Kita Sedang Patah.
Hai, Hati! Apa kabarmu? Masih kuatkah kau bertahan, memapah selubung duka? Akhir-akhir ini perjalanan kita rumit. Terhalang oleh banyaknya jerami yang menyimpan tumpukan duri. Tangis selalu berderai bagai hujan dibulan januari. Masih mampukah kau bersahabat dengan perih yang tak terperi?
Andai kau tak punya indera perasa. Andai kau tak melekat dengan jiwa. Mungkinkah kita dapat menjalani hidup dengan ‘baik-baik saja’?
Ketahuilah, Hati. Aku pun lelah lelap dalam sedu yang terus terisak. Aku taklagi kuat berlama-lama tenggelam dalam air mata yang beriak. Aku bahkan bosan berjalan dengan langkah yang terpincang-pincang.
Hidup memang tidak pernah semudah ketika kita menyalakan televisi. Hidup tidak pernah semanis kue ulangtahun yang semasa kecil sering kau cicipi.
Orang-orang yang berhati itu sedang giat meracuni kita dengan cacian. Tenang, Hati. Aku bersamamu. Walau mereka seringnya membuatku menjadi perempuan yang terlalu perasa. Yang meski tak berhenti tersenyum mengiringi hari, namun tak lantas meredakan tangis secara sembunyi-sembunyi. Walau mereka telah mengubahku menjadi seorang penipu. Berperan layaknya perempuan tangguh, padahal sebenarnya mudah runtuh.
Hati, tersungkur memang menyakitkan. Jatuh memang tak mengenakkan. Menjadi patah bukan yang kita inginkan. Namun kuatlah. Kita masih berbekal rengkuhan Tuhan. Ia didekat kita, tak pernah menjauh barang sebatas mata. Tangan-Nya sedang bekerja. Merekatkan kembali bagian-bagian yang terpisah. Tidakkah kita rindu dengan bahagia? Sabar, bahagia pasti menghampiri kita.
Aku dan Hati yang patah. 11:48 am. Friday, July 10. 2015













