#Cerpen: Malam terakhir dengan semangkuk kembang tahu
Udara malam itu terasa lembut, berembus pelan membawa aroma tanah yang baru saja basah diguyur hujan sore. Lampu jalanan temaram, dan kedai kecil di pinggir trotoar terlihat hangat dengan cahaya kuningnya.
Senja menatap semangkuk kembang tahu di depannya, uapnya naik perlahan, memberi rasa tenang. "Aku selalu suka kembang tahu di tempat ini. Rasanya sederhana, tapi bikin nyaman." Awan tersenyum tipis, menatap semangkuk miliknya. "Iya, manisnya pas. Kayak... nggak berlebihan."
Obrolan mereka ringan, bercampur tawa kecil, tapi di sela-sela itu ada jeda panjang yang tak bisa mereka sembunyikan. Malam itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang belum dikatakan, sesuatu yang menggantung di udara seperti uap kembang tahu yang sebentar menghilang.
Setelah mangkuk-mangkuk itu habis, mereka melangkah ke mobil. Jalanan basah berkilau diterpa lampu, sementara wiper sesekali menyapu kaca depan. Hening menemani perjalanan.
"Senja..." suara Awan pecah pelan. "Hm?" Senja menoleh, menunggu lanjutan kalimatnya.
Awan menarik napas panjang. "Aku... sepertinya akan pindah ke kota lain. Mulai kesempatan baru disana. Dan aku tahu... aku nggak bisa LDR. Aku nggak bisa janji apa-apa kalau kita tetap kayak gini."
Kata-kata itu jatuh begitu saja, tapi langsung menampar hati Senja. Tangannya mengepal di pangkuan, matanya menatap jalanan. Ada ribuan kalimat yang ingin ia ucapkan: tentang betapa berat rasanya kehilangan, tentang perasaan yang sejak lama ia simpan. Tapi akhirnya yang keluar hanya senyum tipis yang nyaris pecah.
"Hm.. aku senang dengernya Wan. Semoga semuanya lancar."
Awan menoleh sekilas, menatap wajah yang ia tahu akan ia rindukan. "Terima kasih, Senja. Aku cuma... nggak mau ninggalin janji yang aku bahkan nggak tahu bisa di tepati atau nggak."
Mobil berhenti tepat depan rumah Senja. Hujan rintik-rintik kembali turun, mengetuk kaca pelan. Senja membuka pintu, tapi sebelum turun, ia menoleh sebentar. "Terima kasih ya, jaga diri baik-baik disana, Wan. Kejar semua yang kamu impikan" Awan menahan senyumnya, getir. "Iya, kamu juga. Sampai ketemu lagi."
Pintu tertutup. Langkah Senja menjauh. Awan hanya menatap punggung itu lewat kaca mobil, lalu akhirnya melajukan mobilnya.
Malam itu menjadi malam terakhir. Setelahnya, pesan-pesan berkurang, hingga akhirnya hilang sama sekali. Tak ada lagi kembang tahu hangat, tak ada lagi obrolan ringan yang penuh jeda. Yang tersisa hanyalah kenangan: bahwa pernah ada rasa yang tak sempat diucapkan, terkubur dalam malam, hilang bersama perjalanan pulang yang sunyi.
-omorfiadara
















