Perkataan yang di Tuliskan
Surat adalah media komunikasi yang aku suka. Karena terkadang ada yang sulit di ucapkan lewat perkataan. Dan biasanya perkataan ada saja salah makna persepsinya, termasuk perkataan lewat chat. Tapi entah kenapa lewat surat, seperti banyak hal tersirat dan tersurat bisa dituangkan disana. Seperti banyak hal yang tadinya hanya tersimpan di hati, bisa disampaikan dengan baik.
Karena menulis surat tidak seleluasa ngobrol ataupun chat, aku selalu menulis surat di suatu moment. Sehingga seperti ada alasan yang ingin disampaikan di waktu yang tepat. Tapi sekarang rasanya menulis surat tanpa ada moment membuat aku berfikir, apa yang ingin aku sampaikan yaa. Akhirnya aku membiarkan hati ku, menuliskan dengan perasaanya.
Aku bercerita pada kedua orangtuaku, tentang diriku. Yang di seumur sekarang, bahkan aku selalu merasa terlambat. Terlambat merasakan hal-hal yang mungkin orang lain pernah rasakan duluan.
“Menagapa ya aku baru mau mengejar yang aku inginkan sekarang? Kenapa ga dari dulu yaa? jadi saat ketemu banyak gagal, rasanya masih punya banyak waktu”
“Mengapa ya aku baru merasakan, rasanya disayangi, rasanya menyampaikan rasa sayang, rasanya terbuka, rasanya berbagi pandangan, rasanya mempercayai orang lain, rasanya menghargai diri sendiri, rasanya ditolak, rasanya berbeda pandangan, ya sekarang ini”.
Jujur, aku itu orang yang dingin. Hanya mementingkan diri sendiri, tidak mudah percaya pada orang lain, tidak memberi kesempatan pada orang lain masuk didalam kehidupanku. Mengerjakan segala sesuatu sendiri. Dan segala yang berpusat pada diriku saja. Aku tahu itu tidak salah, namun ternyata ada hal yang lebih effective dan jauh lebih menyenangkan.
Yaitu saat sekarang aku menjadi pribadi yang terbuka. Saat aku mau berinteraksi, dan tidak lagi menghindari orang lain, tidak menghindari perbedaan pendapat, senang sekali rasanya.
Aku telah menyadari resiko menjadi aku yang terbuka adalah, siap menghadapi perbedaan pandangan, berani mengungkapkan ide dan pendapat, juga siap menerima penolakan. Tapi aku merasa, resiko tersebut berbanding lurus dengan hal yang akan aku terima. Jika dulu aku takut sekali dengan bersitegang, dengan high tension saat aku kena marah, takut tidak di sukai, takut di benci. Sekarang aku tidak terlalu memperdulikannya. Aku merasa sekarang bisa menjadi diriku sendiri, mau menyatakan apa yang dirasakan, mengungkapkan rasa sayang dalam kata dan perbuatan, melakukan apa yang aku ingin lakukan dan menerima diriku apa adanya. Tentu aku terus belajar, agar tidak ada orang yang aku rugikan dalam hal ini.
Ada banyak cara win-win yang bisa aku lakukan. Sehingga, tidak perlu menggunkan otot dan urat untuk bisa berkomunikasi effective. Hanya saja, aku merasa pemilihan kata-kataku sering sekali mempunyai makna dan persepsi yang berbeda untuk orang lain. Sehingga mispersepsi tidak bisa dihindari, dan aku merasa perlu untuk meluruskannya. Yang mana kadang aku pun tidak cukup pandai untuk memecah dalam kata-kata yang tepat. Tapi Bismillah, aku selalu berusaha untuk meluruskan apa yang aku katakan.
Alhamdulillah, selama aku membagi cerita tersebut pada mama ku, mama selalu mendukung apapun yang aku pilih. Mama selalu meminta aku terus berdoa, ber-istikharah, dan bersyukur atas apa yang Allah berikan dalam hidupku ini. Ini membuat aku takjub, rupanya mama memiliki pengertian yang begitu besar. I love you mama. I love you papa. I love you ade-ade. Menjadi terbuka pada mereka, membuat aku merasa lega dan bersyukur sekali.
Who am I ?
Who I want to be?
What kind of women, i wanna become?
Jakarta, 10 Juli 2020
ElzaCha










