Dialog diantara Rembulan yang Patah
Aku bisikkan padanya tentang angin yang merobek langit, Tentang bumi yang retak saat ‘dia’ pergi diam-diam. "Jika bukan untuk iman dan ibu yang rapuh," kata ku, "Mungkin aku sudah jadi debu yang hilang di sela waktu." Dia menggigil, tiba-tiba memelukku seperti takut aku cair. Air matanya jatuh, butiran kaca yang menyayat senyap. "Jangan kau ucap itu," suaranya bergetar di bahuku, "Tetaplah bernafas..." Sebuah doa yang tercekat di ujung duka. Aku terdiam, menyimpan ribuan kata yang terpelanting. Apakah derita harus diukur oleh air mata orang lain? Ataukah luka ini terlalu pekat untuk disentuh cahaya? Dia menangis untukku yang tak lagi tahu cara menangis. Sementara sunyi di dadaku menggurdi seperti hujan asam. Dua jiwa tersesat di perpustakaan bahasa yang tak tertulis. Dia mencoba menyelamatkan aku dari jurang yang dia tak pahami, Aku mencoba tak menjerit. Di sini, bahkan nafas pun terasa berdosa. @carantionreddd
















