Kau ciptakan perbedaan yang memecah saling terbelah padahal Kau adalah satu.
Ketahuilah, Tuhan. Jemari kami kini saling mengunci. Kami berjalan bersama walau tahu tuju takpernah serupa.
Kami bahagia, namun tidak utuh.
Kami saling menjaga, namun tidak merengkuh.
Beda ini bagai jemalin benang yang kusut. Cinta kami memang terhubung, namun takpernah sampai. Tidak benar-benar tergenggam.
Selalu ada kata tidak, harus diselingi kata namun, pasti terselip kata tidak pernah. Pada setiap kalimat yang harusnya menjadi indah dengan sempurna jika tanpa mereka.
Kami memang penipu. Akibat cinta yang diliputi drama berkepanjangan, kami jadi pandai memainkan peran.
Tersenyum saat bahu bersisian, padahal senyum hanyalah topeng peredam erang tangisan.
Tuhan. Kemana langkah kan membawa kami?
Iyakah genggaman manis kan segera terlepas dan melerai?
Jika terlerai, mampukah jemari ini membasuh airmata yang mengalir bagai anak sungai?
Sesungguhnya apa yang sedang kami tanam, hanya luka yang akan tertuai. Sesungguhnya senyum yang pernah kami toreh, hanya tangis yang nanti akan kami dengar setelahnya.
Kapan Kau sudahi kami, Tuhan? Sanggupkan jika aku dan dia telah mencapai ujung yang sudah Kau tentukan.
Rizki Adhilia.
11:11 am. Tuesday, June 23. 2015