Nostalgia Kereta Uap di Jawa Tengah
Adakah yang masih ingat dengan lagu anak-anak "Naik Kereta" yang banyak terdengar pada tahun 90an?
Naik kereta api ... tut ... tut ... tut
Siapa hendak turut?
Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
Bukan sekedar lagu, tapi juga mencerminkan kondisi dari kereta api pada masa itu yang tidak digerakkan listrik, namun batu bara dan kayu. Penggunaan tungku, dengan batu bara atau kayu yang dibakar sebagai sumber tenaga memang menjadi komponen penting dari kereta uap.
Asap berwarna hitam kecoklatan membumbung tinggi, sekaligus dengan suara tut.. tut.. Menjadi ciri khas kereta yang juga menjadi bagian dari masa lalu Indonesia.
Tentu lain lagi ceritanya dengan zaman sekarang yang teknologinya sudah sangat maju. Sekarang, lagu dangdut "Kereta Malam" yang banyak dinyanyikan di televisi lebih familiar di telinga. Disesuaikan dengan liriknya yang berbunyi jugi.. jagi.. jug.. Kereta listrik sekarang memang berbunyi seperti itu, sudah bukan tut.. tut.. Lagu dan bunyi itu memang sudah menjadi sejarah yang terlupakan, khususnya pada generasi abad ke-20.
* Lokomotif kereta uap dan identitasnya
Bagi saya yang lahir di awal tahun 90an, lagu "Naik Kereta" sudah terdengar sejak TK. Namun pada masa itu saja, keberadaan kereta api uap telah mulai tersingkir dan digantikan oleh kereta bertenaga listrik yang lebih modern. Selain mendengar lagu itu saat TK, pengalaman kali pertama saya naik kereta juga bukan dengan kereta uap. Tahun 90an memang zamannya pembangunan, hal itu jelas tertulis saat Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto
Perkembangan teknologi memang bukan hal yang buruk, tapi selalu ada romantisme dalam benak saya akan kereta uap. Suara tut.. tut.. Bentuknya yang gagah, sampai kursi gerbongnya yang terbuat dari kayu. Hal biasa di masa lampau yang hampir punah.
Ya, hampir punah. Bukan berarti sudah punah. Masih ada secercah harapan bagi saya dan kita semua untuk merasakan dan mengenang kembali masa itu. Ada tiga tempat di Jawa Tengah yang dapat membawa kita kembali ke masa itu, lengkap dengan rasa nostalgianya, antara lain:
Solo, Jawa Tengah
Jika Anda memperhatikan, ketika memasuki Jalan Slamet Riyadi di Solo, tepatnya sebelum stasiun Purwosari, dapat dijumpai dua lempengan besi dengan jarak berdekatan. Di sebagian negara Eropa, jalur seperti itu masih dipakai oleh Trem. Sedangkan di Solo, jalur besi itu dilewati oleh kereta uap kebanggaan Solo, Sepur Klutuk Jaladara.
*Ini bukan lokomotif kereta uap, tapi jalurnya seperti ini
Di Jawa, masyarakatnya biasa menyebut kereta api dengan kata "sepur." Awalnya saya kira itu adalah bahasa Jawa, tapi ternyata bukan. "Sepur" itu bukan bahasa Jawa, tapi diadaptasi dari bahasa Belanda Spoor yang berarti kereta api. Memang banyak bahasa Belanda yang diserap ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Unik memang.
Sepur Jaladara merupakan inisiatif dari Menteri Perhubungan, Gubernur Jawa Tengah, dan pakde Jokowi sebagai walikota Solo saat itu. Peresmiannya sendiri dimulai 27 September 2009. Sekarang, Sepur Jaladara menjadi kereta wisata yang menjadi salah satu objek wisata andalan Solo.
* Penampakan Sepur Jaladara. Gambar dari http://www.surakarta.go.id
Sekedar info, Sepur Jaladara dijalankan dengan lokomotif uap C 1218, seri TR 144 dan TR 16. Lokomotif kereta uap ini adalah buatan Jerman tahun 1896, diambil langsung dari Museum Ambarawa. Kalau mau sekedar lihat, kereta ini sering lewat pada Sabtu dan Minggu pagi, sekitar pukul 06:00. Pagi memang. Suaranya menjadi ciri khas kehadirannya. Setahu saya, kereta ini juga digunakan untuk membawa kayu dan hasil alam, selain penumpang tentunya.
Rutenya mulai dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Kota Sangkrah, berjarak kurang lebih 5,6 km. Jalurnya terletak persis di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Dalam perjalanannya, kereta ini berhenti di beberapa perhentian populer, seperti Kampung Batik Laweyan, Loji Gandrung, Keraton, dan beberapa tempat lainnya. Soal durasi waktu transitnya silakan bertanya ke pak masinis, saya sendiri tidak tahu. Lebih baik bertanya daripada ditinggal kan?
Kalau mau merasakan sensasi naik Sepur Jaladara, saran saya adalah bersama rombongan. Kenapa? Biaya operasional sekali jalannya "lumayan," Rp 3.250.000. Bukan tanpa alasan, bahan bakarnya saja lima meter kubik kayu jati. Ada juga harga paket, tapi ya itu, tetap perlu rombongan. Saya pribadi juga belum sempat nyoba karena harganya itu. Info lebih lanjut, lihat saja www.surakarta.go.id.
Museum Kereta Api Ambarawa, Ambarawa, Jawa Tengah
Tempat nostalgia berikutnya terletak di Ambarawa, Jawa Tengah, tepatnya di Museum Kereta Api Ambarawa. Untuk mencapainya, tidak ada kendaraan langsung menuju Museum Ambarawa. Anda perlu untuk mencapai Ambarawa dahulu, dilanjutkan dengan naik bus menuju Monumen Palagan. Dari monumen itu, cukup jalan kaki sebentar saja dan sampailah di Museum Ambarawa.
Memasuki area museum, rasa nostalgia itu pun sudah terasa. Tidak seperti museum pada umumnya yang menampilkan barang koleksi di balik tembok, Museum Ambarawa adalah bekas stasiun yang dahulu aktif. Singkat kata, Museum Ambarawa adalah bekas stasiun yang menjadi museum kereta api.
* Suasana Museum Ambarawa yang masih otentik
Sentuhan kolonialis Belanda sangat terlihat pada setiap detailnya. Mulai dari lantainya, loket tiketnya, atapnya, bangkunya, jamnya, semuanya pokoknya. Beberapa kereta uap yang dahulu dipakai, terlihat dipajang di salah satu sisi halaman Museum Ambarawa. Tampak juga rel kereta api dengan gerbang kayu khas zaman dulu, beserta lokomotifnya. Semuanya begitu otentik dan asli. Tidak heran kalau museum ini menjadi spot buat foto kawinan ala ala Eropa.
* Interior di dalam loket Museum Ambarawa. Jadoel :)
Saat saya datang tahun 2013 lalu, museum sedang direnovasi. Walaupun sedang renovasi, tapi sejumlah pengunjung masih datang dan menikmati keindahan museum ini. Saya sendiri tidak tahu apakah renovasinya sudah selesai atau belum, tapi siapapun tetap boleh datang dan masuk kedalamnya.
Museum yang dahulu dibangun pada 21 Mei 1873 ini juga punya koleksi kereta uap bergerigi kebanggaan, salah satu dari tiga yang tersisa di dunia! Yaitu lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen, dan B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG. Identitas masing-masing lokomotif tertera jelas dari plat besi yang menempel di badannya. Jadi tidak cuma orang saja yang punya KTP, lokomotif juga punya.
* Koleksi lokomotif kereta uap di Museum Ambarawa
Infonya, ada kereta wisata dengan rute Ambarawa-Bedono PP, dan lori wisata Ambarawa-Tuntang PP. Jasa operasinya dikenal dengan nama Ambarawa Railway Mountain Tour. Harga karcis kereta wisatanya Rp 50.000/orang, sedangkan lori Rp 10.000/orang. Saya pribadi belum pernah mencoba menaikinya karena museum sedang renovasi saat itu, jadi tidak bisa cerita banyak.
* Masih mirip seperti stasiun kereta yang masih aktif!
Museum Ambarawa menjadi salah satu tempat nostalgia kereta uap yang sangat recommended. Mulai dari suasana, detail, sampai keotentikannya. Datang ke sini adalah perlu, khususnya bila suka kereta api uap. Bagi yang suka foto dan upload ke social media, museum ini juga beda dan sangat keren. Kasih hastag Belanda atau Eropa juga orang percaya :)
* Kursi di gerbong yang terbuat dari kayu
Pabrik Gula Gondang Winangoen, Klaten, Jawa Tengah
Tempat terakhir ini adalah apa yang biasa orang sebut dengan "hidden gem," atau permata tersembunyi. Setidaknya inilah tempat tersembunyi versi saya untuk penikmat kereta uap. Saya akan mengajak Anda untuk bernostalgia dan membayangkan kondisi di masa lalu.
Melihat dari namanya, Pabrik Gula Gondang Winangoen memang kurang nyambung dengan kereta. Jangan salah, dibelakangnya masih ada rel kereta yang dahulu aktif dipakai untuk membawa batang tebu dan hasil bumi lainnya. Sekarang relnya sudah tidak dilalui kereta komersil, tapi masih dipakai untuk membawa batang tebu ke pabrik gula didepannya.
Pabrik Gula Gondang Winangoen terletak di KM 25 Klaten, diantara jalur Solo-Yogyakarta. Bagi yang asli Yogyakarta, Solo, atau Klaten tentu tahu. Lihat saja pabrik paling besar yang berdiri diantara rumah-rumah warga, itulah Pabrik Gula Gondang Winangoen. Pabrik ini masih aktif berfungsi, sekaligus sebagai rest area yang sering dilewati begitu saja. Sering luput karena orang jarang memperhatikan.
Pabrik Gula Gondang Winangoen juga memiliki Museum Gula yang menyimpan sejarah panjang industri gula Indonesia, khususnya sejarah Pabrik Gula Gondang Winangoen. Anda juga bisa menemukan koleksi kereta uap dipelatarannya, sampai koleksi mesin tik kuno di dalam museumnya. Masuk dan ikut tur di dalam pabrik gula langsung juga bisa. Masih asli semuanya.
* Isi Museum Gula Gondang Winangoen
* Lokomotif "Simbah" yang dipajang. Umurnya mbah banget ini
Kembali ke soal kereta uap, tempat yang saya bilang ini terletak di belakang Pabrik Gula Gondang Winangoen. Sekedar info, rumah dan suasana di film ini juga menjadi latar dari film Soegija karya yang disutradarai Garin Nugroho. Semua bangunannya juga seakan tidak terkena perubahan, semuanya masih sama seperti dulu. Sekeping sejarah yang tidak termakan oleh waktu.
Cukup jalan kaki ke arah belakang pabrik dari parkiran. Sesampai di sisi belakang, rasanya seakan tidak percaya kalau Indonesia sudah merdeka. Jalan lengang dengan barisan rumah khas tempo dulu menghiasi setiap langkah. Sesekali lewat penghuninya menggunakan sepeda onthel, tanpa iring-iringan motor atau mobil. Jalan itu bukan jalan umum, tapi seperti jalan komplek perumahan. Damai sekali.
* Warna foto dibuat seakan foto jadoel
Tepat di seberang rumah tempo dulu itu terdapat tanah lapang dengan rel kereta. Tampak sebuah lokomotif dengan gerbong kayu dibelakangnya. Kelihatannya itu adalah kereta wisata yang akan membawa pengunjungnya bernostalgia.
* Kondektur jadi-jadian :))
Dibelakangnya tampak rangka besi yang dahulunya menjadi gerbong kereta. Tersisa besi yang sudah menguning dan berkarat.
Waktu memang terus berjalan. Apa yang sudah kuno ditinggalkan, semuanya demi kemajuan. Pikiran pun menerawang, membayangkan kesibukan yang dulu terjadi di tempat ini.