafkan saya Bu. Saya bahkan tidak tahu menahu proyek ini." Jawabku jujur. Aku tahu itu tidak akan membantu banyak untuk meredakan amarahnya.
"Pergi kamu dari sini. Jangan pernah datang atau menemui anak-anakku lagi." Teriaknya makin keras memecah malam di tengah reruntuhan.
Yudi memandangku bimbang. Dia seakan mengerti kejujuran dan kepiluan hatiku. Tapi tidak berani dia melawan ibu, orang tua yang tersisa miliknya.
"Ibu dan anak-anak bisa ikut tinggal di kontrakan saya. Di sana aman. Tidak akan tergusur." Ujarku memohon.
Airmata tidak ada lagi di pipi Bu Irma. Tapi matanya menatapku tajam.
"Tidak usah. Tidak usah kamu bantu kami. Tidak usah datang lagi. Saya mohon kamu pergi sekarang juga."
Tatapan itu seperti palu yang menghantam kaca dan menjadikannya kepingan.
Yudi
Kutahu sejak kedatangannya Ibu keras hati padanya. Hatinya makin membatu ketika penggusuran siang itu.
Bang Ading datang membawa harapan baru, bagiku dan enam adikku termasuk ibu meski dia enggan mengakui. Waktu itu dia datang bersama teman-temannya yang memiliki kamera analog seperti miliknya. Dia memotret kami dan sempat bermain bersama kami.
Tidak disangka, dia kembali. Dia datang sendiri dan membawa buku-buku cerita dan pelajaran. Kadang dibawanya kue enak dan lauk pauk yang banyak. Dia mengajariku memotret. Dia mengajari kami membaca. Dia mengajari kami menggambar. Dia pula yang membelikan ibu mesin jahit.
Dia selalu datang seminggu sekali, dengan buku dan makanan. Kedatangannya seperti oase di tengah padang. Ibu memandangnya sebagai fatamorgana. Kami memandangnya sebagai harapan. Berkali-kali ketidakramahan ibu tidak membuatnya absen datang kecuali perihal kerja.
Pernah satu kali kutanya kenapa dia datang kepada kami. Dia mengelus kepalaku dan berkata, "Aku pernah seperti kalian. Lebih menderita. Aku tidak ingin kalian hilang harapan. Karena dari sana manusia terpinggirkan bertahan. Belajarlah yang rajin Yud. Nanti kau bagi ilmu dan jerih payahmu pada adik-adikmu dan semua orang. Dari situ kau menjadi manusia seutuhnya."
Seandainya ibu memandangnya sebagai harapan bukan sekedar fatamorgana.
Wahyu
Aku mulai khawatir melihat Ading. Dia seperti mayat hidup tapi tak berjiwa. Dia putus asa. Dia patah hati. Dia seakan setengah mati. Sejak penggusuran waktu itu, Ading yang terlalu rajin bekerja belakangan kembali menjadi Ading yang tak bergairah melakukan apapun.
Ading
Aku meremas kertas kumal yang kudapat dari Pak Mahmud seminggu lalu. Yudi menitipkan surat itu diam-diam. Aku tak berdaya dan merasa hampir gila. Separuh hidupku pergi dan tak teraih.
"Bang Ading, Yudi mau pamit. Kami akan ke rumah Abah dan Nini di Subang. Yudi tidak tahu alamat Bang Ading jadi titip ke Pak Mahmud. Buku yang Abang kasih kami bawa meski hanya beberapa. Terima kasih ya Bang Ading. Yudi akan belajar rajin supaya bisa tidak menyusahkan ibu dan bantu adik-adik. Sampai jumpa."
Surat itu sudah ratusan kali kubaca. Kucoba dari kekuatan dari tulisan tangan Yudi di kertas kumal. Kucoba mencari penghiburan dari harapan yang masih tersisa di sana. Kucoba bangkit demi mereka lagi.
Wahyu
Aku melambaikan tangan ke Ading yang ada di pekarangan rumahnya. Ading sudah kembali hidup dengan hidup yang menghidupinya. Dia bukan lagi Ading yang mati enggan hiduppun tak mampu.
Ading akhirnya keluar dari kantor. Berbekal gaji, uang lembur dan pesangon dipakainya untuk bangun rumah belajar anak-anak. Dari situ hidupnya kembali hidup.
Aku membantu sedikit dari sisa uang bulanan dan susu si kecil.
Ading tengah menyiapkan minum untukku yang menunggu di ruang tamu. Foto yang dipajang Ading, foto tujuh anak laki-laki, di ruang tamu selalu membuatku tersenyum. Dan selalu berujung pada doa untuk Ading. Semoga dia tidak pernah lelah berusaha dan berbagi. Dan semoga dia bisa bertemu lagi pada tujuh anak dalam foto yang mengubah Ading menjadi seperti sekarang. Amin.
-SELESAI-
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh: Muhammad Fajar Hidayat
Aku tidak tahu bagaimana menghentikan pembicaraan ini. Pembicaraan tentang pemuda seperempat abad yang tiba-tiba datang ke rumah ini dan menyedot seluruh perhatian ketujuh anak laki-lakiku. Tidak ada satupun alasan untukku marah akan pembicaraan ini. Namun tidak bisa kubiarkan topik pembicaraan ini terus berlangsung.
Kedatangannya seperti matahari yang menyinari. Dia menumbuhkan kembali binar mata dari anak-anakku yang sempat hilang. Tawa, celetuk lugu dan cerita tidak biasa itu muncul dari keenam anakku, mulai dari si sulung. Mungkin jika si bungsu sudah bisa bicara lancar pun dia akan jadi orang ketujuh yang begitu antusias bercerita. Hatiku justru gelisah jika pembicaraan dari hari ke hari tidak pernah berganti topik ini. Antusiasme yang tidak pernah surut. Justru menimbulkan harapan yang menakutkan bagiku.
Harapan. Ya karena harapan itu tumbuh perlahan yang menakutkanku. Harapan yang awalnya mungil dan menyenangkan hati bisa bertumbuh menjadi makhluk buas yang mematikan. Aku tidak ingin lagi kembali mati dalam harapan itu. Aku tidak ingin ketujuh anakku pun merasakan perihnya termakan harapan yang dipelihara justru menjadi begitu buas.
Kenapa dia datang? Kenapa dia datang? Aku hanya bisa berkeluh dalam hati sambil berusaha mematikan harapan yang juga diam-diam timbul dalam hari dari cerita mulut-mulut kecil buah hati.
Ading
"Ding, lembur lagi?" Tanya Wahyu, teman sekantorku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Kejar setoran buat apa kamu teh Ding?"
"Gak buat apa-apa Yu," jawabku berbohong. Demi mereka, demi susu dan buku. Demi baju, sepatu dan tas baru. Demi sekolah mereka.
"Kamu teh mau nikah ya? Sama siapa atuh? Kenalin atuh Ding," lanjut Wahyu.
"Hahaha bukan Yu. Kamu udah mau pulang?"
"Iyah nih mau pulang. Hayuk ikut yuk Ding mampir ke rumah. Yah makan-makan kecil di rumah."
"Wah ada apa Yu kok makan-makan?"
"Biasa ibu mertua bikin syukuran kecil. Buat calon cucu katanya."
"Wah tokcer mau Yu. Isti sudah berapa bulan memangnya?"
Wahyu meringis. Pengalihan topik pembicaraan ini berhasil. Wahyu selalu senang bercerita tentang hidupnya. Maka itu dia lupa akan pertanyaannya setiap ku lembur dan berganti cerita tentangnya.
"Hayuk atuh ikut. Kemarin kan kamu sudah lembur." Wahyu masih bersikeras mengajakku.
"Salam aja ya Yu buat Isti."
"Yaudah. Besok insyaallah saya bawakan masakan ibu mertua saya. Top pisan masakannya. Saya duluan ya Ding."
Wahyupun pergi. Akhirnya.
Empat bulan terakhir, Ading si perjaka badung jadi rajin lembur. Wahyu yang pertama sadar dengan perubahan itu. Namun tidak bisa kuceritakan pada teman baikku itu alasan dari semua perubahan ini.
Segala cara akan kulakukan untuk mengisi pundi-pundi uang dari perusahaan multinasional ini. Bos yang dulu kubenci karena tidak manusiawi kini menjadikanku pegawai andalannya untuk lemburan proyek mega. Biasanya aku tak pernah betah ada di dekat laki-laki paruh baya dengan rambut klimis dan tawa membahana itu. Tapi semakin sering kuhabiskan waktu untuk lembur bersamanya, maka akan semakin banyak rupiah masuk tabunganku di awal bulan.
Tak apa untuk lelah. Tak apa untuk gerah. Tak apa. Asalkan ada rupiah sebagai imbalan. Demi mereka. Mereka.
Yudi
"Bang Yudi. Bang Ading besok ke sini gak ya?" Tanya Tomi, adikku yang ketiga.
"Iya bang, Bang Ading ke cini gak Bang?" Sahut Manan, adikku yang cadel menambahkan.
"Iya. Insyaallah." Jawabku sekenanya. Akupun tidak tahu apakah Bang Ading akan datang meski aku berharap sama seperti mereka.
"Maul mau minta buku sama Bang Ading," celetuk Maulana, kembaran Manan.
"Manan juga mau yaa Bang."
"Lho buku cerita yang kemarin emangnya sudah selesai dibaca?" Tanya Malik, adikku yang pertama. Merekapun sibuk riuh membicarakan Bang Ading bercampur harapan akan kedatangannya yang selalu tanpa tangan kosong.
Buku. Makanan. Pensil warna. Sepatu. Baju. Apapun bergantian dibawanya setiap berkunjung ke rumah.
Yang ku nanti dari kedatangannya adalah kameranya. Kata Bang Ading kamera itu namanya kamera analog. Jika mau memotret kita harus mengisinya dengan film. Bang Ading pernah menunjukan cara mengisi film padaku. Meski aku belum dibolehkannya untuk memegang kameranya lama-lama. Lalu dia memotret kami bertujuh. Sayang ibu tidak mau ikut difoto.
Semoga besok Bang Ading datang.
(((BERSAMBUNG)))
ditulis oleh: Christmastuti D, foto oleh: Muhammad Fajar Hidayat
Dari kejauhan sosok Girda berjalan mendekat. Tiba-tiba dia berhenti lalu berbalik arah. Aku yang sudah melambaikan tangan ke arahnya sejak tadi seketika kecewa. Teman baikku itu tiba-tiba menjadi manusia super sibuk yang sulit sekali ditemui.
“Woy! Kenapa lo?” sapa Koko membuyarkan lamunanku.
“Gapapa Ko,” jawabku pelan. Koko pun menyusul langkahku menuju parkiran.
“Lo habis liat setan apa gimana?”
“Ini gue lagi ngobrol sama setannya.”
“Sialan! Eh proposal buat cari dana udah jadi?”
“Belum. Gue baru dapet copynya tadi malem dari Girda. Gue bahkan belum tau mana yang harus direvisi.”
“Udah nanya ke Girda?”
“Tadinya hari ini mau ngobrol. Udah ditungguin dari tadi, baru ngeliat dari jauh malah cabut tuh anak.” Tiba-tiba handphone ku bergetar. Pesan dari Girda, “Sorry gw ada bimbingan mendadak. Nanti malem gw kirim email revisinya. Biar bisa langsung lo cetak.”
“Nih panjang umur anaknya,” aku menyodorkan handphoneku pada Koko agar dia membaca pesan dari Girda.
“Kenapa sih tuh anak?” Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. “Udah hampir dua bulan dia gak pernah dateng ke sekret buat rapat buat duduk-duduk doang aja gak. Lo berantem sama dia?”
“Kagak. Terakhir ketemu dia juga sebelum project kita ke kampung deket pembuangan sampah itu. Nah tuh pas project gue gak ikutan. Ada masalah gak pas itu?” aku malah bertanya balik.
Koko berusaha mengingat-ingat. Lalu dia menggeleng.
“Yaudah lah Ko. Nanti kalo ada waktu gue coba ketemu sama Girda. Lo juga coba aja tanya anak-anak yang lain. Besok gue kabarin lagi masalah proposal cari dana. Duluan ye. Ada kelas.” Aku pun pamit meninggalkan Koko yang masih berpikir.
Girda masih menghindari semua hal berkaitan dengan komunitas kami. Kami sama-sama aktif di sebuah komunitas Bacaan Anak di kampus. Kecintaan Girda pada buku dan anak-anak menjadi salah satu penyebab lahirnya komunitas itu. Dia mengajakku dan beberapa teman lainnya untuk bergabung.
Girda selalu ada di baris terdepan dari komunitas tersebut. Aku yang awal terpaksa ikut kini mau tak mau menggantikan baris depan yang kosong tanpa Girda. Semua orang kini mulai berhenti bertanya kemana Girda kepadaku. Merekapun seperti tidak lagi mencari tahu. Jarak yang dibuat Girda akhirnya pun mulai jadi kebiasaan. Semua harus tetap berjalan meski tanpa Girda, penyemangat kami.
Tapi aku tidak pernah berhenti mencari tahu meski belum juga ada jawaban dari jarak yang diciptakannya.
“Anda nungguin Girdanya di dalem aja yuk. Sudah malam nanti masuk angin,” tawar Tante Retno, ibu Girda.
“Di sini saja Tante. Girda pulang malem ya Tan?”
“Gak kok. Tadi pagi pamitnya mau pulang cepet. Mungkin masih kejebak macet. Nanti kalo mau masuk, masuk aja ya Anda.”
“Iya Tante. Makasi.” Tante Retno pun meninggalkanku di teras rumahnya. Berkali-kali kucoba ke rumah Girda dia selalu tidak ada di rumah. Entah kenapa aku harus menemuinya malam ini. Aku harus mendapatkan penjelasan atas menghilangnya dia dari Bacaan Anak tiga bulan terakhir.
Setengah jam kemudian Girda membuka pagar. Dia terpaku begitu menyadari keberadaanku di teras rumahnya.
“Baru pulang Gir?” sapaku.
“Iya. Udah lama?” balasnya kikuk.
“Lumayan.” Lalu kami terdiam. Aku pun bingung harus mulai darimana karena pertanyaan dalam kepalaku terlalu banyak. “Gue mau ngomong sama lo.”
Girda pun mengajakku ngobrol di kamarnya.
“Jadi?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Gue gak bisa gabung lagi di Bacaan Anak ataupun komunitas lainnya,” ujarnya pelan dan penuh keraguan.
“Kenapa?”
Girda malah menunduk.
“Lo berantem sama anak-anak? Lo mau fokus kuliah? Ada laki-laki yang ngelarang lo? Lo sebel sama gue? Apa gimana?”
“Bukan karena itu semua.” Jawabnya.
“Terus?” Girda menuju meja belajarnya. Dia mengambil sebuah foto dari lacinya. Lalu menyodorkannya padaku. Aku memandangi beberapa anak laki-laki yang ada di foto itu.
“Ini anak-anak di kampung deket pembuangan sampah kan ya?” Girda mengangguk. “Gara-gara mereka?”
“Iya dan tidak.”
“Maksudnya?”
“Habis dari kampung deket pembuangan sampah itu, gue mikir. Apa yang gue kerjain di Bacaan Anak gak ngubah apa-apa. Mereka tetap akan tinggal di sana. Mereka sekolah seadaanya. Kesehatan mereka juga gak terjamin. Ternyata gak ngubah apa-apa,” cerita Girda. Matanya memancarkan kegelisahan.
“Itu baru beberapa anak di kampung deket pembuangan sampah. Belum anak-anak di tempat lain yang nasibnya kurang lebih sama kayak mereka. Bacaan Anak cuma ada 10 orang yang aktif. Cakupan kita cuma di kota ini. Kita gak bisa mengubah apa-apa. Gak bisa,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum memandangi Girda dan kegelisahannya.
“Kita gak bisa berbuat apa-apa, Nda. Gak bisa,” airmata mulai mengalir pelan di pipinya. Aku memeluknya.
Girda pun sudah kembali tenang.
“Gir, yang kita lakuin emang bukan apa-apa. Cuma datang sekali seminggu untuk berbagi buku cerita sama mereka. Kalo diitung-itung emang gak bakalan bisa ngubah apa-apa,” kataku. “Gue inget banget pas pertama lo ngajak gue untuk bentuk Bacaan Anak. Gue juga mempertanyakan hal ini sama lo. Lo mau tau lo jawab apaan? ‘Nda, perubahan besar dimulai dari perubahan kecil yang bisa kita lakuin di sekitar kita’. Itu jawaban lo, Gir.
“Gak ada yang sia-sia Gir. Bahkan dari sekedar ngajarin mereka baca dan bagi-bagi buku. Emang gak akan ngubah hidup mereka jadi sejahtera secara cepat. Tapi setidaknya kita menanamkan hal baru di kepala mereka. Dan semoga ikut tumbuh seiring pertumbuhan mereka dan kelak bisa mereka bermanfaat buat mereka.
“Lo, gue, Koko, dan yang lain di Bacaan Anak emang gak punya apa-apa lagi selain diri kita. Cuma itu yang bisa kita kasihkan ke mereka. Dan satu lagi Gir, kita harus merasa cukup sama diri kita sebelum berbagi sama orang banyak.”
“Maafin gue ya, Nda.”
“Lo gak salah kali Gir. Kegelisahan lo mungkin juga pernah anak-anak lain rasakan. Dan lo bukan wondergirl yang punya kekuatan super. Lo butuh temen berbagi cerita. Makanya gue dateng. Dan lain kali jangan kabur ah dari Bacaan Anak. Gak asik main kabur-kaburan kayak gitu,” ujarku sambil meledeknya. “By the way, Koko merindukan lo tuh! Besok gue tunggu di sekret! Ada banyak buku baru yang perlu kita sortir buat minggu depan. Oke?”
Girda pun mengangguk.
Kami pun kembali ke kampung dekat pembuangan sampah di kota. Kedatangan kami disambut hangat oleh anak-anak yang tengah bermain di lapangan pagi itu.
Kulihat beberapa anak laki-laki mirip seperti yang ada di foto yang disimpan Girda. Anak-anak yang berusia besar mulai memilih buku-buku untuk dibaca dari keranjang yang kami bawa. Sedangkan anak-anak yang masih kecil mengerubungi Girda yang sedang bersiap mendongeng dengan boneka jarinya.
Dari mereka, teman-teman dari Bacaan Anak dan anak-anak di daerah ini, aku belajar banyak hal. Belajar tentang berbagi dan menerima diri. Dan aku percaya akan satu hal. Bahwa setiap perubahan besar akan dimulai dari perubahan kecil. Mulai dari anak-anak untuk perubahan besar yang entah apa dan kapan akan terjadi. Kupercaya akan ada perubahan. Jika tidak bisa dirasakan secara masif setidaknya bisa kita rasakan dalam hati.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat
"Sayang kamu beneran gak tahu kamera analog ku adadimana?" Teriak Yudis putus asa kepada Laras, istrinya.
"Emangnya di studio gak ada?" Laras malah bertanya balik.
"Gak ada. Udah aku cari bolak-balik. Itu kita bawa kan ya waktu pindahan?"
"Kayaknya sih kamu bawa. Yang beresin kamera kan kamu. Aku mana berani pegang-pegang kameramu." Yudis pun makin putus asa dan menyesali diri yang akhir-akhir ini mudah sekali melupakan hal-hal penting.
"Coba deh kamu cari di gudang. Ada beberapa dus belum kita bongkar. Mungkin ada di sana," saran Laras.
"Oh iya ya. Aku cari dulu ya." Yudis pun segera berlari menuju gudang di lantai dua.
***
Di gudang, Yudis menemui beberapa kardus berisi barang-barangnya dan Laras. Pengantin baru ini, baru saja pindah ke rumah mereka, rumah hasil tabungan mereka selama pacaran hampir tujuh tahun. Yudis yang tengah merencanakan membuat pameran kecil tiba-tiba teringat kamera analog pertamanya dan berkeinginan menggunakannya dalam pengerjaan pamerannya. Sayangnya Yudis lupa dimana dia menaruh kameranya itu.
Yudis pun mulai mencari kamera pertama dan kesayangannya itu.
Pada kardus ketiga, Yudis kembali putus asa. Dari dua kardus yang dibongkarnya, Yudis tidak menemukan kameranya. Baru setengah kardus diubek-ubek, Yudis menemukan sebuah buku catatan berwarna biru. Tertulis namanya dengan tulisan berantakan seperti ceker ayam. Yudis tahu itu tulisan tangannya sewaktu SD.
Yudis pun mengambil buku itu dan membukanya. Tulisan ceker ayam itu berusaha dibacanya. Pada buku itu, Yudis berusaha mencatat kesehariannya. Mulai dari datang sekolah terlambat, perkelahian pertamanya sampai hukuman yang diberikan Bapak sewaktu dia kecil.
Tiba-tiba selembar foto terjatuh ke lantai. Yudis memungutnya dan tersenyum begitu melihatnya. Sebuah foto dari seseorang yang dia kagumi semasa kecilnya sampai saat ini.
“Anak-anak kenalkan ini Kak Fajar dan Kak Wita dari Bandung. Mereka ditugaskan ke sekolah kita dari kampus mereka. Nanti mereka akan bergantian dengan ibu mengajar kalian,” ujar Bu Ratih, wali kelas kelas II A pada suatu pagi. Di sebelah kanan dan kiri Bu Ratih ada dua orang mengenakan jas kebesaran berwarna biru. Yang perempuan berkerudung hitam sedangkan yang laki-laki berkacamata. Saat itu Yudis terlalu sibuk mencari yoyo di dalam tas sehingga tidak terlalu menyimak.
***
Hari-hari berikutnya teman sekelas Yudis senang sekali menggandrungi kakak-kakak dari Bandung itu. Entah untuk menanyakan PR ataupun minta diajak bercanda seperti yang dilakukan teman-teman perempuannya.
Suatu hari di sekolah, Bu Ratih tidak masuk ke kelas karena rapat dengan guru-guru lain. Kak Fajar masuk dan menggantikan mengajar di kelas. Kak Fajar memberikan tugas yang sudah dititipkan Bu Ratih kepadanya.
“Kalau kalian bisa menyelesaikan tugasnya lebih cepat, nanti akan kakak ajari memotret,” ujar Kak Fajar sambil mengeluarkan kamera dari dalam tas nya. Semua anak kagum, termasuk Yudis. Dan semua anak langsung segera mengerjakan tugas yang diberikan secepat yang mereka bisa demi pelajar memotret dari Kak Fajar.
Setengah jam sebelum bel istirahat, semua anak sudah menyelesaikan tugas mereka. Semua duduk rapi di bangkunya masing-masing menanti Kak Fajar menepati janjinya.
Kak Fajar pun menepati janjinya. Dia berdiri di depan kelas sambil menerangkan tentang kamera. Dari semua anak, Yudislah yang paling antusias. Matanya berbinar setiap kali Kak Fajar mengangkat kameranya.
Tett... tett.. tett.. Bel istirahat pun berbunyi.
“Nah sudah waktunya istirahat,” ujar Kak Fajar. Tanpa komando, anak-anak pun keluar kelas menuju lapangan ataupun kantin. Tapi Yudis justru mendekati Kak Fajar.
“Lho Yudis gak jajan?” Tanya Kak Fajar melihat bocah kurus itu mendatanginya. Yudis hanya menggeleng. “Kenapa Dis?”
“Kak beli kamera dimana Kak?”tanya Yudis.
“Hm di kota Dis. Kenapa? Yudis mau memotret?” Yudis mengangguk yakin. Kak Fajar tengah berpikir sesuatu.
“Dis hari sabtu besok Kakak mau memotret. Yudis mau jadi asisten Kakak?” Tanya Kak Fajar.
“Asisten itu apa Kak?” Tanya Yudis polos.
“Jadi nanti Yudis menemani Kakak memotret. Nanti Yudis juga boleh nyobain memotret itu kayak gimana. Mau?”
Yudis pun mengangguk tanpa ragu. Dia menerima tawaran Kak Fajar untuk menjadi asistennya, meski dirinya tidak terlalu paham dengan makna asisten itu.
Pada hari yang direncanakan. Yudis menunggu Kak Fajar di depan gerbang sekolah dengan kemeja biru dan celana hitam yang diberikan Ibunya sewaktu Lebaran. Matanya berbinar begitu Kak Fajar datang. Malu-malu namun begitu antusias. Fajar tersenyum melihat Yudis yang begitu rapi dan antusias anak itu.
Hari itu mereka keliling desa. Mereka berhenti beberapa kali untuk memotret. Yudis pun dijinkan untuk memotret dengan kamera Kak Fajar.
Sorenya mereka pulang. Yudis merasa lelah namun juga puas. Hari itu dia bercita-cita akan memiliki kamera seperti milik Kak Fajar.
“Kak, Yudis mau nabung buat beli kamera kayak Kakak,” ujar Yudis saat di perjalanan pulang.
“Yudis senang ya memotret?” Tanya Kak Fajar.
“Iya Kak.”
“Menabung yang rajin ya Dis. Belajar yang rajin juga. Nanti Yudis bakal jadi fotografer keren!” Yudis pun mengangguk tanda sepakat sekaligus berjanji pada Kak Fajar juga dirinya
Sebulan kemudian, Kak Fajar dan Kak Wita berpamitan dengan kelas IIA. Kata Bu Ratih masa KKN mereka sudah selesai dan harus kembali ke kota untuk kuliah. Semua anak bersedih, termasuk Yudis. Bagi Yudis hal itu menyebabkan dia tidak lagi menjadi asisten Kak Fajar di setiap Sabtu.
Siangnya, Yudis duduk di pinggir lapangan melihat teman-temannya bermain bola. Tiba-tiba Kak Fajar duduk di sebelahnya.
“Yudis gak main bola?” Tanya Kak Fajar.
“Gak Kak.” Jawab Yudis lemah.
“Ini buat Yudis.” Kak Fajar memberikan selembar foto. Foto Yudis yang difoto dari belakang ketika memegang layangan yang baru dibelinya dan hendak mengajak teman-temannya bermain bersama. Yudis tersenyum memandang foto itu.
“Waktu itu Kak Fajar lewat lapangan deket rumah Yudis. Kakak foto. Sudah lama kakak cetak. Itu kakak kasih Yudis. Yudis simpan ya.” Yudis mengangguk. “Yudis masih sering nabung kan?”
“Masih Kak. Yudis mau beli kamera kayak kakak.”
“Nabung yang rajin ya. Kapan-kapan kalo kita ketemu lagi, kita memotret bareng. Yudis pake kamera Yudis sendiri, ya?” Yudis mengangguk.
***
Yudis turun dari lantai dua sambil senyum-senyum sendiri.
"Udah ketemu?" Tanya Laras.
Yudis hanya menggeleng.
"Terus kenapa kamu senyumsenyum?" Laras heran melihat suaminya itu tersenyum sambil memandangi sebuah foto.
"Aku baru inget kameranya ada di rumah Ibu. Besok aku ambil ke sana." Jawab Yudis singkat sambil masih tersenyum.
"Mas Yudis, mau tahu dong kenapa mengangkat tema childhood di pameran ini? Dan kenapa foto yang jadi inti tema merupakan foto lama dan buatan orang lain?" Tanya seorang wartawan pada pembukaan pameran foto Yudis.
"Foto itu adalah inspirasi dari keputusan hidup saya sebagai fotografer. Foto itu dari seseorang yang menjadi inspirasi saya dari saya kecil hingga sekarang. Tema childhood sebagai apresiasi kepada masa-masa kita sebagai anak-anak. Sebagai pembangkit memori sekaligus menumbuhkan jiwa ceria seperti anak-anak di tengah tuntutan usia kita di usia dewasa," jawab Yudis bangga.
"Kalau boleh tahu itu fotonya siapa ya Mas Yudis? Dan pengalaman apa yang membuat orang tersebut jadi inspirasi Mas Yudis hingga saat ini?" Tanya wartawan lainnya.
"Foto tersebut dari Fajar Hidayat. Dulu beliau mahasiswa yang KKN di SD saya. Beliau yang pertama mengajari saya foto. Beliau pula yang mengajak saya memotret dan menjadikan saya asistennya. Padanya saya berjanji untuk memotret," jawab Yudis.
Pembukaan pameran pun berjalan lancar. Yudis berdiri di depan foto yang ditemukannya sewaktu si gudang. Foto itu dicetak ulang dan diperbesar.
Ketika sudah sepi, Yudis berdiri memandangi foto tersebut.
"Yang, ini ada yang mau ketemu," ujar Laras membuyarkan lamunan Yudis.
Yudis terkaget begitu mendapati sang fotografer dari foto yang tengah dipandanginya itu dalam usia yang lebih dewasa. Laki-laki itu,Kak Fajar.
"Apa kabar Kak?" Sapa Yudis yang masih tidak percaya.
"Baik Dis. Kamu harus bayar royalti tuh pake foto saya di pameran kamu.” Ledek Kak Fajar.
Apa kabarmu, Jagoan Oma tersayang? Semoga kau sehat jauh di negeri orang. Semoga Paman Sam baik terhadapmu dan membantu cita-citamu tumbuh dan berkembang.
Seperti yang Mamimu sering katakan, Oma mulai sakit-sakitan. Harap maklum usiaku tak lagi muda. Begitu pula kondisi badanku.
Billy, Oma ingin minta satu hal. Jika nanti terjadi sesuatu pada Oma, segeralah pulang. Oma membutuhkanmu untuk sesuatu hal.
Jangan marah setelah kau baca kalimatku. Bukan Oma pesimis akan hidup tapi Oma realistis. Kembalilah jika Oma nanti mati. Ada satu hal yang Oma minta kau lakukan untuk Oma.
Peluk hangat dari Jakarta.
Semoga kau sehat dan rajin belajar di sana.
Oma”
***
Billy membaca ulang surat tulisan tangan Oma yang baru sampai dua hari lalu di asrama. Surat yang baru sampai dua hari lalu itu sudah lusuh karena berkali-kali dibaca. Dan kali ini Billy membacanya ulang di ruang tunggu bandara New York sebelum kembali ke Jakarta untuk mengantarkan Oma ke peristirahatannya yang terakhir.
Satu Malam setelah Billy mendapatkan surat dari Oma, Mami menelepon sambil menangis. Mami menyampaikan kabar bahwa Oma meninggal. Surat Oma yang memintanya untuk pulang dan kepergiaan Oma rasa-rasa begitu mengejutkan Billy. Dan paginya Billy langsung pergi ke bandara untuk pulang dan memenuhi permintaan Oma.
Oma telah dimakamkan. Tangis-tangis mulai senyap berubah jadi keikhlasan. Semua keluarga berusaha ikhlas dan tabah. Billy terlihat lebih banyak diam. Kehilangan, kesedihan bercampur jadi satu dengan keikhlasan yang kadang timbul tenggelam.
Seminggu setelah kepergian Oma, keluarga besar dikumpulkan. Om Bayu, anak tertua Oma, berdiri dan angkat bicara tentang surat yang Oma buat sebelum beliau meninggal.
"Ada beberapa hal yang Mami ingin sampaikan pada kita. Mami telah menyiapkan ini semua jauh sebelum Mami masuk rumah sakit," kata Om Bayu.
Om Bayu lalu membacakan surat Oma. Surat itu berisi nasihat, ucapan terima kasih dan maaf dari Oma untuk anak dan cucunya. Beberapa orang kembali menangis mengenang Oma.
"Bayu tolong suruh Billy ke rumah di Bandung. Suruh dia bersihkan rumah khususnya taman belakang. Monik, biarkan Billy pergi sendiri dan melakukan apa permintaanku.
Sudah kalian tak perlu bersedih. Seharusnya kalian lega karena tidak ada lagi perempuan tua rewel mengganggu kerja kalian. Peluk hangat Mami dan Oma," Om Bayu membacakan surat itu.
"Jadi Billy kamu diminta Oma untuk ke rumah di Bandung. Kapan Billy mau ke sana?" Tanya Om Bayu.
Billy yang tiba-tiba ditanya hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan seluruh orang yang ada di ruang tamu malam itu menunggu jawaban Billy.
"Hm besok pagi. Mungkin. Billy naik kereta pagi ke Bandung besok," jawab Billy yakin tak yakin.
Pertemuan keluarga malam itu pun selesai. Di kamar Billy merapikan beberapa baju yang akan dibawanya ke Bandung besok. Tiba-tiba kepala Mami muncul dari balik pintu.
“Billy mau Mami temani besok?” Tanya Mami yang sudah masuk ke dalam kamar Billy dan duduk di tepi tempat tidur Billy.
“Gak usah Mi. Kan Oma bilang sendiri harus Billy sendiri ke sana. Sendirian,” jawab Billy.
“Tapi..”
“Mami ikut untuk larut dalam kesedihan. Berkubang dalam ingatan. Bukan itu yang Oma mau. Makanya Billy yang disuruh ke sana,” kata Billy. Mami tertunduk mendengar ucapan anak sulungnya. “Bisa jadi karena Billy sering nakal sama Oma makanya Oma ngehukum Billy. Hehe jadi biar Billy aja Mi yang ke Bandung.”
Mami hanya diam. Mami adalah anak kelima dari lima bersaudara. Mami si bungsu kesayangan Oma. Kepergian Oma merupakan kesedihan terdalamnya. Billy benar jika Mami ikut Mami akan menghabiskan banyak waktu untuk mengenang dan menangis. Bukan itu yang diinginkan Oma.
***
Billy pun sampai di rumah Oma di Bandung. Dari luar, rumah dengan desain lawas itu terlihat seram. Rumput di halaman depan tumbuh tidak karuan. Cat tembok mulai mengelupas. Lampu taman hampir seluruhnya mati. Rumah cantik itu berubah wajah menjadi seram.
Berbekal kunci yang diberikan Om Bayu sebelum berangkat tadi, Billy pun masuk ke rumah. Ada perasaan aneh yang menghinggapinya. Bukan seram melainkan tentram. Billy sempat tumbuh dan besar di sini seperti kembali pada masa kecil yang menyenangkan.
Begitu membuka pintu, Billy mendapati surat di bawah lantai. Surat itu tertuju pada Billy dan terlihat sudah lama ada di sana tidak tersentuh siapapun.
Begitu dibuka selembar kertas dengan tulisan tangan Oma.
"Air dan listrik masih menyala. Tolong babat rumput di halaman depan dan belakang. Bersihkan semua ruangan. Ganti semua lampu. Lakukan itu semuanya. Sebelum tugas besar lainnya harus kau lakukan Billy.
Oma"
Dengan perasaan tidak percaya Billy memasukkan kembali surat itu. Setengah menyesal karena Billy tidak mengajak Mami untuk ikut dengannya.
Dua hari, Billy membereskan rumah dari halaman depan hingga belakang. Rumput tinggi sudah hilang. Lampu-lampu sudah kembali menyala. Lantai bersih. Debu hilang. Rumah itu kembali jadi rumah.
Pada pagi hari ketiga Billy di rumah itu, tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang. Seorang tukang pos memberikan surat kepada Billy dan lalu pergi. Billy segera membukanya.
“Jagoan pintar! Terima kasih sudah bereskan rumah.
Oma minta tolong satu hal lagi. Inilah tujuan utama kenapa Oma memintamu ke sini.
Ambil kunci di laci lemari ruang tamu. Itu kunci untuk kamar atas, kamar yang berisi mainan Oma. Di sana Billy akan menemukan banyak hal. Di ruangan itu, nanti kamu akan mengerti apa yang harus kamu lakukan. Karena Oma sudah menuliskannya di surat atas meja.
Terima kasih, Jagoan!
Oma”
Billy pun menuju lemari ruang tamu dan mencari kunci yang dimaksud Oma. Begitu berhasil menemukan, Billy segera naik ke lantai atas. Billy terpaku di depan sebuah kamar.
Kamar itu adalah satu-satunya ruang yang tidak bisa dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun, kecuali Oma. Semua yang masuk dan keluar harus seijin Oma, tidak juga Mami, anak kesayangan Oma.
Dulu Billy pernah diajak Oma ke ruangan itu. Beberapa kali sewaktu umur lima tahun. Ruangan itu penuh dengan mainan, penuh buku cerita. Billy kecil senang diajak Oma berdiam diri berjam-jam di ruangan itu.
Oma betah berlama-lama di ruangan itu. Seingat Billy, ketika itu Oma sibuk menulis dan menggambar di buku. Oma membiarkan Billy bermain dengan mainan yang belum dirapikan di rak.
Billy pun masuk ke ruangan itu. Ruangan itu masih bersih dan rapi. Beberapa kardus di pojok ruangan dan mainan Oma sudah tidak ada di rak-rak. Sebuah buku kecil ada di meja.
“The creative adult is the child who survived.
Mainan ini kukumpulkan sejak aku kuliah. Sejak aku memperoleh gaji pertama. Sampai beberapa bulan lalu, sebelum aku menjadi orang tua renta. Kukumpulkan itu semua.
Banyak yang kira ini untuk memuaskan masa kanak-kanakku yang kurang bahagia. Bisa jadi. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Tujuan utamanya adalah yang akan kamu lakukan.
Billy, tolong kirimkan kardus-kardus ini ke alamat yang sudah kutuliskan di halaman-halaman setelah ini. Ke panti asuhan. Ke rumah singgah. Ke anak-anak yang membutuhkannya. Supaya mereka bermain. Supaya jiwa kanak-kanak mereka bisa bertahan hingga mereka dewasa dengan puas bermain di masa kecilnya.
Kau beruntung Billy. Mainanmu sewaktu kecil cukup banyak. Kau bermain dengan senang. Ketika kanak-kanak kau terpuaskan dengan bermain dan berimajinasi. Itu yang ingin kubagi dengan mereka. Supaya mereka tidak seperti aku, aku tumbuh tanpa terpuaskan jiwa kanak-kanakku.
Billy, kau perlu ingat satu hal. Jika kau kecil berbahagia dengan mainan-mainanmu maka biarkan anak kecil yang berbahagia itu terus ada dalam dirimu. Meski kau menjadi tua, renta lalu sakit. Biarkan anak kecil yang berbahagia dulu dalam dirimu terus ada di sana.
The creative adult is the child who survived.
Dirimu semasa kecil akan membawamu dalam dunia yang tidak pernah membosankan. Kau boleh terjebak dengan rutinitas kuliah atau pekerjaan layaknya orang dewasa. Tapi jika dirimu semasa kecil itu terus hidup dalammu, maka kamu akan menikmati hidup seperti layaknya anak-anak.
Teruslah bermain meski usiamu tak lagi muda. Teruslah berimajinasi meski tubuhmu mulai renta. Kebahagiaan itu hidup dari kesederhanaan anak-anak dalam dirimu.
Teruslah hidup Billy jagoan kecilku dalam Billy jagoanku yang membesar tubuhnya dan usianya. Tolong bagikan kebahagiaan yang Oma simpan sejak lama ini pada mereka. Supaya mereka bisa hidup, menjadi tua dalam kebahagiaan anak-anak dalam diri mereka.
Oma.”
Billy pun tersenyum membaca tulisan Oma. Oma yang dulu selalu diprotes ketika membeli banyak mainan dan menghabiskan banyak waktu di ruangan ini oleh anak-anaknya. Billy kini mengerti apa yang dilakukan Oma dan tujuannya.
Siang itu, Billy langsung mengerjakan apa yang diminta Oma melalui suratnya. Siang itu, Billy berjanji pada dirinya untuk terus menghidupkan anak-anak dalam dirinya sampai mati nanti. Siang itu pula, Billy berjanji akan berbagi kebahagiaan pada anak-anak supaya mereka memiliki kenangan indah semasa kanak-kanaknya.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat
“Har coba kau lihat sini!” teriak Angin dengan suara serak basahnya dari kamar tidur kami. Aku berjalan santai masuk ke kamar. Seperti orang Batak pada umumnya, Angin suka sekali berteriak. Meski kadang sesuatu itu tidak perlu diteriakan.
“Ada apa sih Ngin?” tanyaku.
“Coba kau lihat kuda itu. Gagah kali bukan kawan? Menawan!” ujarnya penuh antusias. Aku memandangi televisi yang sedang menyiarkan salah seorang calon presiden berkampanye dengan menaiki kuda coklat. Ya kuda yang cantik, harusku akui meski hanya dalam hati.
“Kudanya memang menawan. Tapi tidakkah ia menjadi konyol karena dibawa ke arena pertarungan politik. Yang dibutuhkan bukan senjata bukan pula kuda. Tapi strategi,” sahutku kalem.
“Mungkin itu salah satu strateginya untuk menarik rakyat.”
“Ngin masyarakat kita sudah tidak butuh pangeran dari trah kerajaan entah apapun itu namanya. Yang naik kuda. Yang digadang-gadang dengan nama besar. Yang rakyat kita butuhkan pemimpin yang mau menyentuh mereka. Bukan membuai dengan kata-kata.”
“Kau politis sekali Har.”
“Ada dua kemungkinan kenapa Bapak Calon Presiden itu menaiki kudanya. Pertama dia mau pamer harta. Kedua memang dia ksatria. Kutebak dia jauh dari yang kedua.”
“Ah hati-hati bicara kau Har. Ditembak nanti kepala kau. Hahaha.”
Beberapa minggu berselang. Laga pertarungan memperebutkan kursi pemerintahan telah usai. Namun gejolaknya masih terasa. Tuntut menuntut. Tuduh menuduh. Curang mencurangi. Apapun semuanya dibahas seakan mengulur waktu.
Sore itu, Angin duduk di depan televisi.
“Kau benar Har. Beliau tidak ksatria,” ujarnya tiba-tiba.
“Kenapa tiba-tiba kau setuju?” aku malah bertanya balik.
“Lihatlah. Dia seperti boneka yang digerakan oleh orang-orang haus kekuasaan. Dia mantan jenderal. Meski berwatak keras kuyakin jiwa ksatria mendarah daging dalamnya. Tapi kau lihatlah itu tingkahnya. Seperti bukan dirinya,” Angin berbicara penuh gelisah.
“Hati-hati kau bicar Ngin. Ditembak nanti kepala kau. Hahaha.” Ledekku.
“Ah kau ini kenapa kau kembalikan kata-kataku?”
“Hahaha aku bercanda Ngin. Kuharap dia tidak lagi menggunakan kuda sebagai simbol dirinya jika tidak ada jiwa ksatria di dalamnya. Merendahkan harkat kuda itu namanya.”
“Ah apapula itu harkat kuda. Kau ini!” Angin menoyor kepalaku pelan. “Tapi Har, bagiku dia ksatria. Dia datang naik kuda. Bertarung. Bisa ku tebak nantipun dia bisa menerima kekalahannya. Kuda itu tampak cocok padanya.”
“Apanya yang cocok?!” aku tidak terima dengan perkataan Angin.
“Setidaknya dia berani masuk ke laga pertarungan dengan segala daya yang dia punya.”
“Dia hanya punya uang untuk beli kuda bagus. Itu saja.”
“Har coba kau lihat lebih mendalam. Butuh keberanian untuk masuk ke medan perang. Apalagi yang diperebutkan sesuatu yang absurd layaknya kepemimpinan. Kita perlu bertepuk tangan atas partisipasinya.”
“Tapi seharusnya dia tidak menggunakan kuda.”
“Apalagi yang mau kau bilang? Harkat kuda? Kau ada-ada saja. Coba kau beranikah naik salah satu kuda yang selama ini kau urus itu? Tiap hari kita bergaul dengan kuda tapi tidak sedikitpun kau memandang mereka sebagaimana si Calon Presiden itu lakukan.”
Aku terdiam.
“Tak perlulah kau bela harkat kuda kalau kau sendiri belum bisa mengatasi rasa takutmu untuk menungganginya. Kakimu kuat. Peganganmu erat. Tidak butuh waktu lama untuk kau menyatu dengan kuda. Kau ingat si semok di kandang paling ujung. Tidak pernah mau dia ku beri makanan. Tapi begitu kau muncul bahkan hanya sekedar lewat di depannya, hampir hampir jariku pun ikut dimakannya.
“Belum lagi Andrea, si kuda hitam dari Sumba. Banyak yang bilang dia kuda labil. Ah ada-ada saja manusia memberi kata sifat ke kuda. Tapi dia begitu tenang tiap kau urus. Tidakkah itu pertanda bahwa kau adalah penunggang kuda. Kau ksatria. Tapi kau memilih betah bekerja di kandang bau dan apek.
“Lalu kau bilang si Calon Presiden itu tak pantas naik kuda karena tidak ksatria dan menjatuhkan harkat kuda. Apa bedanya kau dengan dia? Kau pun menjatuhkan harkat kuda dengan mengabaikan bakatmu.”
Aku masih terdiam. Angin pun terdiam. Dia seakan menyadari bahwa dirinya telah bicara terlalu banyak.
“Aku cari angin dulu Har,” pamitnya.
***
Usiaku delapan tahun. Genap delapan tahun Bapak mengajakku ke arena pacuan kuda. Tepat di hari ulang tahunku Bapak akan ikut pacuan kuda seperti biasa. Bapakku dikenal sebagai penunggang kuda yang handal. Hampir selalu menang. Sehingga banyak orang berani mempertaruhkan uangnya untuk si Hitam dan Bapak di arena pacuan kuda.
Tidak pernah aku diperbolehkannya untuk datang dan menontonnya. Tapi di ulang tahunku ini, Bapak memberikan hadiah yang selama ini ku inginkan. Menaiki si Hitam dan menontonnya berpacu dengan si Hitam.
Sebelum bertanding, Bapak mengajakku berkeliling. Aku naik ke atas si Hitam dan Bapak menuntun Hitam. Rasanya bangga tidak karuan.
“Coba kau berkeliling sendiri dengan si Hitam. Bapak tunggu di sini,” ujar Bapak. Aku memandang ragu padanya. Seakan mengerti akan ketakutan dan keraguanku, Bapak berkata, “Tidak perlu takut. Hitam itu penurut. Percayalah padanya.” Akupun mengangguk dan mencoba mengendalikan Hitam.
Di usiaku yang kedelapan, aku berhasil menunggangi si Hitam keliling arena pacuan kuda. Bapak berdecak kagum begitu melihatku kembali utuh bersama si Hitam.
Begitu aku turun, Bapak datang memelukku. “Kau memang anak Bapak. Kau menyatu dengan kuda. Ku yakin kau akan menjadi lebih mahir dibandingkan Bapak.”
Aku mengangguk pelan dalam pelukan Bapak. Bapak masuk ke arena pacuan kuda untuk bersiap-siap bersama si Hitam. Aku dimintanya menonton di tribun penonton. Hatiku penuh kebanggan ketika mendengar orang-orang bertaruh untuk kemenangan Bapak dan Hitam.
Pacuan kuda pun dimulai. Putar pertama Bapak dan Hitam unggul atas lawan-lawannya. Sampai dengan putaran kelima, tiba-tiba Bapak terpelanting dari si Hitam. Hitam melaju tanpa Bapak. Bapak yang jatuh masih di dalam arena pacuan justu terinjak-injak oleh kuda-kuda lawan yang melintas. Sisa lima putaran lagi. Tapi tidak ada seorangpun bergerak untuk mengangkat Bapak dari tengah arena. Aku berteriak di tengah orang-orang yang merugi karena Bapak terjatuh. Teriakan minta tolong tidak digubris sama sekali. Hingga aku menangis.
Begitu pacuan selesai, tubuh Bapak diangkat oleh petugas. Aku segera berlari menuju Bapak. Bapak sudah tak berdaya. Bapak terkena serangan jantung. Injakan kuda-kuda lawan justru merusak organ-organ dalam tubuhnya. Bapak tak selamat.
Tepat di usiaku yang delapan, Bapak meresmikan hubunganku dengan kuda pacuan. Namun tepat pula di usiaku yang delapan, Bapak membuatku enggan untuk berpacu dengan kuda. Sejak hari itu Hitam tidak kembali ke kandang rumah. Sampai seminggu kemudian, dari kabar yang ku dengar Hitam mati karena stress kehilangan Bapak.
Sejak saat itu, aku tidak pernah naik kuda. Bekerja di penangkaran kuda pun sangat terpaksa. Tidak pernah kuurus kuda-kuda yang jadi tanggung jawabku dengan sepenuh hati. Dan herannya justru kuda-kuda itu yang menaruh hati padaku. Mereka begitu penurut dan mudah diatur. Meski pada akhirnya kuurus dengan seadanya. Mereka keluar menjadi kuda-kuda pilihan yang dipakai pada pacuan.
***
Aku pun memutuskan untuk keluar kamar juga untuk mencari angin. Setidaknya menjauhkan diri sejenak dari Angin dan segala urusan dengan kuda.
Larut malam, aku kembali. Angin sudah tidur dengan mulut terbuka lebar di tempat tidurnya. Dia memegang sebuah kertas selembaran. Kuambil dan kubaca. Sebuah pacuan kelas amatiran akan dibuka pekan depan. Pendaftarannya baru akan dibuka besok. Dan besok aku akan mendaftar. Pasti!
Pagi betul aku sudah bangun. Lari pagi keliling arena pacuan kuda. Kemudian menyapa kuda-kuda yang selama ini kuperhatikan dengan setengah hati. Sambutan mereka begitu lucu. Si Semok mengibas-ngibaskan ekornya. Si Andrea mengangkat kedua kaki depannya. Jim, kuda tua nan kokoh, menegakkan kepalanya anggun. Semuanya seakan menerimaku meski mereka semua sempat kuabaikan.
Tiba-tiba Angin masuk. “Bah pagi kali kau Har?” tanyanya.
“Aku habis lari pagi,” jawabku santai. “Oiya Ngin. Semua sudah kuberi makan. Aku mandi dulu. Tolong kau bersihkan kotoran mereka ya.”
“Ah sial kali kau Har. Kau sisakan pekerjaan kotor itu untukku. Kurang ajar,” teriak Angin disambut tawanya yang menggelegar.
Seminggu berlalu. Setiap pagi, aku lari pagi. Kemudian kulanjutkan dengan bertemu dengan kuda-kuda dan memberi mereka makanan. Menyapa mereka seakan mereka adalah manusia. Kuceritakan pada mereka rencanaku. Mereka memberikan respon positif. Menyenangkan seperti mendapatkan dukungan dari sahabat. Lusa aku akan berpacu dengan kuda. Mengalahkan ketakutanku. Menjadi ksatria dengan kuda. Serta melanjutkan impian Bapak.
Siang ini aku akan mencoba berlatih dengan kuda. Aku sudah ijin dengan pemilik penangkaran kuda ini. Dia memberiku ijin dan meminjamkan Timmy, kuda barunya itu untukku berlatih dan berpacu nanti.
“Hei Har! Kenapa pula kau mengurus kuda dengan pakaian macam itu?” tanya Angin begitu aku masuk ke kandang untuk mengambil Timmy. Aku mengenakan pelindung kepala sekedar untuk jaga-jaga.
“Aku akan berlatih, Ngin,” jawabku santai.
“Apa pula yang kau latih? Berpacu? Mana berani kau berpacu dengan kuda? Kau kan trauma?”
“Justru itu Ngin. Aku akan ikut pacuan besok lusa. Dan hari ini aku latihan dengan Timmy.”
“Ah kau ini bercanda saja.”
“Aku serius Ngin. Setidaknya untuk menghilangkan trauma. Urusan menang atau kalah itu belakangan. Aku ikut berpacu untuk mengalahkan diriku sendiri.”
Angin tak percaya dengan apa yang barusan kukatakan padanya. Lima menit dia memandangku dengan mulut menganga.
“Tutup mulut Ngin. Kau mau ku lempar kotoran si Semok?” ledekku.
“Kau ksatriaku, Har!” Angin menghampirku dan memelukku erat.
“Menggelikan sekali Ngin ucapanmu. Kau seperti homo!”
“Biarlah ku jadi homo juga. Jika itu denganmu Har!” Kami pun tertawa.
Hari yang kunanti itu tiba. Semalaman aku tidak bisa tidur. Kupakai untuk berlari. Angin yang tengah berusaha untuk menemaniku justru tertidur pulas di bangku taman dengan mulut terbuka lebar.
“Kau yakin Har?” tanya Angin sekali lagi padaku sebelum pacuan dimulai. Itu adalah pertanyaan yang sejak tadi dilontarkannya untukku. Lebih dari sepuluh kali dia menanyakan hal yang sama.
“Yakin Ngin. Kau sudah dengar jawaban itu sejak pagi tadi. Aku pun tidak mungkin mundur,” jawabku yakin. Aku tahu Angin tengah mengkhawatirkanku. Kami telah bersahabat sejak SMP. Dia merantau seorang diri ke tanah Jawa dan kemudian hidup bersamaku dan Ibu. Angin adalah sahabat sekaligus saudara. Aku tahu dia tahu ketakutanku akan pacuan kuda. Tapi akupun tahu bahwa ia tahu aku harus melakukan ini.
“Kau tonton aku saja di bangku penonton. Aku pasti menyelesaikan pacuan ini, Ngin. Lima putaran dengan Timmy! Percayalah!” ujarku berusaha meyakinkannya.
“Ku tunggu kau kawan!” Angin pun beranjak menuju bangku penonton.
“1... 2... 3... Pritttttttttttt!” pintu palang pun dibuka. Aku dan Timmy serta lawan-lawanku masuk ke arena pacuan. Pacuan ini adalah pertama kalinya untukku dan Timmy. Kami sama-sama kagok dengan teriakan serta lawan di depan belakang kanan dan kiri.
“Ayo Timmy! Kamu muda dan sehat. Kita bisa kalahkan mereka!” ujarku pada Timmy.
“Oh ksatria berkudaku!” Angin mendatangiku dengan wajah haru.
“Ngin tidak perlu berlebihan begitu. Kukira kau homo benaran nanti,” ujarku. “Maaf kami tidak menang.”
“Ah kau ini Har! Bagiku kau Hari ksatria berkuda! Dan kau Timmy! Kau hebat sekali!” Tangan kanan Angin merangkulku sedangkan tangan kirinya menepuk leher Timmy.
“Kau tau Har? Tadi kau dan Timmy seperti terbang. Melayang! Wush wushh! Keren kali kau kawan,” tiba-tiba suara Angin bercerita hilang tak terdengar telingaku. Mataku tertuju pada satu sosok pria dengan kuda hitam di sampingnya. Dia tersenyum bangga. Belum sempatku balas senyuman itu, sosok itu menghilang. Angin tengah menepuk-nepuk pundakku bangga.
Setidaknya hari ini aku telah mengalahkan ketakutan yang tumbuh sewaktu usiaku delapan tahun itu. ‘Aku ksatriamu, Pak,’ bisikku dalam hati.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat
Paino sedang duduk santai di depan toko Koh Acin. Matahari sedang bertengger kokoh tepat di atas kepala. Terik dan menyengat. Sambil mengipas-ipas handuk kecil yang sudah lusuh, Paino duduk menikmati jam istirahatnya yang sebentar.
Tidak lama, mobil bak berwarna hitam melintas depan toko sambil membunyikan klakson dua kali. Koh Acin melambai kepada supir dan seseorang di sebelahnya. Tanpa aba-aba, Paino mengerti waktu istirahatnya habis dan kini dia harus kembali bekerja.
“No, tolong pindahkan barang ke kardus. Nanti saya menyusul,” ujar Koh Acin kepada Paino sebelum pergi mendekati mobil bak yang barusan lewat.
“Iya Koh,” sahut Paino kemudian melangkahkan kakinya ke mobil bak yang parkir di ujung pasar sambil membawa kereta dorong.
Sesampainya Paino di dekat mobil bak, laki-laki kurus tersenyum padanya.
“Paino. Apa kabarnya lu?” sapanya dengan logat Betawi dan suara nyaring.
“Baik Bang Jali. Gimana kabarnya Bang?” Paino bertanya balik.
“Iya Bang. Di gudang masih ada banyak. Sepi bang jelang puasa. Paling ntar pas puasaan rame lagi.”
“Wah iye ye. Rencana mudik gak lo No?”
“Insya Allah Bang. Kalo ada rejeki. Abang mudik?”
“Yah elu No. Kayak baru kenal gue kemaren lu. Kan gue asli Jakarte. Mau mudik kemane lagi?” Bang Jali memukul pundak Paino pelan.
“Oiya ya. Hehehe. Saya ngangkatin barang dulu ya Bang. Nanti Koh Acin ke sini,”
“Siap No.”
Paino pun menyusun beberapa kardus di kereta dorongnya. Enam kardus lalu didorongnya kereta berisi kardus itu menuju gudang di belakang toko “Cahaya Elektronik”. Sudah hampir tiga tahun Paino bekerja di toko itu.
***
Empat tahun lalu, Paino hijrah dari Sragen menuju Jakarta untuk bekerja. Paino meninggalkan ibu-bapak, istrinya yang tengah mengandung empat bulan dan kedua anaknya, Yono dan Wuri. Paino hijrah ke ibukota dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa mengirimkan sebagian pendapatannya untuk keluarga di Sragen.
Nasib tidak ada yang tahu. Paino kena tipu oleh kawan lamanya yang menjanjikan pekerjaan di Jakarta. Uang lima ratus ribu melayang gegara Paino ingin bekerja di kantoran dan kawannya berjanji akan membantu. Kawannya pergi membawa uang Paino. Namun bukan Paino namanya jika harus putus asa. Tanpa memberi kabar keluarganya di kampung, Paino tetap bertahan di Jakarta dan kerja serabutan.
Paino pernah menjadi kuli bangunan. Namun pekerjaan kasar macam itu tidak cocok dengannya yang berbadan kecil. Meski lincah dan tekun, Paino memutuskan berhenti karena upah yang tidak seberapa.
Empat bulan berlalu, Paino mendapat kabar bahwa Rukmini, istrinya mengalami pendarahan. Uang Paino tidak cukup untuk pulang. Seminggu kemudian, Paino mendapat kabar istrinya meninggal ketika melahirkan anak mereka. Sedangkan anak laki-lakinya lahir selamat tanpa sempat melihat ibunya. Dan Paino tidak sempat melihat anaknya lahir dan menguburkan Rukmini, istrinya. Seminggu Paino mengurung diri menyesal tidak karuan.
Setelah setahun bekerja serabutan, Paino bertemu dengan Koh Acin di jalan. Laki-laki tua itu sedang kelelahan duduk di pinggir jalan. Paino tengah memegang segelas air mineral merasa iba dan menawarkan minuman yang dimiliki ke laki-laki itu. Koh Acin menerimanya dan meminum air pemberian Paino. Lalu Paino berpamitan pada Koh Acin namun ditahan.
Koh Acin ternyata tengah dehidrasi. Usianya yang sudah tidak lagi muda membuatnya bisa jadi tidak berdaya jika dehidrasi. Segelas air mineral milik Paino sangat membantunya. Koh Acin merasa berutang budi. Koh Acin menawarkan pekerjaan untuk Paino, jadi juru angkut dan penjaga tokonya. Paino diperbolehkan tidur di toko. Paino senang mendengar tawaran itu. Setengah tidak percaya dia menerima tawaran Koh Acin.
“Saya gak pernah langsung percaya sama orang. Begitu juga sama kamu. Tapi saya yakin kamu orang baik dan bisa dipercaya, makanya saya tawarkan pekerjaan ini ke kamu,” ujar Koh Acin. “Besok pagi kamu datang ke pasar kalo beneran mau kerja sama saya. Saya pergi dulu.”
Lalu Koh Acin meninggalkan Paino yang tengah tidak percaya sekaligus penuh rasa syukur.
***
Pada tumpukan kardus ini aku titipkan asa. Supaya aku punya daya lalu mendatangkan beberapa rupiah. Lalu bisa kukirim ke desa. Biar dapur Emak bisa berasap dan mengisi piring-piring dengan sayur dan lauk seadanya.
Pada tumpukan kardus ini aku titipkan asa. Supaya aku punya daya lalu mendatangkan beberapa rupiah. Lalu bisa kukirim ke desa. Biar Bapak bisa menukarnya dengan pupuk barang setengah atau satu karung untuk menghidup petakan sawah sisa warisan orang tuanya.
Pada tumpukan kardus ini aku titipkan asa. Supaya aku punya daya lalu mendatangkan beberapa rupiah. Lalu kukirim ke desa. Biar Yono dan Wuri bisa berhitung, membaca dan punya cita-cita dengan pergi bersekolah.
Pada tumpukan kardus ini aku titipkan asa. Supaya aku punya daya lalu mendatangkan beberapa rupiah. Lalu kukirim ke desa. Supaya si bungsu, Amin bisa menyusu meski tidak dari susu ibu.
Pada tumpukan kardus ini aku titipkan asa. Supaya aku punya daya lalu mendatangkan beberapa rupiah. Lalu ku simpan sedikit sisa. Supaya bisa belikan Rukmini bunga saat nyekar dan merapikan petak kecil tempat sisa tulang belulangnya dikubur.
Pada tumpukan kardus ini aku titipkan asa. Supaya aku punya daya untuk menghidupi hidup yang kumiliki melalui mereka yang begitu berarti.
***
Sudah dua kali, Paino bolak-balik mengambil barang dan kembali ke gudang. Tidak pernah sekalipun Paino mengeluh meski lelah sekalipun. Tidak pernah Paino mengecewakan Koh Acin, bosnya. Tidak pernah absen pula Paino mengirimkan sebagian besar upahnya ke kampung.
Pada kardus-kardus itu, Paino menyimpan asa dan menjadikannya daya. Pada kardus-kardus itu Paino berdaya untuk menghidupi hidupnya dan sisa kehidupannya.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat
Laku lagi semangkuk, Bu. Lumayan bisa menambah satu tempe goreng lagi untuk kita makan malam ini. Adik bisa memakannya utuh. Karena nanti malam kita punya dua tempe goreng untuk dimakan. Laku lagi semangkuk, Bu. Semakin banyak manusia lapar dan makan mie ayam Pak Kumis, makin kenyang pula kita nanti malam. Semoga nanti Pak Kumis membayar peluhku.
Namanya Siti. Hanya Siti. Tidak ada nama depan, tengah ataupun belakang. Kedua orang tuanya terlalu berbahagia dengan kelahirannya. Nama Siti diambil dari nama ibu ayahnya yang sudah lama meninggal. Iya tanpa nama depan, tengah ataupun belakang. Hanya Siti.
Siti tidak peduli. Baginya bernama siapa saja tetaplah sama, dia anak kedua orang tuanya. Siti kecil berbahagia meski tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya pengayuh becak setiap hari. Ibunya buruh cuci di rumah tetangga.
Usianya tujuh tahun. Siti baru masuk sekolah beberapa bulan lalu. Sampai suatu hari semuanya seakan berhenti. Siti kecil masih belum paham akan arti kesedihan. Tapi dia mengerti sejak hari itu hidupnya berubah.
Ibu melahirkan adiknya. Siti menunggu sendiri di bidan. Ayahnya akan segera menyusul dari pasar dengan becaknya. Namun malang tak dapat ditalang. Becak ayah Siti ditabrak truk di persimpangan pasar. Ayah Siti meninggal di tempat tanpa sempat melihat anak perempuan keduanya.
Siti tidak bisa menangis saat itu. Tidak bisa dia menangis bahagia karena punya adik. Tidak pula bisa dia menangis karena ditinggal ayahnya. Begitu mendengar kabar itu, ibu Siti histeris. Siti memandangi ibu yang histeris tanpa satu pemahaman sedikitpun. Dia tidak menangis sedih ataupun bahagia. Dia tidak mengerti. Tidak pula berusaha mengerti.
Hidupnya berubah sejak hari itu. Dari tinggal di kontrakan kecil lalu pindah ke rumah triplek belakang perumahan. Rumah triplek yang sering kemasukan air jika hujan dan bergoyang ketika angin besar. Ibu Siti tetap jadi buruh cuci meski tidak sesering dulu karena harus mengasuh adik.
Awalnya Siti masih pergi ke sekolah setiap pagi. Siangnya mengerjakan PR dari Bu Uti, gurunya. Sore bermain dengan adik. Malam tidur dalam dekap ibu. Suatu hari ibu dipanggil ke sekolah. Setelah pertemuan Ibu dengan Bu Uti, Siti tidak pernah kembali ke sekolah tiap pagi. Tidak lagi mengerjakan PR di siang hari. Dia kini ikut Ibu mencuci. Membantu menjemur atau sekedar menjaga adik.
Suatu hari, Siti pergi ke pasar. Dia melihat-lihat siapa tahu ada yang bisa dia kerjakan dan membawa sedikit uang. Siti berjalan dari ujung ke ujung. Menawarkan diri untuk membawa belanjaan. Namun ditolak halus. Lalu seorang bapak paruh baya memanggilnya. Pak Kumis, begitu dia memperkenalkan dirinya pada Siti.
Pak Kumis meminta Siti bekerja untuknya, pada gerobak mie ayam biru miliknya. Kaki Pak Kumis sudah tidak selincah dulu. Tapi dia tidak mungkin tutup karena tidak bisa hidup jika tidak bekerja. Dia meminta Siti untuk mengantar pesanan kemudian mengambil mangkok kosong yang sudah selesai dimakan isinya. Siti pun mengiyakan. Dia akan diupah 200 perak per piring.
Siang itu, Siti mulai bekerja. Sejak siang itu, Siti tidak lagi ikut Ibu mencuci.
“Ini Siti upahmu,” Pak Kumis memberikan dua lembar dua ribu rupiah kepada Siti. Siti tersenyum senang. Lalu mencium tangan Pak Kumis sebelum pulang.
Di perjalanan pulang, Siti mampir ke warung tegal yang ditemuinya. Dia membeli sebungkus nasi dan tahu tempe. Tidak lupa ditambah sambel untuk ibu dan kerupuk untuk adik.
Sesampainya di rumah Ibu memandang Siti tidak percaya. Anak pertamanya pulang membawa nasi lengkap dengan lauk, meski hanya seadanya. Siti bercerita dia bekerja pada Pak Kumis. Ibu tidak bisa marah ataupun melarang. Siti terlihat senang dengan kerjanya.
Sebelum tidur, Siti bilang pada Ibu.
“Bu simpan saja upah ibu untuk sekolah Wati. Biar Siti bantu ibu kerja untuk makan kita. Di pasar Siti juga bisa kerja yang lain kalau Pak Kumis sedang sepi pelanggan,” ujarnya. Siti yang kelelahan lalu langsung tertidur tanpa sempat Ibu menjawab. Ibu terisak pelan mencerna kalimat yang barusan keluar dari anak pertamanya. Mungkin Siti tidak mengerti apa yang baru saja dia ucapkan. Namun itu berarti banyak bagi Ibu. Setiap malam, Ibu mendoakan Siti semoga dia sehat dan tumbuh pintar meski tidak bisa disekolahkannya.
Keesokan pagi dan seterusnya, Siti bangun dan pergi ke pasar. Dan terus berulang.
Laku lagi semangkuk, Bu. Lumayan bisa menambah satu tempe goreng lagi untuk kita makan malam ini. Adik bisa memakannya utuh. Karena nanti malam kita punya dua tempe goreng untuk dimakan. Laku lagi semangkuk, Bu. Semakin banyak manusia lapar dan makan mie ayam Pak Kumis, makin kenyang pula kita nanti malam. Semoga nanti Pak Kumis membayar peluhku.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat
Burung Ayah sudah lama hilang. Burung itu terbang keluar sangkar karena Ayah lupa menutup pintu kecilnya setelah memberi makan. Sejak kehilangan itu Ayah tampak murung. Sering kali mengurung diri di dalam kamar sepulang kerja. Akhir pekan, Ayah memilih duduk di ruang tamu sambil membolak-balik koran seminggu lalu. Sama sekali enggan menginjakkan kakinya ke halaman belakang rumah.
Ada satu hal yang Ayah lupa. Burung itu sebenarnya tidak pernah ada. Bukan karena terbang keluar sangkar ketika ayah lupa menutup pintu sangkar. Bukan karena dicuri tetangga. Bukan. Karena sebenarnya burung itu tidak pernah ada. Burung itu hanya ada dalam kepala ayah. Tidak ada di dalam sangkar.
Waktu itu, aku pulang sore dan mendapati Ayah sudah ada di rumah dengan badan penuh peluh. Ayah menyapaku hangat. Aku yang tengah diburu tugas hanya menjawab seadanya lalu masuk kamar sampai malam hari. Aku keluar kamarpun karena mendengar suara isak tangis dari halaman belakang. Baru keluar dari kamar, aku bertemu ayah yang juga baru keluar kamarnya. Ayah memintaku kembali ke kamar dan ia akan melihat ke halaman belakang. Akupun menurut. Tidak lama kemudian, suara isak tangis itu menghilang.
Hari-hari berikutnya aku terlalu sibuk dengan urusan ini itu terkait kuliah. Pulang malam setiap hari. Akhir pekan harus pergi. Interaksi dengan ayah hanya sekadar basa-basi. Ingatan akan suara ikat tangis itu pun menguap dari pikiran.
Sampai suatu hari, ketika aku memutuskan untuk di rumah seharian beristirahat dari segala rutinitas. Ayah pergi kerja seperti biasa. Aku bangun siang. Lalu membersihkan rumah. Setelah semua beres, aku pergi ke halaman belakang untuk mengecek kebun kecil milik kami. Membawa sekop, gunting rumput dan apa saja yang bisa kugunakan untuk berkebun.
Namun semuanya jatuh ke lantai bahkan sebelum sempat aku menginjakkan kaki di halaman belakang. Sebuah sangkar berisi seorang anak perempuan kecil berusia tiga tahun. Dia terlihat lelah. Dia terlihat sakit. Dia terlihat tidak berdaya. Tubuhnya berbalut selimut lapuk. Dia meringkuk. Di depannya ada dua buah mangkuk kosong.
Aku memberanikan diri mendekat. Anak itu dengan sigap bangun dari lelapnya. Kaget dan ketakutan terpancar di matanya. Seakan ada trauma akan orang yang mendekatinya. Aku berusaha mendekat perlahan. Berharap dia tidak takut dan merasa tidak aman. Dia mengerti bahwa aku tidak mengerti kenapa dia berada di sana. Dia mengerti bahwa aku tidak akan menyakiti. Dia terisak seakan memohon untuk dikeluarkan.
Aku berusaha mencari cara untuk mengeluarkannya. Kudapati sebuah gembok yang lupa terkunci di bagian atap. Segera kuangkat anak itu. Kudekap ia dalam pelukkan. Ia menangis karena terbebas. Ia menangis karena lepas dari rasa sakit. Aku membawanya masuk ke dalam kamarku. Kumandikan ia. Kubuatkan ia makan. Lalu dia terlelap di tempat tidurku. Tidurnya lelap penuh ketenangan. Dia yakin dia sudah aman. Dia yakin bahwa kesakitan itu telah hilang.
Sorenya, ayah pulang dengan lelah. Dia langsung menuju halaman belakang. Tidak lama kembali masuk dengan wajah panik. Kemudian mendekati kamarku. Akupun keluar dengan waspada. Ayah panik namun tidak berani bertanya. Aku tidak pernah melihat ayah sepanik itu. Lalu aku membuka sedikit pintu. Ayah melihat anak itu masih tertidur di tempat tidurku lelap. Dengan segera aku menutup pintu kembali sebelum ayah masuk ke dalam.
Kami pun duduk bersama. Ayah semakin salah tingkah. Dia tahu dia salah tapi dia harus menjelaskan semua. Aku hanya diam. Perlahan ayah bicara. Katanya dia anak ibu dari suaminya yang sekarang. Namanya Karina. Usianya tiga tahun. Ayah bertemu di pasar sewaktu mencari sangkar di pasar burung. Ayah memang berniat untuk menekuni hobi yang telah lama ditinggalkannya. Saat sedang memilih sangkar, Karina mendekatinya. Bertanya dengan kepolosan seorang anak-anak. Saat ayah sadar itu Karina, ayah seperti mendapati oase di padang gurun. Ayah seperti mendapati ibu yang pergi meninggalkan kami demi menikah dengan laki-laki yang lebih cocok kupanggil abang itu.
Karina kagum dengan sangkar besar yang sedang diamati ayah. Ketika ditanya kenapa dia bisa ada di pasar, Karina bilang sedang menunggu tukang kebun rumahnya membeli pupuk untuk taman ibunya. Karina yang terlalu polos itu mengiyakan ajakan ayah untuk ikut bersamanya ke rumah. Sesampainya di rumah, oase itu berubah menjadi lumpur yang menyedot ayah. Ayah melihat Karina malah berubah menjadi seperti laki-laki yang membawa istrinya pergi dari rumah.
Ayah marah. Lalu dipotongnya atap sangkar. Setelah selesai Karina dimasukkan ke dalam sana. Awalnya Karina senang karena dia merasa seperti burung. Tanpa Karina sadari, dia tengah dikurung oleh ayah. Ayah tahu dia salah. Namun sakit yang selama ini dipendamnya membuatnya tega mengurung Karina di sangkar itu. Aku pun memutuskan untuk mengembalikan Karina ke Ibu keesokan harinya. Ayah semakin panik. Kujelaskan padanya jika tidak ini akan menjadi semakin salah. Dan memintanya berdoa supaya ini tidak berujung penjara.
Karina pun kembali ke Ibu dan suaminya yang lebih pantas kupanggil abang itu. Merekapun memaafkan ayah meski ayah tidak ikut mengakui kesalahannya. Merekapun minta maaf atas khilaf yang telah mereka perbuat. Akupun pulang dan mendapati ayah memandangi sangkar yang kosong itu.
Kini dalam ingatan ayah, sangkar itu kosong tanpa burung karena ayah lupa menutup pintu sangkar. Namun dalam hati ayah, sangkar itu adalah hati. Hatinya kosong karena ibu memilih pergi demi laki-laki lain.
words by Christmastuti D, photo by Muhammad Fajar Hidayat
bolehkah aku memanggilmu
tanpa nama-nama
(fahd djibran)
ribuan nama
mereka ciptakan untuk memanggilmu
ribuan cara
mereka ciptakan untuk dapat bersamamu
ribuan benda
mereka ciptakan untuk menyederhanakanmu
bolehkah aku memanggilmu
tanpa nama-nama
mereka menciptakan lima waktu
mereka yang lain juga menciptakan satu hari untuk bertemu
bolehkah aku memanggilmu
tanpa nama-nama
rasanya teramat rindu
memanggilmu tanpa nama yang mengikatku pada satu pancang
rasanya teramat rindu
bertemu dengan mu setiap saat ku mau tanpa perlu terjadwal
maka
bolehkah aku memanggilmu
tanpa nama-nama
bolehkah aku bertemu di setiap saat waktu ku
bolehkah aku bersamamu bukan dengan replika mu
bolehkah?
aku hanya ingin bersama
tanpa perlu terikat dan terkurung dalam kotak
merasa benar, meneriakkan kebenaran
dan semua adalah salah
aku hanya ingin terus bersama
meski tidak terikat dan terkurung dalam kotak
maka
bolehkah aku memanggilmu
tanpa nama-nama
jika kamu dalam versi ku dan versi nya
sama berkuasa atas segala
kasih teratas dari segala kasih
maka
mengapa kami menyebut namamu dengan beda nama?
tidak bolehkah kami menyebutmu dengan nama yang begitu sederhana
setidaknya karena kuasa dan kasih mu besar adanya
tuan, hari semakin malam.
tanggal akan terus bertambah. lelah semakin menyelimutimu.
hari akan segera berganti.
tuan, malam akan semakin larut.
kamu masih beraksi di pasar malam. lengkap dengan kostum warna-warni mu. lengkap dengan pewarna wajahmu. lengkap dengan rambut kribo berwarna mentereng mu. lengkap dengan perut tipuan dalam kostummu.
kamu masih beraksi sebagai badut di pasar malam itu.
tuan, waktu terus berputar.
tidakkah kamu lelah dengan segala kepura-puraan dalammu? tidakkah kamu mau melepaskan itu semua dan menjadi nyata di hadapanku? tidakkah kamu mau?
pulang lah tuan. pulang ke hati ku. memang tidak semeriah pasar malam. memang tidak seramai pasar malam. memang tidak banyak orang di dalamnya. hanya ada kamu dan aku nanti. pulanglah.
aku menunggu mu di muka pintu. dengan air hangat yang menunggu untuk mu membersihkan diri. dengan segala perlengkapan untuk menghapus rias wajahmu. dengan segelas teh hangat untuk menjamu mu. dengan sepasangan telinga untuk mendengar kisahmu. dengan segenap hati ku hanya untukmu.
tuan, pulanglah. aku menunggumu.
aku menyayangimu meski kamu tidak semenarik seorang badut. meski kamu tidak selucu badut.
aku menyayangimu lebih dari rasa sayang anak kecil kepada badut lucu yang ditemuinya di pasar malam.
pulanglah ke hatiku :)