Langkahmu Terkikis. Bayangku Habis.
Maaf. Karna rasa bukan aku yang beri. Namun, Tuhan yang mengirimi.
Jika kau menaruh hati, lantas aku tak juga memberi jalan untuk kau masuki.
Itu bukan bagian dari inginku. Itu bukan pilihan yang mengharuskanku memilih.
Saat ini, aku sedang membahagiakan hati dengan sosok lain yang senyumnya begitu meneduhkan.
Aku tidak bilang, senyummu tidak indah. Hanya saja, ketulusan yang kau tuturkan tak juga terbaca.
Tidak sepantasnya kita salahkan waktu, tidak juga hati, tidak kau, tidak pula aku.
Lantaran sesungguhnya segala rasa sudah ada yang menetapkan.
Oleh Yang Maha Membolak-balikkan hati setiap insan.
Jika kau mencintaiku, namun tidak bagiku. Itu rencana yang sudah Tuhan canangkan untuk kita. Aku ingin membalasnya, sungguh. Namun tiada daya yang tersisa, arah langkah ini tidak tertuju padamu.
Sekali lagi maaf.
Jalur kita mungkin saja berbeda sekarang. Namun nanti, siapa yang bisa menduga?
Rencana Tuhan tidak serupa dengan rencana yang biasa kita buat. Jelas tertulis diatas sebuah kertas, dapat terbaca, dapat ditentukan.
Rencana-Nya abu-abu, berkabut bahkan kadang hitam begitu pekat.
Tetap tebarkan senyummu padaku. Siapa tahu, senyum itulah yang mampu membawaku padamu.
Namun jika tidak juga aku menghampirimu. Itu berarti, garis kita memang tak pernah bisa dipertemukan.
Dan bila itu terjadi.
Percayalah. Saat ini, kau memang mencintaiku. Tapi nanti, kau akan mengambil kembali hatimu untuk kau tanamkan pada sebidang ruang yang lebih pantas.
Ruang dimana cintamu akan tumbuh, kemudian berbunga hingga menyesaki dada.
Teruslah berjalan. Walau langkah kita tidak beriringan. Walau bahu kita tidak bersisian. Walau aku tidak mengikutimu untuk bersua dengan temu.
Teruslah memacu waktu, sampai langkahmu terkikis, sampai bayangku habis, sampai punggungmu tak lagi bisa kuamati, sampai kau enggan menoleh walau hanya untuk memastikan apa aku ada dibelakangmu.
Akhir dari kisah Tuhan tidak ada yang tahu.
Bisa saja kisahmu berakhir jauh lebih manis dari yang pernah kau impikan.
Bisa saja Tuhan pertemukan kita pada sebuah persimpangan. Dalam keadaan sendiri untuk saling mengisi, atau dalam keadaan sama-sama sudah ditemani.
Siapa yang bisa menebak?
Setidaknya nanti. Ketika pertemuan itu terjadi. Tetaplah tersenyum untukku.
Rizki Adhilia
Dibalik bilik. 9:31 pm. Saturday. July 4. 2015.