Langkah Awal Saya, Menuju Negeri Paman Sam (Bagian dua)
8.53 pm. 2 derajat celcius, di luar. Cukup dingin, untuk saya. Tapi tidak untuk turun salju. Desember yang aneh, Desember tidak seperti biasa. Saya menunggu salju, untuk pertama kali dalam hidup saya. Basement milik Graddy (panggilan khusus untuk Nenek teman saya ini) memang sangat nyaman. Bersama teman dekat saya, adiknya, dan 2 sepupunya, ditemani tontonan film lama berlatarkan Austria dan secangkir hot chocolate buatan Granddy dan homemade cookies, sederhana namun sangat pas. Ingin rasanya menulis lagi, dan... ------------------------------------------------------------------- Social media Bina Antarbudaya, khususnya chapter Jogja menjadi new tab yang saya buka secara rutin. Saya perlu membeli PIN sebagai admission atau 'tiket' untuk mengikuti rangkaian seleksi. 1 Maret 2014, tepat dengan hari lahir saya 😆, pembelian PIN resmi dibuka. Kicauan username @binabudjog (yang saat ini berubah menjadi @binabudyky) di twitter menginformasikan berbagai hal terkait dengan #seleksiAFS1516. Di tengah kesibukan hitung uang-rapat yang tak kenal waktu karena TUC semakin dekat, dan juga sebagai juru tulis dua dalam kepengurusan Majelis Perwakilan Kelas, saya sempatkan sore itu untuk satu langkah lebih dekat ke impian saya. Mio putih AB2**2MK mengantar saya ke sebuah bangunan di Jl KY Ahmad Dahlan 29, persis di depan rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam bayangan saya, bangunan ini adalah kantor resmi dimana terdapat banner, plakat besar atau sejenisnya dengan tulisan Bina AntarBudaya chapter Jogja, ternyata saya salah. Bangunan ini adalah kantor agen travel haji dan umroh, dan bisa dibilang 'nyempil' di tengah kepadatan ruko-ruko. Hanya pada sore hari digunakan Bina AntarBudaya chapter Jogja untuk melayani pembelian PIN. Datanglah saya masih berseragam, ada beberapa siswa yang mendaftar dan mas-mas yang bertugas jaga, sebutlah mereka volunteers, pahlawan saya, pahlawan para AFSer. Ingat betul percakapan pendek saat itu, "Mau program YES atau AFS dek? Belum tahu mas. (Dalam hati saya jawab, YES mas, Insya Allah, yang gratis) 😂 "Kalo lolos pengennya kemana dek?" Hmm saya belum tahu juga mas. (Tetapi lagi, dalam hati saya jawab, Amerika Mas, yang gratis) 😂 Dengan lima puluh ribu rupiah, saya bawa pulang 2 kertas kecil, 1 lembur PIN pendaftaran dan 1 lembar kwitansi. Setelah beberapa kali penundaan karena tidak pintarnya saya dalam membagi waktu, saya buka website Bina AntarBudaya untuk mengaktifkan PIN yang sudah saya beli. Masa aktif PIN ini adalah satu minggu. Apabila dalam satu minggu itu PIN tidak diaktifkan, maka PIN akan hangus dan tidak dapat dipakai untuk pendaftaran seleksi, artinya lima puluh ribu melayang. Dalam pengaktifan PIN ini, ada beberapa data yang harus saya isi. Cukup banyak, lumayan. Data-data diri. Rekomendasi tiga orang, lingkungan sekolah (guru), lingkungan rumah (tetangga) dan teman dekat. Saya meminta kesediaan wali kelas saya saat itu, Pak Didik. Tetapi teman saya yang juga mendaftar telah menghubungi beliau terlebih dulu. Sempat bingung. Saya ingat-ingat siapa guru yang memang dekat dan 'tahu' saya. Laoshi. Ya laoshi. Sebutan dalam bahasa mandarin untuk guru. Guru paling 'gaul' yang saya temui selama 14 tahun menimba ilmu, guru mandarin saya. Sayang, laoshi juga telah menjadi orang yang merekomendasikan teman saya yang lain. Akhirnya, orang-orang yang saya pilih adalah Bu Milir (ibu saya di sekolah yang menjadi ibu-ibu siswa lain karena sifat keibuannya yang kental dalam menjadi konselor siswa), Mas Sidiq (tetangga rumah), dan Novia (satu dari beberapa teman yang dekat dengan saya). Alasan saya pilih mereka karena mereka benar-benar 'tahu' saya. Menghindari adanya pencitraan. 😄 Setelah finalisasi, saya kembali ke sekretariat Binabud Yogyakarta untuk verifikasi. Dalam verifikasi, saya lampirkan surat izin orang tua yang telah menjadi ketentuan. Done . Saya buka pintu, hembusan nafas seraya mengucap bismillahirrohmanirrohim, mio putih kesayangan siap membawa saya pulang. Dengan mengantongi kartu peserta bernomorkan 172, saya berdoa dalam sepanjang perjalanan. "Ya Allah jika ini memang jalan hamba, mudahkan ya Allah." ------------------------------------------------------------------- 12.52 pm. -1 derajat celcius. Sedikit tidak percaya, hari ini salju turun pertama kali dalam hidup saya. Sudah tidak lagi di rumah Graddy. Kini tengah duduk di dekat tungku perapian mencari kehangatan. Di atas sofa depan tv. 28 December 2015. Kansas City, Missouri. Estu Dyah Pawestri









