Connecting the dots
Kali ini di tugaskan untuk memahami dan meyelami diri sendiri.
Melihat pertanyaannya seperti mudah untuk di jawab, namun pada kenyataanya pelik. Karena perlu waktu, dan berbicara dari hati kehati dengan diri sendiri. Dengan mengenali diri, artinya telah menerima kelebihan dan kekurangan ku. Saat sudah mampu menerima segala sesuatunya, akan memperluas pandangan, membuka kesempatan pada diri kita untuk memperbaiki dan memaksimalkan potensi diri.
“Seperti apa aku ini?”
Terkadang aku memiliki believe yang merasa bahwa aku ga pantas dicintai. Terkadang merasa kecil, ga berharga, dan tidak layak untuk di cintai. Ada rasa minder untuk bertemu orang-orang baru, atau bahkan rasa kecil untuk bisa berteman dengan orang lain. Sehingga untuk berbicara pada orang lain, saya selalu meminta izin “Boleh minta waktunya?”, “Boleh tanya?”. Jadi jika pertayaan ini terlontar di tempat yang tidak formal, orang akan merasa aneh. Tanggapannya, “ya nanya mah nanya aja. Kenapa seolah butuh acceptance dari orang lain?”
Believe tersebut menjadi hambatan untuk aku. Aku menjadi tertutup dan hati-hati, karena takut membuat kesalahan dan tidak mau merepotkan orang lain. Believe ini pun mengakibatkan aku tidak bisa melihat kebaikan yang ada pada diri ku. Khawatir dengan apa yang aku kerjakan, hingga akhirnya menjadi tidak percaya diri.
Believe yang menghambat ini akhirnya aku sadari dan aku accept, ketika terlalu banyak hal tidak terjadi, terlalu sempit ruang gerak, hanya karena aku tidak percaya diri, takut di jauhi atau tidak disukai dan nampak memerlukan acceptance dari orang lain. Padahal yang menjalani hidup ku ini, adalah diri ku sendiri.
“Apa yang membuatku unik?”
Yang membuatku unik adalah, aku yang selalu menggunakan hati ku. Aku amat memahami, betapa memakai hati itu memiliki konsekuensi besar untuk bisa merasakan sakit, kecewa, dan terluka. Namun aku selalu yakin, apa yang selalu aku jalankan dan yakini menggunakan hati, hasilnya akan terasa sampai kehati juga. Seperti dalam buku quantum ikhlas :
“Pancaindera manusia bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap ke dunia luar. Tetapi yang menakjubkan adalah HATI-nya yang berjendela terbuka (ke dalam) ke arah dunia gaib yang tak kasat mata; dimana sesekali ia bisa menerima isyarat tentang masa depannya.”
Rasa syukur, rasa sabar, rasa kasih dan sayang, Allah sengaja berikan pada manusia melalui satu gumpal daging, yang mana jika segumpal daging itu baik, maka semua anggota tubuh akan baik. Namun jika segumpal daging itu buruk, maka semua anggota tubuh akan menjadi buruk pula. Yang mana segumpal daging itu adalah hati (qalbu). Menggunakan hati ku untuk setiap Langkah mengharap Ridha Allah.
“Nilai apa yang aku miliki?”
Aku adalah perempuan yang jujur, bertanggung jawab, dan pantang menyerah. Aku memiliki rasa kasih sayang dan empati yang selalu ingin ku bagi pada sekitar.
“Apa yang aku perjuangkan?”
Ridho Allah. Aku selalu menginginkan apa yang aku kerjakan hanya mengharap ridha Allah. Berharap bertemu support system yang sama-sama berjalan mengharap ridha Allah. Tidak hanya memikirkan kenyamanan di dunia, tapi juga di akhirat. Mau belajar dan mengaplikasikan, apa yang Allah tunjukan melalui agama. Karena saya yakin, jika segala sesuatunya hanya mengharap ridha Allah, tidak ada yang berat, tidak ada yang kurang, tidak ada yang gelisah. Karena aku hanya bisa berikhtiar, dan bertawakal, biarlah Allah yang menentukan hasilnya.
“Apa Kesamaanku dengan institute Ibu professional?”
Mau dan bersemangat untuk selalu belajar, mengembangkan potensi diri, juga tak segan berbagi untuk kebaikan bersama. Karena hidup ini adalah proses belajar setiap harinya. Dan dalam belajar perlu : Kerja keras, Fokus pada target, terbuka, dan












