Membangun Keluarga Samara
Ramadhan atau bulan puasa sebentar lagi akan tiba. Dan keluarga merupakan salah satu pesan utama di bulan puasa. Pesan yang Allah sampaikan dari zaman ke zaman untuk keluarga, bahwa keluarga adalah suatu kebersamaan yang harus terus dijalin. Bukan merupakan kebersamaan di dunia saja, tapi juga diharapkan kita semuanya akan berkumpul lagi di akhirat. Bukan hanya rumah tangga dunia, tapi rumah tangga surga.
Allah dalam bulan puasa itu mengirimkan banyak pesan. Dan salah satu pesan utamanya adalah keluarga. Terlebih selama 2 tahun ini kita dilanda pandemi, pasti semakin terasa bahwa pesan utamanya itu adalah keluarga. Ketika kita duduk bersama suami/istri, duduk bersama putra-putri pada saat istimewa yaitu berbuka, terlebih sahur, sebenarnya Allah ingin memberikan pesan kepada setiap kita baik suami ataupun istri juga putra-putri tentang pentingnya peran keluarga.
Dalam setiap peradaban yang mampu dibangun dalam sejarah manusia ini, kalau kita cermati, selalu hadir peran-peran keluarga. Dan benar, keluarganya samara. Keluarga sakinah, yaitu tenang; mawaddah yaitu cinta, bahagia; dan rahmah yaitu penuh kasih sayang. Seluruh kebutuhan jiwa dan raganya terpenuhi di dalam rumah, di dalam keluarga, sehingga senantiasa berpikir dan mampu melahirkan perubahan besar dengan cara yang paling sederhana.
Pernikahan adalah bagian penting dari agama. Bahkan Rasulullah SAW menyebutkannya separuh dari agama. Sebuah tujuan pernikahan hendaknya ialah ibadah. Jadi semata-mata bukan hanya merubah status kita dari single. Tetapi juga harus dikuatkan bahwa melakukan pernikahan adalah melaksanakan keyakinan agama, dan semua yang dilakukan tentunya harus berdasarkan agama. Pernikahan harus dijadikan ibadah. Bukan sekadar kebiasaan. Bukan sekadar kepuasan. Bukan sekadar kebahagiaan biasa. Sehingga seluruh yang terkait dengan rumah tangga/keluarga itu harus berdasar agama.
Semua kehidupan kita berumah tangga itu ibadah dan dakwah. Artinya, kebersamaan kita di dalam rumah tangga itu menjadi kebersamaan yang menghadirkan kebaikan bagi diri kita, juga lingkungan kita. Keberpaduan kita, yaitu suami, istri, dan nanti putra-putri itu bukan biasa-biasa saja, bukan bersenda gurau semata, melainkan ibadah dan dakwah yang mendatangkan kebaikan untuk semuanya.
Ibadah dalam agama kita bukan hanya ibadah maghdah seperti sholat, puasa, zakat, dan haji saja. Tapi juga ada ibadah ghairu maghdah, ada ibadah umum, bahkan seluruh aktivitas kita yang kecil dan sederhana pun bisa menjadi ibadah. Dalam agama kita, penting bagi kita berjuang, berupaya untuk menjadikan keluarga kita samara, yang akhirnya nyata bahwa rumah tangga itu ibadah dan dakwah. Kita harus membuka dada lebih lebar, membuka mata lebih luas bahwa Allah meminta dan mempersiapkan setiap diri kita ini untuk menjadi sosok yang berpengaruh manfaat dan kebaikan dari mulai keluarga, tetangga, bangsa, negara, bahkan dunia, dimana kita hidup di atasnya.
Karena menikah adalah bagian dari agama, tentunya tidak berjalan dengan indah-indah saja. Tapi juga tidak sepi dari ujian dan cobaan. Hal itu sudah pasti dan suatu keniscayaan. Allah memberikan kegembiraan, dan Allah juga memberikan ujian yang biasanya kita sikapi dengan kesedihan. Ujian atau kesedihan itu bisa kita lewati dengan tenang dan aman dengan melihat kembali apa yang kita niatkan, yaitu tentu karena untuk mengharapkan ridhonya Allah semata. Ketika kita sama-sama merenungkan bahwa niat awal adalah mengharapkan ridho Allah, maka Allah akan memberikan ketenangan kepada kita untuk menemukan segala macam solusi. Tentu niat ikhlas inilah yang harus terus diperbarui dan berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Allah melalui ibadah yaumi.
Kenapa ada ujian, ada hal berat dalam pernikahan?
Alasannya karena nikah bagi kita itu ibadah. Dan karena ibadah itulah Allah mengatakan, “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Jangan mengira kalian akan masuk surga begitu saja dengan berdzikir sebagai seorang mukmin dan beribadah tapi belum datang kepada kamu ujian, ujian yang menimpa orang-orang yang beriman sebelum kamu.
Istri/suami adalah karunia terbaik Allah SWT yang harus disyukuri. Hal ini harus menjadi tekad, keyakinan kuat dan harus menjadi prinsip bagi seorang mukmin. Bahwa tidak ada satu pun yang terjadi bahkan daun yang jatuh dari pohon di gelapnya malam, tidaklah terjadi melainkan atas kehendak dan kuasa Allah SWT. Termasuk sosok istri/suami yang ada di samping atau di hadapan kita, Allah pilihkan untuk menjadi teman dan bagian dalam kehidupan kita di dunia akhirat yang harus disyukuri. Kalau syukur yang menjadi sikap kita, pertama sadar bahwa hal ini adalah pemberian dan karunia terbaik dari Allah SWT, maka meski pasangan kita sederhana atau biasa saja, tapi dengan syukur, akan cukup untuk membuat kita tenang dan bahagia. Tapi ketika kita tidak bersyukur dan menyadari bahwa pasangan kita itu kiriman dan pilihan terbaik Allah SWT untuk kita, maka sehebat, sebaik, secerdas, se-sholih/sholihah apapun ia, tetap saja tidak akan membuat kita tenang dan bahagia.
Istri/suami adalah juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Amanah yang dulu menjadi amanah kedua orang tuanya, dengan akad nikah, suami mengambil alih amanah itu. Dan hal itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak. Jika kita baik dan amanah, maka istri dan putra-putri itu akan menjadi kebaikan dan kenikmatan untuk kita dunia akhirat serta menambah bahagia dan sempurnanya nikmat Allah SWT.
Istri/suami adalah manusia biasa yang sarat kelebihan namun tidak sepi kekurangan. Seiring dengan waktu, kita akan semakin memahami pasangan kita. Jadi sebaiknya kita tidak hanya menuntut yang baik saja tanpa mempertimbangkan kekurangan yang ada. Suami/istri kita itu manusia biasa. Manusia yang Allah SWT berikan banyak kelebihan bahkan diberikan kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia ialah satu-satunya makhluk yang diberikan amanah sekaligus kemampuan mengelola bumi dan membangun peradaban. Tapi ingat, jangan lupa bahwa manusia, termasuk pasangan kita, adalah makhluk yang tak pernah sepi dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini juga merupakan kunci samara. Dengan kita memiliki pandangan yang seimbang ini, kita akan siap menerima kelebihan pasangan kita, bahkan menjadikannya guru dan tauladan kita. Ketika menemukan kekurangannya bahkan hal yang mengecewakan, kita tidak akan berhenti mencintainya, tidak akan putus menyayanginya. Kita tahu bahwa dia memang manusia dan sebagaimana dia punya kekurangan serta kesalahan, kita pun mempunyai kekurangan dan kesalahan yang lainnya. Bahkan bisa jadi kita memiliki kesalahan atau kekurangan yang lebih mengerikan. Jadi kita harus siap dengan kemanusiaannya yang hakiki.
Maka sudah seharusnya kita terus belajar mengasah empati ketika kita memutuskan untuk menikah, bahkan akan lebih baik jika dilatih jauh sebelumnya. Supaya setiap laki-laki memiliki empati untuk memudahkan istri memperoleh ridhanya. Dan sebaliknya, supaya setiap perempuan berempati, untuk memudahkan pertanggung-jawaban laki-laki yang kelak menjadi pemimpinnya.
Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzuriyyatinaa qurrota a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa.
“Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)
ditulis dengan hati menjelang Ramadhan 1443 H
-Giriani Ayu Sabilla-














