Bumiputera Empowerment Requires Whole-of-nation Approach – Ahmad Zahid http://dlvr.it/TSYTl0
seen from Philippines

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Vietnam

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from United States

seen from Russia
Bumiputera Empowerment Requires Whole-of-nation Approach – Ahmad Zahid http://dlvr.it/TSYTl0
Wamenkop Dorong Koperasi Lampung Timur Akses Modal Murah LPDB
Lampung Timur, lampungkita.id – Pemerintah pusat terus memperkuat peran koperasi sebagai pilar utama ekonomi kerakyatan melalui transformasi digital dan kemudahan akses pembiayaan. Langkah ini ditegaskan dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Koperasi dan UKM RI, Farida Farichah, ke Koperasi Agro Mulyo Lestari di Desa Giri Mulyo, Lampung Timur, Senin (4/5/2026). Kunjungan tersebut bertujuan…
GEGER! Koperasi RSUD Suradadi Dinyatakan Wanprestasi, Sengketa Parkir Berpotensi ke Babak Hukum Baru
Beritalidik ( Slawi ) Polemik pengelolaan lahan parkir di RSUD Suradadi memasuki babak baru setelah pengadilan menyatakan pihak koperasi melakukan wanprestasi (ingkar janji). Kasus ini bermula dari Perjanjian Kerja Sama Sewa Menyewa Lahan Parkir di lingkungan RSUD Suradadi dengan Nomor 400.7/05.02/999/2024 dan Nomor 500.3/KOPKON554/V/2024 yang ditandatangani pada 27 Mei 2024. Baca juga…
Koperasi Jadi Kekuatan Ekonomi Baru Masyarakat
SEANTERONEWS.com – Pemerintah terus mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui revitalisasi peran koperasi. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar organisasi usaha, melainkan alat perjuangan bagi masyarakat untuk tumbuh lebih mandiri, berdaya saing, dan menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Pernyataan tersebut disampaikan Ferry saat meninjau dan…
Rekrutmen Massal Koperasi Desa Dorong Ekonomi Daerah
Jakarta, lampungkita.id – Pemerintah membuka rekrutmen besar untuk memperkuat pengelolaan koperasi desa dan kampung nelayan. Program ini menjadi strategi mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas. Sebanyak 35.476 posisi disiapkan melalui Panitia Seleksi Nasional. Peserta terpilih akan bekerja sebagai pegawai BUMN dengan skema kontrak dua tahun. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli…
Satreskrim Ungkap Skandal Keuangan Koperasi, Kerugian Tembus Rp1,3 Miliar
PRABUMULIH, TOPIKBERITA.CO – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Prabumulih membongkar kasus penggelapan dalam jabatan di lingkungan Koperasi Sehati Makmur Abadi. Kasus ini menyeret seorang kepala cabang yang mengakibatkan kerugian koperasi mencapai Rp1,37 miliar. Kasus tersebut mencuat setelah Koperasi Sehati Makmur Abadi melayangkan laporan resmi ke Polres Prabumulih dengan nomor…
Koperasi Dari Desa Untuk Meningkatkan Ekonomi Umat
SURAU.CO – Koperasi adalah wajah ekonomi gotong royong bangsa. Ia lahir dari kesadaran bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada modal besar, tetapi pada persatuan dan kebersamaan. Di tengah derasnya arus kapitalisme global yang menempatkan keuntungan di atas nilai-nilai kemanusiaan, koperasi menjadi oase yang menghadirkan keadilan sosial, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan bersama. Namun,…
Bagian Kedua: Tur Kampung Susun Kunir
Mandiri dan (Upaya) Berdikari.
Oleh Mutiara Indah Puspita Sari
28 Mei 2025 saya berkesempatan untuk mengikuti acara tur Kampung Susun Kunir di Pademangan, Jakarta Utara. Kampung ini merupakan salah satu area yang dibangun kembali dalam rangka mengembalikan otonomi warga dalam kontestasi ruang spasial kota kita tercinta, Jakarta. Kalimat barusan itu subjektif, tapi kenyataannya memang kota selalu akan menjadi lahan dan hasil pertarungan ideologi.
Berdikari—“berdiri dengan kaki sendiri”—tidak semudah diksi harfiahnya. Untuk bisa berdikari, dibutuhkan banyak advokasi dan dukungan politis. Kampung susun kunir adalah hasil dari advokasi bersamaan dengan 4 kampung susun lainnya: Kampung Akuarium, Bukit Duri, Bayam, dan Gembrong. Kampung-kampung ini ditata dengan dua konsep yang baru/dijaga: 1) konsep “Kampung” dan 2) konsep “Koperasi”.
Menurut kalian apakah konsep kampung itu? KBBI mengenal kampung sebagai nomina (kata benda) juga sebagai verba (kata kerja). Mengenal kampung dalam visualisasi ruang, maka diartikan sebagai himpunan rumah yang merupakan bagian kota; neighborhood—kalau mau cuma-cuma menggunakan bahasa inggris. Kampung adalah suatu area yang menghimpun dan membentuk komunitas berlandaskan wilayah jurisdiksi tertentu. Adapun “mengkampung” sebagai kata kerja diartikan sebagai melalukan segala sesuatu secara kolektif/komunal, karena makna kampung sendiri terletak pada gambaran himpunannya.
Maka dengan ide awal tersebut, lahirlah konsep “kampung di kota” yang baru. Kampung yang kolektif… Bentuk ruang yang mampu “mengkampung”. Mengkampung dan pada akhirnya berotonomi. A special and spatial word: regaining autonomy. Berdikari.
Dari dokumentasi-dokumentasi berikut bisa kalian lihat hasil mengkampung di kota. Ide tersebut kemudian telah melebar, tidak hanya mengkampung tapi juga mengorganisir diri sendiri—pertanyaannya, dengan cara apa? Koperasi.
Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, sejatinya menginginkan negara ini mengamalkan sistem koperasi. Kembali ke tulisan bagian pertama, koperasi diharapkan mampu menjadi soko guru perekonomian yang mampu melibatkan seluruh anggota masyarakat dan hasilnya dipakai untuk membantu diri sendiri. Dalam bentuk kampung susun yang dijalankan dengan sistem koperasi, tanah sekarang menjadi aset bersama dan bangunan menjadi aset yang terus dikelola dan diurus secara kolektif.
Sebagai lulusan arsitektur dan mahasiswa tata kota, ada satu hal yang terbekas dan kerap kali saya renungi selepas mendengarkan proses jadinya kampung susun kunir secara fisik maupun ideologi. Sebagai dua hal tersebut, ada dua hal yang saya sadari 1) bahwa user akan selalu tau yang terbaik dan adil bagi mereka dan 2) sebagai teknokrat, kita harus paham ada bias-bias yang kita miliki dalam merencanakan, maka kembali lagi ke poin pertama. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kamil Muhammad dan tim selaku arsitek kala itu adalah: “Siapa yang akan menghuni kamar mana?”
Dalam ruang sejatinya memang ada hierarki, kita seringkali tidak sadar bahwa hierarki ini pun bermakna jauh lebih besar daripada hanya hierarki. Di sini, saya menyadari bahwa hidup tidak hanya teknis namun juga sosial. Pertanyaan yang kita taruh di belakang karena kita mengedepankan pembangunan dahulu, kemudian datang kembali dan jadi refleksi ontologis. Ternyata manusia kerap kali lupa akan pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini hingga saatnya datang dan memaksa kita berdiskusi satu sama lain, mencoba mencari jawaban yang paling enak dan paling adil, sekalipun kita hanya bisa berusaha.
Peserta tur Kampung Susun Kunir saat itu banyak yang menjawab “utamakan difabel”. Tentu, selain itu? “Utamakan umur”. Benar dan boleh, tapi kurang tepat. Jawaban yang dipakai dalam sistem penentuan kamar di Kampung Susun Kunir ternyata melalui penotalan kedatangan/kontribusi warga Kampung Kunir dalam proses advokasi pembangunan kembali kampung mereka. Ketika mereka mendapatkan advokasi dan ikut dalam rangkaian proses panjang memperjuangkan rumah susun ini, warga mencatat kedatangan masing-masing keluarga tiap kali adanya pertemuan. Ternyata, hal tersebut berbuah manis bagi siapapun yang telah berupaya dalam proses. Selepas dari menetapkan warga yang difabel maupun lansia ke kamar yang mudah diakses, seperti di lantai 1 dan sebagainya, kamar-kamar ditetapkan dari rekor kehadiran warga dan menghasilkan pembagian ruang di Kampung Susun Kunir hunian vertikal 4 lantai dengan basement seperti seadanya kini :-)