Jemputlah dia dengan sebaik-baik ketaqwaan. Sebagaimana dia menunggumu dengan sebaik-baik penjagaan
Mushonnifun Faiz Sugihartanto, 2020

seen from United States
seen from El Salvador
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Egypt
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Sweden

seen from United States

seen from Sweden
seen from United States
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from Canada

seen from Singapore

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
Jemputlah dia dengan sebaik-baik ketaqwaan. Sebagaimana dia menunggumu dengan sebaik-baik penjagaan
Mushonnifun Faiz Sugihartanto, 2020
Memahami Fiqih Munakahat, Ilmu Pernikahan dalam Islam
Assalamualaikum wr.wb
Bismillahirrahmanirrahim, Sahabat Fillah, perasaan cinta seorang laki-laki kepada perempuan dan begitu pula sebaliknya merupakan perasaan manusiawi yang bersumber dari fitrah manusia.
Islam adalah agama fitrah, sehingga tidak membelenggu perasaan cinta manusia kepada lawan jenis. Akan tetapi islam memerintah manusia untuk menjaga perasaan cinta itu, merawat dan melindunginya dari segala perbuatan yang kotor dan hina. Oleh karena itu, islam menetapkan institusi pernikahan untuk memelihara kesucian cinta dua anak manusia yang berlawanan jenis sesuai dengan apa yang di ajarkan Rasulullah.
Nabi SAW Bersabda :
"Nikah adalah sunahku maka barang siapa mencintaiku maka ikuti sunahku." Dalam sebuah riwayat "Siapa orang yang membenci nikah maka dia bukan dari golongan-ku."
Kita semua telah tahu bahwa melaksanakan setiap perintah Allah pasti memberikan sejumlah pahala. Begitu juga dalam pernikahan. Allah memberikan pahala dua jenis manusia yang diikat dalam tali pernikahan bagaikan pakaian yang melekat pada tubuh pemakainya.
Untuk lebih jelasnya mari simak penjelasan dibawah ini ya Sahabat Fillah😊
Pengertian Pernikahan
Secara Bahasa atau istilah Pernikahan adalah suatu peristiwa atau momen sakral dimana dua orang manusia yang berlawanan jenis membuat suatu janji suci untuk bisa hidup berdampingan sampai ajal menjemput dan memisahkan mereka.
Tujuan Pernikahan
Terjadinya suatu pernikahan yang ditandai dengan adanya ijab dan qabul memiliki beberapa tujuan. Beberapa tujuan dari pernikahan berdasarkan Al-Quran dan Hadist, yaitu:
1. Melaksanakan Perintah Allah
Dalam Islam, Dengan melaksanakan perintah Allah, maka umat Muslim akan mendapatkan pahala sekaligus kebahagiaan. Kebahagiaan ini menyangkut semua hal termasuk rezeki, sehingga bagi Umat Muslim yang sudah menikah tak perlu khawatir tentang rezeki. Tujuan pernikahan untuk melaksanakan perintah Allah terkandung di dalam Al-Quran Surah An-Nur ayat 32
2. Melaksanakan Sunah Rasul
Dengan melaksanakan sunah Rasul, maka seorang hamba dapat terhindar dari perbuatan zina. Tidak hanya itu, seorang yang menikah juga mendapatkan pahala karena sudah melaksanakan sunah Rasul. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan istrinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para sahabat keheranan) lalu bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan mendapat pahala?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala’ (HR. Bukhari dan Muslim).”
3. Mencegah dari Perbuatan Zina
Seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang bahwa dengan menikah berarti sama halnya menjaga kehormatan diri sendiri, sehingga kita bisa untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama Islam. Selain itu, suatu pernikahan bisa membuat diri kita bisa menjaga pandangan dan terhindar dari perbuatan zina, sehingga kita bisa menjalani ibadah pernikahan lebih baik.
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).”
4. Menyempurnakan Separuh Agama
Terlaksananya pernikahan berarti sama halnya dengan menyempurnakan separuh agama Islam. Dengan kata lain, menikah bisa menambah pahala seorang hamba. Dalam hal ini, menyempurnakan agama bisa diartikan sebagai menjaga kemaluan dan perutnya. Seperti yang diungkapkan oleh para ulama bahwa pada umumnya rusaknya suatu agama seseorang sering berasal dari kemaluan dan perutnya.
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya. (HR. Al-Baihaqi).”
5. Mendapatkan Keturunan
Setiap umat Muslim yang melakukan pernikahan pasti memiliki tujuan untuk memiliki keturunan dengan harapan dapat menjadi penerus keluarga. Memiliki keturunan akan menambah kebahagiaan bagi rumah tangga yang sedang dibangun. Selain itu, memiliki keturunan bisa menjadi bekal pahala untuk suami istri di kemudian hari.
Syarat Sah Pernikahan dalam Islam
Berikut di antaranya:
1. Calon Pengantin Beragama Islam
Syarat sah pernikahan pertama adalah calon pengantin, baik itu laki-laki atau perempuan harus beragama Islam. Apabila salah satu calon mempelai belum beragama Islam, maka pernikahan tidak akan sah. Oleh sebab itu, jika salah satu calon mempelai belum beragama Islam, ia harus beragama Islam terlebih dahulu.
2. Mengetahui Wali Akad Nikah Bagi Perempuan
Wali akad dalam proses pernikahan ini harus ada karena jika berarti pernikahan menjadi tidak sah. Dalam agama Islam, untuk memilih wali sudah ada aturannya, sehingga tidak boleh sembarangan memilih wali akad nikah. Ayah kandung adalah wali nikah utama bagi mempelai perempuan. Jika, ayah kandung dari perempuan sudah meninggal dunia, maka calon pengantin perempuan dapat diwalikan oleh kakek, saudara laki-laki seayah seibu, , paman, dan seterusnya yang sesuai dengan urutan nasab.
Wali akad nikah tidak boleh seoang perempuan dan harus seorang laki-laki. Hal ini sesuai dengan hadist:
Dari Abu Hurairah ia berkata, bersabda Rasulullah SAW bahwa perempuan tidak boleh menikahkan (menjadi wali) terhadap perempuan dan tidak boleh menikahkan dirinya.” (HR. ad-Daruqutni dan Ibnu Majah).
Apabila dari keturunan nasab tidak ada yang bisa menjadi wali, maka bisa digantikan dengan wali hakim sebagai syarat sah pernikahan.
3. Bukan Mahram
Pernikahan akan dinyatakan tidak sah, jika kedua mempelai merupakan mahram. Dengan kata lain, pernikahan dapat dilakukan dengan bukan mahram. Dalam hal ini, bukan mahram merupakan tanda bahwa pernikahan dapat dilakukan karena tidak ada penghalangya.
Selain itu, bagi calon mempelai harus mencari jejak dari pasangannya, apakah semasa kecil diberikan oleh ASI dari ibu yang sama atau tidak. Jika, diberikan oleh ASI dari ibu yang sama maka hal itu termasuk ke dalam mahram, sehingga pernikahan tidak bisa dilakukan.
4. Sedang Tidak Melakukan Ibadah Haji atau Ihram
Para ulama melarang jika sedang melaksanakan ibadah haji atau ihram untuk melakukan pernikahan. Para ulama menyatakan hal ini berdasarkan seorang ulama bermazhab Syafi’I yang terkandung di dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib. Di dalam kitab itu disebut bahwa salah satu larangan haji adalah tidak boleh melaksanakan akad nikah atau wali dalam pernikahan:
“Kedelapan (dari sepuluh perkara yang dilarang ketika ihram) yaitu akad nikah. Akad nikah diharamkan bagi orang yang sedang ihram, bagi dirinya maupun bagi orang lain (menjadi wali).”
5. Dilakukan Atas Dasar Cinta bukan Karena Paksaan
Apabila pernikahan terjadi karena adanya paksaan, maka pernikahan itu bisa saja dinyatakan tidak sah. Dengan kata lain, suatu proses pernikahan harus berdasarkan keinginan dari calon pengantin laki-laki atau calon pengantin perempuan.
Rukun Nikah dalam Islam
Di dalam Islam, rukun pernikahan terdiri dari 5, yaitu:
1. Adanya Calon Pengantin
Calon pengantin harus terdiri dari laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya dan calon pengantin perempuan tidak terhalang secara syari’i untuk menikah.
2. Adanya Wali
Bagi calon pengantin perempuan harus dihadiri oleh wali atau wali hakim.
3. Dihadiri Dua Orang Saksi
Ketika pernikahan berlangsung harus ada dua orang saksi yang adil atau yang memenuhi syarat sebagai saksi.
4. Diucapkan Ijab
Ijab diucapkan oleh wali dari calon pengantin perempuan atau yang menjadi wakilnya.
5. Diucapkan Qabul dari pengantin Laki-Laki
Calon pengantin laki-laki mengucapkan qabul di depan saksi dan wali dengan penuh keyakinan.
Demikianlah sahabat fillah bacaan artikel terkait munakahat atau pernikahan dalam islam. Mudah-mudahan bagi yang sudah menikah semoga mendapatkan keutamaan menikah tersebut. bagi yang belum menikah semoga Allah mempertemukan jodohnya. Aamiin. 😊
By:
Nama :Ade Susilawati (PS22G)
NIM : 22416273201422
IG: Adedesus 😊
RTM : Menumbuhkan Peka
Menjadi peka seperti laki-laki pada umumnya rasanya tidak akan cukup bahkan tidak akan mampu mencapai level standar kepekaan perempuan. Sekalipun kamu melakukan apapun, sebaik-baik apapun perjuanganmu, barangkali dimatanya kamu tetap saja kurang atau bahkan mungkin tidak peka. Maka kuncinya barangkali kamu harus jauh lebih mengamati, jauh lebih memperhatikan, serta jauh lebih meluaskan rasa sabar - MFS 2021
Bahkan Sayyidah Aisyah pun pernah membanting piring, karena dianggapnya Rasulullah tak peka pada perasaan kecemburuannya, padahal hanya sekedar mendapat hidangan yang beralaskan nampan dari istri yang lain. Bahkan sebaik-baik suami seperti Rasulullah pun masih mendapat ujian kepekaan dari istri-istrinya, lantas, apalagi kita?
Jika menggunakan sudut pandang logika laki-laki mungkin kita akan berkata “ngapain sih?” “Lho itu kan istri sah-nya Rasulullah, ya wajar dong ngirim makanan”. “Lha daripada dipecahin mending kan dimakan, eman dong makanannya”.
Namun alih-alih menggunakan logika laki-laki, Rasulullah hanya tersenyum, seraya berkata singkat pada para sahabat beliau yang hadir, “Maaf, Ibunda sedang cemburu”. Kebesaran hati beliau, kelembutan hati beliau dan bagaimana beliau berusaha peka terhadap istri-istrinya lah yang sudah seyogianya kita teladani.
Kelak ketika berumah tangga, sebagai lelaki kamu akan mendapati ‘makhluk ajaib’ yang bernama perempuan. Terkadang kita sudah membantu pekerjaan rumah dari memasak, mencucikan pakaian, lantas pergi berangkat kerja, lantas tiba-tiba ada pesan chat masuk, “kan ini pertama kali aku ditinggal di rumah buat kerja, kok nggak di tanyain, di khawatirin?” Naah lho salah lagi wkwk.
Ada juga saat dia lapar, kita tanyai lapar? Lantas dia menjawab iya, kemudian kita berkata “aku belikan makan ya?”. Dia menjawab iya. Kemudian tiba-tiba kita ter-distract pekerjaan atau sesuatu hingga akhirnya lupa, akhirnya dia malah tidak makan. Malamnya dia menggerutu karena siang tadi tidak diingatkan makan. Lho ? Padahal sudah diingatkan. Logika laki-laki pasti berkata “kan tinggal bilang, kan tinggal diingatkan lagi supaya dibelikan makan”, “apa susahnya sih sekedar bilang?”. Namun ternyata itu tidak berlaku di perasaan perempuan, yang jauh lebih menginginkan aksi nyata yang muncul dari hati tanpa harus diingatkan lagi dan lagi.
Menjalani rumah tangga muda memang memberikan banyak pelajaran. Saat ada seseroang yang engkau ambil tanggung jawabnya dari ayahnya, saat ada seseorang yang rela membersamaimu, yang rela keluar dari zona nyaman bersama keluarganya, yang bahkan ikhlash hidup sederhana bersamamu.
Pelajaran pertama, yang paling mengena, bahkan mungkin seumur hidup harus terus belajar entah mengapa menurutku adalah kepekaan. Kita, kaum laki-laki dilahirkan dengan logika, yang harus diperhalus dengan perasaan terutama saat memulai kehidupan rumah tangga. Hingga hasil perenungan dan muhasabah setiap malam membuahkan kesimpulan yang barangkali belum tentu benar, namun setidaknya meredakan diri yang seringkali merasa kurang peka, dan semoga meredakan para istri saat melihat lelaki yang kurang bahkan tidak peka menurut mereka.
“Tidak usah mengejar level peka perempuan, kamu akan kalah. Kamu hanya cukup melebihkan peka dengan caramu tersendiri. Lakukan dari hati, lakukan sebab kamu mencintainya karena Illahi rabbi.”
“Kalau dia nanti berkata kamu kurang peka, atau kamu tidak peka, bersabarlah. Bukankah sebaik-baik laki-laki adalah yang bersabar pada istrinya? Balas dengan senyuman, balas dengan kata maaf, jika kamu ingin emosi, tahan emosimu, langsung peluk dia untuk meredakannya. Atau coba ingat kebaikan-kebaikan yang ia berikan kepadamu. Bukankah dia sudah menjagamu dari segala perbuatan zina? Bukankah itu merupakan anugrah terbesar dariNya?”
“Berdoalah, selalu doakan ia tiada henti. Selalu kecup keningnya setiap hari, mohon doa kepadaNya agar kamu mendapat kebaikan dariNya dan dijauhkan olehNya dari segala keburukanNya. Bukankah doa tersebut doa terbaik yang diajarkan oelh Rasulullah?”
“Diam, Dengarkan, Tanggapi sesekali dengan positif. Ingat, perempuan adalah makhluk puluhan ribu kata. Dia butuh kamu mendengarkan. Tak usah menyalahkannya, namun cukup dirimu sendiri saja, sebagaimana Nabi Adam dan Siti Hawa berdoa, bahwa kami telah menganiaya diri kami sendiri, hal yang menunjukkan bahwa sekalipun sudah takdir Allah keduanya diturunkan ke bumi, beliau berdua tidak menyalahkanNya.
Surabaya, 22 - 2 - 2021
13.22
Fisik vs Visi
Karena fisik, seseorang bisa jatuh cinta dengan mudah pada pandangan pertama. Namun kian hari cinta itu bisa memudar, bahkan barangkali tak bertahan lama. Sebab fisik kelak bisa berubah, menjadi tak sesuai harapan. Sebab fisik pula, bukan penanda kesetiaan seseorang. Juga karena fisik, ada banyak pernikahan yang tak mampu bertahan.
Karena visi, seseorang bisa jatuh cinta berkali-kali pada sosok yang sama. Bahkan kian hari, cinta mereka makin erat. Menggenggam dan menguatkan satu sama lain. Sebab visi, adalah soal hati, pandangan hidup ke depan, bahkan perencanaan soal bagaimana kelak saat kembali menghadapNya. Yang tentu saja hal-hal seperti itu jauh lebih dibutuhkan untuk mengarungi kehidupan.
Karena Fisik, seorang lelaki bisa mudah terpesona. Pada manisnya senyuman, pada wajah yang meneduhkan, pada suara yang penuh kelembutan. Namun ketika waktu berjalan, yang pada akhirnya menghilangkan satu demi satu kecantikan, bisa jadi pesona itu pudar, dan cinta lelaki itu pun melebur bersama pudarnya pesona perempuan
Karena Fisik, seorang perempuan bisa dengan mudah merelakan hatinya. Pada tingginya badan, dada yang tegap, tampannya wajah, suara yang penuh keberanian. Namun kelak ketika waktu perlahan memunculkan kerutan di wajah, menggerogoti segala kekuatan, maka hati itu pun akan terbawa, pada pandangan lain yang jauh lebih menyejukkan.
Karena Visi, seorang lelaki takkan pernah bosan dalam mencintai pasangannya. Pada kecantikan pikirannya, ilmu yang terus direguknya, kelembutan akhlak dan tutur katanya, serta khidmah terhadap segala perintahnya. Sebab pada akhirnya, dalam perjuangannya menafkahi keluarganya, yang ia butuhkan adalah ketentraman di rumahnya, rumah yang betul betul menjadi rumah bagi jiwa dan raganya.
Karena Visi, seorang wanita akan terus setia pada suaminya. Tak peduli seberapa besar materi yang diberikannya, ia jauh lebih terpesona pada bagaimana kelamah-lembutan perilaku dan tutur katanya, bagaimana kepekaannya, bagaimana saat mampu menjadi pendengar yang baik atas segala keluh kesahnya, dan bagaimana ia menatap masa depan dengan penuh perjuangan dan keikhlasan. Sebab pada akhirnya, jalan ia menuju surga ada pada ridha suamiNya.
Jika kelak kamu mencari seseorang, maka carilah karena visi-nya. Karena visi yang takkan pernah pudar seiring waktu berjalan, Sebab pada akhirnya, nilai-nilai yang tertanam dalam hatinya itu jauh lebih dibutuhkan untuk hubungan yang panjang, yang abadi hingga kelak di surgaNya.
Malang, 9 September 2020, 06.12 Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Pernah, Nanti
Pernah ada masa, saat perjalananmu dan perjalanannya mengarah ke arah yang tak sama, namun sebenarnya memiliki tujuan yang sama.
Pernah ada masa, saat tujuanmu dan tujuannya berbeda, namun tak disangka ada titik temu di antara perbedaan yang menganga
Pernah ada masa, saat kamu dan dirinya tak mampu mendengar doa satu sama lain, namun bermunajat ke arah yang sama
Sekarang adalah masa mengukir asa bersama, berbicara dengan perlahan namun penuh pemaknaan, sembari mensejajarkan perasaan
Sekarang adalah masa mulai mengubah titik temu, menjadi garis yang menyatukan satu titik dengan titik lain, agar mampu berkompromi dengan perebedaan
Sekarang adalah masa, menyelaraskan doa agar didengar olehNya, agar berkah senantiasa membersama
Nanti akan tiba waktunya, menyatukan perjalanan di satu jalan dengan tujuan yang sama
Nanti akan tiba saat titik temu yang tak sengaja menjadi titik balik tujuanmu agar bisa senada
Nanti akan tiba, saat doamu dan doanya disatukan olehNya, dalam mahligai mitsaqan ghalidha
Saling Mendoakan Dalam Kebaikan Malang, 9 Juli 2020 | Mushonnifun Faiz Sugihartanto
RTM: Menumbuhkan Kepercayaan
Ada yang mudah, ada yang susah.
Ada yang butuh waktu, ada yang bahkan tak berpikir panjang, namun ada yang butuh berjuta pertimbangan,
Ada yang barangkali bermula dari satu, dua, bahkan berpuluh penolakan, namun ada pula yang bermula dari sebuah penerimaan.
Ada yang memilih untuk mengungkapkan dalam perkataan, ada yang memilih untuk beraksi dalam tindakan.
Namun sejauh ini, yang aku percaya, keduanya pasti memuarakannya dalam doa-doa yang dipanjatkan.
Satu pelajaran penting dalam kehidupan berumah tangga yang masih berusia dini ini adalah tentang kepercayaan kita satu sama lain terhadap pasangan. Tidak ada yang bisa menjamin sekalipun kami pernah mendengar bahwa banyak pasangan yang sudah mengenal bertahun-tahun, bahkan memulainya dengan pacaran, namun tak sedikit yang berakhir dengan ketidakpercayaan satu sama lain.
Terlebih kami, yang barangkali baru mengenal secara intens pasca akad diucapkan. Rasa canggung dan malu bahkan hingga saat ini mungkin masih menghiasi, terlebih pada yang berjiwa introvert. Dari hal-hal kecil mengurus rumah tangga, menyapu, memasak, merapikan kamar, hal-hal yang seringkali kami lakukan bersama agar tumbuh kepercayaan diantara satu sama lain. Hingga hal-hal besar tentang visi, mimpi, tujuan besar yang dulu saat proses ta’aruf pernah didiskusikan dan dimusyawarahkan, tentu saja semua bermula dari kepercayaan satu sama lain yang harus senantiasa ditumbuhkan.
Sebagai seorang yang berjiwa ekstrovert, mungkin bagiku amat mudah mempercayainya, namun barangkali berbeda dengannya. Aku sudah banyak membaca sebelum menikah terkait psikologi perempuan, terlebih seseorang dengan kepribadian yang introvert, maka sejak saat itu aku beranggapan bahwa kelak sekalipun telah menggenggamnya dalam ikatan suci pernikahan, maka meyakinkannya serta mencintainya adalah perjuangan yang takkan pernah berhenti sepanjang kehidupan.
“Seorang lelaki mampu memenangkan perasaan perempuan dengan kesabarannya, sebagaimana seorang perempuan yang mampu memenangkan perasaan laki-laki dengan menghapus rasa malunya”
- Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta
Pesan di atas akan selalu menjadi pengingat agar pribadi ini menjadi pribadi yang sabar. Terlebih jika ingat kisah bagaimana Rasulullah SAW yang bersabar sekalipun Sayyidah Aisyah membanting piring di rumahnya, Umar bin Khottob yang bahkan hanya diam saat dimarahi istrinya, serta kisah para salafus-shalih dan para sahabat yang betapa luar biasa kesabaran untuk menghadapi istrinya. Belum termasuk kisah nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad yang ditakdirkan memiliki istri yang tidak mempercayai islam, seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Luth, rasa-rasanya ketika diri ini membandingkan seharusnya jauh lebih memperbanyak syukur.
Maka benar barangkali jika ada pepatah mengatakan bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Mahal mendapatkannya, butuh pengorbanan yang tak sedikit, butuh hati yang senantiasa diluaskan dan dilapangkan, butuh kesabaran yang senantiasa harus dimunajatkan agar tidak terbersit sedikit pun kata-kata bahkan sekedar perasaan suudzon terhadap sesama.
Kepercayaan pula yang katanya jika dikhianati akan menimbulkan luka yang mendalam, yang semoga kami berdua dan kita semua terhindar dari hal-hal seperti ini. Kepercayaan pula yang katanya saat seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, butuh waktu yang tak sedikit untuk sekedar memaafkan bahkan terkadang sulit untuk kembali menerima seperti sedia kala.
Menumbuhkan kepercayaan memang butuh perjuangan, terlebih bagi dua orang yang masih baru memulai kebersamaan dalam mahligai ikatan. Terlebih bagi seorang dengan dua kepribadian yang berbeda (extrovert - introvert) yang ditakdirkan olehNya bersatu dalam satu genggaman. Selalu niatkan untuk ibadah, selalu niatkan untuk menggapai ridhaNya.
Sebab barangkali, dalam perjuangan menumbuhkan kepercayaan, ada percikan-percikan pahala yang Dia hadirkan untuk ditampung sedikti demi sedikit. Ada lapis-lapis keberkahan, yang kian digali memang kian susah, namun di dalamnya ada harta karun yang menantinya. Ada serpihan-serpihan surga yang harus dirangkai bersama dan barangkali akan menjadi rangkaian yang utuh kala kepercaayan satu sama lain telah benar-benar utuh.
Sejenak rehat di tengah deadline yang mengejar
Malang, 27 Januari 2021 , 01.15 a.m.
Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Seseorang yang (benar-benar) Memperjuangkanmu
Kalau ada orang yang selalu terihat baik kepadamu, bisa jadi dia sedang mendekatimu. Entah mengapa barangkali kamu harus lebih sering menjaga hati saat berhadapan dengannya. Kamu tidak boleh memberikannya harapan lebih, sebab bisa jadi justru dia hanya bermain-main saja.
Kalau ada seorang yang selalu menghubungimu untuk sekedar basa basi, kamu pun harus membalas sekadarnya. Jangan berlebihan, hingga membuatnya memupuk perasaan yang bisa jadi akan menyusahkanmu ke depan saat kamu ternyata memutuskan untuk menolaknya.
Kalau ada orang yang selalu menolongmu, kamu pun harus menjaga diri dan hati. Sebab bisa jadi pertolongan-pertolongan itu yang nanti membuatmu memendam perasaan yang berlebih. Padahal dia tak lebih dari sekedar perpanjangan tanganNya untuk membantumu.
Kalau ada nanti orang yang mengajakmu pergi, kamu harus berani untuk menolaknya dan memberikan penegasan kepadanya. Sebab kamu diciptakan olehNya untuk menjaga diri, bukan untuk mudah berpergian dengan siapapun.
Kalau nanti ada orang yang menjanjikan banyak hal kepadamu, janganlah mudah percaya. Memang benar, semua berawal dari komitmen dan kepercayaan, namun dia tidak bisa benar-benar dikatakan serius sebelum meminta izin kepada yang berhak atasmu.
“Lalu kepada siapa aku harus percaya, ayah? Kepada siapa aku harus menerima?” seorang anak gadis yang beranjak dewasa bertanya kepada ayahnya yang sedang bersamanya. Ayah itu pun tersenyum, sambil melirik istrinya disampingnya, seraya mengedipkan matanya.
“Bunda, jawab lah pertanyaan anak gadis kita satu ini,” kata ayah sambil tersenyum.
“Kalau nanti ada orang yang seperti ayahmu dahulu saat meminta bunda. Ia akan memintamu baik-baik, menjaga kedekatan denganNya serta hubungan dengan keluarganya terutama ibunya, serta mau bekerja keras untuk menafkahi hidup keluarganya kelak. Sebab dia adalah seseorang yang benar-benar memperjuangkanmu.”
Malang, 6 Mei 2020 15.44 @faizunaa
Bakti Pertama Laki-Laki dan Cinta Pertama Perempuan
Karena salah satu pertimbangan tersulit saat kelak kamu memutuskan menikah, adalah kamu harus meninggalkan orang tua yang kamu cintai, sementara kamu takkan pernah merasa cukup waktu untuk mengabdi
Beberapa hari silam, usai melantunkan Al-Ma’tsurot pagi, aku menghabiskan waktu di kamar ibuku. Sembari bercerita apapun, mendengar ceritanya, sambil memijitinya yang masih terlihat lelah usai memasak untuk sahur kami sekeluarga. Sepertinya beliau sudah mengantuk, lantas kubiarkan saja beliau agar tertidur. Saat tidur itulah, aku melihat lamat-lamat wajahnya. Pancaran cahaya semangatnya tetap tak pernah padam walau sudah dimakan usia senja. Rambutnya pun sudah memutih, menandakan beliau semakin tua. Kerutan-kerutan di wajahnya yang semakin terlihat. Saat aku memijatnya pun, ibu terlihat jauh lebih kurus. Porsi makan ibu sudah tak sebanyak dulu lagi, sudah mulai melakukan pembatasan makanan ini itu, karena alasan kesehatan. Wajah itu, yang tanpa sadar membuat air mataku menetes.
Aku menggenggam tangannya, yang sudah tak sekuat dahulu lagi. Merasakan tangan yang pernah menimangku kala dahulu masih bayi, menggandengku saat masuk TK kali pertama, mencubitku karena kenakalan-kenakalan yang pernah aku perbuat, mengobatiku saat aku sakit, menyuapiku bahkan saat aku disibukkan dengan tugas sekolah yang tak sempat membuatku makan, serta banyak kebaikan-kebaikan lainnya yang pernah dilakukannya.
Bagi laki-laki, ibu tentu saja adalah bakti pertama yang harus dihormati. Dari ketulusannya, menjadi supporting system bagi ayah, mengasuh dan mengasih saat kita di rumah, sudah jauh lebih dari cukup menjadi alasan untuk memuliakan dan menghormati.
Maka jika nanti seorang lelaki telah beristri, barangkali di awal akan ada kecemburuan-kecemburuan sesaat yang akan hadir dari ibu yang telah membersamainya bertahun-tahun. Ibumu tahu dan mengerti akan hal itu, namun ketulusan cintanya lah yang membuatnya pada akhirnya merelakanmu. Bahkan memberikanmu pertimbangan saat kamu mendiskusikan sebuah nama dengannya.
Tapi justru Ibumu akan mengikis rasa cemburu dalam hatinya, dengan memilihkan orang yang terbaik untukmu. Sebab ia tahu, ketulusan cinta istrimu, kelak yang akan membuatnya ia tenang. Membuatmu mampu tetap berbakti walau tak lagi intens setiap hari seperti sebelumnya.
Mungkin pula ibumu yang kelak justru bisa berubah menjadi cerewet terhadap istrimu, bukan semata-mata membencinya, namun justru karena masih terlalu mencintaimu, menganggapmu seperti anak kecil yang dahulu masih harus disuapinya. Dan kamu kelak, bukanlah pemihak ke salah satu, namun engkaulah yang akan menjadi perantara di antara keduanya.
Tak mau mengganggu ibuku yang sedang tertidur pulas, aku pun beranjak ke ruang keluarga. Di sana aku melihat ayah dan adikku sedang bercakap-cakap. Seperti biasa adikku curhat masalah kuliahnya yang susah, masalah teman-temannya di organisasi yang aneh-aneh, hingga terkadang masalah sepele. Aku tersenyum melihatnya, sementara ayahku mencoba mendengarkan walau aku tahu beliau sambil terkantuk-kantuk mengingat semalam beliau lembur.
Pemandangan tersebut membuatku merenung, dan semakin yakin, bahwa ayah memang benar dalah cinta pertama anak-anak perempuannya. Ayah yang akan menjadi pundak tempatnya bersandar akan segala permasalahannya. Ayahnya yang menampung segala curhatan dan air matanya. Ayahnya pula yang kelak akan menyeleksi calon menantunya agar memastikan bahwa putrinya akan dibersamai dengan orang-orang yang tulus melindunginya.
Kelak di hari pernikahan anak perempuannya, ayah pula yang akan menggenggam tangan seorang laki-laki asing, menyiratkan tanggung jawabnya yang kini berpindah pada sosok yang baru saja dikenalnya. Di masa itu, ayah pasti akan terlihat berupaya tegar, walau sesungguhnya ia ingin menumpahkan segala air matanya yang tertahan. Tidak, ia adalah seorang lelaki. Ia tak boleh menangis di depan putrinya. Ia harus tersenyum walau senyum itu terkesan dipaksakan.
Setelah membesarkanmu bertahun-tahun, melindungimu, menjadi sosok pengayom bagimu, kelak ayahmu lah yang justru menyerahkanmu kepada seorang laki-laki, yang barangkali belum teruji sama sekali komtimennya saat ia memintamu baik-baik.
Cinta ayahmu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, terlebih saat kamu berbahagia dengan laki-laki lain. Tapi ia tak pernah mempersoalkannya, dan bahkan ia siap menjadi tempat kembali jika laki-laki pilihanmu malah mencampakkanmu.
Di balik wajah tenangnya, sesungguhnya ia harap-harap cemas, mungkin ia akan lebih banyak diam beberapa hari setelah kamu dibersamai oleh laki-laki yang baru ia kenal. Tapi lambat laun, ia pasti akan merelakanmu, hanya satu kalimat darimu yang mampu menenangkannya, *Aku melihat sosok ayah pada suamiku”
Bagi setiap orang tua, melepas anak-anaknya ke jenjang pernikahan sudah tentu bukan hal yang mudah. Butuh pertimbangan, butuh istikharah panjang, bahkan perenungan berhari-hari. Tapi mereka sadar, bahwa cinta kepada anak-anaknya adalah cinta karena illahi. Dan merelakan mereka ke jenjang pernikahan, barangkali adalah salah satu bentuk makrifat, untuk menggapai cinta Illahi.
Malang, 29 April 2020 09.55