Ara masih ingat betul, sore itu di halaman sekolah, ada sosok jangkung, tegap dan berkulit hitam manis, yang sedang mengarahkan seluruh teman seangkatannya agar berbaris rapi dalam rangka persiapan upacara Tujuh Belas Agustus. Saat itu dirinya memimpin barisan anak kelas 10-D, berdiri dalam jarak terdekat dengan sosok tersebut karena posisi barisan kelasnya yang tepat berada di tengah.
Pukul 16.05, ketika Ia berpura-pura mengalihkan pandangannya ke jam tangan, saat mata mereka bertemu. Ara tidak akan pernah lupa deretan angka itu, dan degup kencang yang mengiringi salah-tingkahnya.
Entah apa yang kemudian membuat pikiran Ara terkunci pada sosok tersebut, sejak saat itu.
“It just happened, Mik.” Ungkapnya pada Mikha sahabatnya di satu sore saat mereka masih duduk di bangku kuliah, enam tahun kemudian.
Pukul 17.05, lima tahun sejak sore itu, ketika Ara menunggu sosok itu menghampirinya di salah satu lorong gedung kampus karena dirinya menjanjikan oleh-oleh kecil dari Hokkaido, tempat ia dan keluarganya baru berlibur bersama. Saat itu Ara sendiri surprised, karena bisa-bisanya ia -akhirnya- menjadi teman mengobrol dengan sosok tersebut.
Pukul 17.45, ketika Ara melambaikan tangan seraya tertawa, membalas tawa sosok tersebut lantaran oleh-oleh Ara yang cukup konyol, kipas angin mini. Mereka lantas berpisah jalan karena masing-masing sudah punya agenda lain.
Satu tahun sejak sore di lorong kampus berlalu, sampai sore yang lain datang lagi. Meski dalam jedanya tidak ada komunikasi berarti di antara keduanya.
Ara baru pulang kerja magang di Singapura ketika mereka bertemu lagi, yang sebenarnya entah bagaimana caranya mereka kembali berkomunikasi saat itu. Ternyata sosok itu juga punya oleh-oleh untuk Ara.
18.15 Ketika Ara melirik handphone di tengah tawa mereka di lorong gedung yang sama, sesaat setelah membuka oleh-oleh masing-masing. Dalam layar tertera pesan singkat dari pacar baru Ara.
Ara masing ingat betul, malam itu, ia bukan langsung menyusul pacar barunya untuk makan bersama. Ia sengaja berjalan kaki menuju kost-nya untuk menenangkan pikiran dan degup jantungnya yang tidak tenang. Seharusnya chemistry tidak pernah berbohong, kan? Tapi mengapa yang Ara pilih akhirnya orang lain?
Seminggu sebelum kelulusannya, Ara mengajak sosok tersebut bertemu, hendak mengatakan semuanya.
15.30, ditemani matahari sore yang cukup cerah, sosok ini datang. Tapi Ara bungkam, merasa enggan, dan akhirnya memilih untuk menikmati perbincangan tersebut dengan topik yang ringan saja dan diakhiri terimakasih, berterimakasih pada sosok itu karena akhirnya bisa menjadi teman mengobrol.
Di hari kelulusan Ara, sosok ini sama sekali tidak ada bahkan memberi selamat pun tidak. Tapi ketika Ara sedang bersama dengan pacarnya serta teman-teman satu fakultas pacarnya, sosok itu berjalan bersama teman-temannya melewati mereka.
Tidak ada yang lebih menggelitik dari tiap pertemuan tanpa sengaja yang dirancang Tuhan.
Sebelas tahun berlalu, lalu satu tahun pula sejak terakhir mereka bertemu di acara pernikahan seorang teman SMA. Saat itu mereka sempat bertegur sapa sejenak, dan sepulangnya dari acara pernikahan tersebut, Ara cuma bisa melamun. Rasa yang sama masih tersimpan rapi dalam hati Ara. Tidak ada ambisi untuk memiliki, untuk mengatur, untuk mengejar. Ara cuma ingin mendengar sosok itu bercerita, mungkin mereka bisa tertawa bersama lagi. Kini ketika dirinya sudah sendiri, gantian sosok itu yang sudah bersama orang lain.
Berbulan-bulan tanpa kabar, dan sosok itu kini duduk tidak jauh dari kursinya. Siapa yang bisa menyangka kalau proyek interior kali ini menangani kantor milik keluarga dari sosok yang sudah mengunci pikiran Ara sejak lama.
Pukul 13.15, ketika Ara lagi-lagi berpura-pura mengalihkan pandangannya ke jam tangan, saat sosok itu menoleh ke arah tempat ia duduk.
“Nanti Bapak bisa langsung berinteraksi dengan Ara ya setelah meeting ini, sebagai Project Manager desain kantor Bapak.” Ujar Bu Giani selaku Creative Director dari studio interior tempat Ara bekerja, kepada pria paruh baya yang duduk di seberang Ara dan Bu Giani.
Ara tersenyum seraya menganggukan kepala. “Nanti saya akan mengurus semua desain dan pekerjaan lapangan dengan kontraktor juga Pak. Reportnya saya akan kabari setiap sepuluh hari kerja dengan tiga kali revisi maksimal.”
“Ya, itu bisa diatur.. nanti Bu Ara juga kalau ada apa-apa kontak saja putra saya, yang duduk di sebelah sana itu. Regha?”
Dan sosok itu kali ini betul-betul menoleh ke arah Ara. Kedua pasang mata itu bertemu juga akhirnya. “Ya Pa?”
“Nanti kalau Bu Ara ada apa-apa, bisa langsung ke kamu saja ya. Papa percaya lah kalau masih muda lebih tau selera client suka sama kantor konsultan seperti apa.”
Ada jeda singkat sampai akhirnya Regha mengangguk dan tersenyum canggung pada Ara seraya mengiyakan permintaan Ayahnya.
Terngiang kembali kata-kata Mikha di tengah bulir air mata yang mengalir pelan di pipi Ara. Ara menghela nafasnya berat, sembari mensyukuri hari Sabtu yang akan tiba dalam hitungan jam, karena artinya Ia tidak perlu ke kantor dengan mata bengkak besok.
Satu email tanpa jawaban.
Satu tatapan canggung dalam cerita yang menggantung.
Ara menyeruput cokelat panasnya lagi untuk menenangkan diri, sembari memandang lalu lintas Bendungan Hilir yang masih macet. Dan di tengah keramaian Goodkoep saat ini, Ara masih bersyukur karena Mas Tito sebagai barista langganannya selalu me-reserve posisi duduk favorit Ara, sehingga ia punya tempat ‘pulang’ sejenak untuk menyembuhkan ngilu-nya siang tadi.
“But why...” Gumamnya lagi, mungkin untuk yang kesekian ratus kali, mempertanyakan Regha yang ia kira bisa lebih gentleman daripada kenyataan. Hampir semua teman laki-laki Ara mengatakan mereka akan membalas email semacam itu untuk menghargai perempuan yang menulisnya. Mereka yang tidak menjawab akan membalas email justru bilang akan mengajak bertemu dan berterima kasih, bahkan bila perempuan tersebut tidak menjadi pilihan mereka.
“Ya gue harus menghargai keberanian perempuan itu dong..” Jawab Teuku, salah satu sahabat Ara.
Tapi Regha, ternyata bukan sosok yang selama ini Ara bayangkan. Awalnya Ara pikir, sepulangnya Regha dari Amerika, sosok tersebut akan berinisiatif untuk membahas email Ara dengan mengajaknya bertemu langsung. Bukan bertemu dengan agenda romantisme, melainkan sekedar menjawab email Ara. Pikiran lain Ara, mungkin Regha akan membalas emailnya sepulang ia dari Amerika. Atau, mungkin Regha akan menjelaskan saat mereka tidak sengaja bertemu.
Ternyata semua skenario itu hanyalah Regha dalam bayangan Ara. Regha dalam dunia nyata bukan sosok pria yang selama ini Ara bayangkan, ia cuma sekedar laki-laki yang belum mengerti bagaimana cara menghargai perempuan dengan jawaban tegas. Karena Ara sudah siap ditolak, dan ia tidak pernah mengharapkan penerimaan melainkan konfirmasi bahwa email itu benar-benar telah dibaca oleh Regha. Satu penolakan bahkan sudah lebih dari cukup untuk Ara bisa membalik halamannya.
“Ra, diamnya Regha juga bukannya bisa berarti penolakan?”
Tanya Mikha saat mereka terakhir bertemu di food court Plaza Senayan.
“Then it is already clear, Ra..”
“Well.. silent rejection sucks, Mik.. It hurts.”
“Still, it is an answer..”
“Emang enggak bisa banget nolak gue di depan muka or say it bluntly through email?”
“Apparently he couldn’t, Ra. Sekarang gini deh, tugas lo udah selesai. You’ve done your part. If universe make both of you meet, then let it be. If he really cares about you then you’ll get him talk to you first, if not then, it is a painful fact that he’s not into you..”
Satu lagi bulir air mata mengalir di pipi Ara.
Mungkin yang membuat Ara sesedih ini adalah keyakinannya yang luluh lantak lantaran sosok Regha jauh dari apa yang Ara percaya. Ternyata Regha memang se-ignorant itu, dan ternyata se-kekanakan itu untuk kemudian memperlakukan Ara dalam suasana penuh kecanggungan. Seolah mereka tidak pernah akrab dan saling kenal, seolah mereka baru kenal kemarin, bukan sebelas tahun yang lalu. Seolah momentum bertukar oleh-oleh beberapa tahun silam cuma terjadi dalam mimpi Ara. Pembatas buku itu rupanya hanya penanda bahwa pernah ada seorang Regha yang bisa peduli pada perempuan dengan cara yang sangat manis.
Why can't he see,
How blind can he be
Someday he'll see
That he was meant for me
Sayup-sayup terdengar sepenggal lagu “To know him is to love him” Amy Winehouse diperdengarkan melalui speaker Goedkoop. Ara tersenyum simpul, hatinya kian ngilu.
Dulu Ara percaya bahwa dibalik sikap tidak acuh Regha, tersimpan sosok yang ingin dimengerti dan didengarkan. Sesederhana itu, dan Ara pernah percaya bahwa cuma dirinya yang bisa mengerti Regha dengan segala kompleksitas yang dipendam laki-laki itu.
Namun pertanyaannya kini, ketika orang yang kita percaya bahkan tidak dapat menghargai usaha kita untuk mengerti dan memberikan kejujuran, apakah kepercayaan kita akan menjadi satu hal yang bermakna? Atau sekedar perasaan yang sia-sia?
Ara menenggak cokelat panasnya yang kini sudah mendingin, kemudian mengusap pelan pipinya dan menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu mengeluarkan notebook kecil dari tas kerjanya, lantas mencatat:
Bukan sekarang, dan mungkin juga tidak akan pernah ada nanti. Tapi kata sudah tertulis, dan bila telah terbaca semoga ia mengerti. Kini halaman telah berganti, dan aku akan memulai kembali.
Thank you, myself, for being persistent and honest.
For being brave and patient.
For being understanding and strong enough.
These too shall pass, Ra. :)
Gadis dua puluh enam tahun itu kini kembali belajar melepaskan dan mengerti, bahwa tidak semua hal yang ia yakini akan ia dapatkan, dan bahwa ia memang seharusnya lebih menyayangi dirinya sendiri, dengan tidak mengemis rasa pada siapapun, meski orang tersebut sudah mengunci pikirannya.
Pukul 22.40, Ara melangkah keluar dari Goedkoop, pulang.