DIMULAI DARI 4 HINGGA AKHIRNYA 14 DALAM BISNIS MENYENANGKAN INI
Sebelum seHYPE hari ini di Singaraja, perjalanan panjang telah menyertai sejarah berkembangnya bisnis pakaian yang sering di labelkan sebagai streetwear ini. Berdasarkan pengalaman kita semua telah dimulai jauh di angka 10. 2004 menjadi sebuah era baru bagi perkembangan fashion anak-anak muda di Singarja. Di mulai dari sebuah toko yang sekiranya telah memulai semua ini menjadi kebutuhan baru bagi anak muda kota kecil ini. Sebut saja Mohawk dan Kokabura yang menjadi sentra pada masa itu. Menjual berbagai jenis barang yang berhubungan dengan streetwear, Brand ternama pada masa itu Freestyle mengambil alih selera anak muda dalam berpakaian. Dimana-mana kita bisa melihat pakaian dengan design print orang bermain surf maupun yang bertemakan budaya punk. Tidak salah lagi budaya penentang pada masa itu telah menjadi besar. Semakin kekinian semuanya menjadi begitu cepat, berkembang dalam budaya baru, streetwear ini semakin meluas dengan munculnya grindcorner sebagai wabah baru selera fashion anak muda lokal, yang hanya bisa kalian dapatkan apabila sedang di daerah bagian selatan dari pulau Bali ini. Tidak terhenti sampai disana saja, Dynamite menjadi salah satu premium brand pada masa itu. Bagaimana tidak dengan originalitas design hingga harga yang sengaja dibuat sebagai bentuk seberapa mewah brand ini menjadi sebuah tolak ukur baru seberapa bisa kamu memahami royalitas sebuah brand. Ya masa itu di angka 80 merupakan harga pasar yang gila. Lampu merah juga menjadi pilihan hingga muncul streetwear lainnya seperti Furious, Voondurend, Slashrock Hingga Rotten roots. Entah bagaimana semuanya bisa menjadi sangat-sangat menarik dan membentuk Singaraja ini menjadi dunia ke-3 bagi sebuah brand-brand dari selatan ini. Hingga munculnya Reborn, Fightback, Revolt dan beberapa lagi yang menjadikan kota ini sebuah Bom waktu yang siap akan memuntahkan kejutan besar nantinya. Tidak terlepas bagaimana perkembangan musik di Bali ini, streetwear ini juga menjadi arus yang tidak bisa terlepaskan dalam skena bawah musik di Bali. Begitu cepat berkembang dan hingga kini menjadi sebuah ledakan yang luar biasa, kita bisa menemukan distribution outlet atau Distro ini bagai jamur di sekitaran kota ini. Dan mungkin sudah ada puluhan lusin brand-brand baru yang bermunculkan yang berates namakan Streetwear. Sejauh apa ini akan bisa bertahan? Ternyata semua menjadi begitu gila di tahun 2012 dengan semakin seringnya muncul musik out of the box disini sebagai musik mainstream yang sah dinikmati siapa saja. Tema pembrontakan itu telah menjadi sebuah lahan baru dalam menciptakan lembah yang menyenangkan bagi yang berkepentingan. “Rejeki bukan milik seorang” Itulah kata yang tepat bagi beberapa waktu hingga kini, semuanya membantu saling merakit, brand-brand yang terbentuk baru dalam sebuah lingkaran yang memiliki beberapa pusat sebagi sentra inspirasi menjadi besar dan membludak. Kegilaan ini semakin terlihat baik di lapangan terbuka, stage-stage tertutup hingga di sebuah acara berbasis DIY. Semua berlomba-lomba berbagi sedekah untuk sebuah popularitas sungguh mengesankan, kini kota ini menjadi begitu bersaing untuk perdagangan seperti ini. Sunggu mengesankan. -DM















