Buka halamannya banyak-banyak belum, mau nangisnya udah.
YaRabb, kenapa perih seperti ini selalu hadir di saat yang enggak tepat? :“(
seen from China
seen from Germany
seen from South Korea

seen from Ukraine

seen from Australia

seen from Morocco
seen from United States

seen from Singapore
seen from Sweden

seen from Singapore
seen from China

seen from China
seen from Malaysia
seen from Iraq
seen from China
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Russia

seen from United States
Buka halamannya banyak-banyak belum, mau nangisnya udah.
YaRabb, kenapa perih seperti ini selalu hadir di saat yang enggak tepat? :“(
Sesungguhnya, Setiap orang memiliki lebih dari satu wajah. Satu wajah abadi yang diberikan oleh sang pencipta. Wajah-wajah lain yang mereka ciptakan sendiri. Jangan, Jangan sampai kita tertipu Dengan wajah-wajah yang tidak abadi itu, Bisa jadi, Wajah itu memiliki begitu banyak kebohongan, kedustaan, dan tipu daya. Kenalilah, Kenalilah dengan baik orang-orang yang berada disekitarmu. Agar sakit itu tidak akan pernah datang menghampirimu.
@hpkita
Katamu dan Kataku
Bila harus kuungkapkan penyesalan paling dalam yang kurasakan selama ini, adalah sesal karena aku menyelesaikan hafalanku sedemikian cepat.
Mereka sering berkata padaku, “Kamu hebat, bisa menyelesaikan 30 juz dengan waktu yang sedemikian singkat.” Padahal kita seharusnya sadar, bahwa di tiap ayat yang dihafal, ada tanggung jawab yang terus bertambah.
Namun, setidaknya kamu melalui hari-hari bersama Al Qur'an lebih intens ketimbang diri ini yang belum jua selesai menghafalnya.
Mungkin semasa Sekolah Menengah Pertamamu dulu, kamu habiskan waktu sore dengan Halaqoh Qur'an. Sedangkan aku?
Mereka juga sering bertanya padaku, “Adakah cara untuk menghafal kalam-Nya dengan cepat?”
Aku hanya mengelus dada, lalu membatin, “Ah, aku iri pada kalian. Aku ingin merasakan menghafal lagi seperti kalian. Aku ingin, sungguh ingin.”
Tidakkah kita menoleh ke belakang, bagaimana dahulu para sahabat menghafal? Mereka tak beranjak dari satu ayat, melainkan mereka telah memahami, dan mengamalkan ayat yang dihafalnya.
Sudahkah kita merenung kala membaca ayat-Nya, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya”?
Sudahkah pula kita tadabburi ayat-Nya, “… dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu …”?
Bukan tak mengakui anjuran mempelajari Al Qur'an secara perlahan. Tapi, sesal karena tak kunjung jua usai menghafal Al Qur'an adalah tangis yang tak habis.
Sebab, betapa bahagianya ketika kita mampu membaca semua arti ayat Al Qur'an sembari menghafalnya. Setidaknya, kita mengetahui apa yang dibahas di tiap surat yang kita baca. Bukankah ia begitu menghibur?
Sedang, jika “hanya” mengandalkan tilawah, misalnya, siapa yang akan menjamin ia akan menyisakan kesan tentang surat ini dan itu, juz sekian dan sekian? Nihil.
Al Qur'an, adalah hidangan dari-Nya. Bahkan, ia adalah hidangan yang terbaik. Akankah kita coba berpikir, ketika kita disuguhi hidangan nan nikmat; bagaimana kita akan memakannya? Langsung menelannya bulat-bulat, atau mengunyahnya sedikit demi sedikit?
Sedikit demi sedikit, tapi jangan pula sampai hidangan itu terlalu lama habis, atau bahkan membuat kita lebih dulu kenyang sebelum menghabiskannya. Di mana pun, hidangan yang baru saja disajikan jauh lebih nikmat daripada yang sudah berjam-jam. Demikian kiranya.
Pada akhirnya, suara-suara itu berpadu dalam satu harap. Ya Allah, jadikanlah kami di antara keluarga-Mu, dan orang-orang terdekat-Mu. Ya Allah, jadikanlah Al Qur'an penolong kami, dan bukan penuntut kami di Hari Akhir kelak.
Sebuah kolaborasi dari @mehmetfath dan @fauziaazzahra, tentang suka dan duka masing-masing dengan Al Qur'an yang tiap hari dibaca, dihafal, dan diulang-ulang. Moga Al Qur'an menjadi pelipur lara, penghapus duka, dan penyelamat di alam baka.
Rindu Sendu
Malam ini, Terlalu sendu. Apakah ini karna rindu? Sepertinya bukan. Lalu? Ini sendu, Akibat seharian, Aku merasakan senang yang berlebihan. Tertawa yang berlebihan. Makan pun berlebihan.
Bukan, Alasan ku senang hari ini bukan karena dia kembali. Sungguh sempit sekali definisi kesenanganku, Jika hanya dia yang menjadi standar jika aku senang. Dan inilah efek samping dari yang berlebihan. Terlalu sendu. Sangat sendu.
Kalau sudah begini, aku bisa apa? Hanya menyesali kejadian yang telah terjadi seharian tadi.
Aku mengerti, mengapa Rasulullah mengajarkan untuk berhenti makan sebelum kenyang. Secara tidak langsung, beliau mengajarkan bahwa memang betul yang berlebihan itu sangat tidak baik.
Ya, seperti terlalu merindu. Terlalu merindu itu adalah rindu yang berlebihan. Dan itu tidak baik. Ya, tidak baik. Karena menyakitkan jika hanya tahu bahwa hanya aku yang terlalu merindu. Sedangkan kamu tidak. Jadi, mari sama-sama kita hindari rindu yang berlebih ini.
Karena, Yang berlebihan itu akan menyakiti kita nantinya. Kecuali, cintamu kepadaNya yang berlebih itu tak apa. Sangat tidak apa-apa.
Oleh: @hpkita
Gumpalan rasa 1
Maka jika aku diperbolehkan untuk berharap,
Aku berharap kita dipertemukan dalam kebaikan,
Ketika kita berdua sudah memang harus bertemu dan melakukan perjalanan bersama, bukan lagi dalam proses pencarian,
Maka jika aku diperbolehkan untuk mensyaratkan,
Cukup hanya saling menerima, mungkin seperti kisah yang sudah sudah, dari jaman nenek moyang.
Ketika keduanya bukan hanya saling melengkapi tetapi juga saling memberi.
Maka jika aku boleh menuliskannya disini, aku berharap kamu membacanya dan merasakan hal yang sama.
******* To be continued *********
Oleh: @haninseptina
Mencoba menebak hati hampir sama dengan menebak cuaca. Langit mendung tidak selalu berarti akan hujan. Seseorang memberi perhatian tidak selalu berarti menyimpan rasa. Mungkin hanya mencoba bersikap baik atau kamu saja yang terlalu merasa. Sekian.
Oleh: @nnayss
Pesan Singkat
Ketika malam membuat dingin Ketika hujan menciptakan rindu Ketika angan terbawa angin Ketika resah mengharuskan kita rebah
Ketika ku masih mendapat kabar Masih begitu behagia berdebar Ketika kawanmu memberi kabar Bahagia seperti bunga mekar
Tertidur pulas seperti putri tidur Hingga tak mendengar kabar Kabar kabur Pagi ku terbangun
Menerima pesan singkat mengakhiri sebuah hubungan Hubungan yang nyaman Tak ada tangisan Ini tanda keikhlasan
Oleh: @milamaula
Rahasia Lautan
Kepada lautan, Aku meratap, Berbisik bercerita, Tersedu tertahan, Sesekali mencela, Mengutuk takdir, Ditinggalkan oleh yang meninggalkan.
Kepadaku, Lautan menjawab keresahan, Hemparan yang sempurna, Dingin yang menghangatkan. Reaksi yang tercipta, Beban yang melebur pada rasa.
Kami bertukar rahasia, Aku bercerita tentang pahitnya kehidupan dunia, Lautan bercerita tentang manisnya kuasa Tuhan.
Palu, 21 Februari 2017
Oleh: @farahfzyahmad