•tanda• sampai sekitar 13 tahun yang lalu, saya pernah 'meremehkan' leluhur. kan mereka sudah meninggal, hanya sejarah, dongeng sebelum tidur, kuno, dan segala persepsi ribet versi saya. saya lupa, ibu, ayah, budhe, pakdhe, bulik, dan paklik saya adalah bagian dari para leluhur. mungkin ini karma, hingga kini, lebih dari separuh usia, saya tinggal di Bali dan perlahan-lahan, dengan tamparan yang ngga terlalu menyakitkan -berarti tetap sakit, elus pipi- saya tersadar. bahkan pada akhirnya, saya memilih jalan spiritual (uhuk! tapi kelakuan masih jauh dari itu 😂) dan cara berdoa yang membuat saya semakin mendekat pada mereka. singkatnya, saya ada hari ini pun karena seizin Tuhan, melalui garba para leluhur. bagaimana bisa saya jemawa? bagaimana bisa saya menulikan telinga dari bisikan agar 'pulang', membumi, memeluk Ibu Pertiwi? makasih lho, @kichandra udah njawil saya lagi. apa-apaan sih ini, tadi pagi tiba di kantor udah dapat kiriman kayak gini. dan sambil menikmati aroma kertasnya, halaman-halaman yang terbuka kok ya itu dan itu. (bagaimana bisa pura-pura ngga melihat tanda). duh. mbuh. pagi yang manis banget. tapi asem. pe-ernya makin berat. berat banget. hanya bisa berucap, matur nuwun, matur suksma, para eyang dan Hyang Guru, Hyang Jagad! kula ndherek. 🙏 rahayu. denpasar, 21 mei 2018 #book #contemplation #knowyouself #knowyourancestors #simple #life #gratitude #bali #indonesia