Repetisi dalam Puisi: Sama yang Tidak Bersama
(Sebuah ulasan singkat puisi “Dia yang Memunggungimu” karya Khrisna Pabichara)
Puisi Dia yang Memunggungimu ini menyampaikan kepada pembaca suasana hati aku yang hanyut dalam harapan sendiri; bertepuk sebelah tangan. Harapan itu tampak pada awal kalimat pada setiap bait:
Kita berada di pelukan yang sama;
Kita berdiam di rumah yang sama;
Kita tegak di jalan yang sama.
Aku masih berpikir positif bahwa mereka masih berada di pelukan, rumah, dan jalan yang sama. Namun, itu hanya fiktif belaka sebab kesamaan yang dimaksud ternyata berada pada kotak yang berbeda, bahkan terpisah:
Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya;
Aku di masa entahmu; kamu di masa lalunya;
Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya.
Larik selanjutnya masih mengungkapkan situasi yang bertepuk sebelah tangan, untuk menjelaskan larik sebelumnya.
Dalam puisi ini, Khrisna Pabichara melakukan pengulangan kata, bentuk imbuhan, dan bunyi atau yang disebut dengan repetisi. Repetisi dalam puisi ini membantu penulis untuk menyampaikan makna sama yang tidak bersama kepada pembaca. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis penggunakan kata sama pada setiap bait dalam kalimat pertama untuk menggambarkan bahwa aku dan kamu sedang melakukan hal yang sama, tetapi… melakukan hal yang sama ternyata tidak selalu bersama.
Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya. Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.
Pada bait ini terdapat pengulangan kata memeluk; pengulangan bunyi pada tenang dan senang; pengulangan bunyi dan bentuk imbuhan pada meninggalkan dan menunggalkan. Karena itu, untuk menyampaikan makna bertolak belakang, penulis juga menggunakan repetisi dan memilih diksi yang memiliki kemiripan bunyi untuk memunculkan keindahan.
Repetisi dan kemiripan bunyi tersebut juga terdapat pada bait kedua dan ketiga.
Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya. Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.
Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya. Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penulis pun melakukan repetisi pola setiap baitnya. Repetisi inilah yang membuat makna puisi dapat disampaikan dengan tepat sebab dalam repetisi terdapat penekanan yang diciptakan oleh penulis.
puisi: Dia yang Memunggungimu-Khrisna Pabichara (https://www.kompasiana.com/1bichara/57866427f0927366089b5f32/dia-yang-memunggungimu)















