(via https://www.youtube.com/watch?v=wxaFq_bj484)

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from Puerto Rico

seen from Singapore
seen from United States
seen from Czechia

seen from Bulgaria

seen from Canada

seen from Bulgaria

seen from China
seen from China
seen from Bulgaria

seen from Bulgaria
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
(via https://www.youtube.com/watch?v=wxaFq_bj484)
Tertinggal?
Pernahkah kalian merasa tertinggal jauh dibanding teman-teman kalian yang lain?
What I am gonna write is a bit typical for the question.
Not a click-bait tho, just want to clear up something come up on my mind (or you can say, afirmasi, or embracing ma self may be wkwk)
Suka mikir gak sih, kenapa ada fase-fase tertentu dimana kita bener-bener ketinggalan sama temen-temen kita. Somehow, in a positive way, bolehlah berkhusnudzon, mungkin teman-teman kalian lebih gigih, lebih giat, lebih banyak doa, lebih banyak amal sedekahnya, so, you feel nothing to lose. Ada sisi positifnya, untuk orang yang gak take it for granted, they will pursue themselves buat doing more. But then, ketika proses ‘mencerna’ ‘ketidakadilan’ yang mereka alami tidak berlanjut, they will end up in stage of realizing. Yes, after that, still doing nothing. That’s the first case come up from my very first question.
Second, ada orang yang merasa tidak adil karena probably mengalami kondisi yang lebih sulit sehingga mengharuskan mereka untuk melakukan effort lebih untuk mencapai titik yang sama dengan orang lain, not even untuk mengungguli, just to be in the same ‘class’. With a lot of effort, mungkin ada sebagian pemikiran bahwa it’s not fair enough to be in the same condition while you’ve worked a lot more. This is the second condition.
But, hey guys, have you ever think about the ‘after-stage’ of that ‘ketidakadilan’ yang kalian pikirkan.
Honestly, recently, I’ve been realizing a lot of pattern, in this theme or others. I know that everything always has pattern. Then, what is the pattern of the topic I’ve given to you now? Simple.
Segala hal yang terjadi terhadap diri kita gak mungkin gak ada sebab akibatnya. Semakin berat yang dialami oleh seseorang berarti bahwa ia punya kapabilitas untuk menghadapi pun melewatinya. So, ketika fase orang berbeda-beda, it doesn’t mean that another one is always up to other, or vice versa. It is all about timing.
Nyadar gaksih?
Example, I have a lot of friends yang udah lulus kuliah dan dengan mudah memperoleh pekerjaan. Well, it’s not ‘dengan mudah’ yang diartikan secara eksplisit pada tulisan ini. ‘Dengan-mudah’ di sini bisa berarti bahwa they’ve made a lot of sacrifice during their past stage before. ‘Dengan mudah’ di sini bisa berarti bahwa mereka sudah melakukan sesuatu that you guys haven’t done when they have. ‘Dengan mudah’ yang bisa berarti mereka sudah mengalami kendala atau tantangan dari dulu, dari kuliah, sebelum kuliah, or etc. Or, they just as same as you. But, c’mon, jika semua orang memiliki timing atau durasi life cycle yang sama, there will not any peoplewho help you when you’re on the bottom. Cause, everybody are.
Second, I have a lot of friends yang udah lulus kuliah but haven’t get any proper job. It doesn’t mean that they’re not doing right. Again, it’s about time. Terlepas dari sebesar apa kebaikan dan pengorbanan yang ia lakukan. Apakah setara dengan mereka yang ‘dimudahkan’ atau tidak. We assume it all the same. Ceteris Paribus. Banyak banget yang berada di kondisi ini dan take this condition for granted. Most of them that they’re not lucky enough as other. Trust me, kondisi yang kalian alami di setiap fase itu gak boleh dilihat dari sisi presentnya saja, there’s always a possibility why it happen now in the future. If everybody acknowledge this and stay effortful, bukan hal tidak mungkin jika ada fase yang bersinggungan antar manusia yang menyebabkan mereka berada di level yang sama suatu saat nanti. Meskipun, we can say that starting point nya beda di stage tersebut.
Example, you’re envy to the person yang sudah lebih dulu bekerja dibanding kalian. Tetapi mungkin ada alasannya. Penderitaan dan pengorbanan yang kalian rasakan may be mean something, kalo diambil hikmahnya. Sehingga, pelajaran yang kalian dapatkan dari pengalaman pun sebanding dengan orang yang kalian irikan. Sementara orang lain mungkin mendapatkan pelajaran saat mereka bekerja. So, if you guys are good enough to see, it is not impossible to be promoted faster than those yang hanya take it for granted. Gitu lo. *kalogakpahamjugagakpapa*
Daaaaan, it may happens in various stage of life.
Misal, sekarang mungkin ada yang belum kerja. Tapi itu gak selalu berarti bahwa ia kalah start dengan mereka yang udah kerja. Pun, dengan yang belum lulus kuliah dan sudah terlebih dahulu lulus. Bisa saja they will end up starting to work at the same time. Then, untuk yang sudah terlebih dulu bekerja, it doesn’t mean that they will be rich or marry first. Time, who knows? Balik lagi, ini tentang bagaimana waktu memberi kita kesempatan untuk memilih menyikapi apa yang ditakdirkan untuk terjadi di dalam hidup. Takdir is not always mean that kita harus menyerah pada keadaan. Tetapi, tentang bagaimana kita mengartikan dan menjadikannya sebagai sebuah kejutan, yang menyenangkan tentunya. So, you’re gonna be ready where will the roller coaster bring you and when will it go. Just enjoy the show!
Back off, I’m going.
Bye.
Don’t Expect Anything From The World, Dear :)
Tulisan ini saya posting kembali dari blog saya (vinafadhrotul.blogspot.com), because I think that I need to. So, here we are....
===
Tulisan ini didedikasikan to those that already support and appreciate a little habit that I’m trying to maintain until nowadays, which is writing.
There’s a lot of reason why people decide to do a thing in their life. The type of the reason itself bisa banyak banget, which is gak mungkin bisa saya describe satu persatu di sini. Well, saya juga gak akan bahas itu sih, but it’s somehow related with it. Sekarang, saya bakal cerita kenapa saya suka nulis. Eh, maksudnya rajin nulis, terutama akhir-akhir ini. May be this sounds like saya mau curhat, whereas it may not be the contain of this blog that sudah saya filter. Tenang, kontennya masih public-able kok. Di sini, saya share kenapa saya rajin nulis yang semoga bisa bermanfaat dan diambil baiknya aja (yang buruk dibuang aja ya)
Jadi, awal saya nulis ya emang buat iseng aja, tapi jarang-jarang juga karena dulu medianya susah. Kalo nulis diary sih udah dari jaman baheula, cuma tulisannya ya gak jelas gitu, cuman about daily life atau ngeluh-ngeluh khas anak SD. SMP udah mulai kenal blog, tapi belum sering nulis karena ga ada internet. Kalo mau pake internet kudu ke kota *baladaanakgunung*
SMA udah mulai sering nulis tapi lebih karena kebawa temen. Pas SMA kebetulan ada temen-temen saya yang jago nulis. Meskipun saya udah nulis dari kecil, tapi tulisan saya berasa remah-remah roti doang. Jadilah, saya iri sama mereka, honestly. Then, saya mulai nulis lagi. Secara ga langsung, sekarang saya sadar sih kalo dulu nulisnya jadi gak tulus karena berharap tulisan saya lebih baik dari mereka. Padahal kan, setiap orang punya style nulis sendiri yang gak bisa di-define bagus gaknya. Because at the end, kita gak bisa se-judgemental itu untuk menclassify sebuah tulisan bagus atau gak. Basically, semua tulisan itu bagus meskipun relatif.
Nah, karena motivasinya sedangkal itu, sudah bisa dipastikan kalo saya nulis juga musiman, dan progress-nya gitu-gitu aja. Ya dulu sempat lumayan oke perkembangannya pas nulis liputan. I don't compete on that area. Jadi, saya nulis liputan dengan style saya, karena teman-teman saya yang tulisannya bagus-bagus itu gak menjamah tulisan 'formal' terlalu banyak. Tapi lagi-lagi saya masih gak pede. Waktu itu, saya mikir, kalo saya belum bisa bikin tulisan fiksi yang bagus ya berarti belum bisa nulis. Tolak ukurnya teman-teman saya itu. Akhirnya, saya jadi jarang nulis, meskipun tetep aktif di tumblr.
Beranjak ke kuliah, saya udah mulai gak mikirin tulisan ada yang baca atau gak, bagus atau gak, apalagi pas saya udah semester akhir. A lot of spare time trig me to do something productive. Pernah nyoba usaha, pernah nyoba nulis di media online, then I stopped for a reason. Then, saya gak punya kegiatan lain. Sementara teman-teman kuliahan saya sudah ada yang magang, masih sering bantuin dosen. On the other side, ada jengah dan lagi-lagi iri. Tapi saya sadar juga, if that's not my world. Even when I tried to (i've ever done that), hasilnya jadi gak maksimal. I mean untuk diri saya sendiri. Kerjaan emang kelar, tapi gak ada kepuasan dan kelegaan dari diri saya sendiri. Alhasil, berakhirlah saya dalam kegabutan. Ya meskipun saya tetep melakukan hal-hal berbau akademik gitu sih, tapi I need another alternatives to balance it...
Dan kemana saya?
Ya, pada akhirnya saya nulis lagi. Menulis apapun yang saya pikirkan. Saya gak peduli ada tidaknya pembaca, siapa yang baca, kontennya diterima atau gak, dan lain sebagainya. Saya menulis dengan sebebas-bebasnya, tetapi masih dengan konten yang saya pikirkan dulu. Saking rajinnya nulis, saya sempat dikira galau. Padahal, saya simply gabut aja and I think that I can feel a relieve towards every burden that I have after writing. Because, I'm not that type yang bisa cerita apapun ke semua orang. But, I don't write mostly about personal stuffs. I write my opinion about what's happening in my environment. Pokoknya apa saja yang saya lihat ya saya jadikan sebuah tulisan, sampe akhirnya saya sering nulis opini dan puisi. Opini-opini ya saya tulis di blog ini, sedangkan tulisan-tulisan random saya tulis di tumblr. Untuk puisi akhirnya juga saya ciptakan wadah di instagram (@untuktuan). Sebenernya saya juga jadi sering nulis puisi without a clear reason, simply karena iseng sering ada acara puisimalam di twitter. Jadi, daripada ketimbun ya saya buatkan wadah.
Sekarang udah keliatan kan perubahan objectives saya dalam menulis. Dulu, yang emang hobi tapi keselip iri, hingga kini yang benar-benar because I need to and I want to. Saya gak ngarepin apa-apa dari nulis, as long as saya lega dan bisa menghasilkan karya, I'm happy enough. I always believe that we should not expect everything from the world kalo gak mau dikecewain. It is one of my key to always stay happy. And true.. ketika saya gak expect apapun terjadi dari apa yang saya lakukan akhir-akhir ini dengan rajin nulis, datanglah orang-orang yang saya sebut sebagai one of my supporting system.
Ada yang emang dateng dari temen-temen deket, but not that much loh :) Trust me. Justru saya kagum sama orang-orang yang notabene-nya gak begitu kenal saya, gak kenal sama saya secara dekat, tetapi ngasih dukungan yang gak saya sangka. They support me to stay writing, pray for me, wait for my next muse and other. Honestly, u guys already made me a lil bit teary *alay* :)
At the end, ketika kita gak expect apapun dan justru dapet apresiasi seperti itu, your happiness is beyond it looks. Mungkin keliatannya hal kecil, sekadar dukungan, pujian, doa, tetapi bagi saya it is more than enough. Serajin-rajinnya saya nulis karena saya butuh pun, akan ada masa dimana saya pengen nulis tapi males. And u guys come. So, everytime I don't have an enough motivation from my own, I re-read what everyone already told me. Saya juga menanamkan pada diri saya untuk terus menebar positive vibes dengan menulis. Kalo saya berhenti nulis, then, gimana saya bisa nyebarin itu semua? Gimana saya bisa bermanfaat?
Dan menurut saya, ini juga berlaku untuk hobi-hobi lainnya. When you do it sincerely, believe, that whatever good will certainly come to you :)
Salam,
Kemarin, ia sudah memantapkan hati.
Tingkah lakumu sesuai kaidah agama yang ia ingini.
Ada qunut di subuhmu, ada wirid di akhir sholatmu, ada allohuakbarkabiro di takbirotul ikhromu, ada yasinan di tiap malam jumatmu.
Ternyata belum cukup, ada hal-hal mendasar yang justru dilanggar olehmu
Kamu tak suka perbedaan. Kamu memaksakan seluruhnya agar serupa denganmu. Yang tak sama, kamu kafirkan.
Apa bedanya kamu dengan yang kamu kafirkan, jika kamu pun melakukan hal serupa.
Amalanmu boleh saja sama dengannya, tetapi ia suka damai. Nilai dasar islam adalah kedamaian. Amalan kita benar, bukan berarti kita berhak mengafirkan.
Punya hak apa kau mengafirkan ajaran agama?
Pada akhirnya, ia memilih bersama tuan yang menerima perbedaan. Pun, ia sadar, akidah adalah pondasi. Akidah yang sebenarnya tidak hanya terletak pada ritual, tetapi bagaimana dasar sikap untuk masalah-masalah mendasar.
Ritual bisa dipelajari, sementara dasar dan sifat dalam mengamalkan akidah?
Dan di akhir, ia memilih si tuan abangan , bukan kamu, yang sekufu tetapi selalu mempermasalahkan perbedaan itu.
We don’t have to please everyone, baby :)
Before this, sebenernya cukup bingung, karena sekarang punya dua website, harus pilah-pilih mana konten buat diposting di tumblr dan mana buat di blog. Jadi, tumblr ini masih akan tetap diisi dengan tulisan-tulisan yang notabene-nya adalah “sampah” yang disajikan secara random sesuka saya. Isinya juga campuraduk, dari hal personal, karya, sampe yang rada-rada penting, pokoknya suka-suka saya. Nah, kalo ada yang merasa pengen baca tulisan saya yang lebih tematik, which is mostly poem sama opini, sudah mulai saya saring buat ditampilin di vinafadhrotul.blogspot.com.
Yak, itu sedikit intermezzo.
Rada bingung, mau masukin konten ini kemana, tapi yaudahlahya di sini aja. Because, what I’m gonna discuss somehow only revolve around a person that decide to. Okay, jadi, semakin tua, saya jadi merasa bahwa we don’t need to be around everybody that we know. Dulu. Duluuu banget, saya pernah jadi orang paling jahat yang gak pernah mikirin sekeliling. As I like and enjoy my life, then I would not care to what everybody said. Bukan tanpa alasan, tapi emang dulu ada beberapa orang yang jaman saya kecil udah tega gitu nyela-nyela, padahal apa yang saya lakukan itu buat kebaikan, for a betterment. But, trust me, sebaik apapun kamu, tetep akan ada orang yang nyinyir dan nemu aja hal salah dari apa yang kamu lakukan.
Gak berapa lama, karena ada sesuatu yang terjadi ke saya, dan dunia saya mulai jadi lebih luas, dikelilingi orang-orang baru yang belum punya dosa sama saya, saya sempat mikir buat jadi orang yang baik banget, yang bisa ada buat semua orang itu, yang selalu bisa ngapain aja, pokoknya gitu deh. Example, hal simpel yang pernah saya lakukan, saya selalu ngucapin ulang tahun dan kalo bisa kasih kado atau kejutan, terutama buat semua teman dekat saya. Iya, teman dekat, gak harus sahabat. Kebayang kan gimana? Karena kebetulan temen saya banyak. Nah, semakin kesini, kok yo berat juga ya. Terus saya mikir, toh esensinya apa. Saya sendiri akan tetap bahagia dengan hal-hal yang lebih esensial daripada remeh temeh yang kentara dari sebuah pertemanan. Nah, terus coba saya balikin ke sisi temen-temen saya itu. Kalo emang mereka beneran pingin temenan sama saya, mereka gak akan ter-insult dengan ketiadaan hal-hal fisikal gitu doang kan. Asalkan kalo mereka butuh, insya alloh saya tetep ada. Tapi ya emang ada aja gitu yang gara-gara kita udah lama gak ikut social life-nya mereka, then kita udah ga dianggep jadi temennya. Yang begitu ada, banyak malah. But it’s okay. Percayalah, kamu akan tetap dikelilingi sahabat-sahabatmu, even if mungkin yang kesisa cuman satu atau dua. Tapi ngapain juga mencoba untuk bahagiain orang-orang yang don’t even think about you :)
Well, ulang tahun dan social life cuman segelintir alasan tentang way to please people around you sih. Tapi, it doesn’t mean that kamu gak harus berperilaku baik ke orang-orang yang emang udah jadi temenmu, gak berusaha buat bahagiain mereka. Ya emang sih, at the end, kamu juga gak bisa please everybody yang kamu kenal, by giving each a gift, always joining their social activity and stuffs. Gak akan, somehow kamu akan dihadapkan pada pilihan dimana kamu harus pilih salah satu. Gak adil? No baby, it’s fair enough. People always face what it’s called as opportunity cost. You should sacrifice something to get other thing. What will you get is according to what you choose and what you prioritize.
Kalo banyak orang yang mikir mereka akan dapet timbal balik yang gedhe dan bisa hidup bahagia aman sejahtera kalo bisa fullfill every people’s expectation, DO BELIEVE THAT YOU WILL NO LONGER HAVE A PEACEFUL LIFE. Saya punya banyak teman yang menurut saya kesusahan sendiri karena kesensitifan dan kepekaan mereka terhadap penggunaan perasaan yang begitu tinggi. I mean, mereka selalu berusaha buat please everybody. They always mind people’s opinion. Kalo dia ngapain, dan ada yang komen, then dia merasa harus mengubah dirinya buat nyesuain that people’s expectation. Kemudian, gak sampe situ, saya jamin pasti dengan perubahan yang dia lakukan, akan tetap ada yang nyinyir. Yaudahlah, kalo mau diikutin, sampai kiamat kubro juga idup gak bakalan tenang. That’s why, dear friend, you don’t have to please everybody. But, it doesn’t mean that you shouldn’t hear or please no one. Ada yang harus tetap diperhatikan, as long as itu emang buat kebaikan dan gak plin-plan. Intinya, you have to choose your people to be pleased. Gak semua orang deserve buat itu. Buat yang gak deserve, I think to leave them behind is not a crime. Cheers!
Entah kau semogakan atau tidak. Entah kepergianmu beberapa waktu yang lalu memuat makna apa. Dan kini, aku kembali melihatmu sesekali berjalan ke bilik sebelumnya. Sepertinya, kau mulai menapaki jalan yang sejajar denganku di jalur yang berbeda. Aku pun tak tahu kemana jalan di hadapanku menuju, pun dengan jalanmu. Yang jelas, aku lega, melihatmu kembali berani melewatiku, dengan atau tanpa raut yang dulu.
Flashing back daily stories
Day 2
Memulai hari dengan sahur bersama dengan lauk pauk yang telah diberikan eyang, which is rawon, krupuk, and something-something as a completion stuffs. It is continued by sholat and u know, sleeping after reciting qoran unconciously. Today's agenda is started with meeting with all of the member in this KKN group. Then, our meeting were divided into two, as sub-units already divided. We discussed about the timeline that our sub-units will be done in this week. It all gone almost-perfectly. Then, I decided to go to the village office since yesterday I saw an imagery of this village that can be a material for me to make an administrative map of Dolokgede. But, unfortunately, It's a bit to give a goosebumps. Well, just pray that I can make it trough. So, going home with everyone on their task. And we, girls left in the home playing uno till almost dawn. Three of us then went to TPA and observing the activity there. After that, going home and preparing for breakfasting since today we didn't have any hibah from anyone wkwk. Oke skip;;; but... appearance judging always success to insult me. That's all. Going for taraweh without having breakfasting first, then eat after taraweh without any great spirit. and now, writing this, hoping that everything's still gonna be okay.
Day 3 of KKN :)
Morning with doing sahur wkkw, helping Yunda to cook as usual, but it's sarden unfortunately, so i prefer to eat noodle. Then, I was having another sleep after sholat shubuh and reciting the qoran. In the morning, I was waken up by Ramal to accompany her to buy fruits and take the program's money from ATM. It was my first time to drive motorcycle here, I mean to go to Purwosari without car. It was fun relieving, retreat me :) Then, everybody were busy doing their stuffs, and I just like doing everything on my laptop, wkwk u know, its a kinda remote sensing. It was all went flat before many girls came to the house and messed up. I was arranging the note for reimburse at that time, when they came and I should willingly listen and responding them. Its oke, i love them wkwk But, since I was a bit not good, may be because my sahur which is noodle, I really want to take a nap. So, I leaved them silently with other of my friends *sorrynotsorry* Then, waking up to arrange the note again, playing uno, and finally get a work to watering the plant :) As usual, after that, I tried to help Yunda cook, even I was not contributive wkwk. At the night, I received the format of the report that we should done. And currently working on it, so there will not any miss in the report later. On almost midnight, we played uno (me, ramal, gesti, and yunda). This was the thing that made me wrote this journal in the middle of the night. But, overall, I love this day! Cheers! :))
Flashing-back (again)
Hari keberangkatan KKN-PPM JTM-07.
Will write this journal in more serious way .
Titik kumpul ditentukan di lapangan pancasila sekitar puku 06.00. But, as it always predicted, we've just gone at 07.30. Dont judge. We're coming on time. Some troubles coming without any planning.
After solving every single problems, we finally arrive at Dolokgede around 13.30 WIB. First agenda was having an opening ceremony held by the government for all of participants coming from UGM in Bojonegoro regency. There, coming a lot of important people, like representative from BAPPEDA, Police, Regency, and other related institutions in Bojonegoro. Then, we went back to our shelter, packing our stuffs in a proper way. A gift given in this Ramadhan trough Bu Kades who already preparing the food for breaking our fasting period today :)
Sadly, I've just realized that today is the night of Nuzulul Qur'an ;' and i havent even finish a half of my qoran. Gladly, the culture of tarawih here is the same as my village. So, it's a little bit relieving.
We also went to Eyang's house and having a little chit-chat with a disguised but clear purpose, which is taking the food for sahur :p Then, end up went back to shelter for a short meeting regarding the condition of most members who already so sleepy and tired with today's 'story'. And now, let them reach their dream in their sleep, having the most beautiful dream as today's Nuzulul Qur'an :'