Keberpihakan
Pernah terpikirkan mengapa orang-orang lebih memilih untuk makan di restaurant mewah daripada di warung tegal dekat rumah? Tentu saja rasa dan fungsinya sama barangkali sama, tempat untuk melepas dahaga sekaligus menikmati hidangan yang tersedia. Bedanya hanya rasa kebanggaan saja bisa makan di restaurant mahal, sisanya sama saja.
Banyak orang yang memilih restaurant mewah karna merasa akan lebih terpandang jika berada disana, orang-orang yang berkemajuan, dan tempatnya orang-orang pintar dan kaya. Bukan kumpulan orang-orang lusuh dan miskin. Padahal yang diminumpun sama, segelas kopi, atau ayam goreng dengan saus, sama persis dengan orang-orang yang duduk di warung tegal.
Padahal seharusnya orang-orang yang berkemajuan dan pintar lebih cerdas lagi mempertanyakan kenapa ia harus memilih restaurant mewah daripada duduk diwarung tegal. Anehnya justru seringkali sekelompok mahasiswa berdiskusi tentang konsep bernegara, ekonomi kerakyatan, sampai menyusun program pengabdian masyarakat dengan asiknya di sebuah kafe. Padahal jika itu dilakukan di warung tegal, akan langsung bertemu bibi yang berasal dari pedalaman jawa yang merantau demi sesuap nasi, bertemu pengayuh becak yang semakin renta dan menurun penghasilannya karna tidak ada lagi mahasiswa yang sudi naik becak, atau pemulung yang seharian belum makan nasi, sedang biaya makan disebuah kafe bisa untuk membantu satu keluarga pemulung tersebut untuk makan.
Ada banyak yang dibantu dari sekedar duduk dan makan di warung tegal, ada banyak cerita di dalamnya serta ada banyak airmata yang sudah tertumpah disekitar sana. Bayangkan saja kita terus ribut tentang capres no. 1 atau no. 2 yang lebih baik. Tentang buruknya orang-orang yang golput. Tapi untuk mereka kita minim aksi.
Kadang jadi berpikir kalau orang-orang yang duduk di restaurant mewah tidak lebih mengerti tentang ekonomi kerakyatan daripada mereka yang sehari-hari makannya diwarung tegal. Orang-orang yang duduk di warung tegal mungkin saja secara teoritis tidak mengerti konsep bernegara, tetapi mereka lebih mengerti bagaimana bernegara itu seharusnya membantu sesama, ekonomi kerakyatan itu seharusnya membeli di warung tetangga dan warung kecil. Keberpihakan itu artinya mendahulukan golongan yang lemah dan ekonomi kebawah.













