Hai tuan, Yang pernah hadir dalam relung Apa kabar? Tampaknya kamu sungguh bahagia kini. Tiada kenangan tentang kita, yang terekam jelas saat itu dikala aku masih belum tahu kata cinta dan tak kenal rasa luka. Aku pernah memandangmu kejauhan, Aku pernah menyebutmu masa depan dan aku pernah menjadi penakut untuk menujumu. Setiap kali mengenangmu selalu berakhir tanda tanya, Mengapa dulu aku memilih melihatmu dari kejauhan? Mengapa aku memilih jadi tiada untukmu? Mengapa waktu tak memberi peluang tentang kita? Setelah semua kata mengapa yang tak kutemukan jawab, aku memaksa paham bahwa kita tak dikisahkan untuk bersama. Aku dengan luka-luka ku yang belum temu obat dan kamu dengan bahagiamu. Setelah kisah yang tak berujung tentang kita. Aku terusik oleh sapamu, oleh kalimat yang mengisyaratkan bahwa kamu pernah menujuku namun memilih memandangku dari kejauhan. Aku tersenyum ternyata saat itu kita sejalan namun tak berani berpegangan tangan dan sama-sama memilih berputar menjauh. Menyesal, entalah. Aku hanya merenung, mengapa kisah silam itu diketahui dimasa kini, disaat aku dan kamu tak bisa lagi jadi kita, disaat kamu telah menggenggam tangan lain. Aku sedih tapi mungkin ini tentang kalimat klasik yang tak usah oleh waktu, kamu tahukan “Kita tak ditakdirkan bersama”. Berbahagialah,, Kamu yang pernah kusebut masa depan. Doakan saja aku agar bahagia sepertimu, sebab tak ada yang abadi termasuk luka. . #dyanastory #mediaberkarya #kenangan #perihalkamu #kisahsilam #semestapuisi #kumpulanaksara #story #trytobewriter








