Hidup seperti Kelomang
Tentang Kelomang, sebelum menuliskan ini di sini, Ia sudah lebih dahulu dihantarkan dalam sebuah story ig milikku berbunyi "hidup kadang seperti ini, berjuang dari dan untuk diri sendiri". Quote itu berlatar video singkat Kelomang berwarna hijau sedang berjalan sesukanya. Kadang mendekat ke bibir laut, lalu tetiba bergerak menjauh dari laut. Tak ada kata Kelomang dalam quote story sebab aku ketika menuliskannya pun tak kepikiran tentang nama hewan tersebut. Aku sekadar merasa seperti melihat diriku sendiri dalam diri Kelomang itu. Kelomang muncul ketika seorang teman tetiba mengomentari storyku dan berkata "hidup seperti kelomang".
Quote itu bukan tanpa alasan. Melihat Kelomang itu berjalan seakan menjadi cerminan diriku. Aku yang berjuang dari diri sendiri entah karena pikiran, harapan, mimpi, angan-angan. Pada akhirnya aku menyadari bahwa perjuangan dari diri sendiri itu terutama untuk diriku sendiri. Seberapa kuat aku bertahan, sekuat itu pula aku bisa bertahan untuk diri sendiri. Seperti aku meyakini bahwa besar kecilnya suatu persoalan akan berbeda antara satu orang dengan lainnya. Tergantung cara pandang dan terima seseorang terhadap persoalan tersebut. Dan tentu saja dengan tetap membuka mata pada berbagai variabel penyerta di masing-masing orang. Persoalan yang sama dihadapkan pada orang berbeda, boleh jadi memiliki takaran (sulit/mudah) berbeda.
Lantas dari video Kelomang di atas aku kembali seperti melihat diriku. Kelomang itu seumpama aku berada dalam lingkungan dengan ritme yang lebih cepat melebihi ritme hidupku. Lelah berpacu dengan kecepatan sekitar, lalu harus pasrah tersapu ombak hahahah. Tapi setelah itu bangkit lagi dong. Hanya saja aku ingin tetap memilih ritme yang membuat diriku nyaman dan tak kehilangan diri sendiri. Kelomang pun kupikir seperti itu.
Oia... ngomong-ngomong soal cepat atau lambat, aku berkali-kali merasa *ah sudahlah*, atas orang-orang yang memaksakan kecepatannya pada orang lain bahkan pada hal-hal yang bisa dibawa santai hihihih. Dan yah ini aku. Kalau sudah seperti ini, aku kadang merasa seperti anak kura-kura yang dipaksa lari secepat kelinci.
Balik lagi ke Kelomang. Setelah searching aku baru tau kalau ternyata cangkang Kelomang tidak ada sejak lahir. Ini berbeda dengan keong. Kelomang pun bisa gonta ganti cangkang mengikuti ukuran tubuhnya. Dan ajaibnya mereka bisa memakai sampah seperti tutup botol dll sebagai cangkangnya selain menggunakan cangkang bekas siput. Hidup Kelomang sama halnya manusia, kadang bahkan seringkali tidak baik-baik saja. Lagi, tak jarang tubuh kelomang dijadikan mainan.
Palu, Jumat 3 Maret 2023












