Wkkk.... imezing... Apakah ini yang dinamakan tilang berbasis syariah? Kira kira apakah doa keduanya sama? Hmmm... Ai wander... 😏 #salingmendoakan #tilangpolisi #ketilang #lagiapes #berdoa #berdoabersama https://www.instagram.com/p/Bv_SATfHG4z/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=rkvl9dubjgtv
Mumpung ingatan saya masih segar, meskipun belajar buat UTS Literasi Informasi dan TOEFL besok pagi belum kelar, yang penting saya cerita dulu. Karena hari ini bakal membekas diingatan saya.
Ceritanya hari ini Indra Widjaya sama Benazio Rizki ke Semarang. *prokprokprok* Iya, saya bahagia, akhirnya bisa ketemu Mas Indra dan pertama kalinya ketemu Abang Bena. Kenapa saya panggil Indra, Mas, sedangkan Bena, Abang? Karena Mas Indra lebih pantas dipanggil Mas, mungkin karena orang Jawa. Dan Abang Bena yang bukan orang Jawa lebih enak dipanggil Abang...... Wagu? Gak masuk? Oke, bodo amat. Lanjut.
Sebelum ke Gramedia Pandanaran, tempat di mana Talkshow mereka berlangsung, saya janjian sama adiknya temen saya, yang sekaligus temennya adik saya, serta adik kelas saya pas SD, namanya Mutiara. Kita janjian buat ke Gramed dari jauh-jauh hari, saya juga sudah berniat untuk bolos mata kuliah Perpustakaan Umum dan Khusus sejak tahu kalau Mas Indra dan Abang Bena ke Semarang tanggal 22 April 2014. Iya, saya bela-belain bolos demi ketemu mereka.
Saya dan Muti berangkat dari Tembalang dengan bahagia dan semangat yang menggebu. Tapi sialnya di lampu merah jalan Pandanaran (sebelum sampai Gramed) kita kena tilang gara-gara marka. Iya, emang apes. Udah kena tilang gitu, eh, kebetulan polisinya bukan orang Jawa (keiatan dari wajah dan logatnya, sebut saja dia Cabe Ijo), dia ngomong nyolot banget ke saya, saya nyolot gantian dianya marah. Pakai ngata-ngatain saya "mahasiswa macam apa kamu?" terus dengan sombong dia juga bilang "Saya ini polisi, saya pake seragam dinas gini, kalau ngomong sama yang lebih tua yang sopan dong". Batin saya terus kalau situ polisi kenapa? situ duluan yang nyolot, yang disalahin sini. Huft. Singkat cerita si Cabe Ijo yang bentak-bentak saya ini disuruh minggir sama Polong (temennya si Cabe Ijo) mungkin takut si Cabe Ijo makin anarki marah-marahnya sama saya. Yang bikin mikir si Cabe Ijo ini nyolot minta saya titipin duit, sedangkan si Polong jelas-jelas gak mau dikasih duit tapi nyuruh saya sidang. Saya iyain aja ketimbang telat ke Gramednya. Setelah itu saya sama Muti sampai di Gramed tujuan dengan mood berantakan gara-gara si Cabe Ijo. Bener-bener merusak hari ini si Cabe Ijo itu.
Setelah setengah jam lebih nunggu di dalem Gramed, akhirnya mulai juga acara Talkshownya. Oke, di awal acara ini sesungguhnya saya masih rada badmood, tapi begitu Mas Indra dan Abang Bena datang, semua berubah, seakan-akan kribonya mereka menghipnotis saya untuk melupakan si Cabe Ijo tadi. Hahaha.
(Ini Mas Indra dan Abang Bena yang baru dateng dan baru duduk)
Sekitar jam 4, masuklah mereka berdua dengan sorak-sorai histeris para cewek-cewek, saya sama Muti stay cool duduk di kursi paling depan. Begitu datang, Duo Kribo ini langsung bikin video "Semarang mana suaranya" buat diupload di instagram (bisa dilihat di instagramnya Bang Bena atau Mas Indra). Talkshow dibuka dengan Mbak-mbak Gramed yang jadi MC menyambut Mas Indra dana Abang Bena. Sepanjang acara talkshow ada cewek-cewek yang histeris, sibuk membidik Mas Indra dan Bang Bena, bahkan yang sibuk selfie pun ada. Saya sama Muti? Tetep masih stay cool di bangku paling depan.
Kalau tahun yang dulu Mas Indra bawain Payphone sama Ku Menunggu di acara Talkshownya, tahun ini setelah gagal kedua kalinya Mas Indra membawakan lagu Treasure-nya Bruno Mars dan Sewindu-nya Tulus yang dibawakan duet sama Abang Bena. Yang saya sesalkan adalah backsound lagunya, kenapa Mas Indra gak main gitar kayak yang pas pertama kali talkshow di Semarang. Karena nonton Mas Indra tanpa gitarnya itu rasanya kurang lengkap. (video Treasure dan Sewindu menyusul)
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, penandatanganan buku serta foto bareng. Tahun ini mekanisme buat minta tanda tangan dan foto barengnya beda banget, dan saya agak kecewa. Kenapa? Iya, memang yang prioritas yang beli buku di hari itu dengan menunjukkan struk, saya udah tahu itu. Yang bikin saya kecewa itu bukunya harus ditumpuk, dikumpulin semuanya jadi satu, ditandatanganin, terus dipanggil namanya yang punya buku. Kepuasannya jadi kurang karena kita gak bisa minta tanda tangan secara langsung, dan gak ada tulisan nama kita dari Mas Indra ataupun Bang Bena di buku itu. Beda sama tahun yang sebelumnya.
Tapi overall, bolos kuliah dan kena tilangnya terbayar karena bisa foto bareng sama Mas Indra dan Bang Bena. Dan bisa ngingetin mereka juga secara langsung kalau besok tanggal 23 April itu #WorldBookDay. Terima kasih Mas dan Abang. See you next time, Duo Kribo! Selamat Hari Buku Internasional juga! Semoga kalau ada talkshow lagi Mas Indra-nya udah jadi Sarjana Hukum. Aamiiin.