Aku tiba tiba teringat mengenai praktek perdukunan dan perdokteran di Indonesia saat menjenguk ibu dari cowok ku yang kebetulan terbaring di rumah sakit karena penyakit low back pain (dibaca: kecetit). Batasan Masalah: Perdukunan yang aku bicarakan di sini terbatas pada praktek perdukunan masalah perpijetan. Perdukunan mengenai ilmu santet dan hal gaib lainnya tidak dibahas di sini. Jadi saat menengok ibunya cowok ku itu aku jujur terheran heran sih kenapa dibawa ke rumah sakit bukannya dibawa ke dukun pijet. Kan itu berhubungan dengan saraf yang posisinya salah. Jadi menurut pendapat ku sih ya dibawa ke dukun saja. Bukan tanpa alasan kenapa aku mengatakan seperti itu (maksudnya merekomendasikan pengobatan dukun dibanding ke dokter). Begini ceritanya. Suatu hari akibat kecapekan yang teramat sangat aku terkena demam tinggi dan nafsu makan hilang. Oleh tetangga dan juga ibu ku, disarankn untuk pijet saja ke mbah Marni. Ibu ku yang sudah pernah pijet sebelumnya mengatakan bahwa pijetan mbah Marni enak, tidak sakit, dan berkaitan dengan mbah Marni yang taat ibadah, juga dibacakan doa khusus supaya cepat sembuh. Karena tergiur dengan promosi ibu ku, maka aku pun mengiyakan (walau awalnya ketakutan karena aku pernah punya pengalaman buruk mengenai praktek perdukunan; baca di cerita mendatang). Terlebih lagi orangnya juga rajin beribadah. Dan sosok mbah Marni jauh dari kata seram. Perawakannya kecil dan kurus. Metode pengobatannya adalah pijet dengan menggunakan baluran minyak tanah bekas pakai dan juga bobokan dedaunan dan ramuan jamu herbal jika diperlukan. So far sih aku sudah sembuh hanya dengan pijet berbalur mihyak tanah dan bobok di kepala. Bobok itu semacam daun-daunan khusus yang ditumbuk kemudian dioleskan ke bagian tubuh tertentu. Menurut cerita mbah Marni itu pasiennya beragam. Sampai bidan tersohor di kampung pun kalau sakit pergi pijat ke rumah mbah Marni. Aku takjub bin heran dengan kekuatan mbah Marni memijat per harinya. Timbul pertanyaan kalau misalnya mbah Marni sakit bagaimana ya? Apa pergi ke dokter? Yang bikin kaget adalah mbah Marni tidak pergi ke dokter kalau sakit. Paling mbah Marni hanya akan memijat tubuhnya sendiri dan minum jamu hasil racikannya. Aku hanya bisa terkagum heran. Suatu hari yang lain aku sakit juga yang lumayan parah. Maka ibu ku memaksa ku untuk pergi periksa ke dokter yang memang biasa menangani ku. Dr. Teguh namanya. Beliau adalah spesialis penyakit dalam yang setiap harinya puluhan pasien banyak yang mengantri. Jujur salah satu daya tarik dr Teguh adalah karena beliau itu ganteng banget. Ibaratnya saat sakit masuk ke ruangannya langsung sembuh dan begitu keluar sakit lagi. Selain itu juga aku suka menanyakan kabar putra beliau yang dulu kakak kelas ku karena baik bapak maupun anak juga sama gantengnya. Setelah selesai memeriksa ku, iseng aku bertanya (biar bisa konsultasi lebih lama). "Dokter enak ya kalau sakit. Bisa memeriksa diri sendiri. Eh apa Dokter pergi ke dokter lain saat sakit?" Sambil tersenyum renyah dan di luar dugaan dokter Teguh menjawab, "Saya nggak pernah periksa ke dokter kalau sakit. Apalagi minum obat. Paling manggil tukang pijet terus minum jamu. Kalau kebanyakan minum obat kan nggak baik juga." Bingo. Aku melongo sejenak. Dan kemudian berteriak, "Dokter curang, gitu nyuruh orang sakit ke dokter dan harus minum obat sementara dokter sendiri nggak mau." Seperti biasa dokter Teguh hanya tersenyum simpul. Dan itulah pertemuan terakhirku dengan beliau. Karena sejak saat itu, jika di rumah, dan aku sakit, aku pasti menolak untuk dibawa ke dokter. Melainkan aku memilih untuk dibawa ke mbah dukun pijet dulu alias mbah Marni. Jika sudah merasa baikan ya aku nggak mau dibawa ke dokter. Jadi di sini alasan ku kenapa memilih dukun instead of dokter karena mbah dukun terbukti mampu menyembuhkan diri sendiri sementara dokter perlu pergi ke mbah dukun untuk menyembuhkan dirinya. Jadi mana yang lebih hebat hayo? Oh ya sekedar berbagi resep terkait penyakit kecetit akibat saraf yang tidak pada tempatnya. - daging tanpa lemak dan tanpa tulang - jamur kuping - perasan air jahe - air Rebus semua bahan di atas dan minum airnya. Itu akan membantu alira66n darah yang terhambat akibat saraf yang tidak pada tempatnya itu. Sehingga saraf pun akan kembali ke tempat semula dan otomatis rasa sakitnya akan hilang. Selamat mencoba. Resep itu asli obat herbal turunan dari nenek moyang ibu ku. Aku tidak bercanda mengenai resep tersebut.