Wangi daun bawang menyeruak dari arah dapur. Harum yang aku rindukan selama 2 bulan terakhir ini. Suasana yang seharusnya kunikmati setiap harinya dua bulan yang lalu. Rinduku seperti terbayar tuntas, tetapi juga memunculkan rindu-rindu yang lain.
Kesederhanaan yang selalu ditawarkan di tempat bernama rumah ini justru selalu memuaskanku atas semua hal, memberikan kelegaan yang entah datang darimana. Tanpa perlu melakukan apapun, hanya tidur, makan, dan kembali merantau sudah cukup asalkan dilakukan di sini.
Tetapi sore ini, aroma masakan rumah menyambut waktu berbuka justru memunculkan kenangan lain, memori yang ditinggalkan oleh rutinitas 2 bulan lalu. Aku ingat, ketika waktu menunjukkan pukul 16.00, kami mulai kelimpungan memasak untuk menu berbuka. Belum lagi jika bahan makanan ternyata habis, belum lagi jika masakan yang direncanakan gagal. Belum lagi kami harus menghidangkan makanan untuk 22 orang. Ribet... tapi rindu.
Anggap saja ini prolog lanjutan sebelum aku mulai menceritakan personal dari setiap orang.
Minggu-minggu awal sebenarnya tidak begitu kentara oleh kegiatan. Kegiatan kami ya, tura-turu berjadwal, sebagaimana mahasiwa sedang libur semester di rumah. Pagi buta saling membangunkan, baik untuk memasak sahur, mencuci, atau menyantap hidangan yang telah tersaji. Kemudian dilanjutkan dengan tidur berjamaah setelah sholat subuh. Bangun tidur kemudian untuk sekadar beberes halaman dan rumah, kemudian berbelanja untuk menu buka dan sahur kembali. Sementara, para lelaki mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain. Sungguh, seperti membina rumah tangga dalam skala besar ya *vinaalay*
Secara acak, aku juga merindukan suara-suara berisik kalian yang tengah malam belum juga tidur, justru memekikkan suara keras-keras karena obrolan kalian terhalang tembok penyekat tempat tidur para laki-laki dengan perempuan. Tapi ya gimana lagi, masih pengen ngobrol ya...
Mati lampu yang satu hari bisa 3x atau lebih, sudah seperti minum obat ya. Kejadian ‘ke-padam-an’ tiba-tiba yang tidak kenal waktu karena kita semua yang bandel menggunakan listrik melebihi kapasitas. Dan seringkali terjadi saat malam telah larut, menghasilkan jeritan-jeritan ketakutan dari macam-macam ruang, yang paling sering dari kamar mandi.
Tinggal bersama-sama membuatku juga hapal kebiasaan masing-masing dari kalian, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai dari pose-pose dan kebiasaan tidur yang aneh, pola makan, kebiasaan mandi, kemalasan, hobi, sifat jorok, sifat rajin, dan lain sebagainya.
Banyak hal yang aku rindukan, honestly.
Pertama membuka pintu kost-kost-an be like... “Aku dimana? Aku siapa? Kok sepi?...”