Satu Per Satu
Dasar Kebutuhan
Manusia sejatinya memiliki kepentingan tersendiri dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Ada yang sedang bekerja, bermain, belajar dan banyak hal aktivitas lain yang tentunya dilakukan baik itu memenuhi kebutuhan dalam waktu yang tenggang atau kebutuhan istirahat dalam tempo beberapa saat. Kesibukan yang dialami tentunya membutuhkan energi yang sangat banyak untuk dihabiskan. Namun, dibalik kesibukan itulah kadang orang selalu dibenturkan terhadap berbagai macam pilihan. Salah satunya adalah ketika ada kegiatan bersamaan.
Dalam beberapa teori atau mungkin pertemuan seminar, selalu muncul pertanyaan “bagaimana cara memanage waktu?” atau “bagaimana kita menentukan suatu pilihan yang pada saat itu kita harus memilih salah satu?”. Tenang, semua ada jawabannya, eaa. Hampir setiap pertanyaan dalam teori atau seminar tersebut dijawab dengan “menggunakan skala prioritas”. Skala prioritas bagaimana yang dimaksud?. Skala prioritas mungkin sudah cukup banyak diterapkan oleh orang banyak dengan menggunakan kuadran penting, tidak penting dan mendesak, tidak mendesak.
Lampaui Batasan atau Kenali Batasan
Setiap manusia tentunya memiliki keterbatasan dalam banyak hal, khususnya dalam mengatur diri sendiri dalam menentukan skala prioritas. Seperti halnya pada saat waktu luang, mana yang kita pilih? Bermain atau belajar?. Hal tersebut tidak serta merta kita memilih salah satu, kita dapat melihat sisi dari prioritas yang bisa digambarkan. Mungkin, pada saat waktu luang tersebut dikhususkan untuk bermain/istirahat dari jadwal kampus yang sedang padat, maka hal hal tersebut bisa menjadi prioritas utama dalam menurunkan suhu dalam otak kita. Pun sebaliknya, ketika memang waktu luang tersebut diperuntukan bagi mahasiswa untuk mereview ulang pelajaran karena siang harinya akan dilaksanakan kuis dadakan, maka belajar adalah prioritas utama yang harus dilakukan.
Manusia seiring berjalan waktu, usia dan juga masa waktu di dunia ini tentunya memiliki kesempatan peran yang semakin kompleks. Seperti hal nya saat ini saya menjadi seorang mahasiswa tentunya banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan secara lumrah, seperti, ikut organisasi BEM atau komunitas, menjadi mapres atau bahkan hanya fokus untuk kuliah saja, semua memiliki skala prioritas kebutuhannya masing-masing. Pun, kita tidak bisa judging apapun terhadap siapapun, kamu gak keren kalau gak masuk BEM, fokus kuliah aja nanti nilai kamu jelek gak bisa lulus cumlaude, dan contoh lainnya. Setiap orang memiliki pilihan dan tau akan kebutuhannya. Berkaitan dengan hal tersebut, menurut seseorang saya sebut saja aktivis kampus mengatakan bahwa, ketika Mahasiswa berada di Kampus, maka ada tiga pilihan besar dan kita hanya bisa memilih dua diantara hal tersebut. Ketiga hal tersebut yakni, akademik, organisasi dan istirahat. Hal tersebut murni dan yakin adanya, karena manusia tentunya memiliki batas maksimal dalam melakukan aktivitas. Ketika kita memilih akademik dan organisasi, maka kita harus siap istirahat kita akan sedikit terkuras, yang biasanya tidur jam 10 malam, mungkin bisa berganti jadi jam 2 malam. Pun, ketika kita memilih untuk akademik dan istirahat, mungkin pemenuhan kebutuhan secara sosial akan sedikit minimal didapatnya. Hal tersebutlah yang saya yakini saat ini, karena manusia ada batasannya.
Nah, sekarang saya mau membahas terkait orang-orang yang suka berorganisasi. Saking suka dan cintanya berorganisasi, kadang satu mahasiswa bisa saja mengambil peran di organisasi tersebut, baik itu organisasi kampus, komunitas atau bahkan kepanitiaan. Namun, saya kembali flashback mungkin di beberapa tulisan saya sebelumnya sudah pernah dibahas, bahwa sah-sah saja mengambil banyak peran atau amanah, tapi apakah hal tersebut dapat berjalan secara efektif? Apakah satu dengan yang lainnya akan berjalan secara maksimal? Dan apakah satu dengan yang lainnya tidak akan ada yang merasa dirugikan? Bahkan apakah itu betul-betul ingin berperan karena ikhlas atau nafsu? Kayaknya kejauhan deh, jadi mau bahas hal-hal yang umum saja.
Dikutip dari Q.S. Al-Insyirah ayat 7, yang artinya “Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain!”. Hal tersebut memang menjadi batasan kita dalam melakukan sesuatu apapaun, bahwa kita hendak menyelasaikan urusan kita satu-persatu, kalau bahasa kekiniannya adalah multitasking. Mungkin, beberapa manusia memiliki kemampuan seperti ini, namun kembali lagi apakah hal seperti ini akan berjalan secara efektif atau tidak. Maka, kembali lagi kepada diri kitaa, sejatinya apa yang dikejar? Wa Allahu ‘alam, hanya kamu dan Allah yang tahu apa dibbalik itu semua. Amanah itu berat, jaminannya sampai akhirat, selesaikanlah amanah yang satu secara tuntas, maka kerjakan amanah yang lain yang sekiranya perlu diselesaikan.
Rapat rutin dalam dua device saja sudah tidak efektif, apalagi amanah.
Niatkan, kerjakan dan tuntaskan!
ada saran? silahkan tulis di kolom komentar.
















